Sabtu, 26 Mei 2012
25. Pahala Berbakti Kepada Orangtua
Oleh ; MUKHLIS DENROS
Tidaklah berlebihan bila dinyatakan bahwa tanpa orangtua maka tidak ada pula anak, artinya kehadiran anak selain memang ditakdirkan Allah, juga merupakan rentetan kehidupan dari seorang ayah dan seorang ibu, yang mengandung, melahirkan dan membesarkan sibuah hatinya, pentingnya keberadaan orangtua yang berdekatan dengan Allah tergambar dalam hadits Rasulullah, "Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orang tua."(HR. Al Hakim)
Dalam surat An Nisa’ 4;36 Allah berfirman;
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil[295] dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,
Pada ayat tersebut tergambar bahwa seorang anak berkewajiban unuk beribadah hanya kepada Allah Swt, seluruh hidupnya harus bernuansa ibadah, tidak boleh menserikatkan Allah dengan sesuatu apapun karena syirik itu merupakan kezhaliman yang besar, beribadah dengan motivasi/ niat selain Allah maka dihadapan-Nya tidak ada artinya sama sekali. Sedangkan kewajiban yang kedua adalah berbakti atau berbuat baik kepada kedua orangtuanya, disini tergambar bahwa kebaktian kepada Allah harus diiringi dengan kebaktian kepada orangtua, tidak sempurna ibadah seseorang kepada Allah kalau dia durhaka kepada orangtuanya, demikian pula berbuat baik kepada orangtua juga sia-sia sementara tidak beriman kepada Allah, disini tidak bisa dipisahkan iman kepada Allah dengan berbuat baik kepada kedua orangtua.
Berbakti kepada kedua orangtua atau ”birrul walidain’’ dianjurkan oleh Allah Swt. Ia memerintahkan hal ini dan memuji sebagian Rasul-Nya yang telah berbakti kepada kedua orangtuanya, untuk itu Ia berfirman sehubungan dengan nabi Yahya As, ”Dan seorang yang berbakti kepada kedua orangtuanya, dan bukanlah ia seorang yang sombong lagi durhaka” [Maryam 19;14].
"Seorang datang kepada Nabi Saw. Dia mengemukakan hasratnya untuk ikut berjihad. Nabi Saw bertanya kepadanya, "Apakah kamu masih mempunyai kedua orangg tua?" Orang itu menjawab, "Masih." Lalu Nabi Saw bersabda, "Untuk kepentingan mereka lah kamu berjihad." (Mutafaq'alaih)
Nabi Saw melarangnya ikut berperang karena dia lebih diperlukan kedua orang tuanya untuk mengurusi mereka. Padahal jihad merupakan amal yang besar pahalanya bahkan wafat didalamnya dinnyatakan mati syahid, tapi ketika kondisi tertentu lebih utama menjaga orangtua.
Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah Saw, ”Siapakah orang yang paling berhak ku baktikan diriku kepadanya?”, Rasulullah menjawab,”Ibumu”, ia bertanya kembali,”Kemudian siapa lagi?” Rasulullah menjawab,”Ibumu”, ia bertanya lagi,”kemudian siapa lagi?” Rasulullah menjawab,”Ibumu”, ”Kemudian siapa lagi?”, Rasulullah menjawab,”Ayahmu”. [HR.Bukhari dan Muslim].
Dari dialog sahabat dengan Rasulullah tersebut dinyatakan bahwa berbakti kepada orangtua adalah satu kewajiban yang harus ditunaikan seorang anak terutama kepada ibunya yang telah mengandung, melahirkan, membesarkan dan mendidik dengan penuh kasih sayang. Seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?" Nabi Saw menjawab, "ibumu...ibumu...ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu.".
Seorang ayah datang kepada Rasulullah menceritakan perangai anaknya yang mengadukan dirinya kepada Rasulullah karena sang ayah mengambil uang anaknya, dia mengatakan sesuatu hal kepada buah hatinya, Rasulullah hanya mendengarkan dengan penuh perhatian; 'Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu waktu muda. Semua hasil jerih-payahku kau minum dan kau reguk puas. Bila kau sakit di malam hari, hatiku gundah dan gelisah, lantaran sakit dan deritamu, aku tak bisa tidur dan resah, bagai akulah yang sakit, bukan kau yang menderita. Lalu airmataku berlinang-linang dan meluncur deras. Hatiku takut engkau disambar maut, padahal aku tahu ajal pasti akan datang. Setelah engkau dewasa, dan mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dengan kekerasan, kekasaran dan kekejaman, seolah kaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan. Sayang..., kau tak mampu penuhi hak ayahmu, kau perlakukan daku seperti tetangga jauhmu. Engkau selalu menyalahkan dan membentakku, seolah-olah kebenaran selalu menempel di dirimu ..., seakan-akan kesejukan bagi orang-orang yang benar sudah dipasrahkan.' Selanjutnya Jabir berkata: "Pada saat itu Nabi langsung memegangi ujung baju pada leher anak itu seraya berkata: "Engkau dan hartamu milik ayahmu!" (HR. At-Thabarani dalam "As-Saghir" dan Al-Ausath).
Bakti anak kepada orangtuanya banyak hal yang bisa dilakukan sehingga peluang pahala memang tersedia untuknya sebagaimana yang disabdakan Nabi, "Barangsiapa berhaji untuk kedua orang tuanya atau melunasi hutang-hutangnya maka dia akan dibangkitkan Allah pada hari kiamat dari golongan orang-orang yang mengamalkan kebajikan.'' (HR. Ath-Thabrani dan Ad-Daar Quthni) Bahkan lebih jauh dari itu peran orangtualah yang menyebabkan selamat atau tidaknya sang anak di akherat kelat. Rasulullah Saw ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau lalu menjawab, "Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu." (HR. Ibnu Majah)
Di tengah masyarakat banyak kita saksikan anak-anak yang tidak dapat menunjukkan dirinya sebagai anak yang baik bahkan cendrung dia memperlakukan orangtuanya dengan kasar, sadis dan kejam tanpa peri kemanusiaan. Allah telah memperingatkan dalam firman-Nya,;
”Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ”ah” dan janganlah kamu membentaknya...” [17;23].
Ucapan ”ah, cis, hus ” saja tidak boleh apalagi sampai membentak orangtua dengan kata-kata kasar. Mungkin anak tidak berkata ”ah” dan juga tidak berkata kotor, tapi sikap kesehariannya banyak menyakitkan orangtua, mencoreng nama baik keluarga, maka inipun termasuk durhaka kepada orangtuanya. Termasuk dosa besar seorang yang mencaci-maki ibu-bapaknya. Mereka bertanya, "Bagaimana (mungkin) seorang yang mencaci-maki ayah dan ibunya sendiri?" Nabi Saw menjawab, "Dia mencaci-maki ayah orang lain lalu orang itu (membalas) mencaci-maki ayahnya dan dia mencaci-maki ibu orang lain lalu orang lain itupun (membalas) mencaci-maki ibunya. (Mutafaq'alaih)
Abdullah ibnu Mas’ud berkata, ”Aku bertanya kepada Rasulullah, amal perbuatan apakah yang paling disukai Allah ?” Rasulullah menjawab, ”Shalat pada waktunya”, aku bertanya kembali ”Kemudian apa lagi?”, Rasulullah menjawab, ”Berbaktilah kepada kedua orangtua”, aku bertanya lagi ”Kemudian apalagi?” Rasulullah menjawab, ”Berjihad di jalan Allah” [HR. Bukhari dan Muslim].
Dari hadits ini Rasulullah mengklasifikasikan tiga amalan yang utama, yang nomor dua adalah berbakti kepada kedua orangtua, bahkan berjihad termasuk dalam deretan yang ketiga, karena demikian pentingnya berbakti kepada kedua orangtua dibandingkan berjihad. Seorang datang kepada Rasulullah untuk pergi jihad, tapi dia berat untuk meninggalkan orangtuanya yang hanya sebatang kara, sementara itu diapun siap untuk syahid dalam jihad, maka Rasulullah menunda keberangkatan jihad untuk pemuda itu, khusus untuk dia diberi dispensansi untuk berbakti saja kepada orangtua dan itu senilai dengan jihad.
Berbakti kepada orangtua banyak manfaatnya, diantaranya dapat menebus dosa yang dilakukannya sebagaimana hadits berikut ini, ”Ada seorang lelaki yang datang kepada Rasulullah lalu bertanya, ”Sesungguhnya aku telah melakukan suatu dosa besar, apakah ada taubat bagiku?” Nabi balik bertanya, ”Apakah engkau mempunyai ibu?”, lelaki itu menjawab, ”Tidak ada”, apakah engkau mempunyai bibi ? tanya Rasul. Ia menjawab, ”Iya punya”, Maka berbaktilah kepadanya”, kata Rasulullah” [HR. Turmuzi].
Dari beberapa ayat dan hadits diatas memang keberadaan anak di dunia ini harus mempersembahkan sesuatu kepada kedua orangtuanya, bukan sembahan berupa materi, kemewahan dan bukan pula pangkat serta kejayaan, tapi persembahan; memperlakukan orangtua dengan santun, penuh kasih sayang dan penuh perhatian, tanpa perantara mereka mustahil kita dapat hadir menikmati hidup ini.
Kita melihat sirah Rasulullah dan para sahabatnya, pituah Rasulullah wajib diikuti oleh setiap muslim. Memang ada seorang sahabat yang datang menceritakan bagaimana orangtua memperlakukannya dengan kejam, kasar dan tidak manusiawi, tapi Rasulullah memberi jawaban bahwa seorang anak tetap harus menunjukkan santun dan baktinya kepada orangtua, walaupun dahulu orangtuamu memperlakukanmu dengan buruk, bahkan mungkin dahulu kamu diiris-iris dengan pisau sekalipun.
Yang jelas bagi seorang anak dia berkewajiban untuk berbakti kepada ayah dan ibunya dan itu sudah cukup, bagaimana ayah dan ibunya memperlakukannya dahulu maka itu tanggungjawab orangtua kepada Allah, mereka nanti akan ditanya Allah bagaimana kewajibannya mendidik, mengasuh, memberi pendidikan dan sebagainya kepada anaknya. Rasulullah dalam sebuah hadits membuka mata orangtua, ”Berbuat baiklah kepada orangtuamu niscaya nanti anak-anakmu akan berbuat baik kepadamu”. Kepada kita yang hari ini adalah seorang anak, berbaktilah kepada orangtua kita kalau kita mau nanti dikemudian hari memiliki anak-anak yang juga berbakti kepada kita, wallahu a’lam [Cubadak Solok,19 Syawal 1431.H/ 28 September 2010]
Referensi;
1. 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath
2. Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4. Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar