RAMADHAN DAN SAKINAH
Drs.St.Mukhlis Denros
Aktivitas
ibadah pada bulan Ramadhan yang dikerjakan dengan baik dan sempurna selain
mendatangkan sakinah atau ketenangan bagi pelakunya juga dapat membentuk
keluarga sakinah, karena banyaknya kebersamaan yang bisa dilakukan dengan
isterti/suami beserta anak-anak seperti makan sahur, berbuka puasa, shalat taraweh di
masjid dan tadarus di rumah. Kegiatan kebersamaan tadi tidak akan bisa
dilakukan oleh orang yang tidak harmonis rumah tangganya, begitu juga halnya
bila sudah ada keretakan dalam rumah tangga jangan dibiarkan, jadikan momen
Ramadhan untuk memperbaikinya agar keluarga sakinah dapat terujud kembali,
untuk itu jadikanlah Rasul dan keluarganya sebagai teladan.
Kalau kita
meneladani kehidupan berumah tangga dari seorang tokoh di masyarakat maka kerap
kita akan mendapatkan kekecewaan karena umumnya manusia itu tidak sempurna,
tapi ketika kita meneladani Rasulullah Muhammad Saw maka Insya Allah kita
menemukan figure yang cocok untuk diteladani.
Beliau adalah
orang yang paling santun dan lapang dada kepada keluarganya, memaafkan apa yang
mereka lakukan, bersikap lembut kepada mereka, beliau bersabar menghadapi
kecemburuan yang muncul di antara para istrinya, sesuatu yang lumrah di antara
kaum wanita, karena bagaimana pun mereka adalah manusia, lebih-lebih dengan
suami Rasulullah saw, tentu hal ini membuka kesempatan persaingan di antara
mereka untuk mendapatkan perhatian Rasulullah saw lebih terbuka lebar.
Umar bin
al-Khatthab berkata, “Kami orang-orang Quraisy mendominasi kaum wanita,
manakala kami tiba di Madinah, kami melihat penduduknya adalah kaum yang
dikalahkan oleh kaum wanita, maka istri-istri kami mulai mengambil adab dari
kaum wanita Anshar, aku marah kepada istriku maka dia pun menuntutku, aku tidak
terima dia menuntutku, maka istriku berkata, ‘Mengapa engkau tidak terima, demi
Allah, sesungguhnya istri-istri Nabi saw menuntut kepada beliau, sesungguhnya
salah seorang dari mereka mendiamkan beliau dari siang sampai malam.’
Umar berkata,
“Kata-kata istriku membuatku terkejut, aku berkata kepadanya, ‘Sungguh merugi
siapa yang melakukan hal itu dari mereka.’ Kemudian pergi kepada Hafshah, aku
berkata kepadanya, ‘Ya Hafshah, apakah salah seorang dari kalian membuat Nabi
saw marah dari siang sampai malam?’ Dia menjawab, ‘Ya.’ Maka aku berkata, ‘Kamu
sungguh merugi. Apakah kamu merasa aman dari kemarahan Allah karena kemarahan
RasulNya, kamu bisa celaka?” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
Rasulullah saw
memaklumi kemarahan istri-istrinya, salah seorang dari mereka mendiamkan beliau
dari siang sampai malam, sampai dia tidak memanggil namanya yang mulia. Bagi
beliau hal seperti ini adalah sesuatu yang manusiawi. Yang unik dalam hal ini
adalah bahwa sekalipun mereka bersikap demikian, beliau tetap berkata-kata
lunak, seolah-olah tidak terjadi apa pun.
Dari Aisyah
berkata, Rasulullah saw berkata kepadaku, “Sungguh, aku benar-benar tahu jika
kamu marah kepadaku dan jika kamu rela kepadaku.” Aisyah bertanya, “Dari mana
engkau mengetahui hal ini?” Nabi saw menjawab, “Jika kamu rela kepadaku maka
kamu akan mengucapkan, ‘Tidak, demi Tuhan Muhammad.’ Namun jika kamu marah
kepadaku maka kamu akan berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Ibrahim.’ Aisyah berkata,
‘Benar wahai Rasulullah saw, aku tidak meninggalkan kecuali namamu.”
Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
Rasulullah saw
tetap bersikap arif, belapang dada dan bijak kepada para istrinya sekalipun dia
bertindak kurang patut di depan beliau padahal saat itu beliau sedang duduk
bersama para tamunya. [Artikel Keluarga Sakinah, Rasulullah dan keluarganya, Jumat, 14 Mei 10].
Ketika masih lajang, saat memilih pasangan yang ideal, suami
isteri ingin agar pasangannya adalah pasangan yang baik, santun, sabar,
perhatian dan kelebihan lainnya, hal itu mungkin nampak dari sikap sehari-hari
atau informasi yang diperoleh dari orang lain, tapi alangkah kecewanya ketika
rumah tangga itu berdiri, jauh panggang dari pada api, pasangan kita lebih
banyak kita lihat kekurangannya dari pada kelebihannya.
Apapun keadaannya, itulah yang Allah
berikan, syukuri saja seraya berupaya untuk memperbaiki dan terus memperbaiki,
baik diri dan pasangan bil hikmah, dengan bijak, semoga hasilnya baik.
Tetapi jangan sampai Anda membawa
kekuarangan tersebut keluar, karena dengan membawa keluar berarti Anda telah
menyebarkan aib atau kekurangan pasangannya. Padahal sesama muslim dianjurkan
saling menutupi kekurangan masing-masing. “Barangsiapa menutupi seorang
muslim maka Allah menutupinya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim).
Suami atau istri adalah orang yang
paling layak kita tutupi kekurangannya. Oleh karena itu Allah mengumpamakan
pasangan dengan libas (pakaian) dan salah satu fungsi pakaian adalah
menutupi kekurangan badan. Firman Allah, artinya,“Mereka adalah pakaian bagimu,
dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (Al-Baqarah: 187).
Dengan membawa
keluar berarti Anda telah mengghibah pasangan, karena Anda tidak mungkin
dalam kondisi tersebut membicarakan kebaikannya, karena yang ada di pikiran
anda adalah keburukannya dan orang hanya berbicara apa yang ada di benaknya.
Anda mau makan bangkai pasangan Anda sendiri? Firman Allah, artinya, “Dan
janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama
lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang
sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (Al-Hujurat: 12).
Dengan membawa
kekurangan keluar, justru tidak mengurai persoalan, bagaimana bila pasangan
tahu kalau Anda membuka kekurangannya kepada orang lain? Tidak mengatasi
kekurangan tersebut, kecuali bila hal itu dibawa kepada kalangan terbatas dan
diharapkan bisa mengatasi kekurangan pasangan.
Apapun dan
bagaimanapun, terima dulu karena itulah jatah dan nasibmu, dan selanjutnya
perbaiki sebisa mungkin. [Artikel Keluarga Sakinah, Pasangan banyak kekurangan,
Rabu, 23 Februari 11].
Keluarga merupakan sarana untuk memperbanyak ibadah kalau niat
berumah tangga memang sesuai dengan ketentuan Allah, peluang ibadah itu
tergambar dari beberapa hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa nikah itu
merupakan nisfuddin artinya setengah dari agama, dengan menikah maka pahala
yang diterima dari amaliah ibadah menjadi full, bahkan seluruh aktivitas yang
berlansung di rumah tangga mengandung nilai-nilai kebaikan, sejak dari mencari
nafkah untuk keluarga, mengelola rumah tangga, mendidik anak-anak dan melayani
suami, namun demikian ibadah mahdhah harus menjadi prioritas untuk bersinarnya
rumah tangga itu sebagaimana Rasul menyatakan, “Hiasilah rumah tanggamu dengan
bacaan Al Qur’an” dan “Ajaklah keluargamu mendirikan shalat”.
Suami sebagai pemimpin rumah tangga
tidak cukup menjadi baik sendiri dan melupakan anggota keluarganya, justru
anggota rumah tangga yang paling berhak untuk ketularan kebaikan darinya. Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda. “Allah mengasihi laki-laki yang
bangun malam kemudian shalat lalu membangunkan istrinya sehingga shalat, jika
tidak mau ia memerciki wajahnya dengan air.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Sudah menjadi sunnah Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam apabila beliau melaksanakan kebaikan beliau
mengajak keluarganya pula. Aisyah berkata, “Suatu ketika Rasulullah shallahu
'alaihi wasallam mengerjakan shalat malam, ketika akan witir beliau mengatakan,
‘Bangunlah, dan dirikanlah shalat witir wahai Aisyah!” (HR. Muslim).
Mengajak keluarga berbuat baik kurang
mendapatkan perhatian dari banyak penanggung jawab keluarga muslim. Tidak
jarang bapak –misalnya- berangkat ke masjid untuk shalat berjamaah sementara
dia meninggalkan anak laki-lakinya yang telah baligh di rumah tanpa mengajaknya
turut serta ke masjid atau ketika bapak ke masjid untuk shalat Maghrib dia
membiarkan keluarganya duduk khusyu’ di depan kaca TV. Ini adalah keteledoran.
Termasuk mengajak keluarga beribadah
adalah melatih istri dan anak-anak bersedekah jika memang Allah memberi
keluasan rizki. Secara khusus Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajak
para istri agar bersedekah.
Sabda beliau.“Wahai segenap wanita, bersedekahlah kalian. Sesungguhnya aku melihat bahwa kalian adalah sebanyak-banyak penduduk neraka.” (HR. Al-Bukhari).
Termasuk mengajak keluarga beribadah
adalah mendorong suami atau istri untuk birrul walidain, berbuat baik kepada
bapak ibu, dengan berbagai kebaikan yang mungkin diberikan kepada keduanya,
suami atau istri tidak patut menjadi penghalang bagi pasangannya di bidang ini,
selama semuanya dilakukan dengan cara yang baik dan dilakukan secara berimbang,
hal ini merupakan keteladanan, pendidikan dan dorongan langsung kepada
anak-anak, diharapkan kelak mereka juga akan melakukan apa yang dilakukan oleh
bapak ibunya kepada kakek neneknya.
Dan masih banyak lagi kebaikan-kebaikan
di mana keluarga sepantasnya dilibatkan sebagai wujud dari tanggung jawab, ”Quu
anfusakum wa ahliikum naara.” Jagalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka. [Artikel Keluarga Sakinah, Mengajak Keluarga Beribadah, Senin, 04 April
11].
Peluang ibadah dalam keluarga juga dapat
melalui tetangga karena tetangga itu adalah orang yang paling dekat dengan
kita, sampai Rasulullah menyuruh kita untuk memberikan gulai kepada tetangga
karena bau gulai itu mengganggu hidung tetangga, walaupun gulai yang diberikan
itu tidak seberapa.
Hendaknya sebuah keluarga ringan tangan
dengan memberikan kebaikan kepada tetangga tanpa merasa kebaikan yang diberikan
remeh sebab sangat mungkin tetangga tidak melihat apa yang diberikan akan
tetapi dia melihat pemberian yang merupakan bukti i'tikad baik untuk menjalin
hubungan yang baik.“Wahai wanita-wanita muslimah, janganlah tetangga merasa
remeh ketika hendak memberikan sesuatu kepada tetangganya walaupun ia hanya
telapak kaki domba.” (Muttafaq alaihi).
Bisa jadi keadaan sebuah keluarga tidak
memungkinkannya untuk memberikan sesuatu dalam bentuk materi kepada
tetangganya, tidak masalah karena tidak ada pembebanan di luar kemampuan, pun
demikian masih ada sisi non materi yang bisa diberikan bahkan bisa jadi
pahalanya lebih besar yaitu bimbingan keagamaan. Sebuah keluarga bisa menjadi
da’i meskipun dalam skala tetangga, membimbing membaca al-Qur`an, membimbing
shalat dan membimbing dalam kebaikan-kebaikan lainnya. Tidak perlu merasa remeh
karena memang masih banyak kaum muslimin yang belum bisa beribadah dengan baik
dan benar, dan mereka akan dengan senang hati menyambut bimbingan kepada
kebaikan dari Anda.
Termasuk kebaikan non materi adalah
mengunjunginya secara berkala, apabila bertemu menjabat tangannya sambil
tersenyum dan mengucapkan salam serta menanyakan kabarnya dan lain-lainnya.
Bagaimana jika sebuah keluarga tidak
memiliki sesuatu yang bisa diberikan, tidak materi tidak pula non materi? Tidak
masalah karena masih ada kebaikan pasif yang pasti dimiliki dan mampu dilakukan
oleh siapa pun yaitu menahan diri dari berbuat buruk kepada tetangga baik
dengan ucapan maupun dengan perbuatan. Dalam salah satu hadits di atas Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam menganggap seseorang yang tetangganya tidak aman
dari keburukannya tidak beriman.
Salah satu keburukan yang kerap terjadi
dari tetangga kepada tetangga adalah memperolok-olok, saling memanggil dengan
panggilan buruk dan ghibah, mengganggunya dengan perkataan dan perbuatan.
Salah satu bentuk kebaikan pasif adalah
tidak mempersoalkan tetangga menunaikan hajat baiknya walaupun ia berkait Anda
sebagai keluarga, tetapi Anda tidak dirugikan.“Hendaknya tetangga tidak
menghalangi tetangganya untuk menancapkan kayu di dindingnya.” (Muttafaq
alaihi).
Baik kepada tetangga memang diharuskan
akan tetapi tidak berarti sebuah keluarga menghabiskan kebanyakan waktunya
bersama tetangga, satu hari bersama ini, esok hari bersama anu, jika demikian
maka justru bukan kebaikan yang didapatkan karena akan melalaikan tugas rumah
yang lebih penting, di samping hal tersebut bisa menyeret kepada
perbincangan-perbincangan yang tidak baik.
Bukan termasuk berbuat baik kepada
tetangga mengikuti semua ajakan dan kemauannya karena tidak semua ajakan
tetangga itu baik. Biasanya dalam kondisi tersebut yang muncul adalah perasaan
tidak enak atau rikuh atau takut dianggap tidak baik kepada tetangga sehingga
meskipun sebuah keluarga mengetahui bahwa kemauan tetangga tersebut tidak baik
dia tetap menurutinya dengan alasan di atas.
Sikap ini keliru, lebih baik berterus
terang melalui penyampaian dengan bahasa yang baik, insya Allah tetangga bisa
memaklumi, syukur-syukur sebuah keluarga bisa membelokkan kemauan yang tidak
baik itu sehingga ia menjadi baik. Kalau pun tetangga memutus karena itu, maka
tidak perlu bersedih karena kesalahan bukan dari Anda. Ingat agama
memerintahkan berbuat baik kepada tetangga dengan timbangan agama bukan dengan
timbangan para tetangga.[Artikel Keluarga Sakinah, Keluarga dengan Tetangga, Rabu,
20 Juli 11].
Keluarga sakinah adalah keluarga yang
berupaya menjadikan rumah tangganya berjalan sebagaimana jalur yang benar,
dengan harapan meneladani rumah tangga Rasulullah. Dalam rumah tangga, apapun
yang dilakukan bersama pasangan tidak boleh orang lain tahu, inilah yang
disebut dengan rahasia kamar.
Ini adalah sebuah rahasia yang tidak
boleh bocor ke luar kamar, apa pun alasannya, alasan keterbukaan di sini tidak
diterima, suami atau istri tidak patut membukanya kepada siapa pun, sebagaimana
di saat melakukannya tidak ada orang ketiga, maka setelahnya juga jangan ada
orang ketiga yang tahu karena salah satu dari suami atau istri buka mulut.
Seorang istri tidak boleh membuka apa
yang terjadi di dalam kamar dengan suaminya kepada keluarganya atau kepada
siapa pun, sekalipun dia adalah teman dekatnya atau sahabat karibnya, karena
rahasia semacam ini termasuk aurat yang tidak boleh diumbar atau dibuka, masa
aurat sendiri di bawa ke mana-mana secara terbuka? Malu.
Menjaga rahasia di bidang ini termasuk
perekat kelanggengan rumah tangga, sebaliknya membukanya memicu jalan setan
yang durjana, di samping bisa menghancurkan rumah tangga. Bila seorang wanita
dilarang menyebutkan sifat-sifat atau ciri-ciri wanita lainnya kepada suaminya,
karena hal itu bisa membuka ruang fantasi suami kepada wanita tersebut, dan
selanjutnya adalah setan gundul yang akan bekerja, maka membuka rahasia kamar
suami istri tidak berbeda akibatnya dengan hal itu. “Sesungguhnya seburuk-buruk
manusia di hadapan Allah pada hari Kiamat adalah seorang suami yang mendatangi
istrinya kemudian dia menyebarkan rahasianya.” (Diriwayatkan oleh
Muslim).[Artikel Keluarga Sakinah, Rahasia dibuka gak ya? (2), Jumat, 29 Oktober 10].
Keharmonisan rumah
tangga dan kemesraan suami isteri harus dijaga dengan baik melalui berbagai
perhatian walaupun nampaknya kecil dan remeh tapi sangat penting sekali yaitu
menjaga kebersihan mulut dengan melakukan sikat gigi atau siwak.
Salah satu bagian tubuh yang perlu
diperhatikan kebersihannya oleh suami istri adalah mulut, hal ini karena mulut
merupakan satu-satunya jalan masuk bagi makanan ke dalam tubuh, karena ia
adalah jalan maka secara otomatis terdapat sisa-sia makanan yang tertinggal di
sana yang apabila dibiarkan akan menjadi sarang berkembangnya bibit penyakit,
di samping menumpuknya sisa makanan bisa merusak gusi dan gigi. Dan yang tidak
kalah pentingnya adalah aroma yang keluar dari mulut menjadi tidak sedap,
membuat lawan bicara terganggu, bukankah lawan bicara terdekat kita adalah
suami atau istri kita?
Tidak sampai di sini, membiarkan dan
menelantarkan kebersihan mulut bisa menjadi pemicu ketidakmesraan suami istri,
mengapa? Karena seperti yang telah diketahui bersama bahwa salah satu sarana
kemesraan suami istri adalah kedekatan fisik yang salah satunya adalah ciuman,
dan ciuman terbaik dan terkasih antara suami istri adalah ciuman bibir, kalau
mencium pipi dan kening maka itu untuk anak-anak atau orang lain, untuk istri
atau suami adalah yang spesial yaitu bibir. Sekarang Anda bayangkan bagaimana
perasaan Anda pada saat hendak mencium istri atau suami di bibirnya, tiba-tiba
yang tercium oleh Anda adalah bau naga alias bau mulut yang terkenal sebagai
salah satu bau yang tidak sedap? Mau? Terserah Anda, akan tetapi penulis yakin
siapa pun tidak menyukai bau yang tidak sedap. Jika Anda tidak menginginkan hal
ini untuk diri Anda, tentunya tidak adil kalau Anda menginginkannya untuk
pasangan Anda.
Terkait dengan kebersihan mulut demi
menjaga baunya agar senantiasa netral maka penulis menyarankan jika Anda adalah
suami perokok maka segera hentikan, karena kasihan istri Anda, pada saat Anda
menyorongkan bibir ke bibirnya, itulah saat-saat yang sangat menyiksanya tetapi
dia tidak berani menolak, hendaknya suami perokok menyadari, kalau istri bisa
memilih antara perokok dengan bukan perokok pasti dia akan memilih yang kedua,
sebab dia bisa menikmati, tanpa takut bau rokok yang busuk itu, ciuman mesra
dari suami.
Dari sini Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam mengajak umatnya membersihkan mulut dengan alat yang ada pada masa
beliau bahkan tetap yang terbaik sampai saat ini yaitu siwak setiap saat,
beliau menyatakan bahwa di samping bersiwak itu mendatangkan ridha ar-Rabb, ia
juga menyucikan mulut.
Dari Aisyah bahwa Nabi shallallahu
'alaihi wasallam bersabda, “Siwak itu menyucikan mulut, mendatangkan ridha
Rabbi.” Diriwayatkan oleh an-Nasa`i, Ibnu Khuzaemah, Ibnu Hibban dan
al-Bukhari secara muallaq, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih
at-Targhib wa at-Tarhib
Nabi juga menegaskan pentingnya bersiwak
pada kondisi-kondisi tertentu seperti pada saat berwudhu, pada saat hendak
shalat, pada saat membaca al-Qur`an dan pada saat bangun malam. Imam al-Bukhari
meriwayatkan dari Hudzaefah berkata, “Apabila Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
bangun malam beliau membersihkan mulutnya dengan siwak.” [Artikel Keluarga
Sakinah, Siwak dan Suami Istri,Jumat, 03 Juni 11].
Keluarga
sakinah bukan berarti keluarga yang aman-aman saja, tidak ada masalah, keluarga
sakinah adalah keluarga yang berupaya menyelesaikan masalah dengan baik.
Keluarga sakinah adalah keluarga yang juga banyak kekurangannya tapi suami
isteri yang berada di dalamnya berupaya meminimalisir kekurangan dan sekaligus
melihat kelebihan masing-masing, keluarga sakinah inilah yang menjadi idaman
seorang muslim sebagaimana yang diungkapkan oleh Rasulullah bahwa rumahku
adalah syurga bagiku, Wallahu A’lam. [Baloi Indah, 10 Ramadhan 1436.H/ 2015, Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam, Kepri]
PROFIL PENULIS
Penampilan
sederhana ini bernama Mukhlis yang dilahirkan di ujung Selatan Pulau
Sumatera yaitu Metro [Lampung Tengah] tanggal 3 April 1964
anak ketiga dari ayah bernama Sutan
Denak dan ibu Rosnidar dengan enam orang adik kakak yaitu Ernawati, Marsudi,
Erma, Septiyani, Mahdalena dan Adek Wahyuli, isteri bernama Yulismar S.Pd
[Ayang] dengan seorang anak wanita bernama Rani Ihsani Mukhlis, nama yang akrab
di kalangan teman dan sahabatnya adalah Mukhlis Denros. Kampung asalnya Kampani Barangan Selatan,
Nagari Lurah Ampalu, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak Kabupaten Padang
Pariaman, Sumatera Barat, dengan suku Koto, besar dan menempuh pendidikan di
Kota Lada Metro Lampung.
Pendidikan yang pernah ditempuhnya yaitu
SDN yang dimulai di SDN Koto Marapak [Kota Pariaman], ketika kelas IV dia harus
meninggalkan kampung bersama ayah dan ibunya menuju Metro, SD diselesaikannya
di SDN IV Metro, dilanjutkan ke SMP PGRI Metro, kemudian SMAN 135 Metro yang
dapat diselesaikan tahun 1984, tidak ada maksud untuk kuliah karena berbagai
faktor, berkat dorongan teman-teman dan gurunya terutama Ustadz Masnuni M.Ra'i,
Alfuadi Rusli, H. Muhammad Lazim, H. Fakhrudin, Sugito, Hayumi Rb,Hayumi Rf, H.
Rasyidin dan Malin Marajo di Masjid Al Jihad akhirnya tahun ini juga
melanjutkan kuliah di IAIN, inilah pendidikan terakhir yang ditempuhnya yaitu
Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Institut Agana Islam Negeri
[IAIN] Raden Intan Lampung di Metro
tamat tahun 1990. Ketika tamat kuliah dia harus meninggalkan Metro dan memulai
kiprahnya di Koto Baru Kabupaten Solok Sumatera Barat sebagai pendidik, dosen,
penulis, mubaligh hingga sebagai
politisi akhirnya.
Sejak di bangku SMA hingga tamat kuliah,
Mukhlis giat di OSIS Gema Al Qur'an AL
Jihad dan Remaja Masjid Al Jihad Metro
bersama teman-temannya Dody Sofial, Abul Fatrida, Yurnalis, M. Syafei,
Irza Murni, Gusnita, Herwina, Afrizal, Yohanes dan Rita Suryani, dikala kuliah
bergabung dengan HMI Cabang Metro bersama Ahmad Ridwan, Gatot Subroto, Sigit
Triyono, Syuhada', Raihan dan Usdek, mengikuti pengkaderan Basic Training di
Metro tahun 1985 dan Intermediate Training di Palembang tahun 1986 dan pernah
menjabat sebagai Sekretaris HMI Komisariat IAIN dan wakil sekretaris HMI Cabang
Metro.
Menjadi guru adalah cita-citanya sejak
awal dan hal itu telah terujud walaupun tidak sebagai PNS, pernah mengajar di
GAA dan SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah, mengajar di SMEA Budi Mulia Koto
Baru, MTsN Koto Baru Solok dan sebagai dosen PGTK Adzkia Padang, Aktivitas
sebagai pendidik ini dia tekuni sejak di bangku kuliah tahun 1984 sampai tahun
2000, kemudian aktif sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok utusan dari Partai
Keadilan/Partai Keadilan Sejahtera, selama dua periode 1999-2009. Di Solok
bersama teman-temannya yaitu Mahyeldi Ansharullah, Afrizal M Noor, Muhidi,
Nurfirmanwansyah, Johandrizon Syamsu, Ahmad Syafwan Nawawi, Firmansyah, Abdul Ghani,
Gustami Hidayat, Saifullah Salim,
Rudianto, Busril, Endrizal, Ismail Zain, Devi Herizon, Ilzan Sumarta, dan Helmi
Darlis merintis kegiatan da'wah sejak tahun 1990 di sekolah, kampus, dan
masjid-masjid melalui pesantren kilat, diskusi, ceramah dan khutbah sebagai
cikal bakal berdirinya Partai Keadilan ketika itu.
Tahun 1998 dikala Reformasi terjadi,
sekian partai berdiri untuk menyongsong Indonesia yang lebih demokratis setelah
lengsernya Soeharto kemudian dilanjutkan oleh BJ Habibie, berdiri pulalah
partai yang berbasiskan anak-anak muda kampus dengan kapasitas da'wah dan
tarbiyah, partai itu bernama Partai
Keadilan. Mukhlis diamanatkan oleh DPW PK Sumatera Barat sebagai ketua DPD PK
di Kabupaten Solok, pelantikan pengurus DPW dengan ketua Drs. Ahmad Syafwan
Nawawi dan DPD PK se Sumatera Barat dikukuhkan di Padang oleh DR. Nur Mahmudi
Ismail MSc sebagai Presiden Partai Keadilan pertama.
Dikala Partai Keadilan menjadi Partai Keadilan Sejahtera untuk kedua
kalinya Mukhlis Denros dipercaya sebagai ketua DPD di Kabupaten Solok dan
jabatan terakhir di partai dipercayakan kepadanya adalah sebagai Ketua Zona
Da'wah VII PKS Sumatera Barat hingga tahun 2007, yang membina DPD PKS Kota
Solok, Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan. Terlalu banyak pelajaran
dan pengalaman yang dia terima dari kegiatan da'wah dan partai bersama
teman-temannya
Mukhlis Denros, demikian akrab di sapa,
selain sebagai pendidik juga aktif berda’wah baik melalui ceramah, diskusi
agama, khutbah dan penyebaran tulisannya melalui Buletin Da’wah Garda Anak
Nagari serta media Nasional yang pernah memuat tulisannya seperti Majalah
Serial Khutbah Jum’at, Majalah Suara Masjid , Majalah Sabili, Majalah Tarbawi,
Majalah Ishlah, Majalah Reformasi Jakarta, Majalah Al Muslimun Bangil serta koran
Swadesi dan Sentana juga pernah memuat tulisannya yang sarat dengan pendidikan
dan nuansa islamnya, Media Mimbar Minang Padang selama bulan Ramadhan penuh
memuat tulisannya tiap hari terbit. Dia
tidak pernah membuang waktu dengan kegiatan yang tidak ada manfaatnya,
waktunya selalu terisi dengan aktivitas positif seperti membaca atau menulis
selain kegiatan harian lain.
Mukhlis
Denros Terima Penghargaan Sebagai Penulis Terbaik dari Media Suara Keadilan
Rakyat (SKR) , Minggu (15/12) di Gedung Pusat Kebudayaan kota
Sawahlunto.Penghargaan tersebut merupakan program Tabloit SKR yang selama ini
membentuk tim untuk melakukan penilaian terhadap sejumlah penulis dan tokoh di
Sumatera Barat dengan sejumlah kategori yang ditetapkan.
Penganugerahan sebagai Penulis Terbaik SKR Awards 2013
yang diberikan kepada Mukhlis Denros diserahkan oleh Wakil Wali Kota Sawah
Lunto yaitu Bapak Ismet SH, Mukhlis Denros dinilai sebagai penulis terbaik
karena konsistensinya dalam menulis berbagai pemikiran berkaitan dengan dakwah,
pendidikan dan politik yang telah melahirkan berbagai buku yang diterbitkan
oleh penerbit.
Mukhlis
Denros menerima berupa plakat dan piagam sebagai bentuk penghargaan atas
keberhasilannya menulis yang dinilai sebagai penulis terbaik, sebagaimana
penilaian TIM SKR yang terdiri dari Prof, Wil Chandry, Fadril Aziz Isaini dan
Prof,DR, H. Salmadanis, Mag.
Pada
malam penganugerahan SKR Awards 2013 tersebut
diserahkan 13 penghargaan dengan kategori berbeda kepada tokoh
lainnyayang dihadiri oleh Wawako Sawahlunto, Ismed, Pimpinan Serikat Perusahaan
Pers Pusat, Totok dan pendiiri Tabloit SKR, Riko Adiutama beserta sejumlah
tokoh Sumatera Barat lainnya.
Moto hidupnya sangat sederhana, agar
bermanfaat bagi orang lain dengan potensi yang dimiliki, semua itu hanya bisa
dilakukan dengan pendidikan yang
berkualitas. Dia menceritakan bahwa karena kegigihan orangtuanyalah untuk
mendidiknya dengan segala kesusahan dan derai air mata tapi akhirnya berhasil
mengantarkannya sebagai sarjana. Sebagai modal hidup di dunia ini,
sehingga dapat dikatakan tak bisa
membalas dan mengukur jasa orangtua yang telah mengantarkan kesuksesannya baik
memimpin partai maupun sebagai anggota
DPRD dalam dua periode ini. Bersama Partai Keadilan dan PPP Kota Solok tahun 2000 dia pernah dicalonkan
sebagai Wakil Wali Kota Solok yang berpasangan dengan Drs. Syukriadi Syukur.
Sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok
selama dua periode diembannya, dia tampil sebagai politisi yang kritis dan
bernas terhadap kebijakan Pemda dan Bupati yang tidak sesuai dengan kepentingan masyarat, diapun tidak
segan-segan menghantam anggota DPRD dikala mereka tidak aspiratif
[http://fraksi pks solok.blogspot.com].
Bersama ustadz
Mahyeldi Ansyarullah dalam gerakan da’wah dengan lembaga Al Madaniy di Padang
yang diawali tahun 1990, Mukhlis Denros banyak terlibat dalam berbagai kegiatan
da’wah seperti tahun 1994 pernah ke Palembang untuk mengikuti pertemuan da’i se
Jakarta dan Sumatera undangan dari Yayasan Bumi Andalas dan tahun 2000 Seminar
Nasional tentang Syari’ah di Medan yang diiringi dengan berbagai pertemuan
da'wah di Sumatera Barat ataupun di Jakarta, selain itu juga pernah selama 2
tahun sebagai da’i dari IIRO [Internasional islamic Relief Organisation] dan
kini sebagai anggota IKADI Solok yang juga memimpin yayasan Garda Anak Nagari
Sumatera Barat.
Organisasi lain yang
ikut dia tekuni selama di DPRD adalah sebagai Sekjen Majelis Ulama Indonesia
[MUI] Kabupaten Solok, sebagai Badan Pengawas Badan Amil Zakat Kabupaten Solok,
juga ikut membidani lahirnya beberapa lembaga da'wah berbentuk Yayasan di
Kabupaten Solok yang dikelola oleh teman-temannya seperti Yayasan Sinergi
Ummat, Yayasan Lukmanul Hakim, Yayasan Amanah Bunda, Yayasan Ahda Sabila,
Yayasan Nurul Haq, Yayasan Garda Anak Nagari dan Yayasan Selasih Solok.
Setelah dua periode
menyelesaikan tugas sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok, dalam mengisi
kegiatan hariannya Mukhlis Denros bersama isteri Yulismar S.Pd tinggal di
Nagari yang berbukit dan berlembah, yang sejuk dan asri, jauh dari kebisingan,
aman dan nyaman yaitu Jorong Cubadak Nagari Pianggu Kecamatan IX Koto Sungai
Lasi, Kabupaten Solok, Sumatera Barat tetap konsisten dengan kegiatan
sebelumnya yaitu da'wah dan menulis.
Sejak bulan Februari 2015, setelah enam tahun tinggal
di Cubadak Pianggu Kecamatan Sungai Lasi Kabupaten Solok Sumatera Barat, kini Mukhlis Denros menetap di Kota Batam
Kepri, turut berkiprah sebagai staf di Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Kota
Batam yang diketuai oleh Ibu Dra. Hj.
Helma Munaf, M.Pd dan bergabung pula dengan PMB [Persatuan Mubaligh Batam].
Di Batam, Mukhlis Denros dengan Pedro Johansis dan Mardison
mengembangkan Yayasan Garda Anak Nagari dengan membuka Garda Anak Nagari Provinsi Kepulauan Riau,
Insya Allah dalam waktu dekat akan membuka cabang Garda Anak Nagari di seluruh
Kabupaten dan Kota di Provinsi Kepulauan
Riau, semoga hal itu terujud.
DATA PRIBADI
Nama Lengkap :
Drs. St. Mukhlis Denros
Tempat dan Tanggal Lahir : Metro, 3 April 1964
Jumlah bersaudara : Anak ke 3 dari 7 orang
Nama Ayah : Sutan Denak
Nama Ibu : Rosnidar
Nama Isteri : Yulismar, S.Pd
Nama Anak : Rani Ihsani Mukhlis
RIWAYAT PENDIDIKAN
1.
SDN 4 Metro
Lampung, tamat tahun 1975
2.
SMP PGRI Metro
Lampung, tamat tahun 1981
3.
SMAN 135 Metro
Lampung, tamat tahun 1984
4.
Gema Al Qur'an Al
Jihad Metro tamat tahun 1988
5.
Sarjana Muda
Tarbiyah IAIN Raden Intan Lampung, tahun
1988
6.
Sarjana Tarbiyah
IAIN Raden Intan Lampung tamat tahun 1990
PENGALAMAN ORGANISASI
1.
Ketua Osis GAA Metro Lampung Tengah 1987-1989
2.
Sekum IRM Al Jihad Metro Lampung Tengah 1986-1988
3.
Wakil Sekretaris HMI Cab. Metro Lampung Tengah 1985-1990
4.
Sekjen
Majelis Ulama Indonesia [MUI}
Kab. Solok 2005/2006
5.
Anggota Pengawas BAZ
Kabupaten Solok 2006
6.
Anggota IKADI (Ikatan Da’i Indonesia)
Kabupaten Solok
7.
Da'i
IIRO [International Islamic Relief Org.] Sumbar 1995-1997
8.
Ketua Yayasan
Garda Anak Nagari Sumatera Barat
9.
Ketua Pembina Yayasan Selasih Kabupaten Solok
10.
Ketua Pembina Yayasan Lukmanul Hakim Kota
Solok
11.
.Ketua Yayasan Garda Anak Nagari Kab.Solok
2000-2005
12.
Pembina Yayasan Sinergi Ummat Kota Solok
13.
Pembina Yayasan Amanah Bunda Kabupaten Solok
PENGALAMAN
PROFESI
1.
Guru SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah
1988-1990
2.
Guru GAA Metro Lampung Tengah 1988-1990
3.
Guru MTsN Koto Baru Kabupaten Solok 1997-1999
4.
Guru SMK Budi Mulia Koto Baru Kab. Solok
1991-2000
5.
Dosen PGTK Adzkia Kota Padang 1994-2000
6.
Anggota
DPRD Kabupaten Solok Periode
1999-2004
7.
Anggota DPRD Kabupaten Solok Periode 2004-2009
8.
Staff Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam,
2015-
PERJALANAN
DA'WAH
1.
Maperca dan Basic Training HMI Cabang Metro
1985
2.
Intermediate Training HMI di Palembang 1986
3.
Latihan Pers Mahasiswa IAIN di Tanjung Karang
1986
4.
Tarbiyyah Islamiyyah di Sumatera Barat
1990-1994
5.
Muzakarah Du'at se Sumatera /Jakarta di
Sumatera Selatan 1994
6.
Muzakarah Du'at se Sumatera/Jakarta di Sumatera Selatan 1996
7.
Muzakarah Du'at se Sumatera/ Jakarta di Bukit Tinggi 1998
8.
Muzakarah Manajemen Zakat, IMZ Jakarta 2002
9.
Seminar Syari'ah Nasional di Medan Sumatera
Utara 2000
10.
Pertemuan Anggota DPRD se Indonesia di Jakarta 2000
11.
Pertemuan Anggota DPRD se Indonesia di Bogor 2002
12.
Pertemuan da'i IIRO se Indonesia di Jakarta 2000
13.
Silaturrahmi Nasional Anggota Legislatif di
Jakarta 2005
BUKU YANG
TELAH DITERBITKAN
1.
Fikih Wanita, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
2.
Tarbiyatul Aulad, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
3.
Kumpulan Ceramah Praktis, Nurul Haq, 2010
4.
Renungan Ramadhan, Pustaka Setia Bandung, 2011
5.
Memanusiakan Manusia, Qibla Jakarta, 2011
6.
Kumpulan Khutbah Jum’at, Pustaka Setia Bandung, 2011
7.
Khutbah Jum’at, Janji Allah dan Upaya Meraihnya, Arkola
Surabaya, 2011
8.
Khutbah Jum’at Penyejuk Hati, Pustaka Albana Jogjakarta,
2012
9.
Andai Aku Tahu Dosa Itu Ada, FAM Publishing Kediri, Jawa
Timur, 2012
10.
Kumpulan Khutbah Jum’at Terbaik, Mutiara Media, Jogjakarta, 2013
11.
Man Rabbuka, Al Barokah, Jogjakarta, 2014
12.
Ensiklopedi Penulis Indonesia Jilid I, FAM Publishing Kediri,
Jawa Timur,2014
13.
Kumpulan Khutbah Pengobat Hati, Mutiara Media, Jogjakarta, 2014
PUBLIKASI
TULISAN DI MEDIA
1.
Majalah Serial Khutbah Jum'at, Jakarta
2.
Majalah Suara Masjid, Jakarta
3.
Majalah Ishlah, Jakarta
4.
Majalah Reformasi, Jakarta
5.
Majalah Al Muslimun, Bangil
6.
Majalah Sabili, Jakarta
7.
Majalah Tarbawi, Jakarta
8.
Majalah Muamalat, Jakarta
9.
Majalah Kiblat, Jakarta
10.
Majalah Harmonis, Jakarta
11.
Majalah Estafet, Jakarta
12.
Majalah Sakinah, Jakarta
13.
Harian Serambi Minang, Padang
14.
Harian Semangat, Padang
15.
Harian Mimbar Minang, Padang
16.
Harian Singgalang, Padang
17.
Tabloid Sumbar Post, Padang
18.
Tabloid Zaman, Padang
19.
Tabloid Solinda, Kabupaten Solok
20.
Tabloid Lentera, Padang
21.
Tabloid Suara Keadilan Rakyat, Sawahlunto
22.
Tabloid, Media Islam Batam
23.
Tabloid Dyi’ar Islam Batam
24.
Buletin DPW PKS Sumatera Barat, Padang
25.
Buletin Riswan, Koto Baru Kabupaten Solok
26.
Buletin Da'wah Masjid Al Furqan Kota Solok
27.
Buletin Da'wah Garda Anak Nagari Kabupaten
Solok
28.
Buletin Da'wah Sebening Embun
29.
Buletin Da'wah Selasih Solok
30.
Mingguan Suara Rakyat, Solok
31.
Mingguan Bijak, Padang
32.
Mingguan Swadesi, Jakarta
33.
Mingguan Sentana, Jakarta
34.
Mingguan Raden Intan Pos, IAIN Lampung
35.
Pariaman Post, Sumatera Barat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar