RAMADHAN DAN
UZLAH
Drs.St.Mukhlis
Denros
Puasa Ramadhan itu untuk
membersihkan diri dan hati seorang mukmin, dengan target mencapai derajat
taqwa. Untuk mencapai taqwa harus diupayakan dengan berbagai amaliyah ibadah,
selain mengendalikan makan dan minum serta syahwat biologis maka harus pula
meninggalkan hal-hal yang tidak baik dan menjauhi pergaulan yang dapat merusak
ibadah dengan melakukan uzlah, artinya menjauhi diri dari perbuatan,sikap dan
sifat yang tercela walaupun tetap bergaul dengan manusia lainnya.
Secara bahasa, "uzlah
atau tafarrud" berarti "penjauhan" atau "pengasingan
diri". Dalam kitab Lisanul-Arab, azala syai'a berarti menjauhkan
sesuatu". Sedangkan ayat al-Qur'an yang menyebutkan mengenai uzlah ini
antara lain."Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan daripada
mendengarkan Al-Qur'an itu." (QS. Asy-Syu'ara [26] : 212)
Maksdunya, ketika mereka (para
jin) di lempar dengan bintang-bintang, sehingga pendengaran mereka terhalang.
Hal itu sesuai dengan firman-Nya yang lain:"Dan sesungguhnya kami
dahulu dapat menduduki berapa tempat di langit itu untuk mendengarkan
(berita-beritanya). Akan tetapi, sekarang barangsiapa yang (mencoba)
mendengarkan (seperti itu), tentu akan menjumpai panh api yag mengintai (untuk
membakarnya)." (QS. Al-Jin [72] : 9)
Sedangkan menurut istilah,
"uzlah atau tafarrud" ialah tindakan seseorang yang lebih
mengutamakan hidup menyendiri daripada hidup bersama dengan orang lain. [Uzlah
atau Tafarrud,Eramuslim.com.Selasa, 14/06/2011 15:53 WIB].
Awal munculnya kelompok sufi di tengah masyarakat,
yang hidup mengasingkan diri ke tempat-tempat sunyi di gua-gua yang jauh dari
keramaian karena rasa kecewa mereka yang hidup di istana yang bergelimang
dengan kemewahan dan kesenangan, mereka menyaksikan penghuni istana tidak lagi
mengamalkan ajaran islam dengan baik, istana tempat kancah kemaksiatan,
berfoya-foya, hidup hedonistik, khalifah
sebagai orang yang seharusnya dijadikan sebagai teladan jauh dari nilai-nilai
islam. Dari sekian penghuni istana, tidak suka dengan kondisi itu sehingga
mereka meninggalkan istana, mencari kehidupan yang sangat sederhana, makna
uzlah yang lain adalah meninggalkan perbuatan yang dilarang Allah dan tidak
mendekati tempat-tempat yang haram.
Yang dimaksud dengan
tempat-tempat yang haram adalah tempat-tempat yang dijadikan sarana perbuatan maksiat,
atau di sana diperjualbelikan barang-barang yang haram baik secara
terang-terangan maupun tersembunyi, legal maupun illegal, seperti: tempat
pelacuran, perjudian, bioskop yang memutar film-film haram, tempat penjualan
atau penyewaan barang-barang haram dan sejenisnya. Hamba Allah yang beriman
selalu berusaha untuk menjaga kadar dan kualitas imannya agar tidak melemah dan
terkikis, sebaliknya ia senantiasa melakukan amal-amal yang dapat meningkatkan
iman. Di antara hal-hal yang dapat merusak iman adalah mendekati tempat-tempat
yang di dalamnya dilakukan perbuatan-perbuatan yang haram. Allah swt berfirman
tentang salah satu sifat hamba-hambaNya yang beriman,“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila
mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang
tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.
(Al-Furqan: 72).
Bila perbuatan-perbuatan yang
tidak berfaidah saja harus ditinggalkan, apalagi dengan perbuatan-perbuatan
yang haram.“Dan janganlah kamu mendekati
zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan
yang buruk. (Al-Isra: 32).
Allah Swt mengharamkan
mendekati zina yakni melakukan perbuatan yang dapat menjerumuskan kita kepada
zina seperti berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahram, melihat aurat
lawan jenis baik langsung atau melalui media, atau mendekati tempat-tempat
perbuatan zina. Dapat dipahami juga secara tersirat bahwa mendekati
tempat-tempat yang dipastikan dapat menjerumuskan kita kepada perbuatan haram
lainnya hukumnya adalah haram.
Seseorang yang mendekati dan
masuk ke tempat-tempat yang haram, secara perlahan atau cepat akan membuat
hatinya tergoda dan hawa nafsunya sulit untuk dikendalikan. Hal ini terjadi
karena setan selalu menjadikan maksiat itu indah bagi yang melihatnya terutama
mereka yang lemah iman. Ditambah lagi hawa nafsu manusia yang cenderung untuk
mengikuti hal-hal yang buruk dan merasa berat dalam mentaati Allah swt.
Allah swt berfirman:Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik
perbuatan-perbuatan (buruk) mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan
(Allah), padahal mereka adalah orang-orang berpandangan tajam (Al-Ankabut:
38).
Perhatikan bagaimana pengaruh
tipu daya setan terhadap mereka? Allah Swt menyatakan bahwa orang-orang yang
tadinya berpandangan tajam pun dapat terpengaruh dengan tipuan setan sehingga
mereka menganggap baik perbuatan buruk atau minimal menganggap bahwa mereka
masih dapat bertobat sewaktu-waktu setelah melakukan perbuatan maksiat. Lalu bagaimana
dengan orang yang tidak berpikir panjang/picik?!“Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya
nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat
oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang.
(Yusuf: 53).
Syahwat yang tergoda
mengakibatkan konsentrasi dan ketenangan hati dan jiwa terganggu.Kemaksiatan
yang dilihat terus menerus oleh seseorang akan mempengaruhi perasaan dan
konsentrasi hatinya, lalu memalingkannya dari perbuatan-perbuatan baik dan
bermanfaat. Apabila hati seseorang sudah tergoda dengan perbuatan yang haram,
maka sewaktu-waktu akan muncul hasratnya untuk mencoba melakukannya bila ada
kesempatan.
Sebagai contoh, bila seseorang
terbiasa menyaksikan korupsi di kantornya, di mana setiap hari ia melihat kawan
atau atasannya memperoleh uang yang banyak dengan melakukan korupsi, maka lama
kelamaan akan timbul keinginannya untuk melakukan hal yang sama. Bila ia telah
mencoba sekali, ia ingin dua kali, tiga kali, dan seterusnya hingga menjadi
kebiasaan dan – na’uzu billah – menjadi hobi atau kesenangan. Jika ini terjadi,
ia tidak lagi menanti kesempatan datang untuk melakukannya, namun ia justru
menciptakan dan mencari-cari peluang untuk melakukannya karena kemaksiatan itu
sudah menjadi kebutuhan bagi dirinya. Waktu yang ia miliki tidak lagi diisi
dengan ketaatan kepada Allah dan hal-hal yang bermanfaat, sebaliknya pikirannya
selalu berpikir bagaimana ia dapat melakukan perbuatan yang haram itu dengan
aman, tidak terkena delik undang-undang, dan pikiran-pikiran licik lainnya. Ia
lupa bahwa ada Allah Swt yang tidak mungkin ia dapat bersembunyi dari-Nya.
Semoga kita dilindungi oleh Allah dari itu semua.
Mendekati tempat-tempat yang
haram tidak dapat dipungkiri menyebabkan kita terbiasa menyaksikan
perbuatan-perbuatan yang haram. Terkait dengan perbuatan zina, Allah Swt
memerintahkan kita untuk menundukkan pandangan dari hal-hal yang haram:”Katakanlah kepada orang laki-laki yang
beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya;
yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha
mengetahui apa yang mereka perbuat”. (An-Nur: 30).
Seorang penyair berkata:”Kau ingin puaskan hatimu dengan mengumbar
pandanganmu, Suatu saat pandangan itu pasti kan menyusahkanmu,Engkau tak kan
tahan melihat semuanya,Bahkan terhadap sebagiannya pun kesabaranmu tak berdaya.[Menjauhi
Tempat-Tempat yang Haram,dakwatuna.com ,8/3/2009 | 12 Rabiul Awwal 1430 H].
Setiap menjauhi tempat-tempat
yang haram, uzlah juga didukung oleh pengendalian hawa nafsu, karena antara
nafsu dan kesempatan mendukung untuk berbuat maksiat, bila kesempatan ada namun
nafsu tidak mendukung tidak akan terjadi kemaksiatan, begitu juga bila nafsu
membara tapi kesempatan tidak ada maka dapat dipastikan tidak menimbulkan
maksiat itu.
Suatu saat terjadi dialog antara Rasulullah SAW dengan Hudzaifah Ra.
Rasulullah Saw bertanya kepada Hudzaifah. Ya Hudzaifah, bagaimana keadaanmu
saat ini? Jawab Hudzaifah: “Saat ini saya sudah benar-benar beriman, ya
Rasulullah”. Rasul kemudian mengatakan, “Setiap kebenaran itu ada hakikatnya,
maka apa hakikat keimananmu, wahai Hudzaifah?” Jawab Hudzaifah: Ada "dua", ya
Rasulullah. Pertama, saya sudah hilangkan unsur dunia dari kehidupan saya,
sehingga bagi saya debu dan emas itu sama saja. Dalam pengertian, saya akan
cari kenikmatan dunia, lantas andaikata saya dapatkan maka saya akan
menikmatinya dan bersyukur kepada Allah SWT. Tapi, kalau suatu saat
kenikmatan dunia itu hilang dari tangan saya, maka saya tinggal bersabar sebab
dunia bukanlah tujuan. Bila ia datang maka Alhamdulillah, dan bila ia pergi
maka, Innalillaahi wa inna ilaihi raji'un. Yang kedua, Hudzaifah mengatakan,
“setiap saya ingin melakukan sesuatu, saya bayangkan seakan-akan surga dan
neraka itu ada di depan saya. Lantas saya bayangkan bagaimana ahli surga itu
menikmati kenikmatan surga, dan sebaliknya bagaimana pula ahli neraka itu
merasakan azab neraka jahanam. Sehingga terdoronglah saya untuk melakukan yang
diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang-Nya”.
Mendengar jawaban Hudzaifah ini, Rasul langsung saja memeluk Hudzaifah
dan menepuk punggungnya sambil berkata, "pegang erat-erat prinsip
keimananmu itu, ya Hudzaifah, kamu pasti akan selamat dunia
akhirat". Bila kita cermati dialog tersebut, paling tidak, ada
"dua" hikmah yang bisa kita petik. Pertama, iman kepada Allah, dengan
mencintai Allah itu di atas cinta kepada selain Allah. Dan yang kedua, selalu
membayangkan akibat dari setiap perbuatan yang dilakukan di dunia bagi
kehidupan yang abadi di akhirat nanti.
Di dalam beberapa ayat, Allah SWT menjelaskan tentang sifat-sifat
orang-orang yang muttaqin, mereka di antaranya adalah yang meyakini akan adanya
kehidupan akhirat. Orang yang beriman akan adanya kehidupan akhirat, akan
membuat dia mampu mengendalikan kecenderungan hawa nafsunya. Sebaliknya,
orang-orang yang tidak meyakini akan adanya kehidupan akhirat, "Mereka
tidak pernah takut dengan hisab Kami, dan mereka telah mendustai ayat-ayat
Allah dengan dusta yang nyata." (An Naba', 78 : 27-28)[Pengendalian Hawa Nafsu,Republika.co.id.Jumat, 23 Oktober 2009, 10:58 WIB].
Uzlah
pada satu sisi menguntungkan bagi pribadi seseorang karena dia mampu menjaga
dirinya dari segala perbuatan yang dilarang Allah, uzlah secara fisik dilakukan
oleh para sufi untuk menghindari tempat – tempat yang tidak mendukung
terjaganya keimanan, tapi uzlah secara pergerakan, secara dakwah membuat
gerakan tersebut lemah bahkan mengawali kegagalan.
Jadi, jika ada seorang aktivis
yang merasa cukup dengan mengatakan Islam pada diri sendiri saja, tanpa peduli
dengan keadaan orang lain dan tanpa melihat keadaan mereka yang tengah terjerumus
dalam lembah kebinasaan dan kehancuran, maka dia termasuk orang yang terkena
penyakit "uzlah dan tafarrud" ini.
Contoh lainnya, jika seorang
aktivis Islam hanya melaksanakan misi dakwahnya secara fardiyah saja
(individual) dan jauh dari sikap ta'awun (saling tolong menolong) dengan para
aktivis lain dalam melaksanakan misi dakwahnya , maka dia pun dapat digolongkan
telah terhinggapi penyakit "uzlah dan tafarrud".
Beberapa faktor yang
mengakibatkan terjadinya penyakit ini antara lain dapat dikelompokkan antara
lain.
Salah Menafsirkan Seruan Uzlah
Di dalam ajaran Islam memang
ada beberapa nash yang menganjurkan kita ber-uzlah. Diantara nash-nash yang
memuji dan menganjurkan sikap "uzlah" tersebut antara lain hadist
Nabi Shallahu alaihi wassalam yang berbunyi :"Akan datang suatu saat
di mana sebaik-baik harta seorang muslim adalah kambing yang dibawa yang ke
puncak gunung dan tempat-tempat turunnya hujan. Ia menghindar dari fitnah
dengan membawa agamanya." (HR. Bukhari)
Dalam suatu kesempatan
Rasulullah SAW pernah ditanya oleh sahabatnya, "Siapakah manusia yang
paling utama, ya Rasulullah?". Beliau SAW menjawab, "Seseorang yang
berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya". Shahabat itu bertanya lagi,
"Kemudian siapa lagi?". Rasulullah SAW menjawab, "Seorang mukmin
yang tinggal di salah satu tempat di gunung. Ia beribadah kepada Allah Tuhannya
dan meninggalkan manusia dari kejahatan mereka". (HR. Muslim)
Sabda beliau yang lain
berbunyi, "Di antara penghidupan yang paling baik bagi manusia adalah
seorang yang memegang tali kudanya di jalan Allah, kemudian ia berpacu diatas
punggung kudanya. Setiap kali ia mendengar sesuatu yang menakutkan dan
mengejutkan, ia segera melesat menuju arah suara tersebut untuk dapat berperang
dan mati menjadi taruhannya. Atau seseorang bersama hartanya yang berada di
salah satu tempat yang tinggi atau pada sebuah lembah. Di tempat itu ia
mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan beribadah kepada Tuhannya hingga ajal
menjemputnya sedang ia dalam keadaan baik." (HR. Muslim)
Meskipun demikian, cukup
banyak nash-nash syariat yang lain, yang menganjurkan umat Islam, agar
menjalani kehidupan dan beribadah kepada-Nya dalam naungan jamaah. Sebagaimana
firman Allah Ta'ala:"...Dan hendaklah kalian tolong menolong dalam
kebaikan dan takwa dan janganlah kalilan tolong menolong dalam dosa dan
pelanggaran." (QS. Al-Maidah [5] : 2)
"...Dan berpegang
teguhlah kalian pada tali Allah (agama) dan janganlah kalian
bercerai-berai." (QS. Ali-Imran [3] : 103)
"Sesungguhnya Allah
suka terhadap orang-orang yang berperang di jalan Allah, seolah-olah mereka itu
adalah suatu bangunan yang kokoh." (QS. Ash-Shaf [61] : 4)
Selain itu, Rasulullah shallahu
alaihi was sallam juga bersabda, "Jauhilah bercerai-berai, dan
hendaklah kalian berjamaah (berkelompok). Sesungguhnya setan akan menyertai
orang yang sendirian dan akan menjauh dari dua orang. Barangsiapa yang ingin
memasuki taman surga, maka hendaklah ia berjamaah." (HR. Tirmidzi)
Dalam kesempatan lain, beliau
SAW juga bersabda, "Allah bersama jamaah." (HR.
Tirmidzi)
Sabdanya lagi, "...Aku
menyuruh kalian kepada lima perkara dan Allah menyuruhku pula untuk demikian,
yaitu berjamaah, mendengar, taat, hijrah, dan jihad di jalan Allah.
Sesungguhnya barangsiapa yagn keluar dari jamaah satu jengkal ia telah melepas
ikatan Islam dari lehernya sampai ia kembali meluruskan sikapnya. Mendengar
ucapan beliau SAW para shahabat bertanya, "Sekalipun ia melakukan shalat
dan berpuasa wahai Rasulullah?" Rasulullah shallahu alaihi wassalam
menjawab, "Ya, sekalipun ia mendirikan shalat dan berpuasa serta mengaku
bahwa dirinya adalah seorang muslim". (HR. Ahmad)
Dari penjelasan diatas
jelaslah jika seorang aktivis berpegang teguh hanya pada nash-nash syar'iyah
yang pertama, yaitu menganjurkan sikap 'uzlah karena kejahilannya,
atau berpura-pura jahil akan hubungan nash-nash tersebut dengan nash-nash yagn
menganjurkan sikap berinteraksi dngan jamaah dan hidup di tengah
pemeliharaannya, maka tidak diragukan lagi ia akan terkena penyakit 'uzlah
atau tafarrud.[Uzlah atau Tafarrud, eramuslim.com.Selasa, 14/06/2011
15:53 WIB].
Nabi Muhammad
mengajarkan kepada kita untuk uzlah dari maksiat, tidak mendekati tempat-tempat
yang mengandung kejahatan, kita juga dituntut untuk uzlah hati nurani, yaitu
mengekang nafsu sehingga hati bersih dalam mengimani Allah dan beribadah
kepada-Nya, memperbaiki diri dengan akhlak mulia dengan meninggalkan pergaulan yang merusak, ketika
dikabarkan adanya pembunuh yang sudah membunuh seratus orang, namun dia masih
juga berkeinginan untuk bertaubat, maka ulama menasehatinya agar taubat sang
pembunuh itu diterima Allah dan dapat bertahan dengan baik, dia harus uzlah
dari dari pergaulannya dan hijrah menuju tempat yang lebih baik.Wallahu A’lam. [Baloi Indah, 5 Ramadhan 1436.H/2015, Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam, Kepri]
PROFIL PENULIS
Penampilan
sederhana ini bernama Mukhlis yang dilahirkan di ujung Selatan Pulau
Sumatera yaitu Metro [Lampung Tengah] tanggal 3 April 1964
anak ketiga dari ayah bernama Sutan
Denak dan ibu Rosnidar dengan enam orang adik kakak yaitu Ernawati, Marsudi,
Erma, Septiyani, Mahdalena dan Adek Wahyuli, isteri bernama Yulismar S.Pd
[Ayang] dengan seorang anak wanita bernama Rani Ihsani Mukhlis, nama yang akrab
di kalangan teman dan sahabatnya adalah Mukhlis Denros. Kampung asalnya Kampani Barangan Selatan,
Nagari Lurah Ampalu, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak Kabupaten Padang
Pariaman, Sumatera Barat, dengan suku Koto, besar dan menempuh pendidikan di
Kota Lada Metro Lampung.
Pendidikan yang pernah ditempuhnya yaitu
SDN yang dimulai di SDN Koto Marapak [Kota Pariaman], ketika kelas IV dia harus
meninggalkan kampung bersama ayah dan ibunya menuju Metro, SD diselesaikannya
di SDN IV Metro, dilanjutkan ke SMP PGRI Metro, kemudian SMAN 135 Metro yang
dapat diselesaikan tahun 1984, tidak ada maksud untuk kuliah karena berbagai
faktor, berkat dorongan teman-teman dan gurunya terutama Ustadz Masnuni M.Ra'i,
Alfuadi Rusli, H. Muhammad Lazim, H. Fakhrudin, Sugito, Hayumi Rb,Hayumi Rf, H.
Rasyidin dan Malin Marajo di Masjid Al Jihad akhirnya tahun ini juga
melanjutkan kuliah di IAIN, inilah pendidikan terakhir yang ditempuhnya yaitu
Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Institut Agana Islam Negeri
[IAIN] Raden Intan Lampung di Metro
tamat tahun 1990. Ketika tamat kuliah dia harus meninggalkan Metro dan memulai
kiprahnya di Koto Baru Kabupaten Solok Sumatera Barat sebagai pendidik, dosen,
penulis, mubaligh hingga sebagai
politisi akhirnya.
Sejak di bangku SMA hingga tamat kuliah,
Mukhlis giat di OSIS Gema Al Qur'an AL
Jihad dan Remaja Masjid Al Jihad Metro
bersama teman-temannya Dody Sofial, Abul Fatrida, Yurnalis, M. Syafei,
Irza Murni, Gusnita, Herwina, Afrizal, Yohanes dan Rita Suryani, dikala kuliah
bergabung dengan HMI Cabang Metro bersama Ahmad Ridwan, Gatot Subroto, Sigit
Triyono, Syuhada', Raihan dan Usdek, mengikuti pengkaderan Basic Training di
Metro tahun 1985 dan Intermediate Training di Palembang tahun 1986 dan pernah
menjabat sebagai Sekretaris HMI Komisariat IAIN dan wakil sekretaris HMI Cabang
Metro.
Menjadi guru adalah cita-citanya sejak
awal dan hal itu telah terujud walaupun tidak sebagai PNS, pernah mengajar di
GAA dan SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah, mengajar di SMEA Budi Mulia Koto
Baru, MTsN Koto Baru Solok dan sebagai dosen PGTK Adzkia Padang, Aktivitas
sebagai pendidik ini dia tekuni sejak di bangku kuliah tahun 1984 sampai tahun
2000, kemudian aktif sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok utusan dari Partai
Keadilan/Partai Keadilan Sejahtera, selama dua periode 1999-2009. Di Solok
bersama teman-temannya yaitu Mahyeldi Ansharullah, Afrizal M Noor, Muhidi,
Nurfirmanwansyah, Johandrizon Syamsu, Ahmad Syafwan Nawawi, Firmansyah, Abdul Ghani,
Gustami Hidayat, Saifullah Salim,
Rudianto, Busril, Endrizal, Ismail Zain, Devi Herizon, Ilzan Sumarta, dan Helmi
Darlis merintis kegiatan da'wah sejak tahun 1990 di sekolah, kampus, dan
masjid-masjid melalui pesantren kilat, diskusi, ceramah dan khutbah sebagai
cikal bakal berdirinya Partai Keadilan ketika itu.
Tahun 1998 dikala Reformasi terjadi,
sekian partai berdiri untuk menyongsong Indonesia yang lebih demokratis setelah
lengsernya Soeharto kemudian dilanjutkan oleh BJ Habibie, berdiri pulalah
partai yang berbasiskan anak-anak muda kampus dengan kapasitas da'wah dan
tarbiyah, partai itu bernama Partai
Keadilan. Mukhlis diamanatkan oleh DPW PK Sumatera Barat sebagai ketua DPD PK
di Kabupaten Solok, pelantikan pengurus DPW dengan ketua Drs. Ahmad Syafwan
Nawawi dan DPD PK se Sumatera Barat dikukuhkan di Padang oleh DR. Nur Mahmudi
Ismail MSc sebagai Presiden Partai Keadilan pertama.
Dikala Partai Keadilan menjadi Partai Keadilan Sejahtera untuk kedua
kalinya Mukhlis Denros dipercaya sebagai ketua DPD di Kabupaten Solok dan
jabatan terakhir di partai dipercayakan kepadanya adalah sebagai Ketua Zona
Da'wah VII PKS Sumatera Barat hingga tahun 2007, yang membina DPD PKS Kota
Solok, Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan. Terlalu banyak pelajaran
dan pengalaman yang dia terima dari kegiatan da'wah dan partai bersama
teman-temannya
Mukhlis Denros, demikian akrab di sapa,
selain sebagai pendidik juga aktif berda’wah baik melalui ceramah, diskusi
agama, khutbah dan penyebaran tulisannya melalui Buletin Da’wah Garda Anak
Nagari serta media Nasional yang pernah memuat tulisannya seperti Majalah
Serial Khutbah Jum’at, Majalah Suara Masjid , Majalah Sabili, Majalah Tarbawi,
Majalah Ishlah, Majalah Reformasi Jakarta, Majalah Al Muslimun Bangil serta koran
Swadesi dan Sentana juga pernah memuat tulisannya yang sarat dengan pendidikan
dan nuansa islamnya, Media Mimbar Minang Padang selama bulan Ramadhan penuh
memuat tulisannya tiap hari terbit. Dia
tidak pernah membuang waktu dengan kegiatan yang tidak ada manfaatnya,
waktunya selalu terisi dengan aktivitas positif seperti membaca atau menulis
selain kegiatan harian lain.
Mukhlis
Denros Terima Penghargaan Sebagai Penulis Terbaik dari Media Suara Keadilan
Rakyat (SKR) , Minggu (15/12) di Gedung Pusat Kebudayaan kota
Sawahlunto.Penghargaan tersebut merupakan program Tabloit SKR yang selama ini
membentuk tim untuk melakukan penilaian terhadap sejumlah penulis dan tokoh di
Sumatera Barat dengan sejumlah kategori yang ditetapkan.
Penganugerahan sebagai Penulis Terbaik SKR Awards 2013
yang diberikan kepada Mukhlis Denros diserahkan oleh Wakil Wali Kota Sawah
Lunto yaitu Bapak Ismet SH, Mukhlis Denros dinilai sebagai penulis terbaik
karena konsistensinya dalam menulis berbagai pemikiran berkaitan dengan dakwah,
pendidikan dan politik yang telah melahirkan berbagai buku yang diterbitkan
oleh penerbit.
Mukhlis
Denros menerima berupa plakat dan piagam sebagai bentuk penghargaan atas
keberhasilannya menulis yang dinilai sebagai penulis terbaik, sebagaimana
penilaian TIM SKR yang terdiri dari Prof, Wil Chandry, Fadril Aziz Isaini dan
Prof,DR, H. Salmadanis, Mag.
Pada
malam penganugerahan SKR Awards 2013 tersebut
diserahkan 13 penghargaan dengan kategori berbeda kepada tokoh
lainnyayang dihadiri oleh Wawako Sawahlunto, Ismed, Pimpinan Serikat Perusahaan
Pers Pusat, Totok dan pendiiri Tabloit SKR, Riko Adiutama beserta sejumlah
tokoh Sumatera Barat lainnya.
Moto hidupnya sangat sederhana, agar
bermanfaat bagi orang lain dengan potensi yang dimiliki, semua itu hanya bisa
dilakukan dengan pendidikan yang
berkualitas. Dia menceritakan bahwa karena kegigihan orangtuanyalah untuk
mendidiknya dengan segala kesusahan dan derai air mata tapi akhirnya berhasil
mengantarkannya sebagai sarjana. Sebagai modal hidup di dunia ini,
sehingga dapat dikatakan tak bisa
membalas dan mengukur jasa orangtua yang telah mengantarkan kesuksesannya baik
memimpin partai maupun sebagai anggota
DPRD dalam dua periode ini. Bersama Partai Keadilan dan PPP Kota Solok tahun 2000 dia pernah dicalonkan
sebagai Wakil Wali Kota Solok yang berpasangan dengan Drs. Syukriadi Syukur.
Sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok
selama dua periode diembannya, dia tampil sebagai politisi yang kritis dan
bernas terhadap kebijakan Pemda dan Bupati yang tidak sesuai dengan kepentingan masyarat, diapun tidak
segan-segan menghantam anggota DPRD dikala mereka tidak aspiratif
[http://fraksi pks solok.blogspot.com].
Bersama ustadz
Mahyeldi Ansyarullah dalam gerakan da’wah dengan lembaga Al Madaniy di Padang
yang diawali tahun 1990, Mukhlis Denros banyak terlibat dalam berbagai kegiatan
da’wah seperti tahun 1994 pernah ke Palembang untuk mengikuti pertemuan da’i se
Jakarta dan Sumatera undangan dari Yayasan Bumi Andalas dan tahun 2000 Seminar
Nasional tentang Syari’ah di Medan yang diiringi dengan berbagai pertemuan
da'wah di Sumatera Barat ataupun di Jakarta, selain itu juga pernah selama 2
tahun sebagai da’i dari IIRO [Internasional islamic Relief Organisation] dan
kini sebagai anggota IKADI Solok yang juga memimpin yayasan Garda Anak Nagari
Sumatera Barat.
Organisasi lain yang
ikut dia tekuni selama di DPRD adalah sebagai Sekjen Majelis Ulama Indonesia
[MUI] Kabupaten Solok, sebagai Badan Pengawas Badan Amil Zakat Kabupaten Solok,
juga ikut membidani lahirnya beberapa lembaga da'wah berbentuk Yayasan di
Kabupaten Solok yang dikelola oleh teman-temannya seperti Yayasan Sinergi
Ummat, Yayasan Lukmanul Hakim, Yayasan Amanah Bunda, Yayasan Ahda Sabila,
Yayasan Nurul Haq, Yayasan Garda Anak Nagari dan Yayasan Selasih Solok.
Setelah dua periode
menyelesaikan tugas sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok, dalam mengisi
kegiatan hariannya Mukhlis Denros bersama isteri Yulismar S.Pd tinggal di
Nagari yang berbukit dan berlembah, yang sejuk dan asri, jauh dari kebisingan,
aman dan nyaman yaitu Jorong Cubadak Nagari Pianggu Kecamatan IX Koto Sungai
Lasi, Kabupaten Solok, Sumatera Barat tetap konsisten dengan kegiatan
sebelumnya yaitu da'wah dan menulis.
Sejak bulan Februari 2015, setelah enam tahun tinggal
di Cubadak Pianggu Kecamatan Sungai Lasi Kabupaten Solok Sumatera Barat, kini Mukhlis Denros menetap di Kota Batam
Kepri, turut berkiprah sebagai staf di Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Kota
Batam yang diketuai oleh Ibu Dra. Hj.
Helma Munaf, M.Pd dan bergabung pula dengan PMB [Persatuan Mubaligh Batam].
Di Batam, Mukhlis Denros dengan Pedro Johansis dan Mardison
mengembangkan Yayasan Garda Anak Nagari dengan membukan Garda Anak Nagari
Provinsi Kepulauan Riau, Insya Allah dalam waktu dekat akan membuka cabang
Garda Anak Nagari di seluruh Kabupaten dan Kota Provinsi Kepulauan Riau, semoga hal itu terujud.
DATA PRIBADI
Nama Lengkap :
Drs. St. Mukhlis Denros
Tempat dan Tanggal Lahir : Metro, 3 April 1964
Jumlah bersaudara : Anak ke 3 dari 7 orang
Nama Ayah : Sutan Denak
Nama Ibu : Rosnidar
Nama Isteri : Yulismar, S.Pd
Nama Anak : Rani Ihsani Mukhlis
RIWAYAT PENDIDIKAN
1.
SDN 4 Metro
Lampung, tamat tahun 1975
2.
SMP PGRI Metro
Lampung, tamat tahun 1981
3.
SMAN 135 Metro
Lampung, tamat tahun 1984
4.
Gema Al Qur'an Al
Jihad Metro tamat tahun 1988
5.
Sarjana Muda
Tarbiyah IAIN Raden Intan Lampung, tahun
1988
6.
Sarjana Tarbiyah
IAIN Raden Intan Lampung tamat tahun 1990
PENGALAMAN ORGANISASI
1.
Ketua Osis GAA Metro Lampung Tengah 1987-1989
2.
Sekum IRM Al Jihad Metro Lampung Tengah 1986-1988
3.
Wakil Sekretaris HMI Cab. Metro Lampung Tengah 1985-1990
4.
Sekjen
Majelis Ulama Indonesia [MUI}
Kab. Solok 2005/2006
5.
Anggota Pengawas BAZ
Kabupaten Solok 2006
6.
Anggota IKADI (Ikatan Da’i Indonesia)
Kabupaten Solok
7.
Da'i
IIRO [International Islamic Relief Org.] Sumbar 1995-1997
8.
Ketua Yayasan
Garda Anak Nagari Sumatera Barat
9.
Ketua Pembina Yayasan Selasih Kabupaten Solok
10.
Ketua Pembina Yayasan Lukmanul Hakim Kota
Solok
11.
.Ketua Yayasan Garda Anak Nagari Kab.Solok
2000-2005
12.
Pembina Yayasan Sinergi Ummat Kota Solok
13.
Pembina Yayasan Amanah Bunda Kabupaten Solok
PENGALAMAN
PROFESI
1.
Guru SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah
1988-1990
2.
Guru GAA Metro Lampung Tengah 1988-1990
3.
Guru MTsN Koto Baru Kabupaten Solok 1997-1999
4.
Guru SMK Budi Mulia Koto Baru Kab. Solok
1991-2000
5.
Dosen PGTK Adzkia Kota Padang 1994-2000
6.
Anggota
DPRD Kabupaten Solok Periode
1999-2004
7.
Anggota DPRD Kabupaten Solok Periode 2004-2009
8.
Staff Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam,
2015-
PERJALANAN
DA'WAH
1.
Maperca dan Basic Training HMI Cabang Metro
1985
2.
Intermediate Training HMI di Palembang 1986
3.
Latihan Pers Mahasiswa IAIN di Tanjung Karang
1986
4.
Tarbiyyah Islamiyyah di Sumatera Barat
1990-1994
5.
Muzakarah Du'at se Sumatera /Jakarta di
Sumatera Selatan 1994
6.
Muzakarah Du'at se Sumatera/Jakarta di Sumatera Selatan 1996
7.
Muzakarah Du'at se Sumatera/ Jakarta di Bukit Tinggi 1998
8.
Muzakarah Manajemen Zakat, IMZ Jakarta 2002
9.
Seminar Syari'ah Nasional di Medan Sumatera
Utara 2000
10.
Pertemuan Anggota DPRD se Indonesia di Jakarta 2000
11.
Pertemuan Anggota DPRD se Indonesia di Bogor 2002
12.
Pertemuan da'i IIRO se Indonesia di Jakarta 2000
13.
Silaturrahmi Nasional Anggota Legislatif di
Jakarta 2005
BUKU YANG
TELAH DITERBITKAN
1.
Fikih Wanita, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
2.
Tarbiyatul Aulad, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
3.
Kumpulan Ceramah Praktis, Nurul Haq, 2010
4.
Renungan Ramadhan, Pustaka Setia Bandung, 2011
5.
Memanusiakan Manusia, Qibla Jakarta, 2011
6.
Kumpulan Khutbah Jum’at, Pustaka Setia Bandung, 2011
7.
Khutbah Jum’at, Janji Allah dan Upaya Meraihnya, Arkola
Surabaya, 2011
8.
Khutbah Jum’at Penyejuk Hati, Pustaka Albana Jogjakarta,
2012
9.
Andai Aku Tahu Dosa Itu Ada, FAM Publishing Kediri, Jawa
Timur, 2012
10.
Kumpulan Khutbah Jum’at Terbaik, Mutiara Media, Jogjakarta, 2013
11.
Man Rabbuka, Al Barokah, Jogjakarta, 2014
12.
Ensiklopedi Penulis Indonesia Jilid I, FAM Publishing Kediri,
Jawa Timur,2014
13.
Kumpulan Khutbah Pengobat Hati, Mutiara Media, Jogjakarta, 2014
PUBLIKASI
TULISAN DI MEDIA
1.
Majalah Serial Khutbah Jum'at, Jakarta
2.
Majalah Suara Masjid, Jakarta
3.
Majalah Ishlah, Jakarta
4.
Majalah Reformasi, Jakarta
5.
Majalah Al Muslimun, Bangil
6.
Majalah Sabili, Jakarta
7.
Majalah Tarbawi, Jakarta
8.
Majalah Muamalat, Jakarta
9.
Majalah Kiblat, Jakarta
10.
Majalah Harmonis, Jakarta
11.
Majalah Estafet, Jakarta
12.
Majalah Sakinah, Jakarta
13.
Harian Serambi Minang, Padang
14.
Harian Semangat, Padang
15.
Harian Mimbar Minang, Padang
16.
Harian Singgalang, Padang
17.
Tabloid Sumbar Post, Padang
18.
Tabloid Zaman, Padang
19.
Tabloid Solinda, Kabupaten Solok
20.
Tabloid Lentera, Padang
21.
Tabloid Suara Keadilan Rakyat, Sawahlunto
22.
Tabloid, Media Islam Batam
23.
Tabloid Dyi’ar Islam Batam
24.
Buletin DPW PKS Sumatera Barat, Padang
25.
Buletin Riswan, Koto Baru Kabupaten Solok
26.
Buletin Da'wah Masjid Al Furqan Kota Solok
27.
Buletin Da'wah Garda Anak Nagari Kabupaten
Solok
28.
Buletin Da'wah Sebening Embun
29.
Buletin Da'wah Selasih Solok
30.
Mingguan Suara Rakyat, Solok
31.
Mingguan Bijak, Padang
32.
Mingguan Swadesi, Jakarta
33.
Mingguan Sentana, Jakarta
34.
Mingguan Raden Intan Pos, IAIN Lampung
35.
Pariaman Post, Sumatera Barat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar