Sabtu, 26 Mei 2012
21.Pahala Mendirikan Masjid
Oleh ; MUKHLIS DENROS
Ummat islam mampu membangun masjid dengan biaya besar dan model mutakhir seperti di Casablanca Maroko dibangun sebuah masjid termegah di dunia, menaranya hampir sama tingginya dengan menara Eifel di Paris Perancis, dari puncak menara dapat memancarkan sinar laser langsung ke Masjidil Haram di Mekkah. Di Indonesiapun setiap pelosok berdiri masjid megah dan mahal bahkan terdapat juga pembangunan masjid yang sedang dibangun dan dirancang dari tahun ketahun, apalagi di bulan Ramadhan semangat untuk membangun masjid luar biasa.
Masjid pada bulan ini memang penuh sesak oleh ummat islam menunaikan shalat tarawih dan kegiatan-kegiatan lainnya seperti tadarus Al Qur’an, pesantren kilat, diskusi agama dan lain-lainnya sehingga pengurus masjid merasa berkepentingan bila masjid pada bulan ini untuk direhab, dipermanis, diperlebar, melanjutkan pembangunan yang terbengkalai walaupun dengan cara menghutang kepada jamaahnya dengan alasan akan dibayar oleh jamaah di bulan ini dengan kegiatan tabungan Ramadhan, sehingga setiap malam kegiatan memungut infaq digelar dengan berbagai cara asal uang terkumpul yang akibatnya menjadikan tujuan dari rumah untuk ibadah mahdhoh agak terganggu karena gigihnya panitia menghabiskan waktu untuk itu, kita sangat setuju sekali jamaah bersemangat mendermakan hartanya untuk kebaikan apalagi masjid, Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa di dunia membangun masjid maka nanti Allah akan membangunkan istana baginya di syurga”.
Termotivasi dari hadits diatas, kita melihat di Indonesia atau dinegara yang ummat islamnya mayoritas banyak masjid berdiri megah dengan berbagai warnanya, sejak dari ujung desa hingga pusat kota, selain dari dana pribadi, swadaya masyarakat ataupun usaha pemerintah untuk mendirikan masjid pada setiap level pemerintahan, salah satunya sebagai lambang dan kebanggaan suatu daerah. Kita senang bila melakukan perjalanan sebagai musyafir tidak begitu sulit menemukan masjid disepanjang jalan.
Masjid yang indah adalah idaman warga desa dan kota, ada kesejukan saat beribadah didalamnya, tapi karena sibuk membangun fisik masjid, seluruh dana dialokasikan untuk bangunan sementara kegiatan yang lain seperti pengajian dan pembinaan remaja yang juga membutuhkan dana agak diabaikan, banyak masjid yang sudah dan masih bagus dihancurkan lagi mungkin pagarnya sudah ketinggalan zaman diganti dengan yang baru, lantai dan dindingnya diganti dengan keramik mutakhir, menara yang dianggap kurang tinggi dirobohkan lagi lalu dibangun yang lebih tinggi besar dan indah yang menghabiskan dana tidak sedikit, tapi dalam waktu singkat, apalagi bulan Ramadhan dana sekian sangat mudah dikumpulkan.
Bahkan sejak dahulu masa berkembangnya Islam yang diawali dengan pembangunan masjid oleh Rasulullah di Quba dikala melaksanakan hijrah, begitu juga sewaktu sampai di Madinah Rasul mendirikan masjid yang kita kenal dengan masjid Nabawi sebagai sarana pembinaan ummat dan tempat melaksanakan ibadah, artinya dalam perjalanan hijrah Nabi Muhammad sudah membangun dua buah masjid. Perkembangan selanjutnya berdiri pula masjid untuk menyaingi da'wah beliau yang didirikan oleh orang-orang munafiq dibawah pimpinan Abdullah bin Ubay, Allah menjelaskan dalam firman-Nya tentang dua masjid itu, pertama masjid yang didirikan oleh Rasulullah dengan landasan taqwa dan masjid yang didirikan dijurang kehancuran;
"Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka jahannam. dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang- orang yang zalim" [Al Taubah 9;109]
Itulah kecendungan ummat islam untuk menginfaqkan hartanya untuk bangunan fisik sebuah masjid, bahkan masjid yang membutuhkan biaya sampai satu milyar pembangunan awalnya hanya dibiayai oleh satu orang saja, fantastis memang, bahkan kita memang bersyukur disetiap desa ada masjid dan mushalla untuk ibadah ritual dan seremonial ummat islam, khusus Ramadhan hingga Idul Fithri kegiatan di masjid itu banyak sekali terutama shalat tarawih dan MTQ.
Ironinya zakat fithrahpun digunakan untuk kelanjutan dan keindahan masjid sementara fakir miskin disekitar masjid dalam keadaan lapar dan sangat membutuhkan pertolongan, jangankan mereka mau menunaikan shalat di masjid yang diindah di samping rumahnya, sedangkan penderitaan mereka tidak ada yang mau tahu, pengurus masjid tidak pernah menjatahkan bagi mereka dari zakat dan zakat fithrah yang dapat meringankan beban hidupnya karena hak mereka telah melekat pada beton, keramik, loteng dan menara masjid.
Sebenarnya ummat islam itu kaya, terbukti dengan jutaan jumlah jamaah haji yang telah kembali dari tanah suci bahkan ada yang sudah berulang kali, demikian pula pembangunan masjid indah dan mahal dimana-mana, ummat islam itu memang kaya dan sangat antusias sekali mengumpulkan dana untuk itu. Mereka tidak faham dengan perioritas amal yang perlu dikerjakan, yang dimaksud dengan pembangunan masjid bukanlah semata-mata pembangunan fisik masjid itu, bagaimana pembanguna mental pengurusnya, walaupan ada pengajian dilaksanakan tapi sang pengurus tidak pernah hadir, kehadiran mereka hanya saat ada rapat-rapat pembangunan fisik saja. Bahkan dalam mesjidpun terjadi perseteruan memperebutkan jabatan sebagai pengurus masjid, seolah-olah jabatan pengurus masjid sebuah prestise yang harus dipertahankan, padahal itu adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak.
Rasulullah dengan kondisi masjid yang sangat sederhana, atapnya terbuat dari pelepah kurma, dindingnya dari batang-batang kurma, bila hujan bocor, bila angin bergoyang, tapi di masjid itulah lahir generasi terbaik ummat ini, bagaimana dengan masjid yang anda kelola, perlu adanya idarah [manajemen] masjid sehingga semarak islam dan pembinaan ummat ada didalamnya.
Kenyataan yang nampak sekarang adalah masjid nampak megah tetapi tidak difungsikan sebagaimana mestinya, kita takut dengan ramalan Rasulullah Saw yang disabdakan, ”Hampir akan tiba masanya kepada manusia; islam hanya tinggal namanya, Al Qur’an hanya tinggal tulisannya saja, masjid dibangun megah dan ramai, tetapi sepi dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya, ulama-ulama mereka bertingkahlaku jahat dibawah kolong langit ini, dari mulut mereka meluncur fitnah-fitnah, dan fitnah itu kembali menerkam mereka [ulama dan ummat]” [HR. Baihaqi]
Kemampuan ummat dalam mendirikan masjid tidak seiring atau belum mampu menggunakan masjid sebagaimana sunnah Nabi dan fungsinya sehingga banyak masjid sepi dari aktivitas, dipakai ketika hari-hari besar islam saja, itupun dipenuhi oleh mereka yang telah terbatuk-batuk dan terbungkuk-bungkuk, ibarat musiman atau hening seperti kuburan, karena syiar islam tidak nampak dan tumbuh dari dalamnya selain sorot lampu atau kemilau ukiran yang mempercantik sebuah masjid, walaupun berpahala membangun masjid tapi akan lebih besar pahalanya bila kita memakmurkan masjid dengan berbagai aktivitas didalamnya, selain untuk menghindari mubazirnya pembangunan sebauh masjid, wallahu a'lam. [Cubadak Solok,18 Syawal 1431.H/ 27 September 2010]
Referensi;
1. 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath
2.Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4.Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar