RAMADHAN DAN BASMALAH
[MENYIBAK MAKNANYA]
Drs.St.Mukhlis Denros
Yang mendatangkan pahala dari
amal ibadah yang kita lakukan bukan hanya ibadah besar seperti shalat,
puasa, zakat dan haji saja, tapi ada
amal-amal kecil yang juga mendatangkan pahala besar apalagi dilakukan dibulan
Ramadhan, seperti membuang duri dari jalan, senyum ketika bertemu dengan
saudara seiman, memulai pekerjaan dengan membaca “basmalah” dan mengakhirinya
dengan mengucapkan “hamdalah”.
Ketika seorang protokol pada sebuah
acara Tabligh Akbar tentang Isra’ Mi’raj di Masjid Al Jihad Metro Lampung
Tengah, mengajak untuk membuka acara dengan membaca “Basmalah” terdengar suara
di belakang yang mengkritisi, kenapa Basmalah, selama ini kita hanya tahu kalau
memulai sesuatu pekerjaan itu diawali dengan “bismillah” bukan “basmalah”.
Karena yang ditanya seorang jamaah masjid yang sudah biasa dengan
istilah-istilah Arab menjawab, bahwa ucapan “basmalah” yang dimaksud oleh
protokol itu artinya mengajak untuk membaca “bismillah”, sama halnya kalau ada
perintah untuk takbir, yang kita baca bukan “takbir” tapi “Allahu Akbar”.
Sejak
kecil kita diajarkan oleh orangtua kita agar memulai pekerjaan seperti makan,
minum, belajar dan aktivitas lainnya, hal itu sudah dicontohkan oleh Rasulullah
Saw kepada ummatnya, kenapa begitu pentingnya kalimat ini sehingga pekerjaan
apapun mulailah dengan “bismillah”.
Allah SWT berfirman:“Dengan
menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Janganlah kamu
sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang
yang berserah diri.” (QS. An-Naml [27]: 30-31)
Abu Hurairah RA berkata:“Setiap
perkara penting yang tidak didahului dengan Basmalah maka ia kehilangan
berkah’’
Sadar atau tidak sadar, Basmalah
terucap seperti air sejuk yang memenuhi rongga-rongga tenggorokan di bawah
terik sinar mentari. Akan tetapi, pernahkah kita berhenti sejenak merenungi
maknanya. Ia dengan lihai menyulam renda-renda keagungan, keindahan, dan
kesempurnaan Sang Maha Pencipta yang memesona dengan pintalan-pintalan makna,
mengukir seni kehidupan dengan taburan-taburan warna.
Jika Anda bertanya: di ayat pertama Nabi Sulaiman AS
menyebutkan Basmalah lebih awal dari kalimat (أَلاَّ تَعْلُوْا عَلَيَّ،
وَأْتُوْنِيْ مُسْلِمِيْن) di saat menyurat ke Ratu Balqis. Mengapa kalimat itu
bukan yang pertama kali disebutkan? Bukankah ia maksud utama dari surat
tersebut?
Kepada Anda dikatakan: di sana ada dua ungkapan yang
cukup berbeda, pertama: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang saya membaca, mengaji…,”dan kedua: “saya membaca, mengaji… dengan
menyebut nama Allah.” Tentunya, ungkapan pertama jauh lebih bermakna dari
ungkapan kedua dari pelbagai sisi, di antaranya: tidak ada segala sesuatu yang
terjadi kecuali dengan izin-Nya, hasil usaha tidak selamanya mendatangkan
berkah meski terlihat di hadapan mata banyak dan baik. Olehnya itu, supaya
menuai berkah ingat Allah Pemberi Berkah sebelum memulai, Ia starting point
terhadap kesinambungan berkah pekerjaan. Kemudian, ia juga menyinarkan
bahwa kekuatan bukan dengan memperlihatkan kecongkakan dan kesombongan, tetapi
lebih ditentukan oleh sejauh mana hamba memperlihatkan kepapaan dan
kelemahannya di depan kekayaan dan keagungan-Nya.
Di sini Nabi Sulaiman AS seperti berseru dan berkata:
“Wahai Balqis, Seruan itu datang dari-Nya (اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ)
yang melapisi kelemahanku dengan tekad baja, memberikan aku kekuatan materi dan
maknawi yang lahir dari kepapaanku terhadap keagungan-Nya, dan mengajarkan aku
kelemahlembutan dalam menjalankan politik negara. Aku tidak menyeru kalian
tunduk terhadapku kecuali seruan dan kekuatan itu datang dari-Nya. Maka
tunduklah sebelum kelemahlembutan ini habis masa!”
Sistematika seperti ini telah dijumpai di orang-orang
Arab dahulu. Mereka sering mengatakan: “Dengan Bismillah aku bekerja,” dan
bukan: “aku bekerja dengan Bismillah.” Jika Anda bertanya: “Kenapa seperti itu?
Bukankah keduanya sama saja?” Mereka menjawab: “yah, seperti itu, karena ia
adalah doa yang mampu melahirkan rasa kebersamaan dengan Allah dalam hati,
sehingga dengan sendirinya tiada menjadi ada, sedikit jadi banyak, dan perasaan
lemah jadi kekuatan yang tidak terpadamkan. Inilah yang disebut sebagian orang
berkah Basmalah.
Dalam hal ini mari melihat secara saksama simfoni makna
yang dilantukan goresan pena Prof. Dr. Muhammad Bakr Ismail (guru besar tafsir
dan ilmu-ilmu Al-Qur’an di universitas Al-Azhar), beliau berkata:“Hamba
diminta kembali meminta pertolongan dan perlindungan kepada-Nya dengan segenap
hati, ruh, akal, dan panca indera, karena tidak ada tempat berlindung dari-Nya
kecuali kepada-Nya. Merasa butuh dan ingin kembali kepada-Nya merupakan
pengejawantahan tauhid tertinggi sebagai tempat bernaung orang-orang dahulu dan
yang akan datang di kemudian hari.Sesungguhnya semua entitas kehidupan tanpa
Allah yang Maha Esa nol besar, tidak punya arti apa-apa. Akan tetapi, dengan
meminta kebersamaan Allah nol menjadi 10, dua nol menjadi 100, dan seterusnya.
Cermati misal ini, dan jangan lalai dari kandungannya.
Jika Anda bertanya yang kedua kalinya: “kenapa di
Basmalah kita meminta berkah dengan menyebut nama-Nya: (بِبِسْمِ اللَّهِ),
kenapa tidak langsung saja menyebut zat-Nya dengan: (بِاللَّهِ)?”
Syekh Abu Suûd menyuguhkan kepada Anda dua jawaban,
beliau berkata:“Tidak dikatakan demi
membedakan antara sumpah dan harapan, atau guna mewujudkan tujuan utama
pemaknaan, yaitu meminta pertolongan. Kita kadang meminta pertolongan dengan
menyebut zat-Nya. Artinya: meminta pertolongan untuk melakukan sebuah pekerjaan
yang wajib dilaksanakan selaku hamba. Makna ini tersirat di dan kadang juga
dengan nama-Nya. Artinya, meminta pertolongan dan rahmat-Nya supaya pekerjaan
itu punya nilai ibadah di mata syariat sehingga ia punya berkah, karena jika
tidak disertai dengan nama Allah, maka ia pun tidak terhitung dan sia-sia. Dan
tatkala kedua bentuk permintaan itu terdapat di al-Fatihah maka makna terakhir
ini wajib dibedakan dari yang pertama dengan menempatkan kata
Hematnya, Karena Al-Fatihah pembuka surah-surah
Al-Qur’an, ia seperti telah dirancang khusus untuk mengoleksi kedua pemaknaan
ini, sehingga dengan sendirinya ia mengajarkan adab berdoa. Ia seperti berkata:
“wahai hamba Allah, jika Anda ingin berdoa, maka berdoalah dengan menyebut Zat
atau nama-Nya, atau kedua-Nya.” Di satu sisi, ia mengisyaratkan bahwa hamba
dalam berdoa hendaknya kondisi kejiwaannya mengalami peningkatan derajat
(التَّرَقِّيْ المَعْنَوِي) dari satu makna ke makna yang lebih dalam lagi.[H. Muhammad Widus Sempo, MA,Menyibak Tabir Rahasia Basmalah, dakwatuna.com1/3/2012 | 08 Rabbi al-Thanni 1433 H].
Apalagi sebelum membaca Al Qur’an kita disunnahkan untuk
membaca Basmalah selain merupakan tuntunan yang mulia, juga menjaga
kesinambungan iman kita kepada Allah, bahwa Al Qur’an merupakan Kalamullah yang
mulia diturunkan sebagai tuntunan bagi ummat manusia, dia diturunkan oleh yang
Maha Mulia yaitu Allah Yang Maha
Pengasih Lagi Maha Penyayang, pengagungan ini terlukis dalam ucapan
Basmalah.
Di antara adab membaca Al-Qur'an adalah seorang qari' (orang yang
membaca Al-Qur'an) mengawali dengan membaca Basmalah apabila ia membacanya dari
awal surat, kecuali surat Bara-ah (Al-Taubah).
Imam Nawawi rahimahullah berkata, "Dan sepantasnya
menjaga bacaan Bismillahirrahmanirrahim pada permulaan setiap
surat, selain surat Bara'ah. Mayoritas ulama berkata bahwa ia (Basmalah) adalah
ayat sebagaimana tertulis di mushaf. Dan telah tertulis di permulaan-permulaan
surat selain surat Bara'ah. Apabila membacanya ia harus meyakini telah membaca
secara lengkap atau satu surat. Apabila meninggalkan Basmalah maka ia telah
meninggalkan sebagian Al-Qur'an menurut mayoritas ulama." (Dinukil dari
al-Tibyan fi Adab Hamalah Al-Qur'an: 100)
Syaikh Abdul Aziz bin Bazz rahimahullah dalam berkata,
"Bagi seorang mukmin dan mukminan disunnahkan memulai membaca Al-Qur'an
dengan membaca Basmalah pada permulaan setiap surat. Jika ia mengulang-ulang
surat itu maka ia juga mengulang Basmalah. Yakni Bismillahirrahmanirrahimpada
setiap permulaan surat. Adalah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam apabila
membaca satu surat beliau memulainya dengan Bismillahirrahmanirrahim.
Sungguh Allah telah menurunkannya bersama setiap surat. Setiap surat turun
bersamaan dengannya, Bismillahirrahmanirrahim kecuali surat
Bara-ah. karena Utsman dan para sahabat bertawakkuf saat mengumpulkan
Al-Qur'an, apakah ia satu surat bersama Al-Anfal ataukah terpisah? Oleh karena
ini mereka tidak menuliskan ayat Tasmiyyah (Bismillahirrahmanirrahim) di antara
keduanya. Adapun surat selainnya, maka disyariatkan bagi qari' untuk membaca
Tasmiyah. Apabila ia mengulang-ulang beberapa surat maka ia mengulangi Tasmiyah
juga." [Badrul Tamam, Hukum Membaca Basmalah Saat Membaca Surat Al-Taubah
Dari Tengahnya, voa-islam.com ,Rabu, 15 Feb 2012].
Sebagaimana yang sudah sama-sama kita ketahui, bahwa surah Al-Taubah
atau al-Bara-ah, penulisannya dalam mushaf tidak diawali dengan Basmalah.
Sebabnya adalah para sahabatRadhiyallahu 'Anhum tidak menuliskannya
di awalnya dalam mushaf. Mereka mengikuti Amirul Mukminin Utsman bin AffanRadhiyallahu
'Anhu. Al-Tirmidzi mengeluarkan satu riwayat dalam sunannya dengan sanad
yang sampai kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, yang
mempertanyakan kepada Utsman bin Affan tentang latar belakang
keputusannyamenggandengkan Al-Anfal (padahal ia termasuk jenis al-Matsani,
-ayatnya kurang dari seratus-) dan mempelakukan Bara'ah (padahal ia bagian dari
Mi-uun, -jumlah ayatnya seratus lebih-) tanpa memberikan pembatas
"Bismillahirrahmanirrahim" pada keduanya, dan meletakkannya pada
Sab'un Thiwal (tujuh surat yang paling panjang). "Apa yang sebab kalian
melakukan itu?" tanyanya.
Lalu Utsman menjawab, "Adalah Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wasallam pada suatu masa turun kepada beliau beberapa surat
yang ayatnya banyak, maka apabila turun sesuatu kepada beliau maka beliau
memanggil sebagian orang yang bertugas menuliskan wahyu, lalu beliau bersabda:
"Letakkan ayat-ayat itu dalam surat yang disebutkan di dalamnya begini dan
begitu." Apabila turun satu ayat kepada beliau maka bersabda,
"Letakkan ayat ini di dalam surat yang di dalamnya disebutkan begini dan
begitu." Dan adalah Al-Anfal termasuk bagian surat yang pertama-tama
diturunkan di Madinah. Sedangkan Bara'ah termasuk Al-Qur'an yang terakhir turun
(di sana). Isinya (Bara'ah) mirip dengan isi Al-Anfal, maka aku mengira bahwa
Bara'ah bagian dari Anfal. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam wafat
dan belum sempat menjelaskan hal itu kepada kami. Oleh karena itu aku
menggandengkan antara keduanya dan tidak menuliskan di antara keduanyaBismillahirrahmanirrahim.
Lalu aku meletakkannya dalam bagian Sab' Thiwal." (Dinukil dari Fatawa
Lajnah Daimah: 4/225)
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: " . . .
Dan pendapat yang shahih, tidak ada Basmalah di antara ia (Al-Taubah) dan
Al-Anfal. Karena Basmalah adalah satu ayat dalam kitabullah 'Azza wa
Jalla. Maka apabila Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallamtidak
mengatakan: "Letakkan basmalah antara dua surat," Maka mereka tidak
akan meletakkan Basmalah di antara keduanya. Maka Nabi Shallallahu
'Alaihi Wasallam itu yang menetapkan dan bersabda, "Letakkan
Basmalah," dan beliau tidak menetapkan Basmalah di antara al-Anfal dan
Bara-ah, sehingga mereka tidak menuliskannya. Tetapi ini masih menyisakan
pertanyaan, "Jika beliau tidak menetapkan, lalu kenapa ia dipisah dari
surat Al-Anfal? Kenapa tidak dijadikan satu surat saja?." Kami jawab,
"Ya. Mereka tidak menjadikan keduanya sebagai satu surat. Karena mereka
ragu, apakah Bara'ah itu satu surat dengan Al-Anfal atau dua surat yang saling
menjelaskan?" Kemudian mereka berkata: "Kami jadikan pemisah antara
dua surat, dan tidak kami adakan Basmalah. Inilah pendapat yang shahih tentang
tidak adanya penyebutan Basmalah di antara surat Bara'ah dan Al-Anfal."
(Dinutip dari Liqa' al-Bab al-Maftuh, no. 18)
Sehingga dari sini hadir hukum membaca Basmalah di awal surat Al-Taubah.
Pendapat paling kuat yang hampir tidak ada perbedaan di antara ulama adalah
dimakruhkan. Sehingga tidak dianjurkan memulai membaca surat Al-Taubah dengan
membaca Basmalah, yakni Bismillahirrahmanirrahim.[Badrul Tamam,
Kenapa Surat Al-Taubah Tidak Diawali Dengan Basmalah?voa-islam.com Rabu, 15 Feb
2012].
Dalam perjalanan dakwah Rasulullah kita menyaksikan kejadian yang luar
biasa saat beliau pergi ke Thaif, ucapan Bismillah menjadikan sebuah standard
kebenaran risalah yang dia bawa, sebagaimana Muhammad Husein Haikal
menceritakan dalam bukunya “Sejarah Hidup Muhammad”.
Ia pergi lagi dari
sana, berlindung pada sebuah kebun kepunyaan ‘Utba dan Syaiba anak-anak Rabi’a.
Orang-orang yang pandir itu kembali pulang. Ia lalu duduk di bawah naungan
pohon anggur. Ketika itu keluarga Rabi’a sedang memperhatikannya dan melihat
pula kemalangan yang dideritanya. Sesudah agak reda, ia mengangkat kepala
menengadah ke atas, ia hanyut dalam suatu doa yang berisi pengaduan yang sangat
mengharukan:
“Allahumma yang Allah,
kepadaMu juga aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kemampuanku serta kehinaan
diriku di hadapan manusia. O Tuhan Maha Pengasih, Maha Penyayang. Engkaulah
yang melindungi si lemah, dan Engkaulah Pelindungku. Kepada siapa hendak
Kauserahkan daku? Kepada orang yang jauhkah yang berwajah muram kepadaku, atau
kepada musuh yang akan menguasai diriku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku,
aku tidak peduli, sebab sungguh luas kenikmatan yang Kaulimpahkan kepadaku. Aku
berlindung kepada Nur Wajah-Mu yang menyinari kegelapan, dan karenanya
membawakan kebaikan bagi dunia dan akhirat - daripada kemurkaanMu yang akan
Kautimpakan kepadaku. Engkaulah yang berhak menegur hingga berkenan pada-Mu.
Dan tiada daya upaya selain dengan Engkau juga.”
Dalam memperhatikan keadaan itu hati kedua
orang anak Rabi’a itu merasa tersentak. Mereka merasa iba dan kasihan melihat
nasib buruk yang dialaminya itu. Budak mereka, seorang beragama Nasrani bernama
‘Addas, diutus kepadanya membawakan buah anggur dari kebun itu. Sambil
meletakkan tangan di atas buah-buahan itu Muhammad berkata: “Bismillah!” Lalu
buah itu dimakannya.
‘Addas memandangnya
keheranan.“Kata-kata ini tak pernah diucapkan oleh penduduk negeri ini,” kata
‘Addas.
Lalu Muhammad
menanyakan negeri asal dan agama orang itu. Setelah diketahui bahwa orang
tersebut beragama Nasrani dari Nineveh, katanya:“Dari negeri orang baik-baik,
Yunus anak Matta.”“Dari mana tuan kenal nama Yunus anak Matta!” tanya ‘Addas.“Dia
saudaraku. Dia seorang nabi, dan aku juga Nabi,” jawab Muhammad.
Saat itu ‘Addas lalu
membungkuk mencium kepala, tangan dan kaki Muhammad. Sudah tentu kejadian ini
menimbulkan keheranan keluarga Rabi’a yang melihatnya. Sungguhpun begitu mereka
tidak sampai akan meninggalkan kepercayaan mereka. Dan tatkala ‘Addas sudah
kembali mereka berkata:“’Addas, jangan sampai orang itu memalingkan kau dari
agamamu, yang masih lebih baik daripada agamanya.”
Gangguan orang yang
pernah dialami Muhammad seolah dapat meringankan perbuatan buruk yang dilakukan
Thaqif itu, meskipun mereka tetap kaku tidak mau mengikutinya. Keadaan itu sudah
diketahui pula oleh Quraisy sehingga gangguan mereka kepada Muhammad makin
menjadi-jadi. Tetapi hal ini tidak mengurangi kemauan Muhammad menyampaikan
dakwah Islam. Kepada kabilah-kabilah Arab pada musim ziarah, itu ia
memperkenalkan diri, mengajak mereka mengenal arti kebenaran. Diberitahukannya
kepada mereka, bahwa ia adalah Nabi yang diutus, dan dimintanya mereka
mempercayainya. [Muhammad Husein Haikal, Sejarah Hidup Muhammad].
Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa menyaksikan baiknya Islam
seseorang tergantung dari amal dan akhlaknya, seperti masihkah saat makan dan
minum mengucapkan “Bismillah” serta dengan tangan yang kanan, begitu juga saat
seorang dokter dalam menyuntik atau mengobati fasiennya membaca “Bismillah”,
bila seorang ustadz atau ulama memulai pekerjaan mengucapkan “Bismillah” sudah
dianggap biasa, tapi bila seorang dokter, insinyur atau seorang Menteri
mengawali pekerjaannya dengan “Bismillah” maka pengaruhnya besar sekali terhadap masyarakat yang mendengarkannya.
Ketika seorang pemuda datang ke rumah saudaranya yang disebut sebagai
paranormal atau dukun, pemuda itu ingin belajar pengobatan alternative, saat
diajarkan oleh saudaranya itu, sang pemuda membaca “Bismillah” tiba-tiba sang
dukun dengan suara keras berkata.”Jangan ucapkan kata-kata itu, marah dianya
[jin maksudnya]”.
Begitulah makna Basmalah, dianjurkan kita membacanya diawal
pekerjaan, agar pekerjaan itu bermanfaat atau berkah, bahkan di masyarakat bila
ditemukan anak-anak yang nakal, entah secara bergurau atau tidak ditimpali
kenakalan anak tadi dengan ucapan “Dasar anak yang tidak membaca “Bismillah”
orangtuanya ketika membuatnya”, apakah ada kaitannya hubungan seksual suami
isteri yang tidak membaca Bismillah dengan kenakalan anaknya? Wallahu
A’lam. [Baloi Indah, 9 Ramadhan 1436.H/2015, Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam, Kepri]
PROFIL PENULIS
Penampilan
sederhana ini bernama Mukhlis yang dilahirkan di ujung Selatan Pulau
Sumatera yaitu Metro [Lampung Tengah] tanggal 3 April 1964
anak ketiga dari ayah bernama Sutan
Denak dan ibu Rosnidar dengan enam orang adik kakak yaitu Ernawati, Marsudi,
Erma, Septiyani, Mahdalena dan Adek Wahyuli, isteri bernama Yulismar S.Pd
[Ayang] dengan seorang anak wanita bernama Rani Ihsani Mukhlis, nama yang akrab
di kalangan teman dan sahabatnya adalah Mukhlis Denros. Kampung asalnya Kampani Barangan Selatan,
Nagari Lurah Ampalu, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak Kabupaten Padang
Pariaman, Sumatera Barat, dengan suku Koto, besar dan menempuh pendidikan di
Kota Lada Metro Lampung.
Pendidikan yang pernah ditempuhnya yaitu
SDN yang dimulai di SDN Koto Marapak [Kota Pariaman], ketika kelas IV dia harus
meninggalkan kampung bersama ayah dan ibunya menuju Metro, SD diselesaikannya
di SDN IV Metro, dilanjutkan ke SMP PGRI Metro, kemudian SMAN 135 Metro yang
dapat diselesaikan tahun 1984, tidak ada maksud untuk kuliah karena berbagai
faktor, berkat dorongan teman-teman dan gurunya terutama Ustadz Masnuni M.Ra'i,
Alfuadi Rusli, H. Muhammad Lazim, H. Fakhrudin, Sugito, Hayumi Rb,Hayumi Rf, H.
Rasyidin dan Malin Marajo di Masjid Al Jihad akhirnya tahun ini juga
melanjutkan kuliah di IAIN, inilah pendidikan terakhir yang ditempuhnya yaitu
Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Institut Agana Islam Negeri
[IAIN] Raden Intan Lampung di Metro
tamat tahun 1990. Ketika tamat kuliah dia harus meninggalkan Metro dan memulai
kiprahnya di Koto Baru Kabupaten Solok Sumatera Barat sebagai pendidik, dosen,
penulis, mubaligh hingga sebagai
politisi akhirnya.
Sejak di bangku SMA hingga tamat kuliah,
Mukhlis giat di OSIS Gema Al Qur'an AL
Jihad dan Remaja Masjid Al Jihad Metro
bersama teman-temannya Dody Sofial, Abul Fatrida, Yurnalis, M. Syafei,
Irza Murni, Gusnita, Herwina, Afrizal, Yohanes dan Rita Suryani, dikala kuliah
bergabung dengan HMI Cabang Metro bersama Ahmad Ridwan, Gatot Subroto, Sigit
Triyono, Syuhada', Raihan dan Usdek, mengikuti pengkaderan Basic Training di
Metro tahun 1985 dan Intermediate Training di Palembang tahun 1986 dan pernah
menjabat sebagai Sekretaris HMI Komisariat IAIN dan wakil sekretaris HMI Cabang
Metro.
Menjadi guru adalah cita-citanya sejak
awal dan hal itu telah terujud walaupun tidak sebagai PNS, pernah mengajar di
GAA dan SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah, mengajar di SMEA Budi Mulia Koto
Baru, MTsN Koto Baru Solok dan sebagai dosen PGTK Adzkia Padang, Aktivitas
sebagai pendidik ini dia tekuni sejak di bangku kuliah tahun 1984 sampai tahun
2000, kemudian aktif sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok utusan dari Partai
Keadilan/Partai Keadilan Sejahtera, selama dua periode 1999-2009. Di Solok
bersama teman-temannya yaitu Mahyeldi Ansharullah, Afrizal M Noor, Muhidi,
Nurfirmanwansyah, Johandrizon Syamsu, Ahmad Syafwan Nawawi, Firmansyah, Abdul Ghani,
Gustami Hidayat, Saifullah Salim,
Rudianto, Busril, Endrizal, Ismail Zain, Devi Herizon, Ilzan Sumarta, dan Helmi
Darlis merintis kegiatan da'wah sejak tahun 1990 di sekolah, kampus, dan
masjid-masjid melalui pesantren kilat, diskusi, ceramah dan khutbah sebagai
cikal bakal berdirinya Partai Keadilan ketika itu.
Tahun 1998 dikala Reformasi terjadi,
sekian partai berdiri untuk menyongsong Indonesia yang lebih demokratis setelah
lengsernya Soeharto kemudian dilanjutkan oleh BJ Habibie, berdiri pulalah
partai yang berbasiskan anak-anak muda kampus dengan kapasitas da'wah dan
tarbiyah, partai itu bernama Partai
Keadilan. Mukhlis diamanatkan oleh DPW PK Sumatera Barat sebagai ketua DPD PK
di Kabupaten Solok, pelantikan pengurus DPW dengan ketua Drs. Ahmad Syafwan
Nawawi dan DPD PK se Sumatera Barat dikukuhkan di Padang oleh DR. Nur Mahmudi
Ismail MSc sebagai Presiden Partai Keadilan pertama.
Dikala Partai Keadilan menjadi Partai Keadilan Sejahtera untuk kedua
kalinya Mukhlis Denros dipercaya sebagai ketua DPD di Kabupaten Solok dan
jabatan terakhir di partai dipercayakan kepadanya adalah sebagai Ketua Zona
Da'wah VII PKS Sumatera Barat hingga tahun 2007, yang membina DPD PKS Kota
Solok, Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan. Terlalu banyak pelajaran
dan pengalaman yang dia terima dari kegiatan da'wah dan partai bersama
teman-temannya
Mukhlis Denros, demikian akrab di sapa,
selain sebagai pendidik juga aktif berda’wah baik melalui ceramah, diskusi
agama, khutbah dan penyebaran tulisannya melalui Buletin Da’wah Garda Anak
Nagari serta media Nasional yang pernah memuat tulisannya seperti Majalah
Serial Khutbah Jum’at, Majalah Suara Masjid , Majalah Sabili, Majalah Tarbawi,
Majalah Ishlah, Majalah Reformasi Jakarta, Majalah Al Muslimun Bangil serta koran
Swadesi dan Sentana juga pernah memuat tulisannya yang sarat dengan pendidikan
dan nuansa islamnya, Media Mimbar Minang Padang selama bulan Ramadhan penuh
memuat tulisannya tiap hari terbit. Dia
tidak pernah membuang waktu dengan kegiatan yang tidak ada manfaatnya,
waktunya selalu terisi dengan aktivitas positif seperti membaca atau menulis
selain kegiatan harian lain.
Mukhlis
Denros Terima Penghargaan Sebagai Penulis Terbaik dari Media Suara Keadilan
Rakyat (SKR) , Minggu (15/12) di Gedung Pusat Kebudayaan kota
Sawahlunto.Penghargaan tersebut merupakan program Tabloit SKR yang selama ini
membentuk tim untuk melakukan penilaian terhadap sejumlah penulis dan tokoh di
Sumatera Barat dengan sejumlah kategori yang ditetapkan.
Penganugerahan sebagai Penulis Terbaik SKR Awards 2013
yang diberikan kepada Mukhlis Denros diserahkan oleh Wakil Wali Kota Sawah
Lunto yaitu Bapak Ismet SH, Mukhlis Denros dinilai sebagai penulis terbaik
karena konsistensinya dalam menulis berbagai pemikiran berkaitan dengan dakwah,
pendidikan dan politik yang telah melahirkan berbagai buku yang diterbitkan
oleh penerbit.
Mukhlis
Denros menerima berupa plakat dan piagam sebagai bentuk penghargaan atas
keberhasilannya menulis yang dinilai sebagai penulis terbaik, sebagaimana
penilaian TIM SKR yang terdiri dari Prof, Wil Chandry, Fadril Aziz Isaini dan
Prof,DR, H. Salmadanis, Mag.
Pada
malam penganugerahan SKR Awards 2013 tersebut
diserahkan 13 penghargaan dengan kategori berbeda kepada tokoh
lainnyayang dihadiri oleh Wawako Sawahlunto, Ismed, Pimpinan Serikat Perusahaan
Pers Pusat, Totok dan pendiiri Tabloit SKR, Riko Adiutama beserta sejumlah
tokoh Sumatera Barat lainnya.
Moto hidupnya sangat sederhana, agar
bermanfaat bagi orang lain dengan potensi yang dimiliki, semua itu hanya bisa
dilakukan dengan pendidikan yang
berkualitas. Dia menceritakan bahwa karena kegigihan orangtuanyalah untuk
mendidiknya dengan segala kesusahan dan derai air mata tapi akhirnya berhasil
mengantarkannya sebagai sarjana. Sebagai modal hidup di dunia ini,
sehingga dapat dikatakan tak bisa
membalas dan mengukur jasa orangtua yang telah mengantarkan kesuksesannya baik
memimpin partai maupun sebagai anggota
DPRD dalam dua periode ini. Bersama Partai Keadilan dan PPP Kota Solok tahun 2000 dia pernah dicalonkan
sebagai Wakil Wali Kota Solok yang berpasangan dengan Drs. Syukriadi Syukur.
Sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok
selama dua periode diembannya, dia tampil sebagai politisi yang kritis dan
bernas terhadap kebijakan Pemda dan Bupati yang tidak sesuai dengan kepentingan masyarat, diapun tidak
segan-segan menghantam anggota DPRD dikala mereka tidak aspiratif
[http://fraksi pks solok.blogspot.com].
Bersama ustadz
Mahyeldi Ansyarullah dalam gerakan da’wah dengan lembaga Al Madaniy di Padang
yang diawali tahun 1990, Mukhlis Denros banyak terlibat dalam berbagai kegiatan
da’wah seperti tahun 1994 pernah ke Palembang untuk mengikuti pertemuan da’i se
Jakarta dan Sumatera undangan dari Yayasan Bumi Andalas dan tahun 2000 Seminar
Nasional tentang Syari’ah di Medan yang diiringi dengan berbagai pertemuan
da'wah di Sumatera Barat ataupun di Jakarta, selain itu juga pernah selama 2
tahun sebagai da’i dari IIRO [Internasional islamic Relief Organisation] dan
kini sebagai anggota IKADI Solok yang juga memimpin yayasan Garda Anak Nagari
Sumatera Barat.
Organisasi lain yang
ikut dia tekuni selama di DPRD adalah sebagai Sekjen Majelis Ulama Indonesia
[MUI] Kabupaten Solok, sebagai Badan Pengawas Badan Amil Zakat Kabupaten Solok,
juga ikut membidani lahirnya beberapa lembaga da'wah berbentuk Yayasan di
Kabupaten Solok yang dikelola oleh teman-temannya seperti Yayasan Sinergi
Ummat, Yayasan Lukmanul Hakim, Yayasan Amanah Bunda, Yayasan Ahda Sabila,
Yayasan Nurul Haq, Yayasan Garda Anak Nagari dan Yayasan Selasih Solok.
Setelah dua periode
menyelesaikan tugas sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok, dalam mengisi
kegiatan hariannya Mukhlis Denros bersama isteri Yulismar S.Pd tinggal di
Nagari yang berbukit dan berlembah, yang sejuk dan asri, jauh dari kebisingan,
aman dan nyaman yaitu Jorong Cubadak Nagari Pianggu Kecamatan IX Koto Sungai
Lasi, Kabupaten Solok, Sumatera Barat tetap konsisten dengan kegiatan
sebelumnya yaitu da'wah dan menulis.
Sejak bulan Februari 2015, setelah enam tahun tinggal
di Cubadak Pianggu Kecamatan Sungai Lasi Kabupaten Solok Sumatera Barat, kini Mukhlis Denros menetap di Kota Batam
Kepri, turut berkiprah sebagai staf di Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Kota
Batam yang diketuai oleh Ibu Dra. Hj.
Helma Munaf, M.Pd dan bergabung pula dengan PMB [Persatuan Mubaligh Batam].
Di Batam, Mukhlis Denros dengan Pedro Johansis dan Mardison
mengembangkan Yayasan Garda Anak Nagari dengan membuka Garda Anak Nagari Provinsi Kepulauan Riau,
Insya Allah dalam waktu dekat akan membuka cabang Garda Anak Nagari di seluruh
Kabupaten dan Kota di Provinsi Kepulauan
Riau, semoga hal itu terujud.
DATA PRIBADI
Nama Lengkap :
Drs. St. Mukhlis Denros
Tempat dan Tanggal Lahir : Metro, 3 April 1964
Jumlah bersaudara : Anak ke 3 dari 7 orang
Nama Ayah : Sutan Denak
Nama Ibu : Rosnidar
Nama Isteri : Yulismar, S.Pd
Nama Anak : Rani Ihsani Mukhlis
RIWAYAT PENDIDIKAN
1.
SDN 4 Metro
Lampung, tamat tahun 1975
2.
SMP PGRI Metro
Lampung, tamat tahun 1981
3.
SMAN 135 Metro
Lampung, tamat tahun 1984
4.
Gema Al Qur'an Al
Jihad Metro tamat tahun 1988
5.
Sarjana Muda
Tarbiyah IAIN Raden Intan Lampung, tahun
1988
6.
Sarjana Tarbiyah
IAIN Raden Intan Lampung tamat tahun 1990
PENGALAMAN ORGANISASI
1.
Ketua Osis GAA Metro Lampung Tengah 1987-1989
2.
Sekum IRM Al Jihad Metro Lampung Tengah 1986-1988
3.
Wakil Sekretaris HMI Cab. Metro Lampung Tengah 1985-1990
4.
Sekjen
Majelis Ulama Indonesia [MUI}
Kab. Solok 2005/2006
5.
Anggota Pengawas BAZ
Kabupaten Solok 2006
6.
Anggota IKADI (Ikatan Da’i Indonesia)
Kabupaten Solok
7.
Da'i
IIRO [International Islamic Relief Org.] Sumbar 1995-1997
8.
Ketua Yayasan
Garda Anak Nagari Sumatera Barat
9.
Ketua Pembina Yayasan Selasih Kabupaten Solok
10.
Ketua Pembina Yayasan Lukmanul Hakim Kota
Solok
11.
.Ketua Yayasan Garda Anak Nagari Kab.Solok
2000-2005
12.
Pembina Yayasan Sinergi Ummat Kota Solok
13.
Pembina Yayasan Amanah Bunda Kabupaten Solok
PENGALAMAN
PROFESI
1.
Guru SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah
1988-1990
2.
Guru GAA Metro Lampung Tengah 1988-1990
3.
Guru MTsN Koto Baru Kabupaten Solok 1997-1999
4.
Guru SMK Budi Mulia Koto Baru Kab. Solok
1991-2000
5.
Dosen PGTK Adzkia Kota Padang 1994-2000
6.
Anggota
DPRD Kabupaten Solok Periode
1999-2004
7.
Anggota DPRD Kabupaten Solok Periode 2004-2009
8.
Staff Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam,
2015-
PERJALANAN
DA'WAH
1.
Maperca dan Basic Training HMI Cabang Metro
1985
2.
Intermediate Training HMI di Palembang 1986
3.
Latihan Pers Mahasiswa IAIN di Tanjung Karang
1986
4.
Tarbiyyah Islamiyyah di Sumatera Barat
1990-1994
5.
Muzakarah Du'at se Sumatera /Jakarta di
Sumatera Selatan 1994
6.
Muzakarah Du'at se Sumatera/Jakarta di Sumatera Selatan 1996
7.
Muzakarah Du'at se Sumatera/ Jakarta di Bukit Tinggi 1998
8.
Muzakarah Manajemen Zakat, IMZ Jakarta 2002
9.
Seminar Syari'ah Nasional di Medan Sumatera
Utara 2000
10.
Pertemuan Anggota DPRD se Indonesia di Jakarta 2000
11.
Pertemuan Anggota DPRD se Indonesia di Bogor 2002
12.
Pertemuan da'i IIRO se Indonesia di Jakarta 2000
13.
Silaturrahmi Nasional Anggota Legislatif di
Jakarta 2005
BUKU YANG
TELAH DITERBITKAN
1.
Fikih Wanita, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
2.
Tarbiyatul Aulad, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
3.
Kumpulan Ceramah Praktis, Nurul Haq, 2010
4.
Renungan Ramadhan, Pustaka Setia Bandung, 2011
5.
Memanusiakan Manusia, Qibla Jakarta, 2011
6.
Kumpulan Khutbah Jum’at, Pustaka Setia Bandung, 2011
7.
Khutbah Jum’at, Janji Allah dan Upaya Meraihnya, Arkola
Surabaya, 2011
8.
Khutbah Jum’at Penyejuk Hati, Pustaka Albana Jogjakarta,
2012
9.
Andai Aku Tahu Dosa Itu Ada, FAM Publishing Kediri, Jawa
Timur, 2012
10.
Kumpulan Khutbah Jum’at Terbaik, Mutiara Media, Jogjakarta, 2013
11.
Man Rabbuka, Al Barokah, Jogjakarta, 2014
12.
Ensiklopedi Penulis Indonesia Jilid I, FAM Publishing Kediri,
Jawa Timur,2014
13.
Kumpulan Khutbah Pengobat Hati, Mutiara Media, Jogjakarta, 2014
PUBLIKASI
TULISAN DI MEDIA
1.
Majalah Serial Khutbah Jum'at, Jakarta
2.
Majalah Suara Masjid, Jakarta
3.
Majalah Ishlah, Jakarta
4.
Majalah Reformasi, Jakarta
5.
Majalah Al Muslimun, Bangil
6.
Majalah Sabili, Jakarta
7.
Majalah Tarbawi, Jakarta
8.
Majalah Muamalat, Jakarta
9.
Majalah Kiblat, Jakarta
10.
Majalah Harmonis, Jakarta
11.
Majalah Estafet, Jakarta
12.
Majalah Sakinah, Jakarta
13.
Harian Serambi Minang, Padang
14.
Harian Semangat, Padang
15.
Harian Mimbar Minang, Padang
16.
Harian Singgalang, Padang
17.
Tabloid Sumbar Post, Padang
18.
Tabloid Zaman, Padang
19.
Tabloid Solinda, Kabupaten Solok
20.
Tabloid Lentera, Padang
21.
Tabloid Suara Keadilan Rakyat, Sawahlunto
22.
Tabloid, Media Islam Batam
23.
Tabloid Dyi’ar Islam Batam
24.
Buletin DPW PKS Sumatera Barat, Padang
25.
Buletin Riswan, Koto Baru Kabupaten Solok
26.
Buletin Da'wah Masjid Al Furqan Kota Solok
27.
Buletin Da'wah Garda Anak Nagari Kabupaten
Solok
28.
Buletin Da'wah Sebening Embun
29.
Buletin Da'wah Selasih Solok
30.
Mingguan Suara Rakyat, Solok
31.
Mingguan Bijak, Padang
32.
Mingguan Swadesi, Jakarta
33.
Mingguan Sentana, Jakarta
34.
Mingguan Raden Intan Pos, IAIN Lampung
35.
Pariaman Post, Sumatera Barat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar