Sabtu, 26 Mei 2012
19. Pahala Do'a
Oleh ; MUKHLIS DENROS
Dalam Al Qur’an kita dapati 203 ayat yang menyebut kata do’a yang artinya bermacam-macam; ibadah, memanggil, memohon, memuji dan lain-lain. Do’a yang dimaksud disini adalah menyeru, memohon dan mengharap sesuatu dari Allah yang Maha Pencipta. Didalam kehidupan manusia memerlukan landasan yang dapat menentramkan jiwanya, atau tali yang dapat menjadi pegangannya. Landasan dan tali yang dimaksud itu ialah do’a disamping itu dia merupakan salah satu konsekwensi dari ma’na syahadat yaitu “Tidak ada yang dapat mengabulkan do’a kecuali Allah” Tidak ada yang lebih utama (mulia) di sisi Allah daripada do'a. (HR. Ahmad)
Berdo’a adalah suatu kebutuhan ruhaniah yang diperlukan manusia dalam kehidupan ini, lebih-lebih tatkal ditimpa kesusahan, kesulitan dan malapetaka. Ada ulama yang mengibaratkan do’a itu laksana obat bagi penyakit ruhaniah, berupa penyakit takut, cemas, resah, ragu-ragu dan sebagainya. Yang lebih utama serta dikabulkan oleh Allah bila kita mencari waktu-waktu tepat dalam berdo'a, Rasulullah Saw ditanya, "Pada waktu apa do'a (manusia) lebih didengar (oleh Allah)?" Lalu Rasulullah Saw menjawab, "Pada tengah malam dan pada akhir tiap shalat fardhu (sebelum salam)." (Mashabih Assunnah)
"Do'a yang diucapkan antara azan dan iqomat tidak ditolak (oleh Allah). (HR. Ahmad)
"Apabila tersisa sepertiga dari malam hari Allah 'Azza wajalla turun ke langit bumi dan berfirman : "Adakah orang yang berdo'a kepadaKu akan Kukabulkan? Adakah orang yang beristighfar kepada-Ku akan Kuampuni dosa- dosanya? Adakah orang yang mohon rezeki kepada-Ku akan Kuberinya rezeki? Adakah orang yang mohon dibebaskan dari kesulitan yang dialaminya akan Kuatasi kesulitan-kesulitannya?" Yang demikian (berlaku) sampai tiba waktu fajar (subuh). (HR. Ahmad)
Disamping itu do'a juga merupakan inti sarinya ibadah dan do'a juga senjata bagi muslim, sebagaimana yang diungkapkan oleh Rasulullah; "Do'a adalah otaknya (sumsum / inti nya) ibadah. (HR. Tirmidzi) "Do'a adalah senjata seorang mukmin dan tiang (pilar) agama serta cahaya langit dan bumi"(HR. Abu Ya'la), keteguhan hati dalam berdo'a sangat diharapkan agar do'a yang disanjungkan bermanfaat bagi diri seseorang, sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah Hadis riwayat Anas ra., berkata: Rasulullah saw. bersabda: Apabila seorang di antara kamu berdoa maka hendaklah dia berteguh hati dalam berdoa serta jangan pula dia berdoa dengan mengucapkan: Ya Allah! Jika Engkau sudi maka berilah aku. Sesungguhnya Allah tidak ada yang memaksanya. (Shahih Muslim )
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Apabila seorang di antara kamu berdoa, maka janganlah dia berkata: Ya Allah! Ampunilah aku jika Engkau sudi. Tetapi bersungguh-sungguhlah dia dalam memohon dan mohonlah perkara-perkara yang besar dan mulia (surga atau pengampunan), karena Allah tidak ada sesuatu pun yang besar bagi-Nya dari apa yang telah dianugrahkan. (Shahih Muslim )
Kebanyakan manusia berdo’a kepada Allah apabila mendapat kesusahan atau ditimpa bencana saja. Apabila keadaan sudah tenang atau mendapat nikmat, jangankan berdo’a, malah ia melupakannya sama sekali. Disangkanya nikmat yang diperolehnya itu adalah hasil keringat atau kecakapannya sendiri, padahal tanpa inayah [bantuan] Allah, tidak akan mengenyam nikmat itu [2;186]
”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.
Pada ayat diatas Allah menjamin akan mengabulkan do’a orang yang berdo’a kepada-Nya dengan syarat beriman dengan mengaplikasikan iman tersebut dalam kehidupan sehari-hari lalu memenuhi segala apa yang diperintahkan Allah tanpa menunda-nundanya.
Bermohonlah kepada Robbmu di saat kamu senang (bahagia). Sesungguhnya Allah berfirman (hadits Qudsi): "Barangsiapa berdo'a (memohon) kepada-Ku di waktu dia senang (bahagia) maka Aku akan mengabulkan do'anya di waktu dia dalam kesulitan, dan barangsiapa memohon maka Aku kabulkan dan barangsiapa rendah diri kepada-Ku maka aku angkat derajatnya, dan barangsiapa mohon kepada-Ku dengan rendah diri maka Aku merahmatinya dan barangsiapa mohon pengampunanKu maka Aku ampuni dosa-dosanya." (Ar-Rabii')
Yang dimaksud dengan terkabulnya do’a seorang mukmin ada tiga kemungkinan seperti yang diterangkan dalam riwayat di bawah ini;
“Dari Abi Sa’id Al Khudri, sesungguhnya Nabi Saw bersabda,”Tidak seorang muslimpun yang berdo’a dengan satu do’a yang didalam do’anya itu tidak terdapat unsur dosa, dan memutuskan kekerabatan, melainkan Allah akan memberinya dengan salah satu dari tiga kemungkinan ini;
1. mungkin akan dikabulkan do’anya itu di dunia ini,
2. mungkin akan dikabulkan di akherat nanti,
3. mungkin dia akan terhindar dari kejelekan yang serupa.
Para sahabat kemudian berkata,”Kalau begitu kami akan memperbanyak do’a”, maka jawab Nabi,”Allah lebih banyak pemberian-Nya”[HR.Ahmad]
"Tiada seorang berdo'a kepada Allah dengan suatu do'a, kecuali dikabulkanNya, dan dia memperoleh salah satu dari tiga hal, yaitu dipercepat terkabulnya baginya di dunia, disimpan (ditabung) untuknya sampai di akhirat, atau diganti dengan mencegahnya dari musibah (bencana) yang serupa. (HR. Ath-Thabrani)
Segala keberhasilan manusia tidak lepas dari bantuan dari Allah, usaha manusia yang optimal memang sangat dibutuhkan tapi tanda do’a dan pengharapan dari Allah menunjukkan kesombongan, do’a saja yang disanjungkan tanpa usaha juga tidak bermakna. Adapun keuntungan yang diperoleh manusia dengan memanjatkan do’a, mengharapkan pertolongan dan rahmat dari Allah adalah;
Pertama, manusia sangat memerlukan sandaran yang dapat memberikan kekuatan kepada dirinya pada saat dia lemah, ketika segala kekuatan diluar dirinya tiada mampu lagi menopang dan menunjang dirinya. Pada saat semacam ini tiada jalan bagi manusia untuk menentramkan hati,menenangkan jiwa dan menjernihkan fikirannya selain hanya mengadukan nasib dan keadaannya kepada yang Maha Mutlak.
Kedua, do’a tidak semata-mata dimaksud untuk memohon pertolongan kepada Allah untuk melepaskan diri dari kesulitan dan penderitaan. Do’a juga dimaksud sebagai sarana memohon kepada Allah untuk meningkatkan kualitas diri dan kemampuannya, sehingga dapat melakukan segala tugas yang dipikulnya dengan baik dan menggembirakan dirinya. "Barangsiapa tidak (pernah) berdo'a kepada Allah maka Allah murka kepadanya. (HR. Ahmad)
Ketiga, do’a mutlak diperlukan oleh manusia, karena manusia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya sekarang dan yang akan datang, padahal manusia selalu menginginkan keberhasilan dalam mencapai apa yang diinginkannya, sekarang dan akan datang. Untuk menangkal hal-hal yang tidak baik atau merugikan dirinya pada saat sekarang dan akan datang, ia memerlukan adanya kekuatan diluar dirinya untuk menyelesaikan masalah-masalah itu,semua itu hanya kepada Allah sebagai Khaliqnya.
"Hati manusia adalah kandungan rahasia dan sebagian lebih mampu merahasiakan dari yang lain. Bila kamu mohon sesuatu kepada Allah 'Azza wajalla maka mohonlah dengan penuh keyakinan bahwa do'amu akan terkabul. Allah tidak akan mengabulkan do'a orang yang hatinya lalai dan lengah." (HR. Ahmad)
Bagi seorang mukmin, berdo’a merupakan ibadah, meskipun tidak dikabulkan tapi nilai-nilai ibadah telah dia terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Apa saja do’a yang kita ajukan kepada Allah adalah baik tapi ada beberapa do’a yang kita sanjungkan kepada Allah mengharapkan kebaikan kepada diri kita secara maknawi seperti mengharapkan taufiq dan hidayah-Nya, rahmat dan maghfirah-Nya yang do’a tadi tidak mesti untuk kepentingan duniawi dan materi saja. Tiga macam do'a dikabulkan tanpa diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa kedua orang tua, dan do'a seorang musafir (yang berpergian untuk maksud dan tujuan baik). (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw, menceritakan, terdapat tiga orang pemuda yang sedang melakukan perjalanan. Ketika hari sudah malam, mereka masuk ke dalam gua dengan maksud untuk menginap di dalam gua satu malam saja. Setelah mereka berada di dalam, tiba-tiba sebuah batu besar jatuh dari puncak bukit itu dan persis menutupi pintu gua. Mereka mencoba mengeluarkan segala tenaga untuk menggeser batu besar itu. Tapi sedikitpun tidak bergerak, sebab memang beratnya bukan imbangan tenaga manusia. Dengan demikian mereka terkurung di dalam gua dan mungkin akan menemui ajalnya.
Pada saat-saat yang kritis itu mereka menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada yang dapat memberikan jalan keluar bagi mereka dari kesulitan itu selain pertolongan Allah semata. Mereka memutuskan untuk berdo’a kepada Allah dengan menyebutkan amalan ikhlas yang pernah dilakukan, secara bergantian ketiganya berdo’a dengan khusyu’
”Ya Allah aku punya seorang ibu dan bapak yang sudah tua dan aku mempunyai seorang isteri dengan dua orang anak. Tiap pagi saya meninggalkan rumah, menggembalakan kambing, kalau sore aku pulang dengan membawa susu kambing murni yang segar untuk minuman ibu bapakku, isteri dan anak-anakku. Suatu hari ya Allah, ketika aku pulang agak terlambat, kudapati ayah dan ibuku sudah tidur, aku tidak tega mengganggu tidur mereka, sedang isteri dan anak-anakku merengek minta minuman susu itu, tapi tidak aku berikan sebelum ayah dan ibuku minum terlebih dahulu. Ya Allah seandainya yang aku lakukan itu adalah sebuah kebaikan, maka tolonglah keluarkan kami dari gua ini dengan selamat”.
Setelah pemuda yang pertama ini berdo’a, maka batu yang menutupi gua itu bergerak sehingga tamak secercah cahaya keberhasilan, tapi belum bis keluar. Pemuda keduapun berdo’a;
”Ya Allah, aku adalah seorang majikan dari sekian buruh yang bekerja di perkebunanku. Pada suatu hari salah seorang dari mereka pergi tanpa meninggalkan pesan sehingga upahnya belum diambilnya. Gaji buruhku itu aku belikan sepasang kambing yang aku urus dengan baik, sampai berbulan dan bertahun, maka jadilah kambing itu jumlahnya ratusan ekor. Tanpa diduga buruh itu datang lagi untuk meminta upahnya yang belum dibayar dahulu, maka ya Allah aku serahkan seluruh kambing itu kepadanya dengan ikhlas, andaikata ini suatu amal ibadah, mohon lepaskan kami dari bahaya ini”.
Tidak begitu lama batu itupun bergerak semakin lebar, tapi belum bisa dilalui, maka tampillah pemuda ketiga dengan do’anya;
”Ya Allah, aku adalah seorang pemuda yang punya kekasih, kebetulan dia anak pamanku yang cantik. Pada suatu hari aku berdua saja dengannya berjalan-jalan sehingga kami berada pada tempat yang jauh, tidak ada orang lain, kami hanya berdua saja, sehingga timbul syahwaku untuk menggaulinya dan diapun pasrah. Saat aku berada di atasnya untuk melakukan perbuatan nista itu aku sadar dan lari meninggalkannya, sungguh ya Rabbi semua itu karena hidayah-Mu dan aku tidak jadi melakukan perbuatan terkutuk itu, ya Allah bila ini suatu kebaikan maka selamatkanlah kami dari derita ini ”.
Tidak berapa lama sesudah pemuda itu berdo’a secara otomatis batu itu bergulir kencang meninggalkan mulut gua, maka selamatlah mereka dari bencana yang nyaris membunuh ketiganya.
Do'a yang disanjungkan hamba kepada Khaliqnya selain memperoleh pahala karena dinilai sebagai ibadah juga mendapat balasan lansung di dunia berupa dikabulkannya do'a itu, Rasulullah bersabda, "Ada tiga orang yang tidak ditolak do'a mereka: (1) Orang yang berpuasa sampai dia berbuka; (2) Seorang penguasa yang adil; (3) Dan do'a orang yang dizalimi (teraniaya). Do'a mereka diangkat oleh Allah ke atas awan dan dibukakan baginya pintu langit dan Allah bertitah, "Demi keperkasaanKu, Aku akan memenangkanmu (menolongmu) meskipun tidak segera." (HR. Tirmidzi), wallahu a'lam . [Cubadak Solok,17 Syawal 1431.H/ 26 September 2010]
Referensi;
1. 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath
2.Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4.Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar