Sabtu, 26 Mei 2012

26. Pahala Ibadah Haji


Oleh ; MUKHLIS DENROS

Salah satu rukun islam yang wajib ditunaikan bagi ummat islam yang mampu adalah menunaikan ibadah haji ke Makkah Al Mukarramah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya dengan menapaktilas perjalanan yang pernah dilakukan oleh para Rasul Allah, Ibrahim dan Muhammad Saw. Firman Allah;
"Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah Dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.."(AliImran:3;97)

Kewajiban haji bila sudah datang kepada mereka yang mampu harus dilaksanakan walaupun dengan rukhshah atau keringanan sebagaimana yang terjadi dizaman Rasulullah, Abdullah bin Abbas r.a. berkata, "Al-Fadhl bin Abbas mengiringi Rasulullah, lalu datang seorang wanita dari Khats'am. Kemudian al-Fadhl melihat kepadanya dan wanita itu melihat Fadhl. Lalu, Nabi mengalihkan wajah al-Fadhl ke arah lain. Wanita itu berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah mewajibkan hamba-Nya untuk haji. Ayahku terkena kewajiban itu, namun ia sudah tua bangka, tidak kuat duduk di atas kendaraan. Apakah saya menghajikannya?' Beliau menjawab, 'Ya.' Hal itu pada Haji Wada'."

Banyak keutamaan dan pahala yang diberikan Allah kepada orang yang datang menunaikan ibadah haji, sejak dari ujung timur hingga ujung barat dengan syarat semata-mata mengharapkan ridha Allah, jauh dari motivasi duniawi;
" Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang Telah ditentukan atas rezki yang Allah Telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.

Allah menggambarkan kedatangan ummat Islam untuk menunaikan ibadah haji dengan megnendarai Unta yang kurus, hal ini menunjukkan jauh dan sukarnya perjalanan yang ditempuh oleh jemaah haji, apalagi mereka yang sudah lanjut usia tentu lebih sukar lagi perjalanan itu, tapi disana jugalah letak manisnya ujian dalam menjalankan ibadah kepada Allah, bahkan kadangkala mereka berazham untuk wafat di Mekkah saja, yaitu tanah suci tempat ummat islam menunaikan ibadah besar setiap tahun. Ibnu Umar r.a. berkata, "Saya melihat Rasulullah mengendarai kendaraannya di Dzul Hulaifah. Kemudian beliau membaca talbiyah dengan suara keras sehingga kendaraan itu berdiri tegak."

Karena sukarnya perjalanan untuk menunaikan ibadah haji itu, tidak sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, selain membutuhkan fisik yang sehat dan dana yang tidak sedikit juga membutuhkan konsentrasi dan kekhusu'kan yang prima, sehingga wajar bila ibadah haji merupakan salah satu bentuk jihad, Umar r.a. berkata, "Pergilah dengan berkendaraan untuk mengerjakan ibadah haji. Sebab, sesungguhnya haji itu adalah salah satu dari dua macam jihad.".

Haji termasuk amal yang utama dari amal-amal yang lain, setelah iman dan jihad, Abu Hurairah r.a. berkata, "Nabi ditanya, 'Amal apakah yang lebih utama?' Beliau bersabda, 'Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.' Ditanyakan, 'Kemudian apa?' Beliau bersabda, 'Berjuang di jalan Allah.' Ditanyakan, 'Kemudian apa?' Beliau bersabda, 'Haji yang mabrur.'.

Aisyah Ummul Mukminin r.a. berkata, "Wahai Rasulullah, kami melihat bahwa jihad (berperang) itu seutama-utama amal, apakah kami tidak perlu berjihad?" Nabi saw. bersabda, 'Tidak, bagi kalian jihad yang paling utama adalah haji mabrur." (Dalam satu riwayat: Rasulullah ditanya oleh istri-istri beliau tentang haji, lalu beliau bersabda, "Sebaik-baik jihad adalah haji.".

Ibadah haji yang mabrur itu adalah ibadah haji yang mendapatkan ganjaran dari Allah, melalui prosesi ibadah yang dilakukan sebelum, saat dan setelah melaksanakan semua syarat dan rukunya, selain melepaskan dirinya dari dosa-dosanya juga memasukkannya kelak ke dalam syurga. Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Ibadah umrah sampai umrah berikutnya sebagai kafarat untuk dosa di antara keduanya dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga. (Shahih Muslim )
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. telah bersabda: Barang siapa datang (haji) ke Baitullah ini lalu tidak berbicara kotor dan tidak berbuat maksiat, maka ia akan kembali seperti ketika dilahirkan oleh ibunya. (Shahih Muslim]

Iman dan jihad merupakan dua amal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan mukmin, tapi tidak sedikit seorang mukmin hanya mampu untuk beriman saja kepada Allah dan Rasul-Nya dan tidak sanggup untuk berjihad karena berbagai kendala yang menghalanginya, tapi bila jihad sudah dapat dia tunaikan maka pasti diawali dari keimanan yang mantap, beda dengan ibadah haji, dia terletak pada amal utama yang ketiga setelah iman dan jihad, orang bisa melaksanakan ibadah haji pasti telah dilalui sebelumnya amal iman dan amal jihad dalam arti luas. Orang yang mau melaksanakan ibadah tidaklah sembarang orang, dia sudah mengikis dari pribadinya sifat-sifat negatif yang dapat mencemari ibadahnya, dia sudah terbiasa mendermakan hartanya melalui infaq, shadaqah, zakat, kurban dan memberikan santunan kepada yang berhak menerimanya, dirinya sudah menjadi orang yang dermawan sebelum berangkat haji, jauh dari sifat kikir dan mementingkan diri sendiri. Abu Tsumamah bin Abdullah bin Anas berkata, "Anas menunaikan haji di atas kendaraan, dan ia itu bukan orang yang pelit. Ia menceritakan bahwa Rasulullah menunaikan haji dengan naik kendaraan. Kendaraan itulah yang mengangkut beliau dan barang-barang beliau."

Karena keinginan yang begitu besar untuk menunaikan ibadai haji sehingga penduduk Yaman menunaikan ibadah haji tanpa memiliki bekal, tentu saja hal itu boleh saja tapi pasti menyusahkan dalam perjalanan, Ibnu Abbas r.a. berkata, "Penduduk Yaman pergi haji dan mereka tidak menyiapkan bekal apa pun untuk perjalanan mereka. Bahkan, mereka berkata, 'Kita semua bertawakal kepada Allah.' Apabila mereka telah tiba di Mekah, mereka meminta-minta kepada orang banyak. Kemudian Allah menurunkan ayat yang berbunyi, 'Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.'"

Ummat islam melaksanakan ibadah khususnya ibadah haji sesuai dengan manhaj atau sistim yang sudah diajarkan oleh Rasulullah melalui bimbingan wahyu Ilahi, melaksanakan ibadah haji harus ke Mekkah Al Mukarramah, tidak boleh ke tempat lain yang dianggap istimewa dan keramat, begitu pula halnya ritual mencium batu hitam atau hajar aswad, bukan lantaran batu hitamnya tapi dia adalah sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah, Hadis riwayat Umar bin Khathab ra.:
Ketika Umar bin Khathab mencium Hajar Aswad (batu hitam), ia berkata: Demi Allah, aku tahu bahwa engkau hanyalah sebongkah batu, seandainya aku tidak melihat Rasulullah saw. menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu. (Shahih Muslim )

Ibadah haji memang besar pahalanya sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah, Barang siapa datang (haji) ke Baitullah ini lalu tidak berbicara kotor dan tidak berbuat maksiat, maka ia akan kembali seperti ketika dilahirkan oleh ibunya. (Shahih Muslim), tapi tidak mesti dilaksanakan setiap tahun karena membutuhkan dana yang tidak sedikit, walaupun mampu sebaiknya rezeki yang masih ada tidak digunakan untuk ibadah haji, masih banyak ibadah yang memerlukan biaya yang pahalanya mungkin lebih atau sama dengan melaksanakan ibadah haji seperti mengentaskan kemiskinan kerabat dan tetangga melalui santunan dan bantuan sosial, membantu dengan bea siswa bagi anak-anak muslim yang memerlukan bantuan untuk sekolah dan kuliahnya, Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah pernah berpidato di hadapan kami, beliau berkata: Wahai manusia! Sesungguhnya Allah telah mewajibkan ibadah haji atas kamu sekalian, maka berhajilah! Seorang lelaki bertanya: Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah? Beliau diam tidak menjawab. Sehingga lelaki itu mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali. Rasulullah saw. kemudian menjawab: Jika aku katakan "ya", niscaya akan wajib setiap tahun dan kamu sekalian tidak akan mampu melaksanakannya. Beliau melanjutkan: Biarkanlah apa yang telah aku katakan kepada kamu sekalian! Sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah binasa karena mereka banyak bertanya dan berselisih dengan nabi-nabinya. Maka apabila aku memerintahkan sesuatu kepada kamu sekalian, laksanakanlah sesuai dengan kemampuanmu dan jika aku melarang sesuatu kepada kamu sekalian, janganlah kamu kerjakan!. (Shahih Muslim).

Sangat ironi dan menyedihkan bagi ummat islam yang sudah mampu dari segi materi, kesehatan dan amaliyah ibadah lainnya tapi masih mengabaikan untuk menunaikan ibadah haji dengan alasan "belum ada panggilan", sebenarnya panggilan Allah untuk para tamu menunaikan ibadah haji ke Mekkah sudah sejak dahulu, tinggal lagi kepada pribadi kita masing-masing untuk meningkatkan iman, memperkuat tekad, mempersiapkan fisik dan mental, menyediakan bekal materi secukupnya untuk memenuhi panggilan Allah dan meraup pahala yang dijanjikan yaitu syurga-Nya, wallahu a'lam. [Cubadak Solok, 21 Syawal 1431.H/ 30 September 2010].

Referensi;
1. 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath 2. 2. Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4. Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009




Tidak ada komentar:

Posting Komentar