Selasa, 03 Juli 2012

33. Pahala Taubat


Oleh ; MUKHLIS DENROS

Selama detak jantung kehidupan yang dilalui manusia selama itu pula dia dihiasi oleh sikap dan prilaku yang baik bahkan kadangkala terdampar dalam kesalahan, dosa dan maksiat yang dilakukan, baik disengaja ataupun tidak, baik besar ataupun kecil, untuk itulah perlunya kita bertaubat kepada Allah SWT mengetuk pintu rahmat dan maghfirah-Nya, Allah berfirman dalam surat Al Hasyr 59;10;

,”Dan orang-orang yang datang sesudah mereka [Muhajirin dan Anshar] mereka berdo’a,”Ya Allah, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau biarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman”.

Secara umum perbuatan dosa terbagi menjadi dua, yang pertama adalah dosa besar. Rasulullah dalam beberapa haditsnya secara ekspisit menjelaskan sejumlah dosa yang termasuk dalam kategori dosa besar. Seperti syirik, sihir, memakan harta riba, durhaka kepada orangtua, saksi palsu dan sebagainya. Dosa seperti ini, bila sipelaku tidak sempat bertaubat, akan mendatangkan balasan yang berat dan pedih dari Allah SWT. Artinya, taubat dari dosa besar, masih mungkin dilakukan selama yang bersangkutan sungguh-sungguh meninggalkan perkara dosa tersebut.

Disamping dosa besar, ada pula dosa kecil. Umumnya sedikit orang yang memperhatikan dosa kecil ini sebagai suatu kemaksiatan. Padahal ampunan Allah terhadap hamba-Nya yang melakukan dosa, selama tidak dilakukan berulang, lebih besar kemungkinan terkabulnya dibandingkan ampunan terhadap dosa kecil yang dilakukan kembali secara berulang-ulang. Dosa kecil akan menjadi besar apabila;

1.Mengecilkan dan meremehkan dosa
Dosa yang dilakukan dianggap kecil akan menjadi besar oleh Allah, sebaliknya bila dosa dianggap besar, maka ia akan menjadi kecil dalam penilaian Allah, Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya seorang mukmin itu melihat dosa-dosanya sepertinya ia berada di bawah gunung besar yang ia takut menimpa dirinya. Sementara orang yang banyak dosa itu adalah orang yang melihat dosanya seperti lalat yang ada di hidungnya. Kemudian ia katakan begini [meremehkan].

Anas bin Malik Ra, diriwayatkan oleh Bukhari menyebutkan hadist,”Sesungguhnya kalian akan melakukan suatu amal yang dalam pandangan kalian amalan tersebut lebih kecil dari rambut, sementara kami menganggapnya dizaman Rasulullah sebagai dosa besar”.
Bilal bin Rabah mengatakan,”Jangan memandang kecilnya suatu kemaksiatan, tetapi lihatlah pada kebesaran Zat yang engkau lakukan maksiat terhadap-Nya”. Rasulullahpun telah berpesan,”Hati-hatilah terhadap dosa kecil, siapa tahu begitu kamu mengerjakan dosa kecil Allah mencatatmu sebagai penduduk neraka selama-lamanya dan hati-hatilah terhadap amal yang kecil, siapa tahu ketika kalian mengerjakan amal yang kecil itu dicatat Allah sebagai penghuni syurga selama-lamanya”.

2.Membanggakan Dosa Kecil
Sebab lain yang menjadikan dosa kecil menjadi besar, adalah perasaan bahagia dan senang dengan dosa kecil, bahkan membanggakannya. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah bahwa Rasulullah telah bersabda,”Semua ummatku akan diampuni kecuali Mujahirun”, sahabat bertanya,”Apakah yang dimaksud dengan muhajirun itu ya Rasulullah?”. Rasul menjawab,”Yakni orang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari, dan Allah telah menutupi kesalahannya, namun ketika pagi ia berkata kepada orang,”Tadi malam saya melakukan ini dan ini, Allah telah menutupi kesalahannya, tapi ia sendiri yang menyingkapnya” [HR. Bukhari dan Muslim].

3.Dilakukan terus menerus
Dosa kecil yang dilakukan secara berulang-ulang akan menjadi besar. Imam Al Gazali memberi pemisalan dalam hal ini seperti tetesan air yang jatuh ke atas sebuah batu secara berulang-ulang. Tetesan tersebut lama –kelamaan pasti akan memberi bekas kepada batu itu. Sementara bila tetesan air itu dikumpulkan, kemudian sekaligus ditumpahkan ke atas batu, niscaya tumpahan tidak memberi bekas apa-apa.

4.Dilakukan oleh orang alim
Dosa kecil juga dapat menjadi besar bila dilakukan oleh seorang berilmu atau tokoh yang menjadi panutan bagi orang lain, Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang memulai perbuatan baik dalam islam, maka ia memperoleh pahala perbuatan itu, sekaligus pahala orang yang melakukannya. Dan orang yang memulai perbuatan buruk, maka ia akan memikul dosa perbuatan itu dan dosa orang yang melakukannya” [HR.Muslim].

Kata taubat berasal dari kata ”Tawaba” berarti kembali. Seseorang dikatakan kembali atau taubat apabila ia menjauhi semua perbuatan dosa. Maka arti taubat ialah kembali kepada Allah SWT dengan melepaskan seluruh ketekaitan hati dan dosa, kemudian kembali mengerjakan kewajibannya kepada Allah SWT. Menurut syariat, taubat artinya meninggalkan seluruh perbuatan dosa dan menyesali semua kemaksiatan yang telah dikerjakannya karena Allah SWT, kemudian berusaha untuk tidak mengulanginya kapan dan dimana saja walaupun dia mampu dan tahu akan kemungkinan untuk mengulanginya.

Taubat adalah perasaan hati kecil yang merupakan penyesalan atas segala yang telah terjadi, kemudian mengharap ampunan dari Allah SWT dengan menjauhi segala perbuatan dosa, dan selalu berbuat baik. Dengan perbuatan baik inilah, taubat seseorang dan seluruh ketaatannya akan diterima oleh Allah SWT. Barangsiapa yang bertaubat hanya sekedar mengisi kekosongan dan tidak mengerjakan apa-apa yang dicintai oleh Allah, maka dia tidak dikatakan bertaubat, kecuali kalau dia benar-benar kembali kepada Allah dan berusaha melepaskan keterkaitan hati dari mengulangi perbuatan dosa serta menetapkan makna taubat didalamnya sebelum mengucapkan secara lisan, dan membuktikan kesungguhan taubatnya dengan menjauhi segala yang dibenci Allah SWT seraya kembali kepada yang dicintai dan diridhai-Nya.

Taubat memiliki keutamaan bagi orang yang menyadari kesalahannya lalu kembali menjadi orang-orang yang shaleh yang diiringi dengan penyesalan yang mendalam, adapun keutamaannya adalah;

a. Perbuatan yang paling utama;
Taubat kepada Allah adalah perbuatan yang paling utama, oleh karena itu Allah selalu menyeru kepada orang-orang mukmin untuk bertaubat;
”Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” [An Nur 24;31]

Dan Allah selalu membuka pintu-pintu taubat bagi hamba-hamba-Nya;
”Katakanlah,”Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya, dan sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [Az Zumar 39;53].

b. Dosanya akan diampuni Allah;
Barangsiapa yang bertaubat dan memohon ampun kepada –Nya, niscaya Allah akan mengampuninya, walaupun dia telah banyak berbuat dosa; ”Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menyesatkan dirinya sendiri. Kemudian ingat akan Allah dan memohon ampun atas dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji itu sedang mereka mengetahui” [Ali Imran;135]

c. Mendapat rahmat dari Allah
Orang yang bertaubat kepada Allah dari dosa-dosa yang telah diperbuat, niscaya dia akan selalu mendapat rahmat, perlindungan, barakah dan akan dilapangkan rezekinya serta kebahagiaan hidup di dunia dan akherat, ”Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhannya dan syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, yang mereka kekal di dalamnya dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal” [Ali Imran;136].

d. Hidup akan tentram dan sejahtera
Memohon ampun kepada Allah dengan meninggalkan semua perbuatan-perbuatan dosa, inilah yang menyebabkan hidup tentram dan sejahtera, lahirnya generasi-generasi yang shaleh dan menambah kemuliaan baginya, ”Maka aku katakan kepada mereka, ”Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan kepadamu hujan yang lebat. Dan melimpahkan kepadamu harta dan keturunan, menyediakan untukmu kebun-kebun dan sungai-sungai” [Nuh; 10-12].

e. Tidak ada penghalang dengan Allah
Pintu taubat akan selalu terbuka bagi siapa saja yang menghendaki, dan tidak seorangpun mampu menghalangi rahmat Allah darinya, tidak ada hijab [penghalang] apapun antara dia dengan Tuhannya, ”Kecuali bagi siapa saja yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh, niscaya mereka itu akan masuk ke dalam syurga dan tidak disesatkan sedikit juapun. Yaitu syurga Adn yang telah dijanjikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya sekalipun syurga itu tidak nampak, sesungguhnya janji Allah itu pasti akan ditetapi” [Maryam 60;16].

f. Menyelamatkan dari neraka
Maka taubatlah yang menumbuhkan iman dan amal shaleh, sehingga terealisir pengertiannya secara aktif dan jelas. Taubat juga menyelamatkan orang-orang dari neraka, selain itu juga, tidak menjerumuskan mereka ke dalam jurang kesesatan,”Akan tetapi mereka itu akan masuk ke dalam syurga dan tidak disesatkan sedikitpun” [Maryam;60].

Ucapan taubat seorang hamba semata-mata tidak bisa dijadikan bukti kesungguhan dalam bertaubat, kecuali dia membuktikan tanda-tanda kesungguhan taubatnya. Diantaranya tanda-tanda itu adalah;
-Benar-benar berniat untuk meninggalkan perbuatan dosa dan kembali kepada
ketaatan.
-Setelah bertaubat, keadaan menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
-Tidak pernah merasa aman dari siksa Allah sekejappun sepanjang hidupnya.
-Benar-benar menyesal, sedih dan rugi atas kelengahannya serta takut akan
pedihnya siksa di dunia dan di akherat. Seringkali kenikmatan nafsu sekejap
menjadikan sengsara selamanya.
-Selalu ingat akan kepastian dirinya kembali kepada Allah, juga kematian
yang selalu menghantuinya.
-Yang paling penting dari tanda-tanda kesungguhan orang bertaubat adalah
cinta kepada Allah, Rasul serta orang-orang mukmin, dengan berbuat
sesuatu hang menunjukkan kecintaannya itu.

Dengan taubat yang sesungguhnya seorang mukmin akan mantap memasuki kehidupan baru untuk meraih prediket tertinggi dalam pengabdian yaitu taqwa, dosa – dosa yang selama ini menaungi hidup telah luntur dan bersih karena mereka telah bertaubat kepada Allah, memasuki kehidupan baru yang suci lagi bersih, wallahu a'lam [Cubadak Solok, 4 Zulqaidah 1431.H/ 12 Oktober 2010.M]

32. Pahala Meninggalkan Yang Tidak Bermanfaat


Oleh ; MUKHLIS DENROS

Begitu banyaknya karunia dan nikmat yang diberikan Allah kepada manusia sebagai bekal hidupnya di dunia, salah satunya adalah waktu, untuk itu kita harus berupaya agar waktu yang merupakan nikmat ini kita pergunakan dengan sebaik-baiknya.

Kehadiran manusia di dunia ini dibatasi oleh waktu, tidak ada manusia yang hidup abadi, semuanya akan punah lalu digantikan oleh generasi berikutnya, untuk itu jangan sampai menyia-nyiakan waktu, karena waktu sangat penting sekali bagi kehidupan kita sebagaimana firman Allah;

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.[Al 'Ashr 103;1-3]

Sejak kejadian manusia yang hanya dengan setetes mani, dari waktu yang ditentukan akhirnya lahirnya sang bayi, hingga sekian puluh tahun kembali lagi kepada asalnya yaitu tanah dengan kematian. Sehingga Rasul pernah bersabda, "Ada orang yang pagi tadi beriman kepada Allah tapi setelah sorenya dia kafir, ada juga orang yang tadinya kafir akhirnya menjadi orang yang taat. Semua itu karena perjalanan waktu, itulah makanya dalam islam ada yang disebut dengan khusnul khatimah bagi kehidupan manusia yaitu akhir kehidupan yang baik.

Waktu yang tersisa pada usia manusia itu seharuskan digukana untuk tiga hal agar waktu itu bermanfaat, kita harus mengisi waktu kita dengan peningkatan iman, amal shaleh dan menyampaikan wasiat kebenaran serta kesabaran, bila tiga agenda tersebut tidak dilakukan maka waktu kita sia-sia sehingga mendapat titel ummat yang merugi. Dari Abu Hurairoh rodhiallohu ‘anhu, dia berkata: “Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Sebagian tanda dari baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan Tirmidzi dan lainnya)

Kebagusan Islam seseorang bertingkat-tingkat. Cukuplah seseorang berpredikat bagus Islamnya jika telah melaksanakan yang wajib dan meninggalkan yang haram. Dan puncak kebagusannya jika sampai derajat ihsan. Besarnya pahala dan tingginya kemuliaan seseorang sesuai dengan kadar kebagusan Islamnya. Sesuatu yang penting adalah sesuatu yang bermanfaat di dunia maupun di akhirat. Standar manfaat diukur oleh syariat, karena sudah maklum bahwa yang diperintahkan oleh syariat pasti membawa manfaat dan yang dilarang pasti menimbulkan mudharat oleh karena itu upaya untuk paham syariat adalah aktivitas yang sangat bermanfaat. Menjadi kewajiban seseorang demi kebagusan Islamnya untuk meninggalkan semua yang tidak penting karena semua aktivitas hamba akan dicatat dan celakalah seseorang yang memenuhi catatannya dengan sesuatu yang tidak penting, termasuk di dalamnya adalah semua bentuk kemaksiatan.

Begitu banyaknya aktivitas kita yang tidak bermanfaat dalam kehidupan ini sehingga waktu kita habis dengan percuma dan sia-sia, menyaksikan televisi hingga larut malam padahal ada pekerjaan lain yang lebih bermanfaat seperti membaca buku-buku berkualitas, memberikan pendidikan dan da;wah kepada masyarakat ataupun kepada keluarga. Sejak dari pagi hari hingga sore kita banyak menyaksikan masyarakat yang masih duduk-duduk di warung kopi sambil mengobrol hal-hal yang tidak ada manfaatnya, padahal banyak lahan ladang dan sawah yang dapat digarap untuk menghasilkan rezeki memadai untuk keluarga, malam harinya juga begitu, warung kopi selalu ramai dikunjungi hingga larut malam, padahal masjid dan surau sebagai tempat beribadah dan menimba ilmu agama kosong dari manusia.

Betapa banyaknya waktu kita terbuang percuma hanya untuk jalan-jalan di pasar, belanja ke super market atau mall, pelesiran tahun baru atau saat lebaran selain menghabiskan anggaran juga waktu yang hilang tidak ada maknanya. Kita selalu mengeluhkan kalau ummat islam tidak punya uang untuk biaya hidup, tidak ada dana untuk menyekolahkan anak, tapi saat lebaran menjelang begitu banyak uang yang terbuang untuk mudik setiap tahun yang membutuhkan dana tidak sedikit, setahun kita habiskan waktu, tenaga dan memeras keringat di rantau, lalu kita habiskan hanya dalam sepuluh hari Idul Fithri, setelah itu kita bergelut lagi dengan hidup yang serba kekurangan.

Kita masih sibuk dengan hal-hal kecil sehingga meninggalkan pekerjaan dan pembicaraan besar yang lebih bermanfaat untuk diri kia, keluarga dan masyarkat, tapi waktu kita habis hanya membicarakan hal-hal yang tidak ada manfaatnya, padahal kita dipesankan agar berkata yang baik, yang bernilai pahala, bila tidak bisa maka sebaiknya diam dari pembicaraan dan lakukan aktivitas yang lebih bermanfaat Dari Abu Hurairoh radhiallohu ‘anhu, sesungguhnya Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Menjaga lisan bisa dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan berkata baik atau kalau tidak mampu maka diam. Dengan demikian diam kedudukannya lebih rendah dari pada berkata baik, namun masih lebih baik dibandingkan dengan berkata yang tidak baik.

Berkata baik terkait dengan 3 hal, seperti tersebut dalam surat An-Nisa’: 114, yaitu perintah bershadaqah, perintah kepada yang makruf atau berkata yang membawa perbaikan pada manusia. Perkataan yang di luar ketiga hal tersebut bukan termasuk kebaikan, namun hanya sesuatu yang mubah atau bahkan suatu kejelekan. Pada menjaga lisan ada isyarat menjaga seluruh anggota badan yang lain, karena menjaga lisan adalah yang paling berat.

Kalau kita mampu memanfaatkan seluruh waktu untuk mengabdi kepada Allah berarti akan memperoleh keberuntungan baik di dunia maupun di akherat, tapi karena kelalaian kita, sehingga waktunya lebih banyak sia-sia bahkan cendrung bernoda maksiat, seumpama waktu kita yang 24 jam sehari semalam teralokasikan untuk hal-hal sebagai berikut; tidur ;8 jam, nonton TV ;1,5 jam, olah raga; 0,5 jam, istirahat ; 1 jam, Bekerja ; 5 jam, mandi; 0,5 jam, makan/ minum ;0,5 jam, musik/nasyid; 1 jam, jalan sore; 1, keluarga; 2 jam, sosial; 1 jam, shalat; 1 jam, pengajian; 0,5 jam, al qur’an; 0,5 Dari kalkulasi ini maka dapat dijelaskan sebagai berikut;

1. Bila Waktu tidur kita saja 8 jam sehari semalam maka kalkulasinya adalah = 8/24x60=20 tahun. Berarti selama hidup kita yang hanya 60 tahun, digunakan untuk tidur sebanyak 20 tahun, sungguh terlalu banyak kita tidur dalam usia yang singkat ini.

2.Bila waktu kita digunakan untuk Nonton TV sampai kegiatan Sosial 14 jam, maka kalkulasinya adalah =14/24x60=35 tahun. Berarti selama hidup kita yang 60 tahun, digunakan untuk kegiatan harian sebanyak 35 tahun, sangat banyak pekerjaan sia-sia yang kita lakukan selama jatah umur yang diberikan Allah.

3.Bila waktu beribadah yang kita lakukan hanya 2 jam saja, maka hitungannya adalah = 2/24x60=5 tahun Berarti selama hidup kita yang hanya 60 tahun, digunakan untuk ibadah Cuma 5 tahun saja, lalu apa yang kita banggakan kepada Allah kelak saat kematian kita temui dan dikala alam akherat kita masuki.

Sungguh terlalu banyak waktu kita habis percuma untuk hal-hal yang sia-sia, segala waktu yang habis untuk perbuatan yang sia-sia saja kita termasuk orang yang merugi apalagi waktu kita dihabiskan untuk tenggelam dalam kemaksiatan. Untuk itu mulai sekarang kita harus mengisi waktu kita untuk hal-hal yang bermanfaat bagi pribadi, keluarga dan masyarakat yang merupakan investasi amal dan pahala di akherat.
Rasulullah bersabda, "Jaga lima sebelum datang yang lima, manfaatkan hidupmu sebelum datang matimu, masa sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa sempatmu sebelum datang masa sempitmu, masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu', tanamkan dalam hidup kita agar restan umur akan kita isi dengan ibadah, tiada waktu berlalu tanpa ibadah. Bukan pula makna ibadah itu kita habiskan waktu kita hanya berdiam diri di masjid saja, tidak, bukan begitu, suatu ketika Umar bin Khattab masuk ke sebuah masjid ketika hari menjelang dhuha, dia dapati seorang lelaki sedang duduk berdoa danzikir kepada Allah, dia tenggelam dengan ibadahnya, sementara waktu sudah menjelang siang, lalu Umar mengusir pemuda itu dari masjid, agar pergi bekerja mencari nafkah.

" Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui. ".[Al Jumu'ah 62;9]

Karena waktunya di tengah hari saat orang-orang sibuk mencari kehidupan di pasar sebagai pedagang, di kantor saat jam kerja atau kesibukan lainnya yang padat dengan kegiatan rutin sehingga Allah menyuruh hamba-Nya yang beriman untuk meninggalkan semua kesibukan itu untuk melakukan shalat jumat dan mengingat-Nya.

Di masjid saja kita tidak tidak boleh berlama-lama, kenapa harus berlama-lama duduk dan mengobrol di kedai kopi, nongkrong di pinggir jalan atau berleha-leha dengan kegiatan yang tidak menentu, kita raih simpati Allah untuk jadi ummat umat yang baik karena meninggalkan hal-hal yang tidak ada manfaatnya, wallahu a'lam [Cubadak Solok, 25 Syawal 1431.H/ 04 Oktober 2010.M]

31. Pahala Puasa Syawal


Oleh ; MUKHLIS DENROS

Ibadah rutin yang dilakukan ummat islam selama bulan Ramadhan diantaranya puasa, shalat malam [tarawih], shalat berjamaah, membaca Al Qur’an, sedekah, pengajian-pengajian dan lain-lainnya. Kegiatan tersebut bila terbukti pula diluar bulan Ramadhan berarti pengkaderan selama satu bulan berhasil dan sebaliknya bahkan ketika Ramadhan berakhir kondisi ummat islam dalam keadaan senormal-normalnya artinya tidak ada pengaruhnya pendidikan yang berlansung selama bulan Ramadhan.

Puasa yang dilakukan selama bulan Ramadhan dapat diselesaikan dengan baik, menahan lapar dan dahaga, serta menjauhkan segala yang membatalkan puasa, hal ini biasa dilakukan karena bulan puasa, bila tidak nampak dilakukan diluar bulan Ramadhan dengan puas nazar, puasa sunnat dan puasa qadhanya tidak terujud kader yang baik. Untuk itulah makanya ada follow up segala kegiatan itu agar ada kesinambungan amal pada bulan berikutnya, apalagi Syawal dimaknai dengan bulan peningkatan. Peluang besar setelah Ramadhan berakhir, dalam bulan Syawal adalah melaksanakan ibadah puasa sunnah Syawal selama enam hari, bisa dikerjakan secara terus menerus atau dilakukan secara berselang seling selama masih berada di bulan Syawal. Banyak pahala yang dapat diambil pada bulan Syawal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh hadits-hadits Rasulullah.

Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu 'anhu meriwayatkan, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun. (HR. Muslim).

Imam Ahmad dan An-Nasa'i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallallahu 'alaihi wasalllam bersabda : "Puasa Ramadhan (ganjarannya) sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka itulah bagaikan berpuasa selama setahun penuh." ( Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam "Shahih" mereka.)
Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Barangsiapa berpuasa Ramadhan lantas disambung dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun." (HR. Al-Bazzar) (Al Mundziri berkata: "Salah satu sanad yang befiau miliki adalah shahih.")
Pahala puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal menyamai pahala puasa satu tahun penuh, karena setiap hasanah (kebaikan) diganjar sepuluh kali lipatnya

Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfaat, di antaranya :
1. Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.

2. Puasa Syawal dan Sya'ban bagaikan shalat sunnah rawatib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidak sempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.

3. Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah Ta'ala menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan: "Pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya." Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.

4. Puasa Ramadhan sebagaimana disebutkan di muka dapat mendatangkan maghfirah atas dosa-dosa masa lain. Orang yang berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pada hari Raya'ldul Fitri yang merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah 'Idul Fitri merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada nikmat yang lebih agung dari pengampunan dosa-dosa.
Oleh karena itu termasuk sebagian ungkapan rasa syukur seorang hamba atas pertolongan dan ampunan yang telah dianugerahkan kepadanya adalah dengan berpuasa setelah Ramadhan. Tetapi jika ia malah menggantinya dengan perbuatan maksiat maka ia termasuk kelompok orang yang membalas kenikmatan dengan kekufuran. Apabila ia berniat pada saat melakukan puasa untuk kembali melakukan maksiat lagi, maka puasanya tidak akan terkabul, ia bagaikan orang yang membangun sebuah bangunan megah lantas menghancurkannya kembali. Allah Ta'ala berfirman : "Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali." (An-Nahl: 92)

5. Dan di antara manfaat puasa enam hari bulan Syawal adalah amal-amal yang dikerjakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya pada bulan Ramadhan tidak terputus dengan berlalunya bulan mulia ini, selama ia masih hidup.
Orang yang setelah Ramadhan berpuasa bagaikan orang yang cepat-cepat kembali dari pelariannya, yakni orang yang baru lari dari peperangan fi sabilillah lantas kembali lagi. Sebab tidak sedikit manusia yang berbahagia dengan berlalunya Ramadhan sebab mereka merasa berat, jenuh dan lama berpuasa Ramadhan.

Barangsiapa merasa demikian maka sulit baginya untuk bersegera kembali melaksanakan puasa, padahal orang yang bersegera kembali melaksanakan puasa setelah 'Idul Fitri merupakan bukti kecintaannya terhadap ibadah puasa, ia tidak merasa bosam dan berat apalagi benci.

Seorang Ulama salaf ditanya tentang kaum yang bersungguh-sungguh dalam ibadahnya pada bulan Ramadhan tetapi jika Ramadhan berlalu mereka tidak bersungguh-sungguh lagi, beliau berkomentar : "Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal Allah secara benar kecuali di bulan Ramadhan saja, padahal orang shalih adalah yang beribadah dengan sungguh-sunggguh di sepanjang tahun."
Oleh karena itu sebaiknya orang yang memiliki hutang puasa Ramadhan memulai membayarnya di bulan Syawal, karena hal itu mempercepat proses pembebasan dirinya dari tanggungan hutangnya. Kemudian dilanjutkan dengan enam hari puasa Syawal, dengan demikian ia telah melakukan puasa Ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal.

Ketahuilah, amal perbuatan seorang mukmin itu tidak ada batasnya hingga maut menjemputnya. Allah Ta'ala berfirman : "Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)." (Al-Hijr: 99)

Dan perlu diingat pula bahwa shalat-shalat dan puasa sunnah serta sedekah yang dipergunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala pada bulan Ramadhan adalah disyari'atkan sepanjang tahun, karena hal itu mengandung berbagai macam manfaat, di antaranya; ia sebagai pelengkap dari kekurangan yang terdapat pada fardhu, merupakan salah satu faktor yang mendatangkan mahabbah (kecintaan) Allah kepada hamba-Nya, sebab terkabulnya doa, demikian pula sebagai sebab dihapusnya dosa dan dilipatgandakannya pahala kebaikan dan ditinggikannya kedudukan.

Karena demikian besarnya pahala dan keutamaan puasa enam hari pada bulan Syawal sehingga sedikit sekali yang mau dan mampu untuk melakukannya karena demikian berat dan sulitnya berpuasa di tengah-tengah orang yang tidak berpuasa, kalau Ramadhan kita mampu menyelesaikan puasa satu bulan penuh tanpa banyak keluhan karena semua orang berpuasa sehingga ada kebersamaan di dalam Ramadhan tapi puasa di bulan Syawal cendrung sendiri dan hanya dengan beberapa orang saja. Demikian pula halnya godaan yang dihadapi juga tidak sedikit, ketika kita tidak berpuasa jarang bahkan tidak ada undangan makan bersama, tidak ada orang yang menawarkan dan mengajak makan minum, tapi ketika kita puasa sunnah, ada- ada saja undangan, tawaran dan ajakan untuk menyantap makanan.

Mulai kini, niatkan dalam hati untuk puasa sunnah di bulan Syawal, pancangkan tekad untuk meraup pahala puasa Ramadhan setahun penuh dengan menambahnya enam hari pada bulan Syawal, wallahu a'lam. [Cubadak Solok,12 Syawal 1431.H/ 21 September 2010].