RAMADHAN DAN USWATUN HASANAH
Drs.St.Mukhlis Denros
Kesempatan baik bagi siapa saja
untuk menunjukkan jati dirinya di tengah keluarga dan masyarakat pada bulan
Ramadhan ini dengan akhlak yang mulia melalui ibadah puasa sehingga cermin
kesabaran, kedisiplinan, ketaatan dan keikhlasan menjadi teladan yang layak
dicontoh teladani.Anak menjadikan orangtua, guru dan tokoh masyarakat sebagai
uswatun hasanah. Keteladanan itu akan selalu tumbuh pada bulan ini, sebab
banyak peluang untuk menumbuhkannya.
Manusia
di dunia ini membutuhkan contoh teladan dalam hidupnya sebagai figure yang akan
memotivasinya untuk berbuat dan bercita-cita, contoh teladan atau uswatun
hasanah itu bisa melalui ayah dan ibunya, bapak dan ibu gurunya atau tokoh yang
ada di masyarakat, bahkan tidak sedikit menjadikan contoh teladannya dari
pemain sepak bola, petinju, bintang sinetron atau penyanyi, padahal contoh
teladan itu haruslah orang-orang yang memang mengajak kepada kebaikan untuk
membangun kepribadiannya kelak.
Syaikh
Musthafa Masyhur mengawali bukunya dengan “teori keteladanan.”
Bahwa manusia yang diberi nikmat indra dan akal oleh Allah SWT bisa mendapatkan
petunjuk dan keteladanan. Dan, umumnya setiap dakwah dan seruan akan lebih
efektif ketika ada keteladanan aplikatif. (qudwah amaliyah).
Teori lain yang ditulis di
awal adalah kebiasaan orang lemah meniru orang kuat. Teori ini sejalan dengan
teorinya Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah. Seperti anak kecil yang meniru orang
dewasa, demikianlah orang yang lemah pendirian akan meniru orang-orang kuat;
sama halnya negara-negara lemah dan terjajah meniru negara-negara besar dan
maju. Ketika yang dapat ditangkap oleh orang-orang berjiwa lemah itu adalah
keburukan saja, maka mereka akan mengikuti keburukan. Namun saat mereka melihat
keteladanan positif dari orang-orang kuat dan pejuang dakwah, itu pun akan
mempengaruhi kehidupannya. Dan di sinilah letak pentingnya keteladanan.[Abu Nida,Resensi Buku Urgensi Al-Qudwah di
Jalan Dakwah karya Syaikh Musthafa Masyhur, dakwatuna.com8/8/2011
| 09 Ramadhan 1432 H].
Orangtua
atau guru yang baik, mengarahkan anak-anaknya agar menjadikan figure yang
diteladani itu adalah Rasulullah, keteladanan ini Allah gambarkan dalam ayat Al
Qur’an“Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”[Al Ahzab 33;21]
Rasulullah adalah manusia paripurna yang
diciptakan Allah di dunia. Segala keistimewaan diberikan kepadanya.
Kehidupannya dihiasi dengan segala pernik keindahan. Akhlaknya menebar
keharuman. Sirahnya bagai minyak kasturi bagi kehidupan. Pesan-pesannnya
menyentuh setiap insan. Lembut perawakannya. Santun ucapan katanya. Padat
ungkapan kalimatnya.
Allah
SWT berfirman:Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang
luhur. (QS al-Qalam [68]: 4)
Istrinya
tercinta, Aisyah pernah berkata:Akhlaknya adalah Al-Qur’an .... (HR Ahmad)
Demikian
juga Rasulullah adalah sosok yang penyantun dan penyayang. Cinta menebarkan
kemanfaatan dan menolak segala yang menimbulkan kemadharatan. Allah
mengabadikan sifat itu dalam firman-Nya: Sungguh, telah datang kepadamu
seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu
alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang
yang beriman. (QS at-Taubah [9]: 128)
Berikut
kami sajikan beberapa contoh kesempurnaan sifat-sifat beliau dalam beberapa
kisah berikut yang diceritakan kembali oleh para perawi hadits. Bukan hanya
pengakuan dari sahabatnya, melainkan juga para musuhnya. Itulah kelebihan yang
dimiliki Rasulullah sehingga siapa pun ikut mengaguminya. Meskipun sebagai
manusia pilihan yang mendapat kepercayaan untuk menyampaikan risalah,
Rasulullah selalu bersikap tenang dan penyayang kepada siapa pun. Bahkan, pada
binatang pun beliau sangat menyayanginya, sebagaimana kisah di bawah ini.
Uqa'il bin Abi Thalib pergi bersama-sama dengan
Nabi Muhammad saw. Pada waktu itu Uqa'il telah melihat peristiwa ajaib yang
menjadikan hatinya bertambah kuat di dalam Islam dengan sebab tiga perkara
tersebut. Peristiwa pertama adalah ketika Rasulullah saw. akan
mendatangi hajat untuk membuang air besar dan di hadapannya terdapat beberapa
batang pohon. Kemudian Rasulullah saw. berkata kepada Uqa'il, "Hai Uqa'il
teruslah engkau berjalan sampai ke pohon itu dan katakanlah kepadanya bahwa
Rasulullah berkata agar kamu semua datang kepadanya untuk menjadi penutup
baginya karena sesungguhnya Rasulullah akan mengambil air wudhu dan buang air
besar."
Uqa'il pun keluar dan pergi menemui pohon-pohon itu. Akan tetapi, sebelum dia
menyelesaikan tugas itu, ternyata pohon-pohon sudah tumbang dari akarnya dan
sudah mengelilingi Rasulullah saw. Peristiwa kedua adalah ketika Uqa'il
merasa sangat haus dan sudah mencari air ke mana-mana, tetapi tidak ditemui.
Kemudian Rasulullah saw. berkata kepada Uqa'il bin Abi Thalib, "Hai
Uqa'il, dakilah gunung itu dan sampaikanlah salamku kepadanya, serta katakan, "Jika
pada dirimu ada air, berilah aku minum!"
Uqa'il pun segera pergi mendaki gunung itu dan berkata pada gunung itu,
sebagaimana pesan Rasulullah saw. Akan tetapi, sebelum ia selesai berkata,
gunung itu berkata dengan fasihnya, "Katakanlah kepada Rasulullah bahwa
aku sejak Allah S.W.T menurunkan ayat yang bermaksud, ’Wahai orang-orang
yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan
bakarnya adalah manusia dan batu ..." (QS At-Tahrīm [66]: 6).
"Aku menangis karena takut kalau aku menjadi batu itu sehingga tidak ada
lagi air padaku."
Peristiwa ketiga adalah ketika Uqa'il sedang berjalan dengan
Rasulullah saw., tiba-tiba ada seekor unta yang meloncat dan lari ke hadapan
Rasulullah. Kemudian unta itu
berkata, ”Ya Rasulullah, aku minta perlindungan darimu.” Unta masih belum
selesai mengadukan halnya, tiba-tiba datang dari belakang seorang Arab kampung
dengan membawa pedang terhunus. Melihat orang Arab kampung membawa pedang
terhunus, Nabi Muhammad saw. berkata, "Apa yang akan kamu lakukan dengan
unta itu?”
Orang kampung itu menjawab, "Wahai
Rasulullah, aku telah membelinya dengan harga yang mahal, tetapi dia tidak mau
taat atau jinak sehingga akan kupotong saja dan akan kumanfaatkan dagingnya
(kuberikan kepada orang-orang yang memerlukan).”
Rasulullah saw. bertanya pada unta, "Mengapa
engkau mendurhakai dia?"
Jawab unta itu, "Wahai Rasulullah, sungguh
aku tidak mendurhakainya dari satu pekerjaan, tetapi aku mendurhakainya karena
perbuatannya yang buruk. Dia bersama kabilah-kabilahnya tidur dan meninggalkan
shalat Isya’. Seandainya ia mau berjanji kepadamu untuk mengerjakan shalat
Isya’, aku berjanji tidak akan mendurhakainya lagi karena aku takut kalau Allah
menurunkan siksa-Nya kepada mereka, padahal aku berada di antara mereka."
Akhirnya,
Nabi Muhammad saw. membuat perjanjian dengan orang Arab kampung itu bahwa dia
tidak akan meninggalkan shalat Isya'. Orang itu pun menyanggupinya. Kemudian
Rasulullah saw. menyerahkan unta itu kepadanya dan dia pun kembali kepada
keluarganya.[dari berbagai sumber].
Pepatah mengatakan, “Buah
jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Artinya anak akan berperilaku sebagaimana
teladan yang ditampilkan oleh kedua orangtuanya.
Sejak lahir anak akan
memperhatikan perilaku kedua orangtuanya. Oleh karena itu, cara efektif yang
perlu dilakukan oleh orangtua adalah berusaha menjadi figur yang baik.
Menampilkan uswah (keteladanan)
dan sebisa mungkin tidak menampilkan sikap diri yang kurang baik atau negatif.
Selain itu, pesan penting yang
Rasulullah saw wasiatkan kepada umatnya ialah agar berpegang teguh terhadap
al-Qur’an dan sunnah beliau.
Dalam penuturan Dr. Ir.
Muhammad al-Husaini Ismail, seorang intelektual Mesir yang sempat mengalami
keguncangan pemikiran dan kemudian memilih untuk istiqomah dalam keimanan menyatakan
bahwa, “Di hadapan al-Qur’an akal dan kemampuan manusia tak lebih dari
segerombolan para kurcaci.”
Artinya seluruh persoalan yang
dihadapi manusia, al-Qur’an memberikan solusi. Selanjutnya bergantung pada
manusia itu sendiri, mau mempelajarinya atau tidak.
Pernyataan tersebut sudah
cukup mewakili bahwa setiap keluarga muslim wajib mencintai al-Qur’an.
Mencintai dalam hal ini ialah senantiasa membudayakan iqra al-Qur’an (membaca
al-Qur’an, memahami, mengamalkan dan berusaha mengajarkan kepada yang lain).
Dengan demikian maka kita bisa menjadi seorang Muslim yang benar-benar hidup
dengan al-Qur’an sebagai pedoman.[Imam Nawawi.hidayatullah,com.Jadilah Figur Teladan Anak Kita ,Kamis,
18 Agustus 2011].
Karena
pentingnya keteladanan atau uswatun hasanah bagi anak maka orangtua harus
memberi contoh dan menunjukkan sikap
yang patut diteladani oleh anak-anaknya, Khofifah Indar Parawansa dalam
tulisannya mencontohkan figure seorang ayah yang diperankan oleh Lukmanul
Hakim, sebagaimana yang dituangkannya dalam tulisan dibawah ini;
Nama Luqmanul Hakim sangat
popular dalam dunia Islam, karena nasihat-nasihatnya yang penuh hikmah. Bukan
sekadar pesan, namun nasihatnya merupakan pendidikan seorang bapak terhadap anaknya
yang penuh dengan kasih sayang serta ajaran tentang akidah dan akhlak. Karena
keteladanannya dalam mendidik anak itu pula, Allah mengabadikan namanya dalam
Alquran, yakni Surah Luqman.
Tentang asal-usul Luqman, ada
beda pendapat di antara para ulama. Ibnu Abbas menyatakan bahwa Luqman adalah
seorang tukang kayu dari Habsyi. Riwayat lain menyebutkan, ia bertubuh pendek
dan berhidung mancung dari Nubah, dan ada yang berpendapat dia berasal dari
Sudan. Dan, ada pula yang berpendapat Luqman adalah seorang hakim di zaman Nabi
Daud AS.
Ada enam hal penting yang
disampaikan Luqman kepada anaknya. Pertama, larangan mempersekutukan Allah. (QS
Luqman: 13). Kedua, berbuat baik kepada dua orang ibu-bapak. (QS Luqman: 14).
Ketiga, sadar terhadap pengawasan Allah. (QS Luqman: 16). Keempat, mendirikan
shalat, 'amar makruf nahi mungkar, dan sabar dalam menghadapi persoalan. (QS
Luqman: 17). Kelima, larangan sombong dan membanggakan diri (QS Luqman: 18).
Dan keenam, bersikap sederhana dan bersuara rendah (QS Luqman: 19).
Banyak pelajaran yang dapat
dipetik dari kisah Luqman tersebut, terutama soal keteladanan seorang bapak
dalam mendidik anak. Luqman menanamkan tauhid dan keimanan kepada Allah SWT,
juga norma dan tata cara berhubungan dengan keluarga dan masyarakat luas.
Luqman tidak hanya berbicara, tapi langsung memberikan uswah (teladan) kepada
anaknya.
Urgensi keteladanan disebutkan
dalam hadis nabi. "Barang siapa yang memberikan contoh baik, maka baginya
pahala atas perbuatan baiknya dan pahala orang yang mengikuti hingga hari
kiamat, yang demikian itu tidak menghalangi pahala orang-orang yang
mengikutinya sedikit pun. Dan barang siapa yang memberi contoh buruk, maka
baginya dosa atas perbuatannya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari
kiamat. Yang demikian itu tanpa dikurangi sedikit pun dosa orang-orang yang
mengikutinya." (HR Imam Muslim).
Dalam konteks sekarang, kisah
Luqman perlu disosialisasikan secara terus-menerus di tengah bermunculannya
kasus anak-anak yang tidak mendapatkan hak sewajarnya dalam keluarga. Mereka
hidup nyaris tanpa perlindungan. Bahkan, banyak anak hidup di bawah ancaman dan
kekerasan, karena orang tua lari dari tanggung jawab. Di sisi lain, kini banyak
perilaku negatif di masyarakat yang bisa mendorong anak-anak menjadi jauh dari akidah
dan akhlak Islam. Tayang televisi yang kurang bermutu, serta maraknya aksi
pornografi dan pornoaksi, merupakan bagian dari penyebabnya. Akibatnya,
anak-anak kerap mengalami krisis keteladanan.[Keteladanan dalam Mendidik Anak, republika.co.id.
Kamis, 02 Juni 2011 02:00 WIB].
Contoh yang baik atau uswatun
hasanah dalam masyarakat harus diujudkan agar masyarakat kita jadi masyarakat
yang baik, figure yang diharapkan jadi teladan dalam kehidupan yang baik itu
adalah semua ummat islam, semua kita harus tampil di manapun juga sebagai
contoh mulia bagi orang-orang di sekeliling kita, lebih-lebih lagi bila kita
seorang da’i tentu keteladannya ditunggu oleh masyarakat.
Para dai adalah qudwah,
terutama bagi orang-orang bertaqwa. Inilah doa dan harapan Ibadurrahman
(hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang) yang dijanjikan surga di akhirat kelak.“Dan
orang orang yang berkata: “Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami
isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan
Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” [Al Furqan]
Ia perbaiki dirinya untuk bisa
menjadi teladan bagi isteri dan anak-anaknya. Ia perbaiki keluarganya untuk
dapat menjadi teladan bagi orang-orang bertaqwa di sekelilingnya.
Bukan sembarang keteladanan
yang dicontohkan, tetapi teladan yang bisa diikuti orang-orang bertaqwa yang
mengharapkan janji Allah, meyakini akhirat, dan banyak mengingat Allah.
Inilah fokus keteladanan yang
sangat diharapkan di jalan dakwah. Keteladan untuk mengantarkan orang
memperoleh janji Allah. Keteladanan untuk mendapatkan akhirat yang baik.
Keteladanan untuk senantiasa mengingat Allah.
Dari itulah Allah tegaskan
keteladanan Rasulullah saw dengan sebutan USWATUN HASANAH, bukan sekedar uswah.
Sebab jika keteladanan yang ditampilkan tidak bernilai kebaikan atau bahkan
membuat orang jauh dari kebaikan, justru akan menjadi investasi dosa seperti
dalam hadits Rasulullah saw.“Barang siapa yang memulai kebaikan dalam
Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkan di
belakangnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barang siapa yang
memulai keburukan dalam Islam, maka ia mendapatkan dosanya, dan dosa para
pengamal sesudahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” Muslim.
Dari itulah para dai harus
memiliki kepekaan sosial yang tinggi, untuk mencontohkan apa yang menjadi
kebaikan umat menggapai akhirat, dan menjauhkan diri dari semua sikap dan
tindakan yang membuat umat tidak berharap kepada Allah, mengganggu iman mereka
kepada negeri akhirat, dan mengurangi dzikir mereka kepada Allah.
Inilah kewajiban mendasar para
dai, mencontohkan gaya hidup untuk menggapai kebahagiaan akhirat, karena hal
ini tidak bisa dicontohkan oleh siapapun selain para dai. Wanahnu
du’atun qabla kulli sya’in (dan kita adalah para dai sebelum berpredikat
apapun). Berbeda dengan tujuan dunia, siapapun bisa menjadi contoh
tanpa harus menjadi dai.[Teladan di Jalan Dakwah,dakwatuna.com15/1/2010
| 28 Muharram 1431 H,Tim Kajian Manhaj Tarbiyah].
Salah satu contoh teladan yang
patut kita ikuti adalah yang dialami oleh Imam Malik, figure yang punya ilmu
tapi rendah hati dan hidup bersahaja sebagaimana pengakuan dari pelayannya
bernama Abdurrahman bin Qasim berikut ini;
Abdurrahman bin Qasim seorang
pelayan Imam Malik bin Anas, menuturkan kesaksiannya selama menjadi pelayan
beliau. Kata Abdurrahman, "Tidak kurang dua puluh tahun aku menjadi
pelayan Imam Malik. Selama 20 tahun tersebut, aku perhatikan beliau
menghabiskan 2 tahun untuk mempelajari ilmu dan 18 tahun untuk mempelajari
akhlak.
Imam malik dan para ulama yang
baik lainnya, selalu menjaga kualitas akhlaknya. Akhlak kepada Allah, Rasul,
dan sesamanya. Ketinggian derajat, pencapaian ilmu yang mendalam, dan kebesaran
wibawa, tidak membuat mereka merasa lebih mulia dan lebih baik baik dari orang
lain.[Ali Akbar,
Letakkan Akhlak Di Atas Ilmu ,Sabtu, 11 Juni 2011].
Begitu
perbandingannya dalam menuntut, seharusnya lebih banyak kita menghabiskan waktu
kita untuk mempelajari akhlak yang kemudian dengan akhlak itu kita dapat
diteladani oleh orang lain. Siapapun berhak untuk dijadikan sebagai uswatun
hasanahselama orang tersebut dalam hidupnya juga meneladani Rasulullah, karena
keteladan yang sempurna itu adalah keteladanan nabi Muhammad Saw, mencari orang
lain sebagai teladan hidup yang tidak mengacu kepada nilai-nilai akhlak mulia
akan mengalami kekecewaan, Wallahu
a’lam. [Baloi Indah, 6 Ramadhan 1436.H/2015, Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam, Kepri]
PROFIL PENULIS
Penampilan
sederhana ini bernama Mukhlis yang dilahirkan di ujung Selatan Pulau
Sumatera yaitu Metro [Lampung Tengah] tanggal 3 April 1964
anak ketiga dari ayah bernama Sutan
Denak dan ibu Rosnidar dengan enam orang adik kakak yaitu Ernawati, Marsudi,
Erma, Septiyani, Mahdalena dan Adek Wahyuli, isteri bernama Yulismar S.Pd
[Ayang] dengan seorang anak wanita bernama Rani Ihsani Mukhlis, nama yang akrab
di kalangan teman dan sahabatnya adalah Mukhlis Denros. Kampung asalnya Kampani Barangan Selatan,
Nagari Lurah Ampalu, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak Kabupaten Padang
Pariaman, Sumatera Barat, dengan suku Koto, besar dan menempuh pendidikan di
Kota Lada Metro Lampung.
Pendidikan yang pernah ditempuhnya yaitu
SDN yang dimulai di SDN Koto Marapak [Kota Pariaman], ketika kelas IV dia harus
meninggalkan kampung bersama ayah dan ibunya menuju Metro, SD diselesaikannya
di SDN IV Metro, dilanjutkan ke SMP PGRI Metro, kemudian SMAN 135 Metro yang
dapat diselesaikan tahun 1984, tidak ada maksud untuk kuliah karena berbagai
faktor, berkat dorongan teman-teman dan gurunya terutama Ustadz Masnuni M.Ra'i,
Alfuadi Rusli, H. Muhammad Lazim, H. Fakhrudin, Sugito, Hayumi Rb,Hayumi Rf, H.
Rasyidin dan Malin Marajo di Masjid Al Jihad akhirnya tahun ini juga
melanjutkan kuliah di IAIN, inilah pendidikan terakhir yang ditempuhnya yaitu
Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Institut Agana Islam Negeri
[IAIN] Raden Intan Lampung di Metro
tamat tahun 1990. Ketika tamat kuliah dia harus meninggalkan Metro dan memulai
kiprahnya di Koto Baru Kabupaten Solok Sumatera Barat sebagai pendidik, dosen,
penulis, mubaligh hingga sebagai
politisi akhirnya.
Sejak di bangku SMA hingga tamat kuliah,
Mukhlis giat di OSIS Gema Al Qur'an AL
Jihad dan Remaja Masjid Al Jihad Metro
bersama teman-temannya Dody Sofial, Abul Fatrida, Yurnalis, M. Syafei,
Irza Murni, Gusnita, Herwina, Afrizal, Yohanes dan Rita Suryani, dikala kuliah
bergabung dengan HMI Cabang Metro bersama Ahmad Ridwan, Gatot Subroto, Sigit
Triyono, Syuhada', Raihan dan Usdek, mengikuti pengkaderan Basic Training di
Metro tahun 1985 dan Intermediate Training di Palembang tahun 1986 dan pernah
menjabat sebagai Sekretaris HMI Komisariat IAIN dan wakil sekretaris HMI Cabang
Metro.
Menjadi guru adalah cita-citanya sejak
awal dan hal itu telah terujud walaupun tidak sebagai PNS, pernah mengajar di
GAA dan SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah, mengajar di SMEA Budi Mulia Koto
Baru, MTsN Koto Baru Solok dan sebagai dosen PGTK Adzkia Padang, Aktivitas
sebagai pendidik ini dia tekuni sejak di bangku kuliah tahun 1984 sampai tahun
2000, kemudian aktif sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok utusan dari Partai
Keadilan/Partai Keadilan Sejahtera, selama dua periode 1999-2009. Di Solok
bersama teman-temannya yaitu Mahyeldi Ansharullah, Afrizal M Noor, Muhidi,
Nurfirmanwansyah, Johandrizon Syamsu, Ahmad Syafwan Nawawi, Firmansyah, Abdul Ghani,
Gustami Hidayat, Saifullah Salim,
Rudianto, Busril, Endrizal, Ismail Zain, Devi Herizon, Ilzan Sumarta, dan Helmi
Darlis merintis kegiatan da'wah sejak tahun 1990 di sekolah, kampus, dan
masjid-masjid melalui pesantren kilat, diskusi, ceramah dan khutbah sebagai
cikal bakal berdirinya Partai Keadilan ketika itu.
Tahun 1998 dikala Reformasi terjadi,
sekian partai berdiri untuk menyongsong Indonesia yang lebih demokratis setelah
lengsernya Soeharto kemudian dilanjutkan oleh BJ Habibie, berdiri pulalah
partai yang berbasiskan anak-anak muda kampus dengan kapasitas da'wah dan
tarbiyah, partai itu bernama Partai
Keadilan. Mukhlis diamanatkan oleh DPW PK Sumatera Barat sebagai ketua DPD PK
di Kabupaten Solok, pelantikan pengurus DPW dengan ketua Drs. Ahmad Syafwan
Nawawi dan DPD PK se Sumatera Barat dikukuhkan di Padang oleh DR. Nur Mahmudi
Ismail MSc sebagai Presiden Partai Keadilan pertama.
Dikala Partai Keadilan menjadi Partai Keadilan Sejahtera untuk kedua
kalinya Mukhlis Denros dipercaya sebagai ketua DPD di Kabupaten Solok dan
jabatan terakhir di partai dipercayakan kepadanya adalah sebagai Ketua Zona
Da'wah VII PKS Sumatera Barat hingga tahun 2007, yang membina DPD PKS Kota
Solok, Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan. Terlalu banyak pelajaran
dan pengalaman yang dia terima dari kegiatan da'wah dan partai bersama
teman-temannya
Mukhlis Denros, demikian akrab di sapa,
selain sebagai pendidik juga aktif berda’wah baik melalui ceramah, diskusi
agama, khutbah dan penyebaran tulisannya melalui Buletin Da’wah Garda Anak
Nagari serta media Nasional yang pernah memuat tulisannya seperti Majalah
Serial Khutbah Jum’at, Majalah Suara Masjid , Majalah Sabili, Majalah Tarbawi,
Majalah Ishlah, Majalah Reformasi Jakarta, Majalah Al Muslimun Bangil serta koran
Swadesi dan Sentana juga pernah memuat tulisannya yang sarat dengan pendidikan
dan nuansa islamnya, Media Mimbar Minang Padang selama bulan Ramadhan penuh
memuat tulisannya tiap hari terbit. Dia
tidak pernah membuang waktu dengan kegiatan yang tidak ada manfaatnya,
waktunya selalu terisi dengan aktivitas positif seperti membaca atau menulis
selain kegiatan harian lain.
Mukhlis
Denros Terima Penghargaan Sebagai Penulis Terbaik dari Media Suara Keadilan
Rakyat (SKR) , Minggu (15/12) di Gedung Pusat Kebudayaan kota
Sawahlunto.Penghargaan tersebut merupakan program Tabloit SKR yang selama ini
membentuk tim untuk melakukan penilaian terhadap sejumlah penulis dan tokoh di
Sumatera Barat dengan sejumlah kategori yang ditetapkan.
Penganugerahan sebagai Penulis Terbaik SKR Awards 2013
yang diberikan kepada Mukhlis Denros diserahkan oleh Wakil Wali Kota Sawah
Lunto yaitu Bapak Ismet SH, Mukhlis Denros dinilai sebagai penulis terbaik
karena konsistensinya dalam menulis berbagai pemikiran berkaitan dengan dakwah,
pendidikan dan politik yang telah melahirkan berbagai buku yang diterbitkan
oleh penerbit.
Mukhlis
Denros menerima berupa plakat dan piagam sebagai bentuk penghargaan atas
keberhasilannya menulis yang dinilai sebagai penulis terbaik, sebagaimana
penilaian TIM SKR yang terdiri dari Prof, Wil Chandry, Fadril Aziz Isaini dan
Prof,DR, H. Salmadanis, Mag.
Pada
malam penganugerahan SKR Awards 2013 tersebut
diserahkan 13 penghargaan dengan kategori berbeda kepada tokoh
lainnyayang dihadiri oleh Wawako Sawahlunto, Ismed, Pimpinan Serikat Perusahaan
Pers Pusat, Totok dan pendiiri Tabloit SKR, Riko Adiutama beserta sejumlah
tokoh Sumatera Barat lainnya.
Moto hidupnya sangat sederhana, agar
bermanfaat bagi orang lain dengan potensi yang dimiliki, semua itu hanya bisa
dilakukan dengan pendidikan yang
berkualitas. Dia menceritakan bahwa karena kegigihan orangtuanyalah untuk
mendidiknya dengan segala kesusahan dan derai air mata tapi akhirnya berhasil
mengantarkannya sebagai sarjana. Sebagai modal hidup di dunia ini,
sehingga dapat dikatakan tak bisa
membalas dan mengukur jasa orangtua yang telah mengantarkan kesuksesannya baik
memimpin partai maupun sebagai anggota
DPRD dalam dua periode ini. Bersama Partai Keadilan dan PPP Kota Solok tahun 2000 dia pernah dicalonkan
sebagai Wakil Wali Kota Solok yang berpasangan dengan Drs. Syukriadi Syukur.
Sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok
selama dua periode diembannya, dia tampil sebagai politisi yang kritis dan
bernas terhadap kebijakan Pemda dan Bupati yang tidak sesuai dengan kepentingan masyarat, diapun tidak
segan-segan menghantam anggota DPRD dikala mereka tidak aspiratif
[http://fraksi pks solok.blogspot.com].
Bersama ustadz
Mahyeldi Ansyarullah dalam gerakan da’wah dengan lembaga Al Madaniy di Padang
yang diawali tahun 1990, Mukhlis Denros banyak terlibat dalam berbagai kegiatan
da’wah seperti tahun 1994 pernah ke Palembang untuk mengikuti pertemuan da’i se
Jakarta dan Sumatera undangan dari Yayasan Bumi Andalas dan tahun 2000 Seminar
Nasional tentang Syari’ah di Medan yang diiringi dengan berbagai pertemuan
da'wah di Sumatera Barat ataupun di Jakarta, selain itu juga pernah selama 2
tahun sebagai da’i dari IIRO [Internasional islamic Relief Organisation] dan
kini sebagai anggota IKADI Solok yang juga memimpin yayasan Garda Anak Nagari
Sumatera Barat.
Organisasi lain yang
ikut dia tekuni selama di DPRD adalah sebagai Sekjen Majelis Ulama Indonesia
[MUI] Kabupaten Solok, sebagai Badan Pengawas Badan Amil Zakat Kabupaten Solok,
juga ikut membidani lahirnya beberapa lembaga da'wah berbentuk Yayasan di
Kabupaten Solok yang dikelola oleh teman-temannya seperti Yayasan Sinergi
Ummat, Yayasan Lukmanul Hakim, Yayasan Amanah Bunda, Yayasan Ahda Sabila,
Yayasan Nurul Haq, Yayasan Garda Anak Nagari dan Yayasan Selasih Solok.
Setelah dua periode
menyelesaikan tugas sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok, dalam mengisi
kegiatan hariannya Mukhlis Denros bersama isteri Yulismar S.Pd tinggal di
Nagari yang berbukit dan berlembah, yang sejuk dan asri, jauh dari kebisingan,
aman dan nyaman yaitu Jorong Cubadak Nagari Pianggu Kecamatan IX Koto Sungai
Lasi, Kabupaten Solok, Sumatera Barat tetap konsisten dengan kegiatan
sebelumnya yaitu da'wah dan menulis.
Sejak bulan Februari 2015, setelah enam tahun tinggal
di Cubadak Pianggu Kecamatan Sungai Lasi Kabupaten Solok Sumatera Barat, kini Mukhlis Denros menetap di Kota Batam
Kepri, turut berkiprah sebagai staf di Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Kota
Batam yang diketuai oleh Ibu Dra. Hj.
Helma Munaf, M.Pd dan bergabung pula dengan PMB [Persatuan Mubaligh Batam].
Di Batam, Mukhlis Denros dengan Pedro Johansis dan Mardison
mengembangkan Yayasan Garda Anak Nagari dengan membukan Garda Anak Nagari
Provinsi Kepulauan Riau, Insya Allah dalam waktu dekat akan membuka cabang
Garda Anak Nagari di seluruh Kabupaten dan Kota Provinsi Kepulauan Riau, semoga hal itu terujud.
DATA PRIBADI
Nama Lengkap :
Drs. St. Mukhlis Denros
Tempat dan Tanggal Lahir : Metro, 3 April 1964
Jumlah bersaudara : Anak ke 3 dari 7 orang
Nama Ayah : Sutan Denak
Nama Ibu : Rosnidar
Nama Isteri : Yulismar, S.Pd
Nama Anak : Rani Ihsani Mukhlis
RIWAYAT PENDIDIKAN
1.
SDN 4 Metro
Lampung, tamat tahun 1975
2.
SMP PGRI Metro
Lampung, tamat tahun 1981
3.
SMAN 135 Metro
Lampung, tamat tahun 1984
4.
Gema Al Qur'an Al
Jihad Metro tamat tahun 1988
5.
Sarjana Muda
Tarbiyah IAIN Raden Intan Lampung, tahun
1988
6.
Sarjana Tarbiyah
IAIN Raden Intan Lampung tamat tahun 1990
PENGALAMAN ORGANISASI
1.
Ketua Osis GAA Metro Lampung Tengah 1987-1989
2.
Sekum IRM Al Jihad Metro Lampung Tengah 1986-1988
3.
Wakil Sekretaris HMI Cab. Metro Lampung Tengah 1985-1990
4.
Sekjen
Majelis Ulama Indonesia [MUI}
Kab. Solok 2005/2006
5.
Anggota Pengawas BAZ
Kabupaten Solok 2006
6.
Anggota IKADI (Ikatan Da’i Indonesia)
Kabupaten Solok
7.
Da'i
IIRO [International Islamic Relief Org.] Sumbar 1995-1997
8.
Ketua Yayasan
Garda Anak Nagari Sumatera Barat
9.
Ketua Pembina Yayasan Selasih Kabupaten Solok
10.
Ketua Pembina Yayasan Lukmanul Hakim Kota
Solok
11.
.Ketua Yayasan Garda Anak Nagari Kab.Solok
2000-2005
12.
Pembina Yayasan Sinergi Ummat Kota Solok
13.
Pembina Yayasan Amanah Bunda Kabupaten Solok
PENGALAMAN
PROFESI
1.
Guru SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah
1988-1990
2.
Guru GAA Metro Lampung Tengah 1988-1990
3.
Guru MTsN Koto Baru Kabupaten Solok 1997-1999
4.
Guru SMK Budi Mulia Koto Baru Kab. Solok
1991-2000
5.
Dosen PGTK Adzkia Kota Padang 1994-2000
6.
Anggota
DPRD Kabupaten Solok Periode
1999-2004
7.
Anggota DPRD Kabupaten Solok Periode 2004-2009
8.
Staff Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam,
2015-
PERJALANAN
DA'WAH
1.
Maperca dan Basic Training HMI Cabang Metro
1985
2.
Intermediate Training HMI di Palembang 1986
3.
Latihan Pers Mahasiswa IAIN di Tanjung Karang
1986
4.
Tarbiyyah Islamiyyah di Sumatera Barat
1990-1994
5.
Muzakarah Du'at se Sumatera /Jakarta di
Sumatera Selatan 1994
6.
Muzakarah Du'at se Sumatera/Jakarta di Sumatera Selatan 1996
7.
Muzakarah Du'at se Sumatera/ Jakarta di Bukit Tinggi 1998
8.
Muzakarah Manajemen Zakat, IMZ Jakarta 2002
9.
Seminar Syari'ah Nasional di Medan Sumatera
Utara 2000
10.
Pertemuan Anggota DPRD se Indonesia di Jakarta 2000
11.
Pertemuan Anggota DPRD se Indonesia di Bogor 2002
12.
Pertemuan da'i IIRO se Indonesia di Jakarta 2000
13.
Silaturrahmi Nasional Anggota Legislatif di
Jakarta 2005
BUKU YANG
TELAH DITERBITKAN
1.
Fikih Wanita, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
2.
Tarbiyatul Aulad, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
3.
Kumpulan Ceramah Praktis, Nurul Haq, 2010
4.
Renungan Ramadhan, Pustaka Setia Bandung, 2011
5.
Memanusiakan Manusia, Qibla Jakarta, 2011
6.
Kumpulan Khutbah Jum’at, Pustaka Setia Bandung, 2011
7.
Khutbah Jum’at, Janji Allah dan Upaya Meraihnya, Arkola
Surabaya, 2011
8.
Khutbah Jum’at Penyejuk Hati, Pustaka Albana Jogjakarta,
2012
9.
Andai Aku Tahu Dosa Itu Ada, FAM Publishing Kediri, Jawa
Timur, 2012
10.
Kumpulan Khutbah Jum’at Terbaik, Mutiara Media, Jogjakarta, 2013
11.
Man Rabbuka, Al Barokah, Jogjakarta, 2014
12.
Ensiklopedi Penulis Indonesia Jilid I, FAM Publishing Kediri,
Jawa Timur,2014
13.
Kumpulan Khutbah Pengobat Hati, Mutiara Media, Jogjakarta, 2014
PUBLIKASI
TULISAN DI MEDIA
1.
Majalah Serial Khutbah Jum'at, Jakarta
2.
Majalah Suara Masjid, Jakarta
3.
Majalah Ishlah, Jakarta
4.
Majalah Reformasi, Jakarta
5.
Majalah Al Muslimun, Bangil
6.
Majalah Sabili, Jakarta
7.
Majalah Tarbawi, Jakarta
8.
Majalah Muamalat, Jakarta
9.
Majalah Kiblat, Jakarta
10.
Majalah Harmonis, Jakarta
11.
Majalah Estafet, Jakarta
12.
Majalah Sakinah, Jakarta
13.
Harian Serambi Minang, Padang
14.
Harian Semangat, Padang
15.
Harian Mimbar Minang, Padang
16.
Harian Singgalang, Padang
17.
Tabloid Sumbar Post, Padang
18.
Tabloid Zaman, Padang
19.
Tabloid Solinda, Kabupaten Solok
20.
Tabloid Lentera, Padang
21.
Tabloid Suara Keadilan Rakyat, Sawahlunto
22.
Tabloid, Media Islam Batam
23.
Tabloid Dyi’ar Islam Batam
24.
Buletin DPW PKS Sumatera Barat, Padang
25.
Buletin Riswan, Koto Baru Kabupaten Solok
26.
Buletin Da'wah Masjid Al Furqan Kota Solok
27.
Buletin Da'wah Garda Anak Nagari Kabupaten
Solok
28.
Buletin Da'wah Sebening Embun
29.
Buletin Da'wah Selasih Solok
30.
Mingguan Suara Rakyat, Solok
31.
Mingguan Bijak, Padang
32.
Mingguan Swadesi, Jakarta
33.
Mingguan Sentana, Jakarta
34.
Mingguan Raden Intan Pos, IAIN Lampung
35.
Pariaman Post, Sumatera Barat


Tidak ada komentar:
Posting Komentar