Sabtu, 26 Mei 2012
18. Pahala Mengajarkan Ilmu
Oleh ; MUKHLIS DENROS
Orang yang mengajarkan ilmu disebut dengan guru, ustadz, murabbi atau pendidik ialah orang yang memikul tanggungjawab untuk mendidik. Pada umumnya jika kita mendengar istilah pendidik akan terbayang di depan kita seorang manusia dewasa. Dan sesungguhnya yang kita maksud dengan pendidik adalah hanya manusia dewasa yang akan melaksanakan kewajibannya tentang pendidikan siterdidik.
Kalau ditinjau dari segi pertanggungjawaban, maka orang dewasa yang mendidik memikul pertanggungjawaban terhadap anak didiknya, sedangkan sipenolong kecil itu belumlah demikian. Jelaslah kiranya bahwa si penolong kecil itu belum dapat disebut pendidik dalam arti sesungguhnya, jadi pendidik itu adalah orang dewasa.
Rasulullah bersabda: "Jadilah orang yang mengajar, atau orang yang belajar, atau orang yang mendengar, atau orang yang cinta kepada ilmu, janganlah jadi orang yang kelima, maka celaka kamu".
Tugas guru bukan pada intelektualitasnya saja tetapi lebih jauh kepada kepribadiannya, baik dan pintar, otak dan hati sasarannya. Untuk menjadi pintar telah banyak usaha guru dikerahkan dalam bentuk transpormasi dan transfer ilmu pengetahuan, lugasnya pengalihan ilmu kepada murid berlansung dengan berbagai kegiatan formal sepanjang mengarah kepada otak atau keterampilan. Sudah banyak jasa guru dalam mencetak kader bangsa yang berkualitas, baik level daerah sampai tingkat internasional.
Dengan demikian berarti kehadiran guru yang berkualitas sangat diperlukan dalam mencetak kader bangsa disamping pintar juga baik. Dr. Zakiah Drajat sangat menekankan sekali agar seorang guru memiliki kepribadian. Faktor erpenting bagi seorang guru ialah kepribadiannya, kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia kembali menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi anak didiknya, atau akan jadi perusak atau penghancur bagi hari depan anak didik, terutama bagi anak didik yang masih kecil dan mereka yang sedang mengalami kegoncangan jiwa.
Apa yang dimaksud dengan kepribadian ? dalam uraian kita tidak akan membicarakan arti atau batasan kepribadian secara teori, akan tetapi akan mencoba memahami berbagai unsur kepribadian yang dapat dilihat atau dipahami dengan mudah. Orang awam dengan mudah mengatakan bahwa seseorang itu punya kepribadian yang baik, kuat dan menyenangkan. Sedangkan ada pula orang lain dikatakan mempunyai kepribadian lemah atau buruk dan sebagainya.
Kepribadian sesungguhnya adalah abstrak, sukar dilihat atau diketahui secara nyata, yang dapat diketahui adalah penampilan atau bekasnya dalam segala segi dan asfek kehidupan. Misalnya dalam tindakannya, ucapan, caranya bergaul, berpakaian dan dalam menghadapi persoalan atau masalah, baik yang ringan maupun yang berat. Dalam kondisi bagaimanapun dan sampai kapanpun tampilnya seorang guru sangat diharapkan guna mencerahkan kehidupan dengan orang-orang yang berilmu, orang yang berilmu sangat mudah sekali diajak untuk memihak kepada kebenaran. Abu Dzar berkata, "Andaikan kamu semua meletakkan sebilah pedang di atas ini (sambil menunjuk ke arah lehernya). Kemudian aku memperkirakan masih ada waktu untuk melangsungkan atau menyampaikan sepatah kata saja yang kudengar dari Nabi saw. sebelum kamu semua melaksanakannya, yakni memotong leherku, niscaya kusampaikan sepatah kata dari Nabi saw. itu."
Tugas seorang guru sangatlah mulia yaitu mencetak orang-orang yang dekat kepada Allah yang disebut juga dengan Rabbany, Ibnu Abbas berkata, "Jadilah kamu semua itu golongan Rabbani, yaitu (golongan yang) penuh kesabaran serta pandai dalam ilmu fiqih (yakni ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hukum hukum agama), dan mengerti."Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud "Rabbani"' ialah orang yang mendidik manusia dengan mengajarkan ilmu pengetahuan yang kecil-kecil sebelum memberikan ilmu pengetahuan yang besar-besar (yang sukar). Allah berfirman dalam surat Ali Imran 3;79
" Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia Berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (Dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya".
Generasi Rabbany adalah generasi yang selalu mengajarkan Al Kitab dan segala ilmu yang dikuasainya kepada para muridnya, namun diapun siap sebagai murid yang belajar sampai kapanpun, artinya guru adalah murid karena dia dituntut pula untuk belajar dan murid adalah guru karena dia punya tanggungjawab untuk menyampaikan ilmu yang telah diperolehnya, sampai-sampai Rasul berpesan kepada kita,"Sampaikanlah apa yang telah engkau peroleh dariku meskipun hanya satu ayat"..
Bahkan kewajiban seorang mukmin terhadap Al Qur'an salah satunya adalah tampil sebagai guru dengan mengajarkannya kepada masyarakat sesuai dengan kemampuannya karena tidaklah cukup Al Qur’an hanya diimani dan dibaca saja, karena ilmu yang terkandung di dalamnya Maha Luas sekali sehingga perlu menguak ilmu tesebut melalui telaah, diskusi dan mempelajari isinya, Allah menjelaskan dalam surat Shad 38;29;
“Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran” .
Selain itu relevansi mengajar dengan tarbiyyah adalah berda'wah, kewajiban mukmin terhadap Al Qur’an adalah dengan menda’wahkannya kepada masyarakat sesuai dengan kemampuan sebagaimana sabda Rasululah dan firman-Nya [16;126]
Cara menyiarkan atau menda’wahkan Al qur’an itu harus sesuai dengan konsep Allah dan Rasul-Nya seperti dengan hikmah, berani berkorban apa saja, secara obyektif [2;259], menyentuh perasaan yang menerimanya [36;69-70], lemah lembuh [3;159] dan teladan yang baik [33;69-70]
Kenapa seorang mukmin dituntut untuk menyiarkan Al Qur’an ditengah masyarakat pada setiap lapangan kehidupan 93;159], agar nanti tidak didebat oleh Allah, mengaku beriman kepada Al Qur’an tapi buktinya mana [4;165], agar tidak dikuasai oleh musuh-musuh islam serta tidak terkena bencana [8;25] bahwa orang yang tidak mau berda’wah dan menyiarkan Al Qur’an akan diturunkan bencana, yang tidak hanya mengenai orang-orang jahat saja tapi seluruhnya akan tertimpa bencana. Rasulullah bersabda,"Sebaik-baik manusia adalah yang mempelajari Al Qur'an dan yang mengajarkannya"
Dalam menyampaikan pelajaran walaupun pelajaran tersebut sangat berguna, agar dapat lebih lama bertahan di ingatan dan kepala murid, bagi yang haus ilmu mereka akan selalu berharap dapat pelajaran dari guru maka sebaiknya pelajaran itu diberikan secara bertahap dan hemat agar tidak membosankan, Abu Wa-il berkata, "Abdullah pada setiap hari Kamis memberikan peringatan (yakni mengajar ilmu-ilmu keagamaan kepada orang banyak). Kemudian ada seseorang berkata, "Wahai ayah Abdur Rahman, aku sebenarnya lebih senang andaikata kamu memberikan peringatan kepada kami setiap hari." Abdullah menjawab, "Ketahuilah, sesungguhnya ada satu hal yang menghalangiku untuk berbuat begitu, yaitu aku tidak senang membuatmu bosan, dan sesungguhnya aku akan memberikan nasihat (pelajaran) kepada kamu sebagaimana Nabi saw. (dalam satu riwayat dari Abu Wa-il, ia berkata, "Kami menantikan Abdullah, tiba tiba datanglah Zaid bin Muawiyah,lalu kami berkata kepadanya, "Apakah Anda tidak duduk?" Ia menjawab, "Tidak, tetapi saya akan masuk dan meminta sahabatmu itu keluar kepadamu. Kalau tidak, maka saya akan duduk." Lalu Abdullah keluar sambil menggandeng tangannya, lalu ia berdiri menghadap kami seraya berkata, "Ketahuilah, sesungguhnya aku telah diberi tahu tentang keberadaanmu (kedatanganmu), tetapi yang menghalangiku untuk keluar kepadamu ialah karena Rasulullah saw. biasa memberi kami nasihat pada beberapa hari tertentu dalam seminggu karena khawatir (dan dalam satu riwayat: tidak suka) membuat kami bosan."
Kaderisasi terhadap guru sangatlah penting untuk kontinuitas pendidikan dimasa yang akan datang karena bila tidak ada tampilnya guru-guru baru sebagai pewaris dan pelanjut pengajaran akan dikhawatirkan hilangnya ilmu di dunia ini sebagaimana yang diutarakan dalam hadits ini; Hadis riwayat Abdullah bin Amru bin Ash ra., ia berkata:
Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan cara mencabutnya begitu saja dari manusia, akan tetapi Allah akan mengambil ilmu dengan cara mencabut (nyawa) para ulama, sehingga ketika Allah tidak meninggalkan seorang ulama pun, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh yang apabila ditanya mereka akan memberikan fatwa tanpa didasarkan ilmu lalu mereka pun sesat serta menyesatkan. (Shahih Muslim No.4828)
Demikian besarnya peran seorang guru dalam mendidik muridnya menjadi pemimpin dimasa yang akan datang, dikerahkan segala potensinya untuk itu, patut kiranya dihargai dan dihormati selayaknya seorang guru, sehingga wajar bila Ali bin Abi Thalib menyatakan; "Aku adalah hamba bagi seorang guru yang telah mengajarku walaupun hanya satu huruf, jika ia menghendaki menjualnya, juallah aku, jika ia menghendaki memerdekakannya merdekakanlah aku, dan jika ia menghendaki menjadikan aku seorang budak, jadikanlah aku seorang budak".
Nabi Muhammad Saw bersabda; "Siapa saja yang mengajarkan seorang hamba sebuah ayat saja dari kitab Allah, maka ia menjadi tuannya [menguasainya]".
Kesuksesan seorang guru sehingga menjadi figur yang membanggakan muridnya, sampai kapanpun murid tidak akan lupa dengan gurunya walaupun sang guru tidak tahu lagi siapa dan sudah berapa murid yang menerima pelajaran dan teladan darinya. Sekedar mengajar saja mungkin tidak begitu sulit tapi menampilkan keteladan akan lebih lama bersemayam pada anak didik, keteladananlah yang akan membawa keberhasilan seorang guru. Guru pada hakekatnya juga seorang ulama yang berkewajiban untuk menerangi kehidupan manusia menuju kebahagiaan di dunia dan kampung akherat yang menyenangkan.
Di dunia sang guru akan menerima berbagai imbalan dari semua pihak, seperti kedudukan dan kemuliaan, penghargaan dari murid-muridnya juga dari pemerintah walaupun julukan "pahlawan tanpa tanda jasa" tapi tidak menyurutkannya untuk menebarkan ilmu, mungkin juga dia akan menerima imbalan materi yang sebenarnya tidak sebanding dengan usaha yang sudah diinfaqkan, tapi yang jelas dia akan mendapatkan pahala yang tidak sedikit dari Allah atas jerih payah dan keikhlasannya dalam mendidik kader-kader bangsa menjadi generasi yang unggul, wajar bila Rasul memberikan kabar gembira kepada para guru walaupun sudah terkubur jasadnya, "Jika mati anak Adam maka putuslah amal-amalnya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh mendoakan kedua orangtuanya".
Amal abadi yang akan mengalir pahalanya kepada guru adalah ilmu yang bermanfaat yang diberikan kepada para muridnya, walaupun tulang di dalam kubur sudah hancur dimakan waktu maka tetap akan menerima pahalanya selama ilmu yang diberikan kepada orang lain tetap diamalkan dan diajarkan pula kepada yang lain, wallahu a'lam. [Cubadak Solok,17 Syawal 1431.H/ 26 September 2010]
Referensi;
1. 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath 2.Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4.Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar