Selasa, 26 Mei 2015

9. Ramadhan dan Basmalah




RAMADHAN DAN BASMALAH
[MENYIBAK MAKNANYA]
Drs.St.Mukhlis Denros

Yang mendatangkan pahala dari amal ibadah yang kita lakukan bukan hanya ibadah besar seperti shalat, puasa,  zakat dan haji saja, tapi ada amal-amal kecil yang juga mendatangkan pahala besar apalagi dilakukan dibulan Ramadhan, seperti membuang duri dari jalan, senyum ketika bertemu dengan saudara seiman, memulai pekerjaan dengan membaca “basmalah” dan mengakhirinya dengan mengucapkan “hamdalah”.

Ketika seorang protokol pada sebuah acara Tabligh Akbar tentang Isra’ Mi’raj di Masjid Al Jihad Metro Lampung Tengah, mengajak untuk membuka acara dengan membaca “Basmalah” terdengar suara di belakang yang mengkritisi, kenapa Basmalah, selama ini kita hanya tahu kalau memulai sesuatu pekerjaan itu diawali dengan “bismillah” bukan “basmalah”. Karena yang ditanya seorang jamaah masjid yang sudah biasa dengan istilah-istilah Arab menjawab, bahwa ucapan “basmalah” yang dimaksud oleh protokol itu artinya mengajak untuk membaca “bismillah”, sama halnya kalau ada perintah untuk takbir, yang kita baca bukan “takbir” tapi “Allahu Akbar”.

            Sejak kecil kita diajarkan oleh orangtua kita agar memulai pekerjaan seperti makan, minum, belajar dan aktivitas lainnya, hal itu sudah dicontohkan oleh Rasulullah Saw kepada ummatnya, kenapa begitu pentingnya kalimat ini sehingga pekerjaan apapun mulailah dengan “bismillah”.

Allah SWT berfirman:“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Naml [27]: 30-31)
Abu Hurairah RA berkata:“Setiap perkara penting yang tidak didahului dengan Basmalah maka ia kehilangan berkah’’
Sadar atau tidak sadar, Basmalah terucap seperti air sejuk yang memenuhi rongga-rongga tenggorokan di bawah terik sinar mentari. Akan tetapi, pernahkah kita berhenti sejenak merenungi maknanya. Ia dengan lihai menyulam renda-renda keagungan, keindahan, dan kesempurnaan Sang Maha Pencipta yang memesona dengan pintalan-pintalan makna, mengukir seni kehidupan dengan taburan-taburan warna.
Jika Anda bertanya: di ayat pertama Nabi Sulaiman AS menyebutkan Basmalah lebih awal dari kalimat (أَلاَّ تَعْلُوْا عَلَيَّ، وَأْتُوْنِيْ مُسْلِمِيْن) di saat menyurat ke Ratu Balqis. Mengapa kalimat itu bukan yang pertama kali disebutkan? Bukankah ia maksud utama dari surat tersebut?

Kepada Anda dikatakan: di sana ada dua ungkapan yang cukup berbeda, pertama: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang saya membaca, mengaji…,”dan kedua: “saya membaca, mengaji… dengan menyebut nama Allah.” Tentunya, ungkapan pertama jauh lebih bermakna dari ungkapan kedua dari pelbagai sisi, di antaranya: tidak ada segala sesuatu yang terjadi kecuali dengan izin-Nya, hasil usaha tidak selamanya mendatangkan berkah meski terlihat di hadapan mata banyak dan baik. Olehnya itu, supaya menuai berkah ingat Allah Pemberi Berkah sebelum memulai, Ia starting point terhadap kesinambungan berkah pekerjaan. Kemudian, ia juga menyinarkan bahwa kekuatan bukan dengan memperlihatkan kecongkakan dan kesombongan, tetapi lebih ditentukan oleh sejauh mana hamba memperlihatkan kepapaan dan kelemahannya di depan kekayaan dan keagungan-Nya.

Di sini Nabi Sulaiman AS seperti berseru dan berkata: “Wahai Balqis, Seruan itu datang dari-Nya (اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ) yang melapisi kelemahanku dengan tekad baja, memberikan aku kekuatan materi dan maknawi yang lahir dari kepapaanku terhadap keagungan-Nya, dan mengajarkan aku kelemahlembutan dalam menjalankan politik negara. Aku tidak menyeru kalian tunduk terhadapku kecuali seruan dan kekuatan itu datang dari-Nya. Maka tunduklah sebelum kelemahlembutan ini habis masa!”

Sistematika seperti ini telah dijumpai di orang-orang Arab dahulu. Mereka sering mengatakan: “Dengan Bismillah aku bekerja,” dan bukan: “aku bekerja dengan Bismillah.” Jika Anda bertanya: “Kenapa seperti itu? Bukankah keduanya sama saja?” Mereka menjawab: “yah, seperti itu, karena ia adalah doa yang mampu melahirkan rasa kebersamaan dengan Allah dalam hati, sehingga dengan sendirinya tiada menjadi ada, sedikit jadi banyak, dan perasaan lemah jadi kekuatan yang tidak terpadamkan. Inilah yang disebut sebagian orang berkah Basmalah.

Dalam hal ini mari melihat secara saksama simfoni makna yang dilantukan goresan pena Prof. Dr. Muhammad Bakr Ismail (guru besar tafsir dan ilmu-ilmu Al-Qur’an di universitas Al-Azhar), beliau berkata:“Hamba diminta kembali meminta pertolongan dan perlindungan kepada-Nya dengan segenap hati, ruh, akal, dan panca indera, karena tidak ada tempat berlindung dari-Nya kecuali kepada-Nya. Merasa butuh dan ingin kembali kepada-Nya merupakan pengejawantahan tauhid tertinggi sebagai tempat bernaung orang-orang dahulu dan yang akan datang di kemudian hari.Sesungguhnya semua entitas kehidupan tanpa Allah yang Maha Esa nol besar, tidak punya arti apa-apa. Akan tetapi, dengan meminta kebersamaan Allah nol menjadi 10, dua nol menjadi 100, dan seterusnya. Cermati misal ini, dan jangan lalai dari kandungannya.

Jika Anda bertanya yang kedua kalinya: “kenapa di Basmalah kita meminta berkah dengan menyebut nama-Nya: (بِبِسْمِ اللَّهِ), kenapa tidak langsung saja menyebut zat-Nya dengan: (بِاللَّهِ)?”

Syekh Abu Suûd menyuguhkan kepada Anda dua jawaban, beliau berkata:“Tidak dikatakan  demi membedakan antara sumpah dan harapan, atau guna mewujudkan tujuan utama pemaknaan, yaitu meminta pertolongan. Kita kadang meminta pertolongan dengan menyebut zat-Nya. Artinya: meminta pertolongan untuk melakukan sebuah pekerjaan yang wajib dilaksanakan selaku hamba. Makna ini tersirat di dan kadang juga dengan nama-Nya. Artinya, meminta pertolongan dan rahmat-Nya supaya pekerjaan itu punya nilai ibadah di mata syariat sehingga ia punya berkah, karena jika tidak disertai dengan nama Allah, maka ia pun tidak terhitung dan sia-sia. Dan tatkala kedua bentuk permintaan itu terdapat di al-Fatihah maka makna terakhir ini wajib dibedakan dari yang pertama dengan menempatkan kata 

Hematnya, Karena Al-Fatihah pembuka surah-surah Al-Qur’an, ia seperti telah dirancang khusus untuk mengoleksi kedua pemaknaan ini, sehingga dengan sendirinya ia mengajarkan adab berdoa. Ia seperti berkata: “wahai hamba Allah, jika Anda ingin berdoa, maka berdoalah dengan menyebut Zat atau nama-Nya, atau kedua-Nya.” Di satu sisi, ia mengisyaratkan bahwa hamba dalam berdoa hendaknya kondisi kejiwaannya mengalami peningkatan derajat (التَّرَقِّيْ المَعْنَوِي) dari satu makna ke makna yang lebih dalam lagi.[H. Muhammad Widus Sempo, MA,Menyibak Tabir Rahasia Basmalah, dakwatuna.com1/3/2012 | 08 Rabbi al-Thanni 1433 H].

Apalagi sebelum membaca Al Qur’an kita disunnahkan untuk membaca Basmalah selain merupakan tuntunan yang mulia, juga menjaga kesinambungan iman kita kepada Allah, bahwa Al Qur’an merupakan Kalamullah yang mulia diturunkan sebagai tuntunan bagi ummat manusia, dia diturunkan oleh yang Maha Mulia yaitu Allah Yang Maha  Pengasih Lagi Maha Penyayang, pengagungan ini terlukis dalam ucapan Basmalah.
Di antara adab membaca Al-Qur'an adalah seorang qari' (orang yang membaca Al-Qur'an) mengawali dengan membaca Basmalah apabila ia membacanya dari awal surat, kecuali surat Bara-ah (Al-Taubah).
Imam Nawawi rahimahullah berkata, "Dan sepantasnya menjaga bacaan Bismillahirrahmanirrahim pada permulaan setiap surat, selain surat Bara'ah. Mayoritas ulama berkata bahwa ia (Basmalah) adalah ayat sebagaimana tertulis di mushaf. Dan telah tertulis di permulaan-permulaan surat selain surat Bara'ah. Apabila membacanya ia harus meyakini telah membaca secara lengkap atau satu surat. Apabila meninggalkan Basmalah maka ia telah meninggalkan sebagian Al-Qur'an menurut mayoritas ulama." (Dinukil dari al-Tibyan fi Adab Hamalah Al-Qur'an: 100)

Syaikh Abdul Aziz bin Bazz rahimahullah dalam berkata, "Bagi seorang mukmin dan mukminan disunnahkan memulai membaca Al-Qur'an dengan membaca Basmalah pada permulaan setiap surat. Jika ia mengulang-ulang surat itu maka ia juga mengulang Basmalah. Yakni Bismillahirrahmanirrahimpada setiap permulaan surat. Adalah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam apabila membaca satu surat beliau memulainya dengan Bismillahirrahmanirrahim. Sungguh Allah telah menurunkannya bersama setiap surat. Setiap surat turun bersamaan dengannya, Bismillahirrahmanirrahim kecuali surat Bara-ah. karena Utsman dan para sahabat bertawakkuf saat mengumpulkan Al-Qur'an, apakah ia satu surat bersama Al-Anfal ataukah terpisah? Oleh karena ini mereka tidak menuliskan ayat Tasmiyyah (Bismillahirrahmanirrahim) di antara keduanya. Adapun surat selainnya, maka disyariatkan bagi qari' untuk membaca Tasmiyah. Apabila ia mengulang-ulang beberapa surat maka ia mengulangi Tasmiyah juga." [Badrul Tamam, Hukum Membaca Basmalah Saat Membaca Surat Al-Taubah Dari Tengahnya, voa-islam.com ,Rabu, 15 Feb 2012].

Sebagaimana yang sudah sama-sama kita ketahui, bahwa surah Al-Taubah atau al-Bara-ah, penulisannya dalam mushaf tidak diawali dengan Basmalah. Sebabnya adalah para sahabatRadhiyallahu 'Anhum tidak menuliskannya di awalnya dalam mushaf. Mereka mengikuti Amirul Mukminin Utsman bin AffanRadhiyallahu 'Anhu. Al-Tirmidzi mengeluarkan satu riwayat dalam sunannya dengan sanad yang sampai kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, yang mempertanyakan kepada Utsman bin Affan tentang latar belakang keputusannyamenggandengkan Al-Anfal (padahal ia termasuk jenis al-Matsani, -ayatnya kurang dari seratus-) dan mempelakukan Bara'ah (padahal ia bagian dari Mi-uun, -jumlah ayatnya seratus lebih-) tanpa memberikan pembatas "Bismillahirrahmanirrahim" pada keduanya, dan meletakkannya pada Sab'un Thiwal (tujuh surat yang paling panjang). "Apa yang sebab kalian melakukan itu?" tanyanya.

Lalu Utsman menjawab, "Adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pada suatu masa turun kepada beliau beberapa surat yang ayatnya banyak, maka apabila turun sesuatu kepada beliau maka beliau memanggil sebagian orang yang bertugas menuliskan wahyu, lalu beliau bersabda: "Letakkan ayat-ayat itu dalam surat yang disebutkan di dalamnya begini dan begitu." Apabila turun satu ayat kepada beliau maka bersabda, "Letakkan ayat ini di dalam surat yang di dalamnya disebutkan begini dan begitu." Dan adalah Al-Anfal termasuk bagian surat yang pertama-tama diturunkan di Madinah. Sedangkan Bara'ah termasuk Al-Qur'an yang terakhir turun (di sana). Isinya (Bara'ah) mirip dengan isi Al-Anfal, maka aku mengira bahwa Bara'ah bagian dari Anfal. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam wafat dan belum sempat menjelaskan hal itu kepada kami. Oleh karena itu aku menggandengkan antara keduanya dan tidak menuliskan di antara keduanyaBismillahirrahmanirrahim. Lalu aku meletakkannya dalam bagian Sab' Thiwal." (Dinukil dari Fatawa Lajnah Daimah: 4/225)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: " . . . Dan pendapat yang shahih, tidak ada Basmalah di antara ia (Al-Taubah) dan Al-Anfal. Karena Basmalah adalah satu ayat dalam kitabullah 'Azza wa Jalla. Maka apabila Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallamtidak mengatakan: "Letakkan basmalah antara dua surat," Maka mereka tidak akan meletakkan Basmalah di antara keduanya. Maka Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam itu yang menetapkan dan bersabda, "Letakkan Basmalah," dan beliau tidak menetapkan Basmalah di antara al-Anfal dan Bara-ah, sehingga mereka tidak menuliskannya. Tetapi ini masih menyisakan pertanyaan, "Jika beliau tidak menetapkan, lalu kenapa ia dipisah dari surat Al-Anfal? Kenapa tidak dijadikan satu surat saja?." Kami jawab, "Ya. Mereka tidak menjadikan keduanya sebagai satu surat. Karena mereka ragu, apakah Bara'ah itu satu surat dengan Al-Anfal atau dua surat yang saling menjelaskan?" Kemudian mereka berkata: "Kami jadikan pemisah antara dua surat, dan tidak kami adakan Basmalah. Inilah pendapat yang shahih tentang tidak adanya penyebutan Basmalah di antara surat Bara'ah dan Al-Anfal." (Dinutip dari Liqa' al-Bab al-Maftuh, no. 18)

Sehingga dari sini hadir hukum membaca Basmalah di awal surat Al-Taubah. Pendapat paling kuat yang hampir tidak ada perbedaan di antara ulama adalah dimakruhkan. Sehingga tidak dianjurkan memulai membaca surat Al-Taubah dengan membaca Basmalah, yakni Bismillahirrahmanirrahim.[Badrul Tamam, Kenapa Surat Al-Taubah Tidak Diawali Dengan Basmalah?voa-islam.com Rabu, 15 Feb 2012].

Dalam perjalanan dakwah Rasulullah kita menyaksikan kejadian yang luar biasa saat beliau pergi ke Thaif, ucapan Bismillah menjadikan sebuah standard kebenaran risalah yang dia bawa, sebagaimana Muhammad Husein Haikal menceritakan dalam bukunya “Sejarah Hidup Muhammad”.

Ia pergi lagi dari sana, berlindung pada sebuah kebun kepunyaan ‘Utba dan Syaiba anak-anak Rabi’a. Orang-orang yang pandir itu kembali pulang. Ia lalu duduk di bawah naungan pohon anggur. Ketika itu keluarga Rabi’a sedang memperhatikannya dan melihat pula kemalangan yang dideritanya. Sesudah agak reda, ia mengangkat kepala menengadah ke atas, ia hanyut dalam suatu doa yang berisi pengaduan yang sangat mengharukan:

“Allahumma yang Allah, kepadaMu juga aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kemampuanku serta kehinaan diriku di hadapan manusia. O Tuhan Maha Pengasih, Maha Penyayang. Engkaulah yang melindungi si lemah, dan Engkaulah Pelindungku. Kepada siapa hendak Kauserahkan daku? Kepada orang yang jauhkah yang berwajah muram kepadaku, atau kepada musuh yang akan menguasai diriku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli, sebab sungguh luas kenikmatan yang Kaulimpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada Nur Wajah-Mu yang menyinari kegelapan, dan karenanya membawakan kebaikan bagi dunia dan akhirat - daripada kemurkaanMu yang akan Kautimpakan kepadaku. Engkaulah yang berhak menegur hingga berkenan pada-Mu. Dan tiada daya upaya selain dengan Engkau juga.”

 Dalam memperhatikan keadaan itu hati kedua orang anak Rabi’a itu merasa tersentak. Mereka merasa iba dan kasihan melihat nasib buruk yang dialaminya itu. Budak mereka, seorang beragama Nasrani bernama ‘Addas, diutus kepadanya membawakan buah anggur dari kebun itu. Sambil meletakkan tangan di atas buah-buahan itu Muhammad berkata: “Bismillah!” Lalu buah itu dimakannya.

‘Addas memandangnya keheranan.“Kata-kata ini tak pernah diucapkan oleh penduduk negeri ini,” kata ‘Addas.
Lalu Muhammad menanyakan negeri asal dan agama orang itu. Setelah diketahui bahwa orang tersebut beragama Nasrani dari Nineveh, katanya:“Dari negeri orang baik-baik, Yunus anak Matta.”“Dari mana tuan kenal nama Yunus anak Matta!” tanya ‘Addas.“Dia saudaraku. Dia seorang nabi, dan aku juga Nabi,” jawab Muhammad.

Saat itu ‘Addas lalu membungkuk mencium kepala, tangan dan kaki Muhammad. Sudah tentu kejadian ini menimbulkan keheranan keluarga Rabi’a yang melihatnya. Sungguhpun begitu mereka tidak sampai akan meninggalkan kepercayaan mereka. Dan tatkala ‘Addas sudah kembali mereka berkata:“’Addas, jangan sampai orang itu memalingkan kau dari agamamu, yang masih lebih baik daripada agamanya.”

Gangguan orang yang pernah dialami Muhammad seolah dapat meringankan perbuatan buruk yang dilakukan Thaqif itu, meskipun mereka tetap kaku tidak mau mengikutinya. Keadaan itu sudah diketahui pula oleh Quraisy sehingga gangguan mereka kepada Muhammad makin menjadi-jadi. Tetapi hal ini tidak mengurangi kemauan Muhammad menyampaikan dakwah Islam. Kepada kabilah-kabilah Arab pada musim ziarah, itu ia memperkenalkan diri, mengajak mereka mengenal arti kebenaran. Diberitahukannya kepada mereka, bahwa ia adalah Nabi yang diutus, dan dimintanya mereka mempercayainya. [Muhammad Husein Haikal, Sejarah Hidup Muhammad].

Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa menyaksikan baiknya Islam seseorang tergantung dari amal dan akhlaknya, seperti masihkah saat makan dan minum mengucapkan “Bismillah” serta dengan tangan yang kanan, begitu juga saat seorang dokter dalam menyuntik atau mengobati fasiennya membaca “Bismillah”, bila seorang ustadz atau ulama memulai pekerjaan mengucapkan “Bismillah” sudah dianggap biasa, tapi bila seorang dokter, insinyur atau seorang Menteri mengawali pekerjaannya dengan “Bismillah” maka pengaruhnya besar sekali   terhadap masyarakat yang mendengarkannya.

Ketika seorang pemuda datang ke rumah saudaranya yang disebut sebagai paranormal atau dukun, pemuda itu ingin belajar pengobatan alternative, saat diajarkan oleh saudaranya itu, sang pemuda membaca “Bismillah” tiba-tiba sang dukun dengan suara keras berkata.”Jangan ucapkan kata-kata itu, marah dianya [jin maksudnya]”.

Begitulah makna Basmalah, dianjurkan kita membacanya diawal pekerjaan, agar pekerjaan itu bermanfaat atau berkah, bahkan di masyarakat bila ditemukan anak-anak yang nakal, entah secara bergurau atau tidak ditimpali kenakalan anak tadi dengan ucapan “Dasar anak yang tidak membaca “Bismillah” orangtuanya ketika membuatnya”, apakah ada kaitannya hubungan seksual suami isteri yang tidak membaca Bismillah dengan kenakalan anaknya? Wallahu A’lam. [Baloi Indah, 9 Ramadhan 1436.H/2015, Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam, Kepri]




PROFIL PENULIS

Penampilan sederhana ini bernama Mukhlis yang dilahirkan di ujung Selatan Pulau Sumatera  yaitu  Metro [Lampung Tengah] tanggal 3 April 1964 anak ketiga dari  ayah bernama Sutan Denak dan ibu Rosnidar dengan enam orang adik kakak yaitu Ernawati, Marsudi, Erma, Septiyani, Mahdalena dan Adek Wahyuli, isteri bernama Yulismar S.Pd [Ayang] dengan seorang anak wanita bernama Rani Ihsani Mukhlis, nama yang akrab di kalangan teman dan sahabatnya adalah Mukhlis Denros. Kampung asalnya Kampani Barangan Selatan, Nagari Lurah Ampalu, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, dengan suku Koto, besar dan menempuh pendidikan di Kota Lada Metro Lampung.

Pendidikan yang pernah ditempuhnya yaitu SDN yang dimulai di SDN Koto Marapak [Kota Pariaman], ketika kelas IV dia harus meninggalkan kampung bersama ayah dan ibunya menuju Metro, SD diselesaikannya di SDN IV Metro, dilanjutkan ke SMP PGRI Metro, kemudian SMAN 135 Metro yang dapat diselesaikan tahun 1984, tidak ada maksud untuk kuliah karena berbagai faktor, berkat dorongan teman-teman dan gurunya terutama Ustadz Masnuni M.Ra'i, Alfuadi Rusli, H. Muhammad Lazim, H. Fakhrudin, Sugito, Hayumi Rb,Hayumi Rf, H. Rasyidin dan Malin Marajo di Masjid Al Jihad akhirnya tahun ini juga melanjutkan kuliah di IAIN, inilah pendidikan terakhir yang ditempuhnya yaitu Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Institut Agana Islam Negeri [IAIN]  Raden Intan Lampung di Metro tamat tahun 1990. Ketika tamat kuliah dia harus meninggalkan Metro dan memulai kiprahnya di Koto Baru Kabupaten Solok Sumatera Barat sebagai pendidik, dosen, penulis, mubaligh  hingga sebagai politisi akhirnya.


Sejak di bangku SMA hingga tamat kuliah, Mukhlis  giat di OSIS Gema Al Qur'an AL Jihad dan Remaja Masjid Al Jihad Metro  bersama teman-temannya Dody Sofial, Abul Fatrida, Yurnalis, M. Syafei, Irza Murni, Gusnita, Herwina, Afrizal, Yohanes dan Rita Suryani, dikala kuliah bergabung dengan HMI Cabang Metro bersama Ahmad Ridwan, Gatot Subroto, Sigit Triyono, Syuhada', Raihan dan Usdek, mengikuti pengkaderan Basic Training di Metro tahun 1985 dan Intermediate Training di Palembang tahun 1986 dan pernah menjabat sebagai Sekretaris HMI Komisariat IAIN dan wakil sekretaris HMI Cabang Metro.

Menjadi guru adalah cita-citanya sejak awal dan hal itu telah terujud walaupun tidak sebagai PNS, pernah mengajar di GAA dan SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah, mengajar di SMEA Budi Mulia Koto Baru, MTsN Koto Baru Solok dan sebagai dosen PGTK Adzkia Padang, Aktivitas sebagai pendidik ini dia tekuni sejak di bangku kuliah tahun 1984 sampai tahun 2000, kemudian aktif sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok utusan dari Partai Keadilan/Partai Keadilan Sejahtera, selama dua periode 1999-2009. Di Solok bersama teman-temannya yaitu Mahyeldi Ansharullah, Afrizal M Noor, Muhidi, Nurfirmanwansyah, Johandrizon Syamsu, Ahmad Syafwan Nawawi, Firmansyah, Abdul Ghani, Gustami Hidayat,  Saifullah Salim, Rudianto, Busril, Endrizal, Ismail Zain, Devi Herizon, Ilzan Sumarta, dan Helmi Darlis merintis kegiatan da'wah sejak tahun 1990 di sekolah, kampus, dan masjid-masjid melalui pesantren kilat, diskusi, ceramah dan khutbah sebagai cikal bakal berdirinya Partai Keadilan ketika itu.

Tahun 1998 dikala Reformasi terjadi, sekian partai berdiri untuk menyongsong Indonesia yang lebih demokratis setelah lengsernya Soeharto kemudian dilanjutkan oleh BJ Habibie, berdiri pulalah partai yang berbasiskan anak-anak muda kampus dengan kapasitas da'wah dan tarbiyah, partai  itu bernama Partai Keadilan. Mukhlis diamanatkan oleh DPW PK Sumatera Barat sebagai ketua DPD PK di Kabupaten Solok, pelantikan pengurus DPW dengan ketua Drs. Ahmad Syafwan Nawawi dan DPD PK se Sumatera Barat dikukuhkan di Padang oleh DR. Nur Mahmudi Ismail MSc sebagai Presiden Partai Keadilan pertama.

Dikala Partai Keadilan  menjadi Partai Keadilan Sejahtera untuk kedua kalinya Mukhlis Denros dipercaya sebagai ketua DPD di Kabupaten Solok dan jabatan terakhir di partai dipercayakan kepadanya adalah sebagai Ketua Zona Da'wah VII PKS Sumatera Barat hingga tahun 2007, yang membina DPD PKS Kota Solok, Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan. Terlalu banyak pelajaran dan pengalaman yang dia terima dari kegiatan da'wah dan partai bersama teman-temannya

Mukhlis Denros, demikian akrab di sapa, selain sebagai pendidik juga aktif berda’wah baik melalui ceramah, diskusi agama, khutbah dan penyebaran tulisannya melalui Buletin Da’wah Garda Anak Nagari serta media Nasional yang pernah memuat tulisannya seperti Majalah Serial Khutbah Jum’at, Majalah Suara Masjid , Majalah Sabili, Majalah Tarbawi, Majalah Ishlah, Majalah Reformasi Jakarta, Majalah Al Muslimun Bangil serta koran Swadesi dan Sentana juga pernah memuat tulisannya yang sarat dengan pendidikan dan nuansa islamnya, Media Mimbar Minang Padang selama bulan Ramadhan penuh memuat tulisannya tiap hari terbit. Dia  tidak pernah membuang waktu dengan kegiatan yang tidak ada manfaatnya, waktunya selalu terisi dengan aktivitas positif seperti membaca atau menulis selain kegiatan harian lain. 

Mukhlis Denros Terima Penghargaan Sebagai Penulis Terbaik dari Media Suara Keadilan Rakyat (SKR) , Minggu (15/12)  di Gedung Pusat Kebudayaan kota Sawahlunto.Penghargaan tersebut merupakan program Tabloit SKR yang selama ini membentuk tim untuk melakukan penilaian terhadap sejumlah penulis dan tokoh di Sumatera Barat dengan sejumlah kategori yang ditetapkan.

Penganugerahan sebagai Penulis Terbaik SKR Awards 2013 yang diberikan kepada Mukhlis Denros diserahkan oleh Wakil Wali Kota Sawah Lunto yaitu Bapak Ismet SH, Mukhlis Denros dinilai sebagai penulis terbaik karena konsistensinya dalam menulis berbagai pemikiran berkaitan dengan dakwah, pendidikan dan politik yang telah melahirkan berbagai buku yang diterbitkan oleh penerbit.

Mukhlis Denros menerima  berupa plakat dan piagam sebagai bentuk penghargaan atas keberhasilannya menulis yang dinilai sebagai penulis terbaik, sebagaimana penilaian TIM SKR yang terdiri dari Prof, Wil Chandry, Fadril Aziz Isaini dan Prof,DR, H. Salmadanis, Mag.

Pada malam penganugerahan SKR Awards 2013 tersebut  diserahkan 13 penghargaan dengan kategori berbeda kepada tokoh lainnyayang dihadiri oleh Wawako Sawahlunto, Ismed, Pimpinan Serikat Perusahaan Pers Pusat, Totok dan pendiiri Tabloit SKR, Riko Adiutama beserta sejumlah tokoh Sumatera Barat lainnya. 

Moto hidupnya sangat sederhana, agar bermanfaat bagi orang lain dengan potensi yang dimiliki, semua itu hanya bisa dilakukan dengan  pendidikan yang berkualitas. Dia menceritakan bahwa karena kegigihan orangtuanyalah untuk mendidiknya dengan segala kesusahan dan derai air mata tapi akhirnya berhasil mengantarkannya sebagai sarjana. Sebagai modal hidup di dunia ini, sehingga  dapat dikatakan tak bisa membalas dan mengukur jasa orangtua yang telah mengantarkan kesuksesannya baik memimpin  partai maupun sebagai anggota DPRD dalam dua periode ini. Bersama Partai Keadilan dan PPP  Kota Solok tahun 2000 dia pernah dicalonkan sebagai Wakil Wali Kota Solok yang berpasangan dengan Drs. Syukriadi Syukur.

Sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok selama dua periode diembannya, dia tampil sebagai politisi yang kritis dan bernas terhadap kebijakan Pemda dan Bupati yang tidak sesuai  dengan kepentingan masyarat, diapun tidak segan-segan menghantam anggota DPRD dikala mereka tidak aspiratif [http://fraksi pks solok.blogspot.com].

Bersama ustadz Mahyeldi Ansyarullah dalam gerakan da’wah dengan lembaga Al Madaniy di Padang yang diawali tahun 1990, Mukhlis Denros banyak terlibat dalam berbagai kegiatan da’wah seperti tahun 1994 pernah ke Palembang untuk mengikuti pertemuan da’i se Jakarta dan Sumatera undangan dari Yayasan Bumi Andalas dan tahun 2000 Seminar Nasional tentang Syari’ah di Medan yang diiringi dengan berbagai pertemuan da'wah di Sumatera Barat ataupun di Jakarta, selain itu juga pernah selama 2 tahun sebagai da’i dari IIRO [Internasional islamic Relief Organisation] dan kini sebagai anggota IKADI Solok yang juga memimpin yayasan Garda Anak Nagari Sumatera Barat.

Organisasi lain yang ikut dia tekuni selama di DPRD adalah sebagai Sekjen Majelis Ulama Indonesia [MUI] Kabupaten Solok, sebagai Badan Pengawas Badan Amil Zakat Kabupaten Solok, juga ikut membidani lahirnya beberapa lembaga da'wah berbentuk Yayasan di Kabupaten Solok yang dikelola oleh teman-temannya seperti Yayasan Sinergi Ummat, Yayasan Lukmanul Hakim, Yayasan Amanah Bunda, Yayasan Ahda Sabila, Yayasan Nurul Haq, Yayasan Garda Anak Nagari dan Yayasan Selasih Solok.

Setelah dua periode menyelesaikan tugas sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok, dalam mengisi kegiatan hariannya Mukhlis Denros bersama isteri Yulismar S.Pd tinggal di Nagari yang berbukit dan berlembah, yang sejuk dan asri, jauh dari kebisingan, aman dan nyaman yaitu Jorong Cubadak Nagari Pianggu Kecamatan IX Koto Sungai Lasi, Kabupaten Solok, Sumatera Barat tetap konsisten dengan kegiatan sebelumnya yaitu da'wah dan menulis.

Sejak bulan Februari 2015, setelah enam tahun tinggal di Cubadak Pianggu Kecamatan Sungai Lasi Kabupaten Solok Sumatera Barat,  kini Mukhlis Denros menetap di Kota Batam Kepri, turut berkiprah sebagai staf di Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Kota Batam yang diketuai oleh Ibu Dra. Hj. Helma Munaf, M.Pd dan bergabung pula dengan PMB [Persatuan Mubaligh Batam].

Di Batam, Mukhlis Denros dengan Pedro Johansis dan Mardison mengembangkan Yayasan Garda Anak Nagari dengan membuka  Garda Anak Nagari Provinsi Kepulauan Riau, Insya Allah dalam waktu dekat akan membuka cabang Garda Anak Nagari di seluruh Kabupaten dan Kota di Provinsi  Kepulauan Riau, semoga hal itu terujud.



0
DATA PRIBADI

Nama Lengkap                        : Drs. St. Mukhlis Denros
            Tempat dan Tanggal Lahir       : Metro, 3 April 1964
Jumlah bersaudara                  : Anak ke 3 dari 7 orang
            Nama Ayah                             : Sutan Denak
            Nama Ibu                                 : Rosnidar
            Nama Isteri                              : Yulismar, S.Pd
            Nama Anak                             : Rani Ihsani Mukhlis
           

RIWAYAT PENDIDIKAN
1.             SDN 4 Metro Lampung, tamat tahun 1975
2.             SMP PGRI Metro Lampung, tamat tahun 1981
3.             SMAN 135 Metro Lampung, tamat tahun 1984
4.             Gema Al Qur'an Al Jihad Metro tamat tahun 1988
5.             Sarjana Muda Tarbiyah  IAIN Raden Intan Lampung, tahun 1988
6.             Sarjana Tarbiyah IAIN Raden Intan Lampung tamat tahun 1990

PENGALAMAN ORGANISASI
1.             Ketua Osis GAA  Metro Lampung Tengah 1987-1989
2.             Sekum IRM Al Jihad Metro  Lampung Tengah  1986-1988
3.             Wakil Sekretaris HMI Cab. Metro Lampung  Tengah 1985-1990
4.             Sekjen  Majelis Ulama Indonesia [MUI}  Kab. Solok  2005/2006
5.             Anggota Pengawas  BAZ   Kabupaten Solok 2006
6.             Anggota IKADI (Ikatan Da’i Indonesia) Kabupaten Solok
7.             Da'i  IIRO [International Islamic Relief Org.] Sumbar 1995-1997
8.             Ketua Yayasan  Garda Anak Nagari Sumatera Barat
9.             Ketua Pembina Yayasan Selasih Kabupaten Solok
10.         Ketua Pembina Yayasan Lukmanul Hakim Kota Solok
11.         .Ketua Yayasan Garda Anak Nagari Kab.Solok 2000-2005
12.         Pembina Yayasan Sinergi Ummat Kota Solok
13.         Pembina Yayasan Amanah Bunda Kabupaten Solok

PENGALAMAN PROFESI
1.             Guru SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah 1988-1990
2.             Guru GAA Metro Lampung Tengah 1988-1990
3.             Guru MTsN Koto Baru Kabupaten Solok 1997-1999
4.             Guru SMK Budi Mulia Koto Baru Kab. Solok 1991-2000
5.             Dosen PGTK Adzkia Kota Padang 1994-2000
6.             Anggota  DPRD Kabupaten Solok  Periode 1999-2004
7.             Anggota DPRD Kabupaten Solok  Periode 2004-2009
8.             Staff Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam, 2015-


PERJALANAN DA'WAH
1.             Maperca dan Basic Training HMI Cabang Metro 1985
2.             Intermediate Training HMI di Palembang 1986
3.             Latihan Pers Mahasiswa IAIN di Tanjung Karang 1986
4.             Tarbiyyah Islamiyyah di Sumatera Barat 1990-1994
5.             Muzakarah Du'at se Sumatera /Jakarta di Sumatera Selatan 1994
6.             Muzakarah Du'at  se Sumatera/Jakarta di Sumatera Selatan 1996
7.             Muzakarah Du'at  se Sumatera/ Jakarta di Bukit Tinggi 1998
8.             Muzakarah Manajemen Zakat, IMZ Jakarta 2002
9.             Seminar Syari'ah Nasional di Medan Sumatera Utara 2000
10.         Pertemuan Anggota DPRD  se Indonesia di Jakarta 2000
11.         Pertemuan Anggota DPRD  se Indonesia di Bogor 2002
12.         Pertemuan da'i  IIRO se Indonesia  di Jakarta 2000
13.         Silaturrahmi Nasional Anggota Legislatif di Jakarta 2005

BUKU YANG TELAH  DITERBITKAN
1.             Fikih Wanita, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
2.             Tarbiyatul Aulad, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
3.             Kumpulan Ceramah Praktis, Nurul Haq, 2010
4.             Renungan Ramadhan, Pustaka Setia Bandung, 2011
5.             Memanusiakan Manusia, Qibla Jakarta, 2011
6.             Kumpulan Khutbah Jum’at, Pustaka Setia Bandung, 2011
7.             Khutbah Jum’at, Janji Allah dan Upaya Meraihnya, Arkola Surabaya, 2011
8.             Khutbah Jum’at Penyejuk Hati, Pustaka Albana Jogjakarta, 2012
9.             Andai Aku Tahu Dosa Itu Ada, FAM Publishing Kediri, Jawa Timur, 2012
10.         Kumpulan Khutbah Jum’at Terbaik, Mutiara Media,  Jogjakarta, 2013
11.         Man Rabbuka, Al Barokah, Jogjakarta, 2014
12.         Ensiklopedi Penulis Indonesia Jilid I, FAM Publishing Kediri, Jawa Timur,2014
13.         Kumpulan Khutbah Pengobat Hati, Mutiara Media,  Jogjakarta, 2014

PUBLIKASI TULISAN DI MEDIA
1.             Majalah Serial Khutbah Jum'at, Jakarta
2.             Majalah Suara Masjid, Jakarta
3.             Majalah Ishlah, Jakarta
4.             Majalah Reformasi, Jakarta
5.             Majalah Al Muslimun, Bangil
6.             Majalah Sabili, Jakarta
7.             Majalah Tarbawi, Jakarta
8.             Majalah Muamalat, Jakarta
9.             Majalah Kiblat, Jakarta
10.         Majalah Harmonis, Jakarta
11.         Majalah Estafet, Jakarta
12.         Majalah Sakinah, Jakarta
13.         Harian Serambi Minang, Padang
14.         Harian Semangat, Padang
15.         Harian Mimbar Minang, Padang
16.         Harian Singgalang, Padang
17.         Tabloid Sumbar Post, Padang
18.         Tabloid Zaman, Padang
19.         Tabloid Solinda, Kabupaten Solok
20.         Tabloid Lentera, Padang
21.         Tabloid Suara Keadilan Rakyat, Sawahlunto
22.         Tabloid, Media Islam Batam
23.         Tabloid Dyi’ar Islam Batam
24.         Buletin DPW PKS Sumatera Barat, Padang
25.         Buletin Riswan, Koto Baru Kabupaten Solok
26.         Buletin Da'wah Masjid Al Furqan Kota Solok
27.         Buletin Da'wah Garda Anak Nagari Kabupaten Solok
28.         Buletin Da'wah Sebening Embun
29.         Buletin Da'wah Selasih Solok
30.         Mingguan Suara Rakyat, Solok
31.         Mingguan Bijak, Padang
32.         Mingguan Swadesi, Jakarta
33.         Mingguan Sentana, Jakarta
34.         Mingguan Raden Intan Pos, IAIN Lampung
35.         Pariaman Post, Sumatera Barat
36.         www.padangtoday.com, Sumatera Barat
37.         www.republika,online, Jakarata
38.         www.koran cyber.com, Padang Panjang





Tidak ada komentar:

Posting Komentar