Sabtu, 26 Mei 2012

27. Pahala Mengendalikan Lidah



Oleh ; MUKHLIS DENROS

Lidah adalah senjata manusia untuk berbicara menyampaikan maksud dalam bentuk bahasa, dengan kemahiran lisah seseorang dapat terangkat derajatnya di masyarakat, karena mampu menyalurkan maksud serta jeritan hati umat, dengan lidah da’wah dapat dilakukan sampai kepada propaganda dan obral barang di pasar. Efek positif memang banyak, tetapi banyak pula segi negatifnya, karena lidah ada orang terlempar jauh dari masyarakat sampai terbenam ke penjara. Rasulullah bersabda, "Kebanyakan dosa anak Adam karena lidahnya'' (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

Rasulullah bersabda,"Barangsiapa banyak bicara maka banyak pula salahnya dan barangsiapa banyak salah maka banyak pula dosanya, dan barangsiapa banyak dosanya maka api neraka lebih utama baginya. (HR. Ath-Thabrani)
Dari Abu Hurairoh rodhiallohu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Pada hadits di atas menunjukkan ada 2 hak yang harus ditunaikan, yaitu hak Allah dan hak hamba. Penunaian hak Allah porosnya ada pada senantiasa merasa diawasi oleh Allah. Di antara hak Allah yang paling berat untuk ditunaikan adalah penjagaan lisan. Adapun penunaian hak hamba, yaitu dengan memuliakan orang lain. Menjaga lisan bisa dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan berkata baik atau kalau tidak mampu maka diam. Dengan demikian diam kedudukannya lebih rendah dari pada berkata baik, namun masih lebih baik dibandingkan dengan berkata yang tidak baik. Berkata baik terkait dengan 3 hal, seperti tersebut dalam surat An-Nisa’ 4:114
"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. dan barangsiapa yang berbuat demikian Karena mencari keredhaan Allah, Maka kelak kami memberi kepadanya pahala yang besar".
Imam Sya'bi heran melihat salah seorang muridnya diam saja setelah lama diberi pelajaran, lalu dia menanyakan, dan dijawab oleh muridnya; "Aku diam maka aku selamat, aku mendengarkan maka aku tahu. Sesungguhnya manusia itu mempunyai bagian masing-masing. Di telinganya bagian itu untuknya, di lidahnya bagian itu untuk orang lain".

Sya'ir Arab menyatakan; "Seorang tertimpa celaka karena terpelesst lidahnya, dan tidaklah ia kena bahaya karena terpeleset kakinya, bila terpeleset karena perkataan bisa saja ia kehilangan kepalanya, tetapi terpeleset hanya kakinya, ia kaan sembuh kembali dalam waktu singkat"[Syair Ibnnu Asyikit].

Seorang Sufi berkata, "Manusia yang paling sering tertimpa bahaya dan paling banyak dapat kesusahan adalah lidah yang lepas dan hati yang tertutup. Ia tidak dapat berdiam diri, dan kalau berkata tidak bisa yang baik-baik"

Ketika Rasulullah sedang duduk-duduk dengan para sahabat memberikan beberapa wejangan sebagai bekal dalam hidup yang dijadikan Allah dunia sebagai jembatan menyeberangi tempat yang kekal lagi mulia, yaitu akherat. Rasulullah mengangkat suatu persoalan di tengah para sahabatnya dengan sabda,”Sebentar lagi akan lewat seorang manusia yang telah ditetapkan Allah sebagai ahli syurga kelak”.

Para sahabat penasaran, siapa gerangan yang dimaksud itu. Semua sama-sama menanti ingin tahu. Salah seorang sahabat beliau yang bernama Abuzar Al Ghifari semakin penasaran setelah ditunjuki orang tersebut yang memang lewat didepan mereka. Karena penasarannya maka diikutilah tokoh yang dimaksud dengan menyempatkan diri menginap di rumahnya. Dia ingin tahu amalan apa saja yang dilakukan sehingga dikatakan oleh Rasululah sebagai calon penduduk syurga.

Setelah mendapat persetujuan dari tuan rumah, Abuzar diizinkan menginap untuk beberapa malam. Tetapi selama dia berada di rumah itu tidak nampak olehnya amalan yang luar biasa; puasa sunnah juga tidak rutin. Waktu shalat dilakukannya seperti biasa, sedekahpun demikian sesuai dengan kemampuan, bahkan shalat tahajudnyapun tidak setiap malam.

Pemandangan inilah yang disaksikan oleh Abuzar, seolah-olah Rasululah salah terka terhadap orang yang dimaksud karena tidaklah berlebihan dalam beribadah. Rasa penasarannya semakin besar setelah meliha sendiri, sehingga sebelum pamit dengan memberanikan diri dia tanyakan langsung prihal yang pernah dikatakan Rasulullah Saw. Tuan rumah tidak banyak komentar, dia mengatakan, ”Hanya satu perbuatan saya yang dapat melindungi amalan saya yang lain yaitu mampu menahan lidah, tidak sebarangan berucap yang mengakibatkan orang lain tersinggung atau sakit hati, juga tidak mudah mempergunjingkan orang lain dalam situasi apapun”. Itulah pengakuan tuan rumah bahwa lidahnya terpelihara dengan menjaga kemaksiatan, lidahnya hanya digunakan untuk hal-hal yang baik saja sesuai dengan perintah Allah. Rasulullah bersabda, "Siapa yang memberi jaminan kepadaku untuk memelihara di antara rahangnya (mulut) dan di antara kedua pahanya (kemaluan) niscaya aku menjamin baginya surga.''(HR. Bukhari).

Rukun islam yang pertama yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat, disini peran lidah sangat penting sekali diantaranya; Syahadat adalah ucapan ringan dan mudah dilafazkan tapi besar timbangan amalnya, itu baru ucapan apalagi mengamalkannya, zikir yang paling tinggi nilainya adalah kalimat ini, perjuangan yang paling agung adalah menegakkan kalimat ini, itulah makanya Nabi Ibrahim harus berhadapan dengan Namrudz, Nabi Musa harus bersiteru dengan Fir’aun serta Nabi Muhammad harus berlainan aqidah dengan pamannya, dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa yang hadir kepada seorang raja yang zalim untuk menyatakan kebenaran [tauhid] lalu dia dibunuh maka itulah kematian yang mulia”.

Jalan mengantarkan manusia ke syurga juga adalah kalimat syahadat sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari “Barangsiapa yang akhir katanya,”Laa Ilaaha Ilallah”, 'Tiada Tuhan selain Allah' niscaya dia masuk surga.(HR. Abu Dawud)

Yang dimaksud dengan hadits ini bukanlah sekedar ucapan, tapi diiringi dengan amal perbuatan, mustahil kiranya orang yang amal hariannya jauh dari kalimat tauhid lalu ketika meninggal dapat membaca kalimat ini, demikian pula sebaliknya orang yang seluruh potensi hidupnya menjalankan kalimat syahadat, lalu saat kematian dia tidak sempat membaca kalimat ini tentu tidak dapat dikatakan hidupnya sia-sia, jangan kita melihat orang meninggal dari sebab kematiannya, walaupun pecah dan hancur tubuhnya kemudian dimakan hewan buas pula, tapi selama ini hidupnya memperjuangkan kalimat ini, maka Insya Allah baiklah kematiannya.

Kemarahan bisa menaikkan emosi seseorang, meninggi tensi, mata merah menyala, hidung mendengus, kata-kata yang keluar tanpa terkontrol lagi sehingga membuat suasana tidak kondusif yang akhirnya merusak pergaulan, menjauhkan sahabat dan banyak kerugian yang diterima, Rasulullah menyarankan kepada kita, "Apabila ada orang yang mencaci-maki kamu tentang apa yang dia ketahui pada dirimu, janganlah kamu mencaci-maki dia tentang apa yang kamu ketahui pada dirinya karena pahalanya untuk kamu dan kecelakaan untuk dia. (HR. Ad-Dailami)

Dalam pergaulan, kita memang memerlukan vitamin S yaitu "sanjungan", pujian yang ditujukan kepada seseorang dalam rangka menyenangkan hati orang yang diajak bicara, karena memang manusia senang mendapat pujian dari orang lain dan itu manusiawi, tapi tidak selamanya pujian itu baik, bisa membuat yang dipuji tidak lagi rasional dalam bertindak. Rasulullah memperingatkan kita, "Berhati-hatilah dalam memuji (menyanjung-nyanjung), sesungguhnya itu adalah penyembelihan"(HR.Bukhari) "Seorang memuji-muji kawannya di hadapan Nabi Saw, lalu beliau berkata kepadanya, "Waspadalah kamu, sesungguhnya kamu telah memenggal lehernya, sesungguhnya kamu telah memenggal lehernya (diucapkan berulang-ulang)".(HR.Ahmad) "Taburkanlah pasir ke wajah orang-orang yang suka memuji dan menyanjung-nyanjung.(HR.Muslim)

Seorang muslim untuk menunjukkan baiknya kemusliman seseorang, Nabi mengungkapkan dengan cara meninggalkan hal-hal yang tidak ada manfaatnya, apalagi jelas-jelas pekerjaan tersebut memang dilarang dalam Islam seperti menggunjing atau ghibah, Rasulullah bersabda, "Tahukah kamu apa ghibah itu? Para sahabat menjawab, "Allah dan rasulNya lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Menyebut-nyebut sesuatu tentang saudaramu hal-hal yang dia tidak sukai."(HR. Muslim)

Karena memang kepribadian seorang muslim itu mulia, dia mampu menjaga "Syahwatul kalam''nya, pembicaraan yang disampaikan adalah pembicaraan yang mengandung manfaat, diupayakan untuk meninggalkan ucapan yang mengandung laghwi [sia-sia] apalagi yang mengandung mudharat bagi dirinya ataupun bagi orang lain, "Seorang mukmin bukanlah pengumpat, pengutuk, berkata keji atau berkata busuk."(HR.BukharidanAlHakim)

Semua manusia mempunyai salah dan dosa, baik yang besar ataupun kecil, dosa dan kesalahan yang dilakukan manusia, ada yang harus melalui qishahs [pembalasan] melalui persidangan ataupun dosa tersebut ditutup Allah dalam rangka memberikan rahmat kepada pelaku dosa, tapi yang berdosa tadi karena tidak menjaga lisannya sehingga dia dengan bangga mengumbar kesalahannya kepada orang lain, sehingga yang seharusnya menjadi rahasia dia dengan Allah saja akhirnya menjadi rahasia umum, Rasulullah bersabda," Semua umatku diampuni kecuali yang berbuat (keji) terang-terangan yaitu yang melakukannya pada malam hari lalu ditutup-tutupi oleh Allah, tetapi esok paginya dia membeberkan sendiri dengan berkata, "Hai Fulan, tadi malam aku berbuat begini...begini." Dia membuka tabir yang telah disekat oleh Allah Azza wajalla.''(Mutafaq'alaih)

Orang yang banyak mengumbar lisannya, tidak menjaga ucapan, tidak berhemat dalam berbicara, pandai bersilat lidah dalam segala pembicaraan, lebih banyak ngomong dari pada bekerja adalah watak orang-orang munafiq, "Yang paling aku takutkan bagi umatku adalah orang munafik yang pandai bersilat lidah" (HR.AbuYa'la).

Banyak kesempatan yang diberikan Allah kepada ummat Islam untuk meraih pahala dalam seluruh asfek kehidupannya diantaranya ialah menjaga lisan, ringan memang program ini tapi sulit sekali untuk merealisasikannya, namun demikian diberikan pahala yang besar bagi orang yang mampu melakukannya, itulah hikmahnya kenapa Allah memberikan dua mata, dua telinga dan satu mulut agar lebih banyak melihat dan mendengar sehingga memperoleh ilmu yang bermanfaat, wallahu a'lam.[Cubadak Solok, 22 Syawal 1431.H/ 1 Oktober 2010.M].

Referensi;
1. 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath
2. Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4. Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009



26. Pahala Ibadah Haji


Oleh ; MUKHLIS DENROS

Salah satu rukun islam yang wajib ditunaikan bagi ummat islam yang mampu adalah menunaikan ibadah haji ke Makkah Al Mukarramah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya dengan menapaktilas perjalanan yang pernah dilakukan oleh para Rasul Allah, Ibrahim dan Muhammad Saw. Firman Allah;
"Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah Dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.."(AliImran:3;97)

Kewajiban haji bila sudah datang kepada mereka yang mampu harus dilaksanakan walaupun dengan rukhshah atau keringanan sebagaimana yang terjadi dizaman Rasulullah, Abdullah bin Abbas r.a. berkata, "Al-Fadhl bin Abbas mengiringi Rasulullah, lalu datang seorang wanita dari Khats'am. Kemudian al-Fadhl melihat kepadanya dan wanita itu melihat Fadhl. Lalu, Nabi mengalihkan wajah al-Fadhl ke arah lain. Wanita itu berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah mewajibkan hamba-Nya untuk haji. Ayahku terkena kewajiban itu, namun ia sudah tua bangka, tidak kuat duduk di atas kendaraan. Apakah saya menghajikannya?' Beliau menjawab, 'Ya.' Hal itu pada Haji Wada'."

Banyak keutamaan dan pahala yang diberikan Allah kepada orang yang datang menunaikan ibadah haji, sejak dari ujung timur hingga ujung barat dengan syarat semata-mata mengharapkan ridha Allah, jauh dari motivasi duniawi;
" Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang Telah ditentukan atas rezki yang Allah Telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.

Allah menggambarkan kedatangan ummat Islam untuk menunaikan ibadah haji dengan megnendarai Unta yang kurus, hal ini menunjukkan jauh dan sukarnya perjalanan yang ditempuh oleh jemaah haji, apalagi mereka yang sudah lanjut usia tentu lebih sukar lagi perjalanan itu, tapi disana jugalah letak manisnya ujian dalam menjalankan ibadah kepada Allah, bahkan kadangkala mereka berazham untuk wafat di Mekkah saja, yaitu tanah suci tempat ummat islam menunaikan ibadah besar setiap tahun. Ibnu Umar r.a. berkata, "Saya melihat Rasulullah mengendarai kendaraannya di Dzul Hulaifah. Kemudian beliau membaca talbiyah dengan suara keras sehingga kendaraan itu berdiri tegak."

Karena sukarnya perjalanan untuk menunaikan ibadah haji itu, tidak sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, selain membutuhkan fisik yang sehat dan dana yang tidak sedikit juga membutuhkan konsentrasi dan kekhusu'kan yang prima, sehingga wajar bila ibadah haji merupakan salah satu bentuk jihad, Umar r.a. berkata, "Pergilah dengan berkendaraan untuk mengerjakan ibadah haji. Sebab, sesungguhnya haji itu adalah salah satu dari dua macam jihad.".

Haji termasuk amal yang utama dari amal-amal yang lain, setelah iman dan jihad, Abu Hurairah r.a. berkata, "Nabi ditanya, 'Amal apakah yang lebih utama?' Beliau bersabda, 'Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.' Ditanyakan, 'Kemudian apa?' Beliau bersabda, 'Berjuang di jalan Allah.' Ditanyakan, 'Kemudian apa?' Beliau bersabda, 'Haji yang mabrur.'.

Aisyah Ummul Mukminin r.a. berkata, "Wahai Rasulullah, kami melihat bahwa jihad (berperang) itu seutama-utama amal, apakah kami tidak perlu berjihad?" Nabi saw. bersabda, 'Tidak, bagi kalian jihad yang paling utama adalah haji mabrur." (Dalam satu riwayat: Rasulullah ditanya oleh istri-istri beliau tentang haji, lalu beliau bersabda, "Sebaik-baik jihad adalah haji.".

Ibadah haji yang mabrur itu adalah ibadah haji yang mendapatkan ganjaran dari Allah, melalui prosesi ibadah yang dilakukan sebelum, saat dan setelah melaksanakan semua syarat dan rukunya, selain melepaskan dirinya dari dosa-dosanya juga memasukkannya kelak ke dalam syurga. Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Ibadah umrah sampai umrah berikutnya sebagai kafarat untuk dosa di antara keduanya dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga. (Shahih Muslim )
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. telah bersabda: Barang siapa datang (haji) ke Baitullah ini lalu tidak berbicara kotor dan tidak berbuat maksiat, maka ia akan kembali seperti ketika dilahirkan oleh ibunya. (Shahih Muslim]

Iman dan jihad merupakan dua amal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan mukmin, tapi tidak sedikit seorang mukmin hanya mampu untuk beriman saja kepada Allah dan Rasul-Nya dan tidak sanggup untuk berjihad karena berbagai kendala yang menghalanginya, tapi bila jihad sudah dapat dia tunaikan maka pasti diawali dari keimanan yang mantap, beda dengan ibadah haji, dia terletak pada amal utama yang ketiga setelah iman dan jihad, orang bisa melaksanakan ibadah haji pasti telah dilalui sebelumnya amal iman dan amal jihad dalam arti luas. Orang yang mau melaksanakan ibadah tidaklah sembarang orang, dia sudah mengikis dari pribadinya sifat-sifat negatif yang dapat mencemari ibadahnya, dia sudah terbiasa mendermakan hartanya melalui infaq, shadaqah, zakat, kurban dan memberikan santunan kepada yang berhak menerimanya, dirinya sudah menjadi orang yang dermawan sebelum berangkat haji, jauh dari sifat kikir dan mementingkan diri sendiri. Abu Tsumamah bin Abdullah bin Anas berkata, "Anas menunaikan haji di atas kendaraan, dan ia itu bukan orang yang pelit. Ia menceritakan bahwa Rasulullah menunaikan haji dengan naik kendaraan. Kendaraan itulah yang mengangkut beliau dan barang-barang beliau."

Karena keinginan yang begitu besar untuk menunaikan ibadai haji sehingga penduduk Yaman menunaikan ibadah haji tanpa memiliki bekal, tentu saja hal itu boleh saja tapi pasti menyusahkan dalam perjalanan, Ibnu Abbas r.a. berkata, "Penduduk Yaman pergi haji dan mereka tidak menyiapkan bekal apa pun untuk perjalanan mereka. Bahkan, mereka berkata, 'Kita semua bertawakal kepada Allah.' Apabila mereka telah tiba di Mekah, mereka meminta-minta kepada orang banyak. Kemudian Allah menurunkan ayat yang berbunyi, 'Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.'"

Ummat islam melaksanakan ibadah khususnya ibadah haji sesuai dengan manhaj atau sistim yang sudah diajarkan oleh Rasulullah melalui bimbingan wahyu Ilahi, melaksanakan ibadah haji harus ke Mekkah Al Mukarramah, tidak boleh ke tempat lain yang dianggap istimewa dan keramat, begitu pula halnya ritual mencium batu hitam atau hajar aswad, bukan lantaran batu hitamnya tapi dia adalah sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah, Hadis riwayat Umar bin Khathab ra.:
Ketika Umar bin Khathab mencium Hajar Aswad (batu hitam), ia berkata: Demi Allah, aku tahu bahwa engkau hanyalah sebongkah batu, seandainya aku tidak melihat Rasulullah saw. menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu. (Shahih Muslim )

Ibadah haji memang besar pahalanya sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah, Barang siapa datang (haji) ke Baitullah ini lalu tidak berbicara kotor dan tidak berbuat maksiat, maka ia akan kembali seperti ketika dilahirkan oleh ibunya. (Shahih Muslim), tapi tidak mesti dilaksanakan setiap tahun karena membutuhkan dana yang tidak sedikit, walaupun mampu sebaiknya rezeki yang masih ada tidak digunakan untuk ibadah haji, masih banyak ibadah yang memerlukan biaya yang pahalanya mungkin lebih atau sama dengan melaksanakan ibadah haji seperti mengentaskan kemiskinan kerabat dan tetangga melalui santunan dan bantuan sosial, membantu dengan bea siswa bagi anak-anak muslim yang memerlukan bantuan untuk sekolah dan kuliahnya, Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah pernah berpidato di hadapan kami, beliau berkata: Wahai manusia! Sesungguhnya Allah telah mewajibkan ibadah haji atas kamu sekalian, maka berhajilah! Seorang lelaki bertanya: Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah? Beliau diam tidak menjawab. Sehingga lelaki itu mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali. Rasulullah saw. kemudian menjawab: Jika aku katakan "ya", niscaya akan wajib setiap tahun dan kamu sekalian tidak akan mampu melaksanakannya. Beliau melanjutkan: Biarkanlah apa yang telah aku katakan kepada kamu sekalian! Sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah binasa karena mereka banyak bertanya dan berselisih dengan nabi-nabinya. Maka apabila aku memerintahkan sesuatu kepada kamu sekalian, laksanakanlah sesuai dengan kemampuanmu dan jika aku melarang sesuatu kepada kamu sekalian, janganlah kamu kerjakan!. (Shahih Muslim).

Sangat ironi dan menyedihkan bagi ummat islam yang sudah mampu dari segi materi, kesehatan dan amaliyah ibadah lainnya tapi masih mengabaikan untuk menunaikan ibadah haji dengan alasan "belum ada panggilan", sebenarnya panggilan Allah untuk para tamu menunaikan ibadah haji ke Mekkah sudah sejak dahulu, tinggal lagi kepada pribadi kita masing-masing untuk meningkatkan iman, memperkuat tekad, mempersiapkan fisik dan mental, menyediakan bekal materi secukupnya untuk memenuhi panggilan Allah dan meraup pahala yang dijanjikan yaitu syurga-Nya, wallahu a'lam. [Cubadak Solok, 21 Syawal 1431.H/ 30 September 2010].

Referensi;
1. 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath 2. 2. Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4. Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009




25. Pahala Berbakti Kepada Orangtua


Oleh ; MUKHLIS DENROS

Tidaklah berlebihan bila dinyatakan bahwa tanpa orangtua maka tidak ada pula anak, artinya kehadiran anak selain memang ditakdirkan Allah, juga merupakan rentetan kehidupan dari seorang ayah dan seorang ibu, yang mengandung, melahirkan dan membesarkan sibuah hatinya, pentingnya keberadaan orangtua yang berdekatan dengan Allah tergambar dalam hadits Rasulullah, "Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orang tua."(HR. Al Hakim)

Dalam surat An Nisa’ 4;36 Allah berfirman;
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil[295] dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,

Pada ayat tersebut tergambar bahwa seorang anak berkewajiban unuk beribadah hanya kepada Allah Swt, seluruh hidupnya harus bernuansa ibadah, tidak boleh menserikatkan Allah dengan sesuatu apapun karena syirik itu merupakan kezhaliman yang besar, beribadah dengan motivasi/ niat selain Allah maka dihadapan-Nya tidak ada artinya sama sekali. Sedangkan kewajiban yang kedua adalah berbakti atau berbuat baik kepada kedua orangtuanya, disini tergambar bahwa kebaktian kepada Allah harus diiringi dengan kebaktian kepada orangtua, tidak sempurna ibadah seseorang kepada Allah kalau dia durhaka kepada orangtuanya, demikian pula berbuat baik kepada orangtua juga sia-sia sementara tidak beriman kepada Allah, disini tidak bisa dipisahkan iman kepada Allah dengan berbuat baik kepada kedua orangtua.

Berbakti kepada kedua orangtua atau ”birrul walidain’’ dianjurkan oleh Allah Swt. Ia memerintahkan hal ini dan memuji sebagian Rasul-Nya yang telah berbakti kepada kedua orangtuanya, untuk itu Ia berfirman sehubungan dengan nabi Yahya As, ”Dan seorang yang berbakti kepada kedua orangtuanya, dan bukanlah ia seorang yang sombong lagi durhaka” [Maryam 19;14].

"Seorang datang kepada Nabi Saw. Dia mengemukakan hasratnya untuk ikut berjihad. Nabi Saw bertanya kepadanya, "Apakah kamu masih mempunyai kedua orangg tua?" Orang itu menjawab, "Masih." Lalu Nabi Saw bersabda, "Untuk kepentingan mereka lah kamu berjihad." (Mutafaq'alaih)

Nabi Saw melarangnya ikut berperang karena dia lebih diperlukan kedua orang tuanya untuk mengurusi mereka. Padahal jihad merupakan amal yang besar pahalanya bahkan wafat didalamnya dinnyatakan mati syahid, tapi ketika kondisi tertentu lebih utama menjaga orangtua.
Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah Saw, ”Siapakah orang yang paling berhak ku baktikan diriku kepadanya?”, Rasulullah menjawab,”Ibumu”, ia bertanya kembali,”Kemudian siapa lagi?” Rasulullah menjawab,”Ibumu”, ia bertanya lagi,”kemudian siapa lagi?” Rasulullah menjawab,”Ibumu”, ”Kemudian siapa lagi?”, Rasulullah menjawab,”Ayahmu”. [HR.Bukhari dan Muslim].

Dari dialog sahabat dengan Rasulullah tersebut dinyatakan bahwa berbakti kepada orangtua adalah satu kewajiban yang harus ditunaikan seorang anak terutama kepada ibunya yang telah mengandung, melahirkan, membesarkan dan mendidik dengan penuh kasih sayang. Seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?" Nabi Saw menjawab, "ibumu...ibumu...ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu.".

Seorang ayah datang kepada Rasulullah menceritakan perangai anaknya yang mengadukan dirinya kepada Rasulullah karena sang ayah mengambil uang anaknya, dia mengatakan sesuatu hal kepada buah hatinya, Rasulullah hanya mendengarkan dengan penuh perhatian; 'Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu waktu muda. Semua hasil jerih-payahku kau minum dan kau reguk puas. Bila kau sakit di malam hari, hatiku gundah dan gelisah, lantaran sakit dan deritamu, aku tak bisa tidur dan resah, bagai akulah yang sakit, bukan kau yang menderita. Lalu airmataku berlinang-linang dan meluncur deras. Hatiku takut engkau disambar maut, padahal aku tahu ajal pasti akan datang. Setelah engkau dewasa, dan mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dengan kekerasan, kekasaran dan kekejaman, seolah kaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan. Sayang..., kau tak mampu penuhi hak ayahmu, kau perlakukan daku seperti tetangga jauhmu. Engkau selalu menyalahkan dan membentakku, seolah-olah kebenaran selalu menempel di dirimu ..., seakan-akan kesejukan bagi orang-orang yang benar sudah dipasrahkan.' Selanjutnya Jabir berkata: "Pada saat itu Nabi langsung memegangi ujung baju pada leher anak itu seraya berkata: "Engkau dan hartamu milik ayahmu!" (HR. At-Thabarani dalam "As-Saghir" dan Al-Ausath).

Bakti anak kepada orangtuanya banyak hal yang bisa dilakukan sehingga peluang pahala memang tersedia untuknya sebagaimana yang disabdakan Nabi, "Barangsiapa berhaji untuk kedua orang tuanya atau melunasi hutang-hutangnya maka dia akan dibangkitkan Allah pada hari kiamat dari golongan orang-orang yang mengamalkan kebajikan.'' (HR. Ath-Thabrani dan Ad-Daar Quthni) Bahkan lebih jauh dari itu peran orangtualah yang menyebabkan selamat atau tidaknya sang anak di akherat kelat. Rasulullah Saw ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau lalu menjawab, "Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu." (HR. Ibnu Majah)

Di tengah masyarakat banyak kita saksikan anak-anak yang tidak dapat menunjukkan dirinya sebagai anak yang baik bahkan cendrung dia memperlakukan orangtuanya dengan kasar, sadis dan kejam tanpa peri kemanusiaan. Allah telah memperingatkan dalam firman-Nya,;
”Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ”ah” dan janganlah kamu membentaknya...” [17;23].

Ucapan ”ah, cis, hus ” saja tidak boleh apalagi sampai membentak orangtua dengan kata-kata kasar. Mungkin anak tidak berkata ”ah” dan juga tidak berkata kotor, tapi sikap kesehariannya banyak menyakitkan orangtua, mencoreng nama baik keluarga, maka inipun termasuk durhaka kepada orangtuanya. Termasuk dosa besar seorang yang mencaci-maki ibu-bapaknya. Mereka bertanya, "Bagaimana (mungkin) seorang yang mencaci-maki ayah dan ibunya sendiri?" Nabi Saw menjawab, "Dia mencaci-maki ayah orang lain lalu orang itu (membalas) mencaci-maki ayahnya dan dia mencaci-maki ibu orang lain lalu orang lain itupun (membalas) mencaci-maki ibunya. (Mutafaq'alaih)

Abdullah ibnu Mas’ud berkata, ”Aku bertanya kepada Rasulullah, amal perbuatan apakah yang paling disukai Allah ?” Rasulullah menjawab, ”Shalat pada waktunya”, aku bertanya kembali ”Kemudian apa lagi?”, Rasulullah menjawab, ”Berbaktilah kepada kedua orangtua”, aku bertanya lagi ”Kemudian apalagi?” Rasulullah menjawab, ”Berjihad di jalan Allah” [HR. Bukhari dan Muslim].

Dari hadits ini Rasulullah mengklasifikasikan tiga amalan yang utama, yang nomor dua adalah berbakti kepada kedua orangtua, bahkan berjihad termasuk dalam deretan yang ketiga, karena demikian pentingnya berbakti kepada kedua orangtua dibandingkan berjihad. Seorang datang kepada Rasulullah untuk pergi jihad, tapi dia berat untuk meninggalkan orangtuanya yang hanya sebatang kara, sementara itu diapun siap untuk syahid dalam jihad, maka Rasulullah menunda keberangkatan jihad untuk pemuda itu, khusus untuk dia diberi dispensansi untuk berbakti saja kepada orangtua dan itu senilai dengan jihad.

Berbakti kepada orangtua banyak manfaatnya, diantaranya dapat menebus dosa yang dilakukannya sebagaimana hadits berikut ini, ”Ada seorang lelaki yang datang kepada Rasulullah lalu bertanya, ”Sesungguhnya aku telah melakukan suatu dosa besar, apakah ada taubat bagiku?” Nabi balik bertanya, ”Apakah engkau mempunyai ibu?”, lelaki itu menjawab, ”Tidak ada”, apakah engkau mempunyai bibi ? tanya Rasul. Ia menjawab, ”Iya punya”, Maka berbaktilah kepadanya”, kata Rasulullah” [HR. Turmuzi].

Dari beberapa ayat dan hadits diatas memang keberadaan anak di dunia ini harus mempersembahkan sesuatu kepada kedua orangtuanya, bukan sembahan berupa materi, kemewahan dan bukan pula pangkat serta kejayaan, tapi persembahan; memperlakukan orangtua dengan santun, penuh kasih sayang dan penuh perhatian, tanpa perantara mereka mustahil kita dapat hadir menikmati hidup ini.

Kita melihat sirah Rasulullah dan para sahabatnya, pituah Rasulullah wajib diikuti oleh setiap muslim. Memang ada seorang sahabat yang datang menceritakan bagaimana orangtua memperlakukannya dengan kejam, kasar dan tidak manusiawi, tapi Rasulullah memberi jawaban bahwa seorang anak tetap harus menunjukkan santun dan baktinya kepada orangtua, walaupun dahulu orangtuamu memperlakukanmu dengan buruk, bahkan mungkin dahulu kamu diiris-iris dengan pisau sekalipun.

Yang jelas bagi seorang anak dia berkewajiban untuk berbakti kepada ayah dan ibunya dan itu sudah cukup, bagaimana ayah dan ibunya memperlakukannya dahulu maka itu tanggungjawab orangtua kepada Allah, mereka nanti akan ditanya Allah bagaimana kewajibannya mendidik, mengasuh, memberi pendidikan dan sebagainya kepada anaknya. Rasulullah dalam sebuah hadits membuka mata orangtua, ”Berbuat baiklah kepada orangtuamu niscaya nanti anak-anakmu akan berbuat baik kepadamu”. Kepada kita yang hari ini adalah seorang anak, berbaktilah kepada orangtua kita kalau kita mau nanti dikemudian hari memiliki anak-anak yang juga berbakti kepada kita, wallahu a’lam [Cubadak Solok,19 Syawal 1431.H/ 28 September 2010]

Referensi;
1. 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath
2. Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4. Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009


24. Pahala Memelihara Anak Yatim


Oleh ; MUKHLIS DENROS

Ketika takdir telah menentukan bagi seorang anak sebagai anak yatim maka tidak ada halangan baginya untuk menikmati kehidupan ini sebagaimana anak-anak lain layaknya karena banyak saudara ibu dan saudara ayahnya yang punya kelebihan rezeki, dapat membantu meringankan kehidupan sang yatim selain itu merupakan kewajiban untuk memperhatikan sesama anak-anak muslim, Rasulullah bersabda,"Aku dan pengasuh anak yatim (kelak) di surga seperti dua jari ini. (HR. Bukhari), Rasulullah Saw. menunjuk jari telunjuk dan jari tengah dan merapatkan keduanya).

Rumah yang baik bukanlah rumah yang besar, bagus dan megah sebagai tempat yang nyaman bagi seorang muslim, bukan berarti kita tidak boleh punya rumah yang demikian, tapi Rasulullah memberikan gambaran tentang sebaik-baiknya rumah yaitu,"Sebaik-baik rumah kaum muslimin ialah rumah yang terdapat di dalamnya anak yatim yang diperlakukan (diasuh) dengan baik, dan seburuk-buruk rumah kaum muslimin ialah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim tapi anak itu diperlakukan dengan buruk. (HR. Ibnu Majah)

Seorang anak yang dibesarkan dalam keadaan yatim adalah romantika kehidupan yang dilalui hingga dewasanya, walaupun dengan kesusahan dan penderitaan kehidupan dilalui bersama sang ibu, tapi perjuangan ibu yang ikhlas membesarkan anaknya tidaklah sia-sia, semuanya diberi pahala yang berlipat-ganda, sebagaimana yang digambarkan dalam hadits yang disampaikan oleh Rasulullah, "Aku dan seorang wanita yang pipinya kempot dan wajahnya pucat bersama-sama pada hari kiamat seperti ini (Nabi Saw menunjuk jari telunjuk dan jari tengah). Wanita itu ditinggal wafat suaminya dan tidak mau kawin lagi. Dia seorang yang berkedudukan terhormat dan cantik namun dia mengurung dirinya untuk menekuni asuhan anak-anaknya yang yatim sampai mereka kawin (berkeluarga dan berumah tangga) atau mereka wafat. (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Sifat dermawan mendapat balasan pahala dari Allah dengan berlipat ganda yang sekaligus siapa yang mengabaikan fakir miskin dan anak yatim mendapat ancaman yang berat sekali bahkan dianggap mendustakan agama;

" Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin" [Al Ma'un 107;1-3]

Anak yatim mendapat perhatian yang istimewa dalam islam karena secara kejiwaan mereka merasakan betapa sepinya hidup tanpa ayah sementara anak-anak lain dapat bermanja-manja dengan ayah mereka, hal ini membuat Nabi Muhammad merasakan benar keadaan si yatim karena beliau pernah mengalaminya.

. Rasulullah pernah terlambat menunaikan shalat Idul Fithri karena berpapasan denan seorang bocah yang bermasalah, pakaiannya kumal, rambutnya kusut dan tidak terurus,”Kenapa kamu menangis sementara teman-temanmu sibuk dengan permainannya, pakaiannyapun bagus-bagus dan di tangannya da kue yang enak, dimana orangtuamu?”.

Anak itu terkejut dengan datangnya seorang lelaki di hadapannya, dia tidak tahu kalau sedang berhadapan dengan Rasulullah,”Bagaimana saya tidak sedih, ayah saya sudah meninggal, ia syahid dalam peperangan mengikuti perintah jihad dari Rasulullah, sedangkan ibu saya sudah menikah lagi, mereka tidak memperhatikan saya...”, Keluhan lirih itu disambut oleh ajakan Rasulullah,”maukah engkau berayahkan Muhammad, beribukan Aisyah, bersaudarakan Fatimah dan bertemankan Hasan?”.

Spontan anak itu menerima tawaran itu, Rasulullah mengantarkan anak itu pulang untuk dimandikan, diberi makan, diberi baju baru dan belanja layaknya seorang anak yang sedang merayakan Idul Fithri.

Diantara gema takbir, Rasulullah telah mengangkat derajat seorang anak sebagai manusia yang mulia dengan penghormatan yang layak tanpa melecehkan keadaannya. Beliau menegaskan "Demi yang mengutus aku dengan hak, Allah tidak akan menyiksa orang yang mengasihi dan menyayangi anak yatim, berbicara kepadanya dengan lembut dan mengasihi keyatiman serta kelemahannya, dan tidak bersikap angkuh dengan apa yang Allah anugerahkan kepadanya terhadap tetangganya. Demi yang mengutus aku dengan hak, Allah tidak akan menerima sedekah seorang yang mempunyai kerabat keluarga yang membutuhkan santunannya sedang sedekah itu diberikan kepada orang lain. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, ketahuilah, Allah tidak akan memandangnya (memperhatikannya) kelak pada hari kiamat."(HR. Ath-Thabrani)


Memperhatikan anak yatim bukanlah hanya ketika dizaman Nabi Muhammad saja tapi dizaman Nabi Musa terjadi hal yang sama, tergambar dari perjalanan Nabi Musa dan Khidir, Allah memfirmankan hal itu dalam surat Al Kahfi;
"Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, Kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, Maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu".[18;77]
"Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah Aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya"[18;82]

Kalaulah ummat islam yang mengerti tentang pahala memelihara anak yatim maka mereka akan berkompetisi untuk mengambil anak yatim sebagai amanah untuk dididik, dibimbing dan dibesarkan sebagaimana anak sendiri, sehingga harta anak yatim terjaga dengan baik karena seluruh kebutuhannya telah dipenuhi orangtua angkatnya, Rasulullah bersabda, "Barangsiapa menjadi wali atas harta anak yatim hendaklah diperkembangkan (diperdagangkan) dan jangan dibiarkan harta itu susut karena dimakan sodaqoh (zakat). (HR. Al-Baihaqi)

Memelihara anak yatim adalah salah satu pintu untuk berbuat baik dan meraup pahala dari Allah sebagai balasan atas kebaikannya itu, Rasulullah bersabda,"Barangsiapa dibukakan baginya pintu kebaikan (rezeki) hendaklah memanfaatkan kesempatan itu (untuk berbuat baik) sebab dia tidak mengetahui kapan pintu itu akan ditutup baginya. (HR. Asysyihaab). Mumpung masih punya kelebihan rezeki dari Allah, alangkah baiknya sebagian rezeki tersebut disisihkan untuk kebutuhan anak yatim yang hidup bersama dalam rumah kita sebagaimana memelihata anak sendiri, karena kita tidak tahu, siapa kelak yang lebih berbakti kepada kita, apakah akan kandung kita ataukah anak yatim yang hidup dalam asuhan kita, wallahu a'lam. . [Cubadak Solok,19 Syawal 1431.H/ 28 September 2010]

Referensi;
1. 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath 2. 2. Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4. Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009




23. Pahala Memakai Jilbab


Oleh ; MUKHLIS DENROS

Batas aurat wanita adalah segenap tubuhnya selain muka dan telapak tangan, demikian pendapat kebanyakan ulama. Dalil-dalil yang dikemukakan para ulama mengenai aurat wanita adalah;
”Wahai Nabi, ”Katakanlah kepada isteri-isterimu dan putra-putrimu, serta para isteri orang mukmin, agar memakai jilbab. Karena dengan cara demikian mereka akan mudah dikenal dan tidak akan mudah diganggu orang. Dan adalah Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang”[Al Ahzab 33;59].

Seluruh tubuh wanita itu merupakan aurat yang wajib bagi mereka menutupinya, kecuali muka dan kedua telapak tangan, firman Allah dalam surat An Nur 24;31;
"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya..."

Pakaian atau busana merupakan alat penting untuk menjaga kesucian dan menunjukkan identitas apalagi dalam ajaran islam ada batasan tertentu tentang aurat yang boleh tampak dan dilarang untuk dipandang oleh orang lain. Pakaian merupakan alat penting untuk mencegah timbulnya hal-hal yang dapat menyeret kepada zina sekaligus melindungi diri dari cuaca dan sebagai identitas pribadi yang memakainya.

Diterangkan oleh hadits dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Aisyah, ”Dari Aisyah berkata, bahwa Nabi Muhammad telah bersabda, ”Allah tidak menerima shalat wanita yang sudah baligh kecuali dengan memakai kerudung”. Dari Ummu Salamah, bahwa ia menanyakan kepada Nabi Saw, ”Bolehkah wanita shalat dengan memakai baju kurung dan selendang, tanpa kain dan sarung ? ” Nabi menjawab,”Boleh, asal baju itu dalam hingga menutupi punggung dan kedua tumitnya”.

Memakai jilbab merupakan ibadah yang diwajibkan oleh Allah kepada kaum muslimah sama dengan kewajiban-kewajiban yang lain, Allah berfirman dalam Adz Dzariyat 51;56, ”Tidak Aku jadikan jin dan manusia itu kecuali untuk beribadah kepada-Ku”. Yang dimaksud dengan ibadah bukan yang terangkum dalam rukun islam saja tapi seluruh aktivitas yang dilakukan berdasarkan syariat islam dalam rangka mencari nafkah. Dengan demikian setiap gerak dan gerik dan yang dipakai, yang dimakan dan yang diminum oleh seorang muslim jika dilandasi dengan iman adalah dalam rangka beribadah kepada Allah.

Hubungan busana dengan akhlaq, Busana bukan hanya merupakan hubungan yang erat dengan aqidah dan ibadah, akan tetapi juga mempunyai hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi. Busana memberikan pengaruh terhadap diri pribadi yang memakai busana tersebut ataupun terhadap pribadi-pribadi di sekitarnya.

Seorang wanita yang berbusana muslimah tanpa disadarinya busana tersebut akan mempengaruhi dan membentuk wataknya sesuai dengan akhlak mulia seorang muslimah. Bila berbusana bintang atau artis kesayangannya umpamanya, tanpa disadarinya tingkah dan akhlaknya akan mengarah pula pada tingkah laku dan akhlak artis pula.

Sebaliknya bila seorang artis yang biasanya memakai busana setiap harinya dengan selera zaman dan hawa nafsu belaka, akan tetapi setelah dia mempelajari tentang akhlak mulia dan kepribadian muslimah, akhirnya dengan penuh kesadaran diapun akan memulai memakai busana muslimah yang menjunjung tinggi akhlak mulia.

Demikian hubungan timbal balik antara busana dan akhlak seseorang. Sedangkan hubungan/ pengaruh antara busana dengan akhlak masyarakat dapat kita jelaskan seperti berikut;

Apabila seorang wanita islam memakai busana muslimah yang sempurna setiap pergi ke suatu tempat/ keluar rumah, maka dikala dia lewat di hadapan kumpulan pemuda, pada umumnya para pemuda yang melihat dan memperhatikannya akan berfikir dua kali atau lebih untuk mengganggunya atau menggoda. Bahkan mereka merasa segan dan hormat karena pantulan akhlak mulia yang terpancar dari celah-celah busana muslimah yang dipakainya itu.

Dalam haditspun kita temukan dalil bahwa berjilbab bagi seorang wanita yang mengaku beriman dan telah baligh adalah wajib, ”Berkata Aisyah, ”Mudah-mudahan Allah mengasihi para wanita muhajirat ketika Allah turunkan ayat ”Dan julurkanlah kerudung-kerudung mereka itu hingga ke dadanya...” mereka sama merobek kain-kainnya yang belum berjahit, lalu mereka gunakan buat kerudung”.

Ummu Athiyah berkata, ”Kami [kaum wanita] diperintahkan mengeluarkan para wanita yang sedang haid pada hari raya dan juga para gadis pingitan untuk menghadiri [menyaksikan] jama’ah dan do’a kaum muslimin, tetapi wanita yang sedang haid supaya menjauh dari tempat shalatnya. Seorang wanita bertanya, ”Ya Rasulullah salah seorang kami tidak mempunyai kain jilbab”, jawab Nabi, ”Hendaklah temannya meminjamkan jilbab kepadanya”.

Mengenakan jilbab atau kerudung itu diwajibkan bagi wanita muslimat, sama dengan kewajiban-kewajiban yang lainnya seperti shalat, puasa, zakat dan lain-lainnya. Dalam arti kata, jilbab atau kerudung itu wajib hukumnya, apabila tidak dilaksanakan maka ia berdosa, apabila dilaksanakan ia berpahala, dengan kata lain, jilbab atau kerudung itu mempunyai sangsi yang besar sebagaimana halnya shalat, puasa, zakat dan lain-lain, atau mempunyai sangsi besar apabila dilaksanakan. Semua itu wajib bagi wanita muslimat yang beriman.

Seorang wanita wajib menutup auratnya dengan baik yaitu mengenakan busana muslimat yang dinamakan dengan jilbab sejak ia telah baligh sebagaimana telah diceritakan oleh ibunda Aisyah, bahwa adiknya yang bernama Asma binti Abu Bakar pernah datang menghadap Rasulullah dengan pakaian agak tipis, Rasulullah berpaling dan bersabda, ”Wahai Asma, bila seorang wanita telah baligh tidak boleh terlihat kecuali ini dan ini” lalu Rasulullah menunjukkan pada muka dan telapak tangannya”[HR. Abu Daud].

Sedangkan bila wanita telah berusia lanjut yang berhenti haidnya dan tidak lagi bisa mengandung. Hukumnya mengenakan jilbab sunnat saja, begitu juga anak kecil yang belum baligh sunnat hukumnya memakai jilbab tidak wajib yang didalamnya ada unsur-unsur pendidikan dan latihan, ”Dan wanita-wanita yang sudah tua dan tidak mengharapkan perkawinan lagi, tiada salahnya mereka menanggalkan pakaian luarnya dengan tidak menampakkan perhiasannya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” [An Nur 24;60].

Ayat ini tidak menekan wanita yang sudah tua harus mengenakan jilbabnya atau pakaian luarnya. Yang demikian itu lebih baik dan lebih sopan atau utama dibandingkan dengan yang tidak memakai jilbab. Tetapi bukan berarti mereka boleh menanggalkan seluruh pakaiannya sehingga tampak semua auratnya, yang boleh ditanggalkan hanya pakaian luarnya atau jilbabnya saja.

Busana atau jilbab yang menutupi seluruh tubuhnya selain yang dikecuaikan yaitu muka dan telapak tangan. Busana yang bukan untuk perhiasan kecantikan, atau tidak berbentuk pakaian aneh menarik perhatian dan tidak berparfum [wangi-wangian]. Tidak tipis sehingga menerawang dan tampak bentuk tubuhnya. Tidak sempit sehingga tampak bentuk lekuk tubuhnya. Busana yang tidak menampakkan betis/kakinya. Tidak menampakkan rambutnya walaupun sedikit dan tidak pula leher dan dadanya. Busana yang tidak menyerupai pakaian seorang lelaki dan tidak menyerupai pakaian dan tidak menyerupai pakaian wanita-wanita kafir/ non muslim.
Busana yang pantas dan sederhana.

Dalam memakai busana muslimah ada aturannya yang harus diperhatikan dan ketika apa saja sehingga seseorang muslimah wajib mengenakan jilbab dan pada waktu tertentu boleh membukanya. Dari beberapa hadits maupun dalam Al Qur’an sendiri mengandung keterangan tentang jilbab atau kerudung ini kita dapat memetik pokok-pokok penting tentang waktu-waktu seorang muslimah memakai jilbab diantaranya;
a. Waktu muslimah hendak keluar rumah, baik siang maupun malam, baik keluarnya itu untuk suatu kewajiban ataupun untuk keperluan lain, maka kewajibannya untuk mengenakan jilbab.
b. Apabila mereka menerima kehadiran orang laki-laki di rumahnya, maka baginya wajib mengenakan jilbab.
c. Apabila ada pengunjung lelaki yang hadir disamping/ di sekitar/ di dekat rumah kediamannya, maka baginya wajib mengenakan jilbab.
d. Apabila mereka berada di tempat terbuka untuk umum atau tempat orang lain sering hilir mudik dan dapat jelas memandangnya, maka baginya wajib mengenakan jilbab.
e. Jilbab boleh dilepas apabila berada dalam rumahnya yang tidak ada laki-laki lain kecuali muhrimnya atau yang telah dinyatakan dalam surat An Nur 24;31 ”Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka [anak tiri] atau saudara-saudara mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan lelaki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita, atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita”.


Apabila wanita muslimah mau dan mampu berbusana muslimah secara sempurna maka banyak hikmah yang akan didapatkan yaitu;

Pertama, keberadaannya akan mudah diidentifikasi [dikenal] sebagai muslimah, sebagaimana yang termaksud dalam surat Al Ahzab 33;59, ”Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu”.

Kedua, mencegah terjadinya pelecehan seksual yang sangat merendahkan wanita itu.

Ketiga, dapat mewujudkan tertatanya eika dan tatanan moral masyarakat. Saat ini hampir setiap hari kita menemukan berita pemerkosaan yang dilakukan oleh kaum remaja. Salah satu penyebabnya adalah tumbuhnya ransangan dari kaum wanita yang berdandan seronok. Ransangan itu kemudian disalurkan kepada pacar, WTS, atau melakukan pemerkosaan. Begitulah rusaknya tatanan moral sebagai akibat pencampakan hijabul mar’ah [hijab wanita].

Keempat, mampu mewujudkan izzah [harga diri] islam. Inilah hikmah yang terpenting. Bila hal ini telah terujud maka ummat islam tidak lagi hanya menjadi obyek dari peradaban barat. Sebaliknya, suatu saat ummat islam yang akan memimpin dunia.

Setiap muslimah boleh saja mereka pakai make up, hiasan matanya ialah menundukkan pandangan, hiasan bibirnya adalah lipstik kejujuran, hiasan pipinya adalah rasa malu, dia senantiasa menggunakan sabun istghfar untuk membasuh debu-debu maksiat dan daki-daki dosa, sedangkan jilbabnya menjaga rambut dari ketombe, aksesorisnya giwang kesopanan, gelang tawadhu’, cincin ukhuwah, kalung kesucian dan tempat berhiasnya adalah salon iman, gerak geriknya mencerminkan mukminah yang beribadah kepada Allah, imbalan ketaatannya adalah pahala tiada terhingga,wallahu a'lam. [Cubadak Solok,19 Syawal 1431.H/ 28 September 2010]

Referensi;
1. 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath 2. 2. Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4. Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009



22. Pahala Memakmurkan Masjid


Oleh ; MUKHLIS DENROS

Motivasi seorang muslim mendirikan masjid atau mushalla haruslah untuk mengabdi kepada Allah, karena apapun juga yang dilakukan harus suci niatnya, sedangkan niat yang suci saja kadangkala bisa berubah dalam perjalanan apalagi diawali dengan niat yang keliru. Masjid utamanya adalah untuk melaksanakan ibadah di dalamnya, yang khusus adalah pelaksanaan ibadah ritual seperti shalat dan khutbah, sedangkan manfaat lain dari masjid dapat digunakan sebagai sentral kegiatan ummat islam sebagaimana fungsi masjid di zaman Rasulullah dan masa khulafaurrasyidin. Pembangunan masjid harus bersih dari segala motivasi negatif, harus berdasarkan taqwa kepada Allah.

"Rasulullah Saw menyuruh kita membangun masjid-masjid di daerah-daerah dan agar masjid-masjid itu dipelihara kebersihan dan keharumannya. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

"Aku tidak menyuruh kamu membangun masjid untuk kemewahan (keindahan) sebagaimana yang dilakukan kaum Yahudi dan Nasrani. (HR. Ibnu Hibban dan Abu Dawud)

Dalam sebuah surat Al Taubah ayat 109 Allah swt berfirman;
"Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka jahannam. dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang- orang yang zalim"

Ubay bin Ka'ab bertanya kepada Umar bin Khattab tentang taqwa, Umar menjawab,"Apakah anda pernah melewati jalan berduri?", Ubay menjawab,"Ya pernah", Umar bertanya,"Apakah yang anda lakukan?". Kata Ubay,"Saya kesampingkan duri itu dan berusaha maju ke depan dan berhati-hati", kata Umar, "Itulah taqwa". Rasulullah menyatakan bahwa taqwa itu ada di hati bukan diucapan, sedangkan orang yang bertaqwa juga dikatakan adalah orang yang mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Yang lebih penting dari dari pemanfaatan masjid adalah memakmurkannya karena bangunan megah sebuah masjid tidak ada artinya bila dibiarkan kosong dari aktivitas. Memakmurkan masjid merupakan kewajiban seorang muslim sebagai realisasi dari taqwa, Allah berfirman dalam surat At Taubah 9;18
" Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.".

Ternyata yang dinyatakan pemakmur masjid bukanlah orang yang mendirikannya walaupun mendirikan masjid itu mendapat pahala yang layak dari Allah, pemakmur masjid bukan pula orang-orang yang tercatat sebagai pengurus masjid tersebut, tapi merekalah orang-orang yang mau dan mampu mengaplikasikan taqwa dalam aktivitas yang lebih banyak terfokus di masjid. Rasulullah bersabda,"Beritakanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan kaki di malam gelap-gulita menuju masjid bahwa bagi mereka cahaya yang terang-benderang di hari kiamat. (HR. Al Hakim dan Tirmidzi)

Pemakmur masjid adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dengan keimanan yang diujudkan melalui aplikasi amaliyyah sehari-hari, merekalah orang-orang yang dipastikan masuk syurga sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surat Al Baqarah 2;25
"Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang Suci dan mereka kekal di dalamnya".

Pemakmur masjid itu adalah orang-orang yang senantiasa melaksanakan shalat, baik shalat sunnah ataupun shalat wajib dengan cara berjamaah. Kewajiban shalat fardhu yang diteladankan Nabi dilakukan dengan berjamaah kecuali shalat sunnah, karena pentingnya shalat berjamaah ini hingga banyak hadits yang menyatakan hal demikian selain mengutamakan keutamaan, keistimewaan dan pahala yang diperoleh. Ibadah shalat khususnya sebaiknya dilakukan dengan jama'ah dan dimasjid karena hasil pahalanya jauh berbeda bila dikerjakan sendiri di rumah saja, itulah makanya Rasulullah mewajibkan lelaki untuk shalat berjamaah di masjid. Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda ((Shalat berjama`ah lebih utama daripada shalat sendirian dua puluh tujuh derajat.)) Muttafaqun `Alaihi.

Pemakmur masjid itu adalah orang-orang yang menunaikan zakat, Allah berfirman dalam Surat Al Baqarah 2;261
”Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan harta mereka pada jalan Allah, adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. dan Allah melipatgandakan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah itu luas pemberian-Nya dan Dia amat Mengetahui”.

Yang dikatakan pemakmur masjid itu adalah orang-orang yang hidup bebas merdeka untuk melaksanakan pengabdian kepada Allah, dia menggantungkan segala harapan dan rasa takut hanya kepada Allah, laa khuaf wala raja' illallah. Tidak ada yang ditakuti kecuali Allah.

Nabi Saw bertanya kepada malaikat Jibril As, "Wahai Jibril, tempat manakah yang paling disenangi Allah?" Jibril As menjawab, "Masjid-masjid dan yang paling disenangi ialah orang yang pertama masuk dan yang terakhir ke luar meninggalkannya." Nabi Saw bertanya lagi," Tempat manakah yang paling tidak disukai oleh Allah Ta'ala?" Jibril menjawab, "Pasar-pasar dan orang-orang yang paling dahulu memasukinya dan paling akhir meninggalkannya." (HR. Muslim)

Kita memang mengharapkan masjid yang indah, megah lagi mewah, bahkan rumah Allah tersebut harus lebih indah, megah dan mewah dari rumah-rumah masyarakat, tapi harus disertai dengan berbagai aktivitas, tepatnya masjid tersebut dimakmurkan oleh jamaahnya, bila tidak terujud masih lebih baik langgar/ mushalla/ surau buruk di ujung desa yang digunakan untuk berbagai aktivitas terutama membentuk kader-kader bangsa yang bertaqwa kepada Allah Swt. wallahu a'lam [Cubadak Solok,18 Syawal 1431.H/ 27 September 2010]

Referensi;
1. 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath
2.Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4.Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009




21.Pahala Mendirikan Masjid


Oleh ; MUKHLIS DENROS

Ummat islam mampu membangun masjid dengan biaya besar dan model mutakhir seperti di Casablanca Maroko dibangun sebuah masjid termegah di dunia, menaranya hampir sama tingginya dengan menara Eifel di Paris Perancis, dari puncak menara dapat memancarkan sinar laser langsung ke Masjidil Haram di Mekkah. Di Indonesiapun setiap pelosok berdiri masjid megah dan mahal bahkan terdapat juga pembangunan masjid yang sedang dibangun dan dirancang dari tahun ketahun, apalagi di bulan Ramadhan semangat untuk membangun masjid luar biasa.

Masjid pada bulan ini memang penuh sesak oleh ummat islam menunaikan shalat tarawih dan kegiatan-kegiatan lainnya seperti tadarus Al Qur’an, pesantren kilat, diskusi agama dan lain-lainnya sehingga pengurus masjid merasa berkepentingan bila masjid pada bulan ini untuk direhab, dipermanis, diperlebar, melanjutkan pembangunan yang terbengkalai walaupun dengan cara menghutang kepada jamaahnya dengan alasan akan dibayar oleh jamaah di bulan ini dengan kegiatan tabungan Ramadhan, sehingga setiap malam kegiatan memungut infaq digelar dengan berbagai cara asal uang terkumpul yang akibatnya menjadikan tujuan dari rumah untuk ibadah mahdhoh agak terganggu karena gigihnya panitia menghabiskan waktu untuk itu, kita sangat setuju sekali jamaah bersemangat mendermakan hartanya untuk kebaikan apalagi masjid, Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa di dunia membangun masjid maka nanti Allah akan membangunkan istana baginya di syurga”.

Termotivasi dari hadits diatas, kita melihat di Indonesia atau dinegara yang ummat islamnya mayoritas banyak masjid berdiri megah dengan berbagai warnanya, sejak dari ujung desa hingga pusat kota, selain dari dana pribadi, swadaya masyarakat ataupun usaha pemerintah untuk mendirikan masjid pada setiap level pemerintahan, salah satunya sebagai lambang dan kebanggaan suatu daerah. Kita senang bila melakukan perjalanan sebagai musyafir tidak begitu sulit menemukan masjid disepanjang jalan.

Masjid yang indah adalah idaman warga desa dan kota, ada kesejukan saat beribadah didalamnya, tapi karena sibuk membangun fisik masjid, seluruh dana dialokasikan untuk bangunan sementara kegiatan yang lain seperti pengajian dan pembinaan remaja yang juga membutuhkan dana agak diabaikan, banyak masjid yang sudah dan masih bagus dihancurkan lagi mungkin pagarnya sudah ketinggalan zaman diganti dengan yang baru, lantai dan dindingnya diganti dengan keramik mutakhir, menara yang dianggap kurang tinggi dirobohkan lagi lalu dibangun yang lebih tinggi besar dan indah yang menghabiskan dana tidak sedikit, tapi dalam waktu singkat, apalagi bulan Ramadhan dana sekian sangat mudah dikumpulkan.

Bahkan sejak dahulu masa berkembangnya Islam yang diawali dengan pembangunan masjid oleh Rasulullah di Quba dikala melaksanakan hijrah, begitu juga sewaktu sampai di Madinah Rasul mendirikan masjid yang kita kenal dengan masjid Nabawi sebagai sarana pembinaan ummat dan tempat melaksanakan ibadah, artinya dalam perjalanan hijrah Nabi Muhammad sudah membangun dua buah masjid. Perkembangan selanjutnya berdiri pula masjid untuk menyaingi da'wah beliau yang didirikan oleh orang-orang munafiq dibawah pimpinan Abdullah bin Ubay, Allah menjelaskan dalam firman-Nya tentang dua masjid itu, pertama masjid yang didirikan oleh Rasulullah dengan landasan taqwa dan masjid yang didirikan dijurang kehancuran;
"Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka jahannam. dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang- orang yang zalim" [Al Taubah 9;109]

Itulah kecendungan ummat islam untuk menginfaqkan hartanya untuk bangunan fisik sebuah masjid, bahkan masjid yang membutuhkan biaya sampai satu milyar pembangunan awalnya hanya dibiayai oleh satu orang saja, fantastis memang, bahkan kita memang bersyukur disetiap desa ada masjid dan mushalla untuk ibadah ritual dan seremonial ummat islam, khusus Ramadhan hingga Idul Fithri kegiatan di masjid itu banyak sekali terutama shalat tarawih dan MTQ.

Ironinya zakat fithrahpun digunakan untuk kelanjutan dan keindahan masjid sementara fakir miskin disekitar masjid dalam keadaan lapar dan sangat membutuhkan pertolongan, jangankan mereka mau menunaikan shalat di masjid yang diindah di samping rumahnya, sedangkan penderitaan mereka tidak ada yang mau tahu, pengurus masjid tidak pernah menjatahkan bagi mereka dari zakat dan zakat fithrah yang dapat meringankan beban hidupnya karena hak mereka telah melekat pada beton, keramik, loteng dan menara masjid.

Sebenarnya ummat islam itu kaya, terbukti dengan jutaan jumlah jamaah haji yang telah kembali dari tanah suci bahkan ada yang sudah berulang kali, demikian pula pembangunan masjid indah dan mahal dimana-mana, ummat islam itu memang kaya dan sangat antusias sekali mengumpulkan dana untuk itu. Mereka tidak faham dengan perioritas amal yang perlu dikerjakan, yang dimaksud dengan pembangunan masjid bukanlah semata-mata pembangunan fisik masjid itu, bagaimana pembanguna mental pengurusnya, walaupan ada pengajian dilaksanakan tapi sang pengurus tidak pernah hadir, kehadiran mereka hanya saat ada rapat-rapat pembangunan fisik saja. Bahkan dalam mesjidpun terjadi perseteruan memperebutkan jabatan sebagai pengurus masjid, seolah-olah jabatan pengurus masjid sebuah prestise yang harus dipertahankan, padahal itu adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak.

Rasulullah dengan kondisi masjid yang sangat sederhana, atapnya terbuat dari pelepah kurma, dindingnya dari batang-batang kurma, bila hujan bocor, bila angin bergoyang, tapi di masjid itulah lahir generasi terbaik ummat ini, bagaimana dengan masjid yang anda kelola, perlu adanya idarah [manajemen] masjid sehingga semarak islam dan pembinaan ummat ada didalamnya.

Kenyataan yang nampak sekarang adalah masjid nampak megah tetapi tidak difungsikan sebagaimana mestinya, kita takut dengan ramalan Rasulullah Saw yang disabdakan, ”Hampir akan tiba masanya kepada manusia; islam hanya tinggal namanya, Al Qur’an hanya tinggal tulisannya saja, masjid dibangun megah dan ramai, tetapi sepi dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya, ulama-ulama mereka bertingkahlaku jahat dibawah kolong langit ini, dari mulut mereka meluncur fitnah-fitnah, dan fitnah itu kembali menerkam mereka [ulama dan ummat]” [HR. Baihaqi]

Kemampuan ummat dalam mendirikan masjid tidak seiring atau belum mampu menggunakan masjid sebagaimana sunnah Nabi dan fungsinya sehingga banyak masjid sepi dari aktivitas, dipakai ketika hari-hari besar islam saja, itupun dipenuhi oleh mereka yang telah terbatuk-batuk dan terbungkuk-bungkuk, ibarat musiman atau hening seperti kuburan, karena syiar islam tidak nampak dan tumbuh dari dalamnya selain sorot lampu atau kemilau ukiran yang mempercantik sebuah masjid, walaupun berpahala membangun masjid tapi akan lebih besar pahalanya bila kita memakmurkan masjid dengan berbagai aktivitas didalamnya, selain untuk menghindari mubazirnya pembangunan sebauh masjid, wallahu a'lam. [Cubadak Solok,18 Syawal 1431.H/ 27 September 2010]

Referensi;
1. 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath
2.Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4.Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009



20. Pahala Sedekah


Oleh ; MUKHLIS DENROS


Ibadah yang dilakukan seorang muslim banyak sekali asfek sosialnya walaupun ganjaran dan hikmahnya dirasakan oleh pribadi masing-masing, demikian pula halnya yang dikatakan ibadah dalam ajaran islam bukan hanya semata-mata ibadh ritual seperti shalat, puasa dan zikir saja, bahkan infaq atau sedekah merupakan ibadah yang tidak bisa dianggap enteng pahalanya.
Dua ayat dibawah ini merupakan pijakan untuk mengeluarkan nilai lebih yang kita miliki yaitu;
1.Surat Al Baqarah 2;261
”Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan harta mereka pada jalan Allah, adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. dan Allah melipatgandakan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah itu luas pemberian-Nya dan Dia amat Mengetahui”.

Dimana kita bisa mendapatkan pahala yang berlipat ganda, kalau bukan dari Allah, imbalan itu sungguh luar biasa, dengan satu rupiah saja bisa menghasilkan tujuh rupiah yang kemudian dilipatkangandakan lagi menjadi tujuh ratus pahala. Dalam konsep bisnis kelipatan begini sangat menggiurkan karena nampak jelas hasilnya, yang membuat investor tidak segan-segan menginvestasikan dananya guna meraup keuntungan yang tidak sedikit. Tapi ini imbalan kekayaan yang tidak nampak diberikan Allah, hanya untuk kepentingan akherat sebagai balasan pahala bagi hamba yang mau berinfaq, bersedekah dan berinvestasi dengan Allah.

2.Surat Ali Imran 3;92
”Kamu belum lagi mencapai kebajikan sebelum kamu menafkahkan sebagian dari apa yang kamu sukai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan [dermakan] itu Allah Mengetahui”.

Jangan bangga dulu lalu menepuk dada dengan menyatakan diri adalah orang baik, orang shaleh dan orang dermawan dengan memberikan derma, infaq dan sedekah kepada orang yang membutuhkan walaupun dalam jumlah banyak, bila yang diberikan itu barang yang sudah busuk dan basi, barang yang sudah tidak terpakai lagi. Kebaikan itu harus diuji dengan memberikan derma yang terbaik, yaitu memberikan sesuatu yang masih disukai.

Dari Abu Dzar rodhiallohu ‘anhu dia berkata: Ada sekelompok sahabat Rasulullah melapor, “Wahai Rasulullah orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka sholat sebagaimana kami sholat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya.” Beliau bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian apa-apa yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya pada setiap tasbih ada sedekah, pada setiap tahmid ada sedekah dan pada setiap tahlil ada sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan mendatangi istrimu juga sedekah.” Mereka bertanya. “Wahai Rasulullah, apakah jika seseorang memenuhi kebutuhan syahwatnya itu pun mendatangkan pahala?” Beliau bersabda, “Apa pendapatmu, bila ia menempatkan pada tempat yang haram, bukankah ia berdosa? Demikian pula bila ia menempatkan pada tempat yang halal, ia akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)
Dari hadits diatas dinyatakan bahwa shadaqah adalah memberikan kebaikan kepada diri sendiri atau kepada orang lain. Dengan demikian shadaqah maknanya luas mencakup seluruh kebaikan, berupa perkataan atau perbuatan. Ada beberapa keutamaan dari sedekah yaitu;
1.Pahala orang yang bersedekah abadi; artinya tetap dihitung walaupun dia sudah meninggal dunia sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah; Apabila anak Adam wafat putuslah amalnya kecuali tiga hal yaitu sodaqoh jariyah, pengajaran dan penyebaran ilmu yang dimanfaatkannya untuk orang lain, dan anak (baik laki-laki maupun perempuan) yang mendoakannya. (HR. Muslim)
2.Pahala sedekah yang besar; ada waktu-waktu tertentu yang menyebabkan pahala ibadah kita lebih besar dibandingkan dengan sedekah yang lain seperti yang ditanyakan oleh sahabat nabi. Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw, "Shadaqah yang bagaimana yang paling besar pahalanya?" Nabi Saw menjawab, "Saat kamu bersedekah hendaklah kamu sehat dan dalam kondisi pelit (mengekang) dan saat kamu takut melarat tetapi mengharap kaya. Jangan ditunda sehingga rohmu di tenggorokan baru kamu berkata untuk Fulan sekian dan untuk Fulan sekian.''(HR.Bukhari)

3.Pahala sedekah banyak jenisnya; sedekah bukanlah berupa materi saja tapi seluruh potensi yang kita miliki bisa disedekahkan kepada orang lain dan itu berpahala; "Tiap muslim wajib bersodaqoh. Para sahabat bertanya, "Bagaimana kalau dia tidak memiliki sesuatu?" Nabi Saw menjawab, "Bekerja dengan ketrampilan tangannya untuk kemanfaatan bagi dirinya lalu bersodaqoh." Mereka bertanya lagi. Bagaimana kalau dia tidak mampu?" Nabi menjawab: "Menolong orang yang membutuhkan yang sedang teraniaya" Mereka bertanya: "Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?" Nabi menjawab: "Menyuruh berbuat ma'ruf." Mereka bertanya: "Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?" Nabi Saw menjawab, "Mencegah diri dari berbuat kejahatan itulah sedekah." (HR. Bukhari dan Muslim)

4.Sedekah kepada yang prioritas; sedekah atau infaq yang dikeluarkan muslim seharusnya ditujukan kepada orang-orang tertentu, yang memang membutuhkan sehingga menjadi prioritas, seperti sedekah diberikan kepada janda bahkan untuk isteri dan keluarga juga bernilai pahala; "Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam. Ia tidak merasa lelah dan ia juga ibarat orang berpuasa yang tidak pernah berbuka. (HR. Bukhari)
. Sodaqoh paling afdhol ialah yang diberikan kepada keluarga dekat yang bersikap memusuhi. (HR. Ath-Thabrani dan Abu Dawud)

Bersodaqoh pahalanya sepuluh, memberi hutang (tanpa bunga) pahalanya delapan belas, menghubungkan diri dengan kawan-kawan pahalanya dua puluh dan silaturrahmi (dengan keluarga) pahalanya dua puluh empat. (HR. Al Hakim)

5.Sedekah kepada hewan; Sedekah yang diberikan tadi bukan hanya khusus ditujukan kepada manusia saja, bahkan sedekah yang diberikan kepada hewanpun akan menerima imbalan dari Allah. Nabi Muhammad Saw pernah menceritakan dalam sebuah hadits yang mengatakan bahwa pada masa dahulu terdapat seorang anjing yang sedang kehausan di pinggir perigi [kolam], dia berputar-putar di pinggir kolan tersebut dengan amat letihnya. Ketika itu juga datanglah seorang pelacur Bani Israil. Dengan perasaan tulus dan ibu dibukanya sepatunya, kemudian disauknya air dengan sepatu tersebut. Anjing itupun minum dengan senangnya, hausnya lepas, kemudian dia berlalu meninggalkan pelacur seorang diri. Kata Nabi, Allah memperhitungkan dan mengampuni dosanya”.

6.Menyembunyikan sedekah; artinya agar sedekah yang dikeluarkan itu ikhlas diberikan kepada yang berhak hanya semata-mata mencari ridha Allah. Dari Anas bin Malik ra. dari Nabi saw, beliau bersabda : "Ketika Allah menciptakan bumi, bumi itu goyang, maka Dia menciptakan gunung-gunung, lalu bumi itu menjadi tetap (tidak bergoyang). Maka Malaikat heran terhadap kehebatan gunung, mereka bertanya : "Wahai Tuhanku, adakah makhlukMu yang lebih hebat dari pada gunung ?" Dia berfirman: "Ya, besi". Mereka bertanya : "Wahai TuhanKu, adakah makhlukMu yang lebih hebat dari pada besi ?" Dia berfirman : "Ya, api". Mereka bertanya : "Wahai TuhanKu, adakah makhlukMu yang lebih hebat dari pada api ?" Dia berfirman : "Ya, air". Mereka bertanya : "Wahai TuhanKu, adakah makhlukMu yang lebih hebat dari pada air. ?" Dia berfirman : "Ya, angin". Mereka bertanya : "Wahai TuhanKu, adakah dari makhlukMu yang lebih hebat dari pada angin ?"Dia berfirman : "Ya, anak Adam yang tangan kanannya mensedekahkan sesuatu dengan tersembunyi dari tangan kirinya". (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi)
7.Sedekah hasrat biologis; artinya hasrat biologis suami yang disampaikan kepada sang isteri juga dapat dinilai kebaikan dan hal itu berpahala sebagaimana rangkaian hadits diatas menyatakan"….dan mendatangi istrimu juga sedekah.” Mereka bertanya. “Wahai Rasulullah, apakah jika seseorang memenuhi kebutuhan syahwatnya itu pun mendatangkan pahala?” Beliau bersabda, “Apa pendapatmu, bila ia menempatkan pada tempat yang haram, bukankah ia berdosa? Demikian pula bila ia menempatkan pada tempat yang halal, ia akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)
Demikian luasnya Allah membuka peluang ibadah dan pahala kepada ummatnya yang mau dan mampu menggunakan peluang itu, sehingga seluruh potensi hidupnya diberdayakan untuk kepentingan ummat secara sosial guna meraup keuntungan dunia dan akherat yaitu bernilai pahala, wallahu a'lam [Cubadak Solok,12 Syawal 1431.H/ 21 September 2010]

Referensi;
1. 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath - Gema Insani Press
2.Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4.Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009


19. Pahala Do'a


Oleh ; MUKHLIS DENROS

Dalam Al Qur’an kita dapati 203 ayat yang menyebut kata do’a yang artinya bermacam-macam; ibadah, memanggil, memohon, memuji dan lain-lain. Do’a yang dimaksud disini adalah menyeru, memohon dan mengharap sesuatu dari Allah yang Maha Pencipta. Didalam kehidupan manusia memerlukan landasan yang dapat menentramkan jiwanya, atau tali yang dapat menjadi pegangannya. Landasan dan tali yang dimaksud itu ialah do’a disamping itu dia merupakan salah satu konsekwensi dari ma’na syahadat yaitu “Tidak ada yang dapat mengabulkan do’a kecuali Allah” Tidak ada yang lebih utama (mulia) di sisi Allah daripada do'a. (HR. Ahmad)

Berdo’a adalah suatu kebutuhan ruhaniah yang diperlukan manusia dalam kehidupan ini, lebih-lebih tatkal ditimpa kesusahan, kesulitan dan malapetaka. Ada ulama yang mengibaratkan do’a itu laksana obat bagi penyakit ruhaniah, berupa penyakit takut, cemas, resah, ragu-ragu dan sebagainya. Yang lebih utama serta dikabulkan oleh Allah bila kita mencari waktu-waktu tepat dalam berdo'a, Rasulullah Saw ditanya, "Pada waktu apa do'a (manusia) lebih didengar (oleh Allah)?" Lalu Rasulullah Saw menjawab, "Pada tengah malam dan pada akhir tiap shalat fardhu (sebelum salam)." (Mashabih Assunnah)
"Do'a yang diucapkan antara azan dan iqomat tidak ditolak (oleh Allah). (HR. Ahmad)

"Apabila tersisa sepertiga dari malam hari Allah 'Azza wajalla turun ke langit bumi dan berfirman : "Adakah orang yang berdo'a kepadaKu akan Kukabulkan? Adakah orang yang beristighfar kepada-Ku akan Kuampuni dosa- dosanya? Adakah orang yang mohon rezeki kepada-Ku akan Kuberinya rezeki? Adakah orang yang mohon dibebaskan dari kesulitan yang dialaminya akan Kuatasi kesulitan-kesulitannya?" Yang demikian (berlaku) sampai tiba waktu fajar (subuh). (HR. Ahmad)

Disamping itu do'a juga merupakan inti sarinya ibadah dan do'a juga senjata bagi muslim, sebagaimana yang diungkapkan oleh Rasulullah; "Do'a adalah otaknya (sumsum / inti nya) ibadah. (HR. Tirmidzi) "Do'a adalah senjata seorang mukmin dan tiang (pilar) agama serta cahaya langit dan bumi"(HR. Abu Ya'la), keteguhan hati dalam berdo'a sangat diharapkan agar do'a yang disanjungkan bermanfaat bagi diri seseorang, sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah Hadis riwayat Anas ra., berkata: Rasulullah saw. bersabda: Apabila seorang di antara kamu berdoa maka hendaklah dia berteguh hati dalam berdoa serta jangan pula dia berdoa dengan mengucapkan: Ya Allah! Jika Engkau sudi maka berilah aku. Sesungguhnya Allah tidak ada yang memaksanya. (Shahih Muslim )

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Apabila seorang di antara kamu berdoa, maka janganlah dia berkata: Ya Allah! Ampunilah aku jika Engkau sudi. Tetapi bersungguh-sungguhlah dia dalam memohon dan mohonlah perkara-perkara yang besar dan mulia (surga atau pengampunan), karena Allah tidak ada sesuatu pun yang besar bagi-Nya dari apa yang telah dianugrahkan. (Shahih Muslim )

Kebanyakan manusia berdo’a kepada Allah apabila mendapat kesusahan atau ditimpa bencana saja. Apabila keadaan sudah tenang atau mendapat nikmat, jangankan berdo’a, malah ia melupakannya sama sekali. Disangkanya nikmat yang diperolehnya itu adalah hasil keringat atau kecakapannya sendiri, padahal tanpa inayah [bantuan] Allah, tidak akan mengenyam nikmat itu [2;186]
”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.

Pada ayat diatas Allah menjamin akan mengabulkan do’a orang yang berdo’a kepada-Nya dengan syarat beriman dengan mengaplikasikan iman tersebut dalam kehidupan sehari-hari lalu memenuhi segala apa yang diperintahkan Allah tanpa menunda-nundanya.
Bermohonlah kepada Robbmu di saat kamu senang (bahagia). Sesungguhnya Allah berfirman (hadits Qudsi): "Barangsiapa berdo'a (memohon) kepada-Ku di waktu dia senang (bahagia) maka Aku akan mengabulkan do'anya di waktu dia dalam kesulitan, dan barangsiapa memohon maka Aku kabulkan dan barangsiapa rendah diri kepada-Ku maka aku angkat derajatnya, dan barangsiapa mohon kepada-Ku dengan rendah diri maka Aku merahmatinya dan barangsiapa mohon pengampunanKu maka Aku ampuni dosa-dosanya." (Ar-Rabii')

Yang dimaksud dengan terkabulnya do’a seorang mukmin ada tiga kemungkinan seperti yang diterangkan dalam riwayat di bawah ini;
“Dari Abi Sa’id Al Khudri, sesungguhnya Nabi Saw bersabda,”Tidak seorang muslimpun yang berdo’a dengan satu do’a yang didalam do’anya itu tidak terdapat unsur dosa, dan memutuskan kekerabatan, melainkan Allah akan memberinya dengan salah satu dari tiga kemungkinan ini;
1. mungkin akan dikabulkan do’anya itu di dunia ini,
2. mungkin akan dikabulkan di akherat nanti,
3. mungkin dia akan terhindar dari kejelekan yang serupa.
Para sahabat kemudian berkata,”Kalau begitu kami akan memperbanyak do’a”, maka jawab Nabi,”Allah lebih banyak pemberian-Nya”[HR.Ahmad]

"Tiada seorang berdo'a kepada Allah dengan suatu do'a, kecuali dikabulkanNya, dan dia memperoleh salah satu dari tiga hal, yaitu dipercepat terkabulnya baginya di dunia, disimpan (ditabung) untuknya sampai di akhirat, atau diganti dengan mencegahnya dari musibah (bencana) yang serupa. (HR. Ath-Thabrani)

Segala keberhasilan manusia tidak lepas dari bantuan dari Allah, usaha manusia yang optimal memang sangat dibutuhkan tapi tanda do’a dan pengharapan dari Allah menunjukkan kesombongan, do’a saja yang disanjungkan tanpa usaha juga tidak bermakna. Adapun keuntungan yang diperoleh manusia dengan memanjatkan do’a, mengharapkan pertolongan dan rahmat dari Allah adalah;

Pertama, manusia sangat memerlukan sandaran yang dapat memberikan kekuatan kepada dirinya pada saat dia lemah, ketika segala kekuatan diluar dirinya tiada mampu lagi menopang dan menunjang dirinya. Pada saat semacam ini tiada jalan bagi manusia untuk menentramkan hati,menenangkan jiwa dan menjernihkan fikirannya selain hanya mengadukan nasib dan keadaannya kepada yang Maha Mutlak.

Kedua, do’a tidak semata-mata dimaksud untuk memohon pertolongan kepada Allah untuk melepaskan diri dari kesulitan dan penderitaan. Do’a juga dimaksud sebagai sarana memohon kepada Allah untuk meningkatkan kualitas diri dan kemampuannya, sehingga dapat melakukan segala tugas yang dipikulnya dengan baik dan menggembirakan dirinya. "Barangsiapa tidak (pernah) berdo'a kepada Allah maka Allah murka kepadanya. (HR. Ahmad)

Ketiga, do’a mutlak diperlukan oleh manusia, karena manusia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya sekarang dan yang akan datang, padahal manusia selalu menginginkan keberhasilan dalam mencapai apa yang diinginkannya, sekarang dan akan datang. Untuk menangkal hal-hal yang tidak baik atau merugikan dirinya pada saat sekarang dan akan datang, ia memerlukan adanya kekuatan diluar dirinya untuk menyelesaikan masalah-masalah itu,semua itu hanya kepada Allah sebagai Khaliqnya.
"Hati manusia adalah kandungan rahasia dan sebagian lebih mampu merahasiakan dari yang lain. Bila kamu mohon sesuatu kepada Allah 'Azza wajalla maka mohonlah dengan penuh keyakinan bahwa do'amu akan terkabul. Allah tidak akan mengabulkan do'a orang yang hatinya lalai dan lengah." (HR. Ahmad)

Bagi seorang mukmin, berdo’a merupakan ibadah, meskipun tidak dikabulkan tapi nilai-nilai ibadah telah dia terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Apa saja do’a yang kita ajukan kepada Allah adalah baik tapi ada beberapa do’a yang kita sanjungkan kepada Allah mengharapkan kebaikan kepada diri kita secara maknawi seperti mengharapkan taufiq dan hidayah-Nya, rahmat dan maghfirah-Nya yang do’a tadi tidak mesti untuk kepentingan duniawi dan materi saja. Tiga macam do'a dikabulkan tanpa diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa kedua orang tua, dan do'a seorang musafir (yang berpergian untuk maksud dan tujuan baik). (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw, menceritakan, terdapat tiga orang pemuda yang sedang melakukan perjalanan. Ketika hari sudah malam, mereka masuk ke dalam gua dengan maksud untuk menginap di dalam gua satu malam saja. Setelah mereka berada di dalam, tiba-tiba sebuah batu besar jatuh dari puncak bukit itu dan persis menutupi pintu gua. Mereka mencoba mengeluarkan segala tenaga untuk menggeser batu besar itu. Tapi sedikitpun tidak bergerak, sebab memang beratnya bukan imbangan tenaga manusia. Dengan demikian mereka terkurung di dalam gua dan mungkin akan menemui ajalnya.

Pada saat-saat yang kritis itu mereka menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada yang dapat memberikan jalan keluar bagi mereka dari kesulitan itu selain pertolongan Allah semata. Mereka memutuskan untuk berdo’a kepada Allah dengan menyebutkan amalan ikhlas yang pernah dilakukan, secara bergantian ketiganya berdo’a dengan khusyu’

”Ya Allah aku punya seorang ibu dan bapak yang sudah tua dan aku mempunyai seorang isteri dengan dua orang anak. Tiap pagi saya meninggalkan rumah, menggembalakan kambing, kalau sore aku pulang dengan membawa susu kambing murni yang segar untuk minuman ibu bapakku, isteri dan anak-anakku. Suatu hari ya Allah, ketika aku pulang agak terlambat, kudapati ayah dan ibuku sudah tidur, aku tidak tega mengganggu tidur mereka, sedang isteri dan anak-anakku merengek minta minuman susu itu, tapi tidak aku berikan sebelum ayah dan ibuku minum terlebih dahulu. Ya Allah seandainya yang aku lakukan itu adalah sebuah kebaikan, maka tolonglah keluarkan kami dari gua ini dengan selamat”.

Setelah pemuda yang pertama ini berdo’a, maka batu yang menutupi gua itu bergerak sehingga tamak secercah cahaya keberhasilan, tapi belum bis keluar. Pemuda keduapun berdo’a;

”Ya Allah, aku adalah seorang majikan dari sekian buruh yang bekerja di perkebunanku. Pada suatu hari salah seorang dari mereka pergi tanpa meninggalkan pesan sehingga upahnya belum diambilnya. Gaji buruhku itu aku belikan sepasang kambing yang aku urus dengan baik, sampai berbulan dan bertahun, maka jadilah kambing itu jumlahnya ratusan ekor. Tanpa diduga buruh itu datang lagi untuk meminta upahnya yang belum dibayar dahulu, maka ya Allah aku serahkan seluruh kambing itu kepadanya dengan ikhlas, andaikata ini suatu amal ibadah, mohon lepaskan kami dari bahaya ini”.

Tidak begitu lama batu itupun bergerak semakin lebar, tapi belum bisa dilalui, maka tampillah pemuda ketiga dengan do’anya;

”Ya Allah, aku adalah seorang pemuda yang punya kekasih, kebetulan dia anak pamanku yang cantik. Pada suatu hari aku berdua saja dengannya berjalan-jalan sehingga kami berada pada tempat yang jauh, tidak ada orang lain, kami hanya berdua saja, sehingga timbul syahwaku untuk menggaulinya dan diapun pasrah. Saat aku berada di atasnya untuk melakukan perbuatan nista itu aku sadar dan lari meninggalkannya, sungguh ya Rabbi semua itu karena hidayah-Mu dan aku tidak jadi melakukan perbuatan terkutuk itu, ya Allah bila ini suatu kebaikan maka selamatkanlah kami dari derita ini ”.

Tidak berapa lama sesudah pemuda itu berdo’a secara otomatis batu itu bergulir kencang meninggalkan mulut gua, maka selamatlah mereka dari bencana yang nyaris membunuh ketiganya.

Do'a yang disanjungkan hamba kepada Khaliqnya selain memperoleh pahala karena dinilai sebagai ibadah juga mendapat balasan lansung di dunia berupa dikabulkannya do'a itu, Rasulullah bersabda, "Ada tiga orang yang tidak ditolak do'a mereka: (1) Orang yang berpuasa sampai dia berbuka; (2) Seorang penguasa yang adil; (3) Dan do'a orang yang dizalimi (teraniaya). Do'a mereka diangkat oleh Allah ke atas awan dan dibukakan baginya pintu langit dan Allah bertitah, "Demi keperkasaanKu, Aku akan memenangkanmu (menolongmu) meskipun tidak segera." (HR. Tirmidzi), wallahu a'lam . [Cubadak Solok,17 Syawal 1431.H/ 26 September 2010]

Referensi;
1. 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath
2.Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4.Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009



18. Pahala Mengajarkan Ilmu


Oleh ; MUKHLIS DENROS

Orang yang mengajarkan ilmu disebut dengan guru, ustadz, murabbi atau pendidik ialah orang yang memikul tanggungjawab untuk mendidik. Pada umumnya jika kita mendengar istilah pendidik akan terbayang di depan kita seorang manusia dewasa. Dan sesungguhnya yang kita maksud dengan pendidik adalah hanya manusia dewasa yang akan melaksanakan kewajibannya tentang pendidikan siterdidik.

Kalau ditinjau dari segi pertanggungjawaban, maka orang dewasa yang mendidik memikul pertanggungjawaban terhadap anak didiknya, sedangkan sipenolong kecil itu belumlah demikian. Jelaslah kiranya bahwa si penolong kecil itu belum dapat disebut pendidik dalam arti sesungguhnya, jadi pendidik itu adalah orang dewasa.

Rasulullah bersabda: "Jadilah orang yang mengajar, atau orang yang belajar, atau orang yang mendengar, atau orang yang cinta kepada ilmu, janganlah jadi orang yang kelima, maka celaka kamu".

Tugas guru bukan pada intelektualitasnya saja tetapi lebih jauh kepada kepribadiannya, baik dan pintar, otak dan hati sasarannya. Untuk menjadi pintar telah banyak usaha guru dikerahkan dalam bentuk transpormasi dan transfer ilmu pengetahuan, lugasnya pengalihan ilmu kepada murid berlansung dengan berbagai kegiatan formal sepanjang mengarah kepada otak atau keterampilan. Sudah banyak jasa guru dalam mencetak kader bangsa yang berkualitas, baik level daerah sampai tingkat internasional.

Dengan demikian berarti kehadiran guru yang berkualitas sangat diperlukan dalam mencetak kader bangsa disamping pintar juga baik. Dr. Zakiah Drajat sangat menekankan sekali agar seorang guru memiliki kepribadian. Faktor erpenting bagi seorang guru ialah kepribadiannya, kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia kembali menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi anak didiknya, atau akan jadi perusak atau penghancur bagi hari depan anak didik, terutama bagi anak didik yang masih kecil dan mereka yang sedang mengalami kegoncangan jiwa.

Apa yang dimaksud dengan kepribadian ? dalam uraian kita tidak akan membicarakan arti atau batasan kepribadian secara teori, akan tetapi akan mencoba memahami berbagai unsur kepribadian yang dapat dilihat atau dipahami dengan mudah. Orang awam dengan mudah mengatakan bahwa seseorang itu punya kepribadian yang baik, kuat dan menyenangkan. Sedangkan ada pula orang lain dikatakan mempunyai kepribadian lemah atau buruk dan sebagainya.

Kepribadian sesungguhnya adalah abstrak, sukar dilihat atau diketahui secara nyata, yang dapat diketahui adalah penampilan atau bekasnya dalam segala segi dan asfek kehidupan. Misalnya dalam tindakannya, ucapan, caranya bergaul, berpakaian dan dalam menghadapi persoalan atau masalah, baik yang ringan maupun yang berat. Dalam kondisi bagaimanapun dan sampai kapanpun tampilnya seorang guru sangat diharapkan guna mencerahkan kehidupan dengan orang-orang yang berilmu, orang yang berilmu sangat mudah sekali diajak untuk memihak kepada kebenaran. Abu Dzar berkata, "Andaikan kamu semua meletakkan sebilah pedang di atas ini (sambil menunjuk ke arah lehernya). Kemudian aku memperkirakan masih ada waktu untuk melangsungkan atau menyampaikan sepatah kata saja yang kudengar dari Nabi saw. sebelum kamu semua melaksanakannya, yakni memotong leherku, niscaya kusampaikan sepatah kata dari Nabi saw. itu."

Tugas seorang guru sangatlah mulia yaitu mencetak orang-orang yang dekat kepada Allah yang disebut juga dengan Rabbany, Ibnu Abbas berkata, "Jadilah kamu semua itu golongan Rabbani, yaitu (golongan yang) penuh kesabaran serta pandai dalam ilmu fiqih (yakni ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hukum hukum agama), dan mengerti."Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud "Rabbani"' ialah orang yang mendidik manusia dengan mengajarkan ilmu pengetahuan yang kecil-kecil sebelum memberikan ilmu pengetahuan yang besar-besar (yang sukar). Allah berfirman dalam surat Ali Imran 3;79
" Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia Berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (Dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya".

Generasi Rabbany adalah generasi yang selalu mengajarkan Al Kitab dan segala ilmu yang dikuasainya kepada para muridnya, namun diapun siap sebagai murid yang belajar sampai kapanpun, artinya guru adalah murid karena dia dituntut pula untuk belajar dan murid adalah guru karena dia punya tanggungjawab untuk menyampaikan ilmu yang telah diperolehnya, sampai-sampai Rasul berpesan kepada kita,"Sampaikanlah apa yang telah engkau peroleh dariku meskipun hanya satu ayat"..

Bahkan kewajiban seorang mukmin terhadap Al Qur'an salah satunya adalah tampil sebagai guru dengan mengajarkannya kepada masyarakat sesuai dengan kemampuannya karena tidaklah cukup Al Qur’an hanya diimani dan dibaca saja, karena ilmu yang terkandung di dalamnya Maha Luas sekali sehingga perlu menguak ilmu tesebut melalui telaah, diskusi dan mempelajari isinya, Allah menjelaskan dalam surat Shad 38;29;
“Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran” .

Selain itu relevansi mengajar dengan tarbiyyah adalah berda'wah, kewajiban mukmin terhadap Al Qur’an adalah dengan menda’wahkannya kepada masyarakat sesuai dengan kemampuan sebagaimana sabda Rasululah dan firman-Nya [16;126]

Cara menyiarkan atau menda’wahkan Al qur’an itu harus sesuai dengan konsep Allah dan Rasul-Nya seperti dengan hikmah, berani berkorban apa saja, secara obyektif [2;259], menyentuh perasaan yang menerimanya [36;69-70], lemah lembuh [3;159] dan teladan yang baik [33;69-70]

Kenapa seorang mukmin dituntut untuk menyiarkan Al Qur’an ditengah masyarakat pada setiap lapangan kehidupan 93;159], agar nanti tidak didebat oleh Allah, mengaku beriman kepada Al Qur’an tapi buktinya mana [4;165], agar tidak dikuasai oleh musuh-musuh islam serta tidak terkena bencana [8;25] bahwa orang yang tidak mau berda’wah dan menyiarkan Al Qur’an akan diturunkan bencana, yang tidak hanya mengenai orang-orang jahat saja tapi seluruhnya akan tertimpa bencana. Rasulullah bersabda,"Sebaik-baik manusia adalah yang mempelajari Al Qur'an dan yang mengajarkannya"

Dalam menyampaikan pelajaran walaupun pelajaran tersebut sangat berguna, agar dapat lebih lama bertahan di ingatan dan kepala murid, bagi yang haus ilmu mereka akan selalu berharap dapat pelajaran dari guru maka sebaiknya pelajaran itu diberikan secara bertahap dan hemat agar tidak membosankan, Abu Wa-il berkata, "Abdullah pada setiap hari Kamis memberikan peringatan (yakni mengajar ilmu-ilmu keagamaan kepada orang banyak). Kemudian ada seseorang berkata, "Wahai ayah Abdur Rahman, aku sebenarnya lebih senang andaikata kamu memberikan peringatan kepada kami setiap hari." Abdullah menjawab, "Ketahuilah, sesungguhnya ada satu hal yang menghalangiku untuk berbuat begitu, yaitu aku tidak senang membuatmu bosan, dan sesungguhnya aku akan memberikan nasihat (pelajaran) kepada kamu sebagaimana Nabi saw. (dalam satu riwayat dari Abu Wa-il, ia berkata, "Kami menantikan Abdullah, tiba tiba datanglah Zaid bin Muawiyah,lalu kami berkata kepadanya, "Apakah Anda tidak duduk?" Ia menjawab, "Tidak, tetapi saya akan masuk dan meminta sahabatmu itu keluar kepadamu. Kalau tidak, maka saya akan duduk." Lalu Abdullah keluar sambil menggandeng tangannya, lalu ia berdiri menghadap kami seraya berkata, "Ketahuilah, sesungguhnya aku telah diberi tahu tentang keberadaanmu (kedatanganmu), tetapi yang menghalangiku untuk keluar kepadamu ialah karena Rasulullah saw. biasa memberi kami nasihat pada beberapa hari tertentu dalam seminggu karena khawatir (dan dalam satu riwayat: tidak suka) membuat kami bosan."

Kaderisasi terhadap guru sangatlah penting untuk kontinuitas pendidikan dimasa yang akan datang karena bila tidak ada tampilnya guru-guru baru sebagai pewaris dan pelanjut pengajaran akan dikhawatirkan hilangnya ilmu di dunia ini sebagaimana yang diutarakan dalam hadits ini; Hadis riwayat Abdullah bin Amru bin Ash ra., ia berkata:
Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan cara mencabutnya begitu saja dari manusia, akan tetapi Allah akan mengambil ilmu dengan cara mencabut (nyawa) para ulama, sehingga ketika Allah tidak meninggalkan seorang ulama pun, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh yang apabila ditanya mereka akan memberikan fatwa tanpa didasarkan ilmu lalu mereka pun sesat serta menyesatkan. (Shahih Muslim No.4828)

Demikian besarnya peran seorang guru dalam mendidik muridnya menjadi pemimpin dimasa yang akan datang, dikerahkan segala potensinya untuk itu, patut kiranya dihargai dan dihormati selayaknya seorang guru, sehingga wajar bila Ali bin Abi Thalib menyatakan; "Aku adalah hamba bagi seorang guru yang telah mengajarku walaupun hanya satu huruf, jika ia menghendaki menjualnya, juallah aku, jika ia menghendaki memerdekakannya merdekakanlah aku, dan jika ia menghendaki menjadikan aku seorang budak, jadikanlah aku seorang budak".

Nabi Muhammad Saw bersabda; "Siapa saja yang mengajarkan seorang hamba sebuah ayat saja dari kitab Allah, maka ia menjadi tuannya [menguasainya]".

Kesuksesan seorang guru sehingga menjadi figur yang membanggakan muridnya, sampai kapanpun murid tidak akan lupa dengan gurunya walaupun sang guru tidak tahu lagi siapa dan sudah berapa murid yang menerima pelajaran dan teladan darinya. Sekedar mengajar saja mungkin tidak begitu sulit tapi menampilkan keteladan akan lebih lama bersemayam pada anak didik, keteladananlah yang akan membawa keberhasilan seorang guru. Guru pada hakekatnya juga seorang ulama yang berkewajiban untuk menerangi kehidupan manusia menuju kebahagiaan di dunia dan kampung akherat yang menyenangkan.

Di dunia sang guru akan menerima berbagai imbalan dari semua pihak, seperti kedudukan dan kemuliaan, penghargaan dari murid-muridnya juga dari pemerintah walaupun julukan "pahlawan tanpa tanda jasa" tapi tidak menyurutkannya untuk menebarkan ilmu, mungkin juga dia akan menerima imbalan materi yang sebenarnya tidak sebanding dengan usaha yang sudah diinfaqkan, tapi yang jelas dia akan mendapatkan pahala yang tidak sedikit dari Allah atas jerih payah dan keikhlasannya dalam mendidik kader-kader bangsa menjadi generasi yang unggul, wajar bila Rasul memberikan kabar gembira kepada para guru walaupun sudah terkubur jasadnya, "Jika mati anak Adam maka putuslah amal-amalnya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh mendoakan kedua orangtuanya".

Amal abadi yang akan mengalir pahalanya kepada guru adalah ilmu yang bermanfaat yang diberikan kepada para muridnya, walaupun tulang di dalam kubur sudah hancur dimakan waktu maka tetap akan menerima pahalanya selama ilmu yang diberikan kepada orang lain tetap diamalkan dan diajarkan pula kepada yang lain, wallahu a'lam. [Cubadak Solok,17 Syawal 1431.H/ 26 September 2010]

Referensi;
1. 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath 2.Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4.Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009