Selasa, 03 Juli 2012
33. Pahala Taubat
Oleh ; MUKHLIS DENROS
Selama detak jantung kehidupan yang dilalui manusia selama itu pula dia dihiasi oleh sikap dan prilaku yang baik bahkan kadangkala terdampar dalam kesalahan, dosa dan maksiat yang dilakukan, baik disengaja ataupun tidak, baik besar ataupun kecil, untuk itulah perlunya kita bertaubat kepada Allah SWT mengetuk pintu rahmat dan maghfirah-Nya, Allah berfirman dalam surat Al Hasyr 59;10;
,”Dan orang-orang yang datang sesudah mereka [Muhajirin dan Anshar] mereka berdo’a,”Ya Allah, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau biarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman”.
Secara umum perbuatan dosa terbagi menjadi dua, yang pertama adalah dosa besar. Rasulullah dalam beberapa haditsnya secara ekspisit menjelaskan sejumlah dosa yang termasuk dalam kategori dosa besar. Seperti syirik, sihir, memakan harta riba, durhaka kepada orangtua, saksi palsu dan sebagainya. Dosa seperti ini, bila sipelaku tidak sempat bertaubat, akan mendatangkan balasan yang berat dan pedih dari Allah SWT. Artinya, taubat dari dosa besar, masih mungkin dilakukan selama yang bersangkutan sungguh-sungguh meninggalkan perkara dosa tersebut.
Disamping dosa besar, ada pula dosa kecil. Umumnya sedikit orang yang memperhatikan dosa kecil ini sebagai suatu kemaksiatan. Padahal ampunan Allah terhadap hamba-Nya yang melakukan dosa, selama tidak dilakukan berulang, lebih besar kemungkinan terkabulnya dibandingkan ampunan terhadap dosa kecil yang dilakukan kembali secara berulang-ulang. Dosa kecil akan menjadi besar apabila;
1.Mengecilkan dan meremehkan dosa
Dosa yang dilakukan dianggap kecil akan menjadi besar oleh Allah, sebaliknya bila dosa dianggap besar, maka ia akan menjadi kecil dalam penilaian Allah, Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya seorang mukmin itu melihat dosa-dosanya sepertinya ia berada di bawah gunung besar yang ia takut menimpa dirinya. Sementara orang yang banyak dosa itu adalah orang yang melihat dosanya seperti lalat yang ada di hidungnya. Kemudian ia katakan begini [meremehkan].
Anas bin Malik Ra, diriwayatkan oleh Bukhari menyebutkan hadist,”Sesungguhnya kalian akan melakukan suatu amal yang dalam pandangan kalian amalan tersebut lebih kecil dari rambut, sementara kami menganggapnya dizaman Rasulullah sebagai dosa besar”.
Bilal bin Rabah mengatakan,”Jangan memandang kecilnya suatu kemaksiatan, tetapi lihatlah pada kebesaran Zat yang engkau lakukan maksiat terhadap-Nya”. Rasulullahpun telah berpesan,”Hati-hatilah terhadap dosa kecil, siapa tahu begitu kamu mengerjakan dosa kecil Allah mencatatmu sebagai penduduk neraka selama-lamanya dan hati-hatilah terhadap amal yang kecil, siapa tahu ketika kalian mengerjakan amal yang kecil itu dicatat Allah sebagai penghuni syurga selama-lamanya”.
2.Membanggakan Dosa Kecil
Sebab lain yang menjadikan dosa kecil menjadi besar, adalah perasaan bahagia dan senang dengan dosa kecil, bahkan membanggakannya. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah bahwa Rasulullah telah bersabda,”Semua ummatku akan diampuni kecuali Mujahirun”, sahabat bertanya,”Apakah yang dimaksud dengan muhajirun itu ya Rasulullah?”. Rasul menjawab,”Yakni orang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari, dan Allah telah menutupi kesalahannya, namun ketika pagi ia berkata kepada orang,”Tadi malam saya melakukan ini dan ini, Allah telah menutupi kesalahannya, tapi ia sendiri yang menyingkapnya” [HR. Bukhari dan Muslim].
3.Dilakukan terus menerus
Dosa kecil yang dilakukan secara berulang-ulang akan menjadi besar. Imam Al Gazali memberi pemisalan dalam hal ini seperti tetesan air yang jatuh ke atas sebuah batu secara berulang-ulang. Tetesan tersebut lama –kelamaan pasti akan memberi bekas kepada batu itu. Sementara bila tetesan air itu dikumpulkan, kemudian sekaligus ditumpahkan ke atas batu, niscaya tumpahan tidak memberi bekas apa-apa.
4.Dilakukan oleh orang alim
Dosa kecil juga dapat menjadi besar bila dilakukan oleh seorang berilmu atau tokoh yang menjadi panutan bagi orang lain, Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang memulai perbuatan baik dalam islam, maka ia memperoleh pahala perbuatan itu, sekaligus pahala orang yang melakukannya. Dan orang yang memulai perbuatan buruk, maka ia akan memikul dosa perbuatan itu dan dosa orang yang melakukannya” [HR.Muslim].
Kata taubat berasal dari kata ”Tawaba” berarti kembali. Seseorang dikatakan kembali atau taubat apabila ia menjauhi semua perbuatan dosa. Maka arti taubat ialah kembali kepada Allah SWT dengan melepaskan seluruh ketekaitan hati dan dosa, kemudian kembali mengerjakan kewajibannya kepada Allah SWT. Menurut syariat, taubat artinya meninggalkan seluruh perbuatan dosa dan menyesali semua kemaksiatan yang telah dikerjakannya karena Allah SWT, kemudian berusaha untuk tidak mengulanginya kapan dan dimana saja walaupun dia mampu dan tahu akan kemungkinan untuk mengulanginya.
Taubat adalah perasaan hati kecil yang merupakan penyesalan atas segala yang telah terjadi, kemudian mengharap ampunan dari Allah SWT dengan menjauhi segala perbuatan dosa, dan selalu berbuat baik. Dengan perbuatan baik inilah, taubat seseorang dan seluruh ketaatannya akan diterima oleh Allah SWT. Barangsiapa yang bertaubat hanya sekedar mengisi kekosongan dan tidak mengerjakan apa-apa yang dicintai oleh Allah, maka dia tidak dikatakan bertaubat, kecuali kalau dia benar-benar kembali kepada Allah dan berusaha melepaskan keterkaitan hati dari mengulangi perbuatan dosa serta menetapkan makna taubat didalamnya sebelum mengucapkan secara lisan, dan membuktikan kesungguhan taubatnya dengan menjauhi segala yang dibenci Allah SWT seraya kembali kepada yang dicintai dan diridhai-Nya.
Taubat memiliki keutamaan bagi orang yang menyadari kesalahannya lalu kembali menjadi orang-orang yang shaleh yang diiringi dengan penyesalan yang mendalam, adapun keutamaannya adalah;
a. Perbuatan yang paling utama;
Taubat kepada Allah adalah perbuatan yang paling utama, oleh karena itu Allah selalu menyeru kepada orang-orang mukmin untuk bertaubat;
”Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” [An Nur 24;31]
Dan Allah selalu membuka pintu-pintu taubat bagi hamba-hamba-Nya;
”Katakanlah,”Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya, dan sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [Az Zumar 39;53].
b. Dosanya akan diampuni Allah;
Barangsiapa yang bertaubat dan memohon ampun kepada –Nya, niscaya Allah akan mengampuninya, walaupun dia telah banyak berbuat dosa; ”Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menyesatkan dirinya sendiri. Kemudian ingat akan Allah dan memohon ampun atas dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji itu sedang mereka mengetahui” [Ali Imran;135]
c. Mendapat rahmat dari Allah
Orang yang bertaubat kepada Allah dari dosa-dosa yang telah diperbuat, niscaya dia akan selalu mendapat rahmat, perlindungan, barakah dan akan dilapangkan rezekinya serta kebahagiaan hidup di dunia dan akherat, ”Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhannya dan syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, yang mereka kekal di dalamnya dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal” [Ali Imran;136].
d. Hidup akan tentram dan sejahtera
Memohon ampun kepada Allah dengan meninggalkan semua perbuatan-perbuatan dosa, inilah yang menyebabkan hidup tentram dan sejahtera, lahirnya generasi-generasi yang shaleh dan menambah kemuliaan baginya, ”Maka aku katakan kepada mereka, ”Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan kepadamu hujan yang lebat. Dan melimpahkan kepadamu harta dan keturunan, menyediakan untukmu kebun-kebun dan sungai-sungai” [Nuh; 10-12].
e. Tidak ada penghalang dengan Allah
Pintu taubat akan selalu terbuka bagi siapa saja yang menghendaki, dan tidak seorangpun mampu menghalangi rahmat Allah darinya, tidak ada hijab [penghalang] apapun antara dia dengan Tuhannya, ”Kecuali bagi siapa saja yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh, niscaya mereka itu akan masuk ke dalam syurga dan tidak disesatkan sedikit juapun. Yaitu syurga Adn yang telah dijanjikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya sekalipun syurga itu tidak nampak, sesungguhnya janji Allah itu pasti akan ditetapi” [Maryam 60;16].
f. Menyelamatkan dari neraka
Maka taubatlah yang menumbuhkan iman dan amal shaleh, sehingga terealisir pengertiannya secara aktif dan jelas. Taubat juga menyelamatkan orang-orang dari neraka, selain itu juga, tidak menjerumuskan mereka ke dalam jurang kesesatan,”Akan tetapi mereka itu akan masuk ke dalam syurga dan tidak disesatkan sedikitpun” [Maryam;60].
Ucapan taubat seorang hamba semata-mata tidak bisa dijadikan bukti kesungguhan dalam bertaubat, kecuali dia membuktikan tanda-tanda kesungguhan taubatnya. Diantaranya tanda-tanda itu adalah;
-Benar-benar berniat untuk meninggalkan perbuatan dosa dan kembali kepada
ketaatan.
-Setelah bertaubat, keadaan menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
-Tidak pernah merasa aman dari siksa Allah sekejappun sepanjang hidupnya.
-Benar-benar menyesal, sedih dan rugi atas kelengahannya serta takut akan
pedihnya siksa di dunia dan di akherat. Seringkali kenikmatan nafsu sekejap
menjadikan sengsara selamanya.
-Selalu ingat akan kepastian dirinya kembali kepada Allah, juga kematian
yang selalu menghantuinya.
-Yang paling penting dari tanda-tanda kesungguhan orang bertaubat adalah
cinta kepada Allah, Rasul serta orang-orang mukmin, dengan berbuat
sesuatu hang menunjukkan kecintaannya itu.
Dengan taubat yang sesungguhnya seorang mukmin akan mantap memasuki kehidupan baru untuk meraih prediket tertinggi dalam pengabdian yaitu taqwa, dosa – dosa yang selama ini menaungi hidup telah luntur dan bersih karena mereka telah bertaubat kepada Allah, memasuki kehidupan baru yang suci lagi bersih, wallahu a'lam [Cubadak Solok, 4 Zulqaidah 1431.H/ 12 Oktober 2010.M]
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar