Sabtu, 26 Mei 2012
24. Pahala Memelihara Anak Yatim
Oleh ; MUKHLIS DENROS
Ketika takdir telah menentukan bagi seorang anak sebagai anak yatim maka tidak ada halangan baginya untuk menikmati kehidupan ini sebagaimana anak-anak lain layaknya karena banyak saudara ibu dan saudara ayahnya yang punya kelebihan rezeki, dapat membantu meringankan kehidupan sang yatim selain itu merupakan kewajiban untuk memperhatikan sesama anak-anak muslim, Rasulullah bersabda,"Aku dan pengasuh anak yatim (kelak) di surga seperti dua jari ini. (HR. Bukhari), Rasulullah Saw. menunjuk jari telunjuk dan jari tengah dan merapatkan keduanya).
Rumah yang baik bukanlah rumah yang besar, bagus dan megah sebagai tempat yang nyaman bagi seorang muslim, bukan berarti kita tidak boleh punya rumah yang demikian, tapi Rasulullah memberikan gambaran tentang sebaik-baiknya rumah yaitu,"Sebaik-baik rumah kaum muslimin ialah rumah yang terdapat di dalamnya anak yatim yang diperlakukan (diasuh) dengan baik, dan seburuk-buruk rumah kaum muslimin ialah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim tapi anak itu diperlakukan dengan buruk. (HR. Ibnu Majah)
Seorang anak yang dibesarkan dalam keadaan yatim adalah romantika kehidupan yang dilalui hingga dewasanya, walaupun dengan kesusahan dan penderitaan kehidupan dilalui bersama sang ibu, tapi perjuangan ibu yang ikhlas membesarkan anaknya tidaklah sia-sia, semuanya diberi pahala yang berlipat-ganda, sebagaimana yang digambarkan dalam hadits yang disampaikan oleh Rasulullah, "Aku dan seorang wanita yang pipinya kempot dan wajahnya pucat bersama-sama pada hari kiamat seperti ini (Nabi Saw menunjuk jari telunjuk dan jari tengah). Wanita itu ditinggal wafat suaminya dan tidak mau kawin lagi. Dia seorang yang berkedudukan terhormat dan cantik namun dia mengurung dirinya untuk menekuni asuhan anak-anaknya yang yatim sampai mereka kawin (berkeluarga dan berumah tangga) atau mereka wafat. (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Sifat dermawan mendapat balasan pahala dari Allah dengan berlipat ganda yang sekaligus siapa yang mengabaikan fakir miskin dan anak yatim mendapat ancaman yang berat sekali bahkan dianggap mendustakan agama;
" Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin" [Al Ma'un 107;1-3]
Anak yatim mendapat perhatian yang istimewa dalam islam karena secara kejiwaan mereka merasakan betapa sepinya hidup tanpa ayah sementara anak-anak lain dapat bermanja-manja dengan ayah mereka, hal ini membuat Nabi Muhammad merasakan benar keadaan si yatim karena beliau pernah mengalaminya.
. Rasulullah pernah terlambat menunaikan shalat Idul Fithri karena berpapasan denan seorang bocah yang bermasalah, pakaiannya kumal, rambutnya kusut dan tidak terurus,”Kenapa kamu menangis sementara teman-temanmu sibuk dengan permainannya, pakaiannyapun bagus-bagus dan di tangannya da kue yang enak, dimana orangtuamu?”.
Anak itu terkejut dengan datangnya seorang lelaki di hadapannya, dia tidak tahu kalau sedang berhadapan dengan Rasulullah,”Bagaimana saya tidak sedih, ayah saya sudah meninggal, ia syahid dalam peperangan mengikuti perintah jihad dari Rasulullah, sedangkan ibu saya sudah menikah lagi, mereka tidak memperhatikan saya...”, Keluhan lirih itu disambut oleh ajakan Rasulullah,”maukah engkau berayahkan Muhammad, beribukan Aisyah, bersaudarakan Fatimah dan bertemankan Hasan?”.
Spontan anak itu menerima tawaran itu, Rasulullah mengantarkan anak itu pulang untuk dimandikan, diberi makan, diberi baju baru dan belanja layaknya seorang anak yang sedang merayakan Idul Fithri.
Diantara gema takbir, Rasulullah telah mengangkat derajat seorang anak sebagai manusia yang mulia dengan penghormatan yang layak tanpa melecehkan keadaannya. Beliau menegaskan "Demi yang mengutus aku dengan hak, Allah tidak akan menyiksa orang yang mengasihi dan menyayangi anak yatim, berbicara kepadanya dengan lembut dan mengasihi keyatiman serta kelemahannya, dan tidak bersikap angkuh dengan apa yang Allah anugerahkan kepadanya terhadap tetangganya. Demi yang mengutus aku dengan hak, Allah tidak akan menerima sedekah seorang yang mempunyai kerabat keluarga yang membutuhkan santunannya sedang sedekah itu diberikan kepada orang lain. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, ketahuilah, Allah tidak akan memandangnya (memperhatikannya) kelak pada hari kiamat."(HR. Ath-Thabrani)
Memperhatikan anak yatim bukanlah hanya ketika dizaman Nabi Muhammad saja tapi dizaman Nabi Musa terjadi hal yang sama, tergambar dari perjalanan Nabi Musa dan Khidir, Allah memfirmankan hal itu dalam surat Al Kahfi;
"Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, Kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, Maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu".[18;77]
"Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah Aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya"[18;82]
Kalaulah ummat islam yang mengerti tentang pahala memelihara anak yatim maka mereka akan berkompetisi untuk mengambil anak yatim sebagai amanah untuk dididik, dibimbing dan dibesarkan sebagaimana anak sendiri, sehingga harta anak yatim terjaga dengan baik karena seluruh kebutuhannya telah dipenuhi orangtua angkatnya, Rasulullah bersabda, "Barangsiapa menjadi wali atas harta anak yatim hendaklah diperkembangkan (diperdagangkan) dan jangan dibiarkan harta itu susut karena dimakan sodaqoh (zakat). (HR. Al-Baihaqi)
Memelihara anak yatim adalah salah satu pintu untuk berbuat baik dan meraup pahala dari Allah sebagai balasan atas kebaikannya itu, Rasulullah bersabda,"Barangsiapa dibukakan baginya pintu kebaikan (rezeki) hendaklah memanfaatkan kesempatan itu (untuk berbuat baik) sebab dia tidak mengetahui kapan pintu itu akan ditutup baginya. (HR. Asysyihaab). Mumpung masih punya kelebihan rezeki dari Allah, alangkah baiknya sebagian rezeki tersebut disisihkan untuk kebutuhan anak yatim yang hidup bersama dalam rumah kita sebagaimana memelihata anak sendiri, karena kita tidak tahu, siapa kelak yang lebih berbakti kepada kita, apakah akan kandung kita ataukah anak yatim yang hidup dalam asuhan kita, wallahu a'lam. . [Cubadak Solok,19 Syawal 1431.H/ 28 September 2010]
Referensi;
1. 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath 2. 2. Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4. Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar