RAMADHAN, AKAL DAN ILMU
DrS.St.Mukhlis Denros
Kesempurnaan
ibadah puasa Ramadhan juga dilengkapi dengan akal dan ilmu, artinya kalau orang
tidak punya akal atau karena akalnya sedang terganggu maka tidaklah dia wajib
untuk puasa, begitu juga halnya dengan ilmu yang memadai orang akan mengerti
tentang kewajiban dan target dari ibadah puasa. Begitu banyaknya orang yang berpuasa
tidak punya ilmu tentang puasa sehingga aktivitas puasanya rusak dengan hal-hal
yang dilarang melakukannya.
Perangkat hidup yang berharga diberikan
Allah kepada manusia adalah akal dan ilmu, kedua perangkat ini mampu membedakan
bukan hanya antara hewan dan manusia tapi juga membedakan antara manusia dengan
manusia lainnya.
Manusia adalah salah
satu makhluk yang diciptakan Allah SWT di samping makhluk-makhluk lain
ciptaan-Nya.Di samping adanya perbedaan yang sangat mendasar antara penciptaan
binatang dan manusia, ternyata masih ada kesamaan di antara
keduanya.Kesamaannya, masing-masing baik binatang maupun manusia itu diciptakan
secara fitrah memiliki kecenderungan memenuhi kebutuhan hawa nafsu. Adapun
perbedaan yang sangat mendasar dari keduanya adalah dalam proses pemenuhan hawa
nafsu.
Binatang, oleh
karena mereka tidak diberi akal maka naluri kecenderungan pemenuhan hawa
nafsunya hanya sebatas fitrahnya. Misalnya, bila lapar lantas mereka pun akan
segera mencari makanan untuk dimakan. Setelah kenyang mereka akan diam. Sebelum
lapar mereka tidak akan makan, mereka akan makan hanya pada saat mereka
betul-betul merasa lapar.
Dalam kehidupan
binatang, ada yang berusaha menutupi kebutuhan hidupnya dengan sendiri-sendiri,
ada pula yang membina kebersamaan di bawah satu kepemimpinan seperti dalam
kelompok lebah atau tawon atau An Nahl. Allah SWT berfirman: “Dan Tuhanmu
mengilhamkan kepada lebah:”Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon
kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia”. Kemudian makanlah dari
tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan
(bagimu) dari perut lebah itu keluar madu yang bermacam-macam warnanya, di
dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesung-guhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang
memikirkan”(An Nahl, 16 :68-69).
Ayat di atas
mengingatkan kita akan kebersamaan para lebah untuk menjadi contoh bagi kita,
di bawah satu kepemimpinan mereka membina kesatuan, kerja sama yang sangat baik
dan menghasilkan karya yang dapat dinikmati oleh manusia di antaranya madu yang
bisa menjadi obat. Demikian pula, kehidupan semut pun dalam membina kebersamaan
layaklah kita tiru.
Adapun manusia, di
samping memiliki kecenderungan hawa nafsu untuk memenuhi kebutuhan hidup baik
nafsu makan ataupun nafsu kebutuhan biologis, selain itu pula manusia diberi
akal.Semestinya dengan akalnya ini manusia harus lebih bisa mengendalikan hawa
nafsunya dibanding dengan binatang. Karena dengan akalnya, manusia harus bisa
terbimbing untuk bisa membedakan mana yang menjadi haknya dan mana yang menjadi
hak orang lain, mampu membedakan mana yang boleh dimakan dan mana yang tidak
boleh dimakan, dan harus mampu pula membedakan mana yang bisa dinikmati dan
mana yang tidak boleh dinikmatinya. Sesungguhnya, manusia derajatnya harus
lebih baik daripada binatang.
[K.H. Athian Ali M. Da’i, MAManusia dan Akal, Republika OnLine, Jumat, 08 Mei 2009, 15:57 WIB].
[K.H. Athian Ali M. Da’i, MAManusia dan Akal, Republika OnLine, Jumat, 08 Mei 2009, 15:57 WIB].
Dalam Islam, akal memiliki posisi yang
sangat mulia. Meski demikian, bukan berarti akal diberi kebebasan tanpa batas
dalam memahami agama.Islam memiliki aturan untuk menempatkan akal sebagaimana
mestinya. Bagaimanapun, akal yang sehat akan selalu cocok dengan syariat Allah,
dalam permasalahan apapun.
Akal adalah
nikmat besar yang Allah titipkan dalam jasmani manusia. Nikmat yang bisa
disebut hadiah ini menunjukkan akan kekuasaan Allah yang sangat menakjubkan.
Oleh karenanya, dalam banyak ayat Allah memberi semangat untuk berakal (yakni
menggunakan akalnya), di antaranya:“Dan
Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan
bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum
yang memahami(nya).” (An-Nahl: 12).
“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang
berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang
bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami
melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang
rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran
Allah) bagi kaum yang berfikir.” (Ar-Ra’d: 4).
Sebaliknya
Allah mencela orang yang tidak berakal seperti dalam ayat-Nya:“Dan mereka berkata: ‘Sekiranya kami
mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk
penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala’.” (Al-Mulk: 10).
Ibnu Taimiyyah
mengatakan: “(Maknanya yaitu) tidak
berakal dan tidak punya tamyiz (daya pemilah)… Bagaimanapun (hal itu) tidak
terpuji dari sisi itu, sehingga tidaklah terdapat dalam kitab Allah I serta
dalam Sunnah Rasulullah r pujian dan sanjungan bagi yang tidak berakal serta
tidak punya tamyiz dan ilmu. Bahkan Allah telah memuji amal, akal dan pemahaman bukan
hanya dalam satu tempat, serta mencela keadaan yang sebaliknya di beberapa
tempat…” [Al-Ustadz Qomar Suaidi Lc,Kedudukan Akal dalam Islam,www.asysyari’ah,Monday, 11 July 2011 08:06].
Pentingnya
ilmu itulah tergambar dari saat turunnya ayat pertama yang diterima oleh
Rasulullah Saw yaitu tentang “Iqra” bacalah.
Sungguh
bijaksana apabila Allah memberikan solusi mendasar terhadap problema kehidupan
dengan perintah ”iqra’”. ”Bacalah!, dengan menyebut asma Tuhanmu
Yang Menciptakan. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan
Tuhanmulah yang Maha Pemurah.Yang Mengajarkan kepada manusia apa yang tidak ia
ketahuni.”(QS. Al-Alaq 1-5).
Ibnu
Katsir menjelaskan maksud ayat siatas sebagai berikut:”Dan sesungguhnya, di
antara kemurahan Allah adalah mengajarkan kepada umat manusia sesuatu yang
tadinya tidak diketahui. Maka Allah mengangkat dan memuliakannya dengan ilmu.Inilah
jabatan yang hanya diberikan Allah kepada nenek moyang manusia, Adam as, yang
membedakannya dari malaikat."
Perintah
membaca dalam ayat “Iqra’” tidak disebutkan obyek (maf'ul bih)
nya.Dalam kaedah bahasa, hal ini menunjukkan bahwa perintah membaca tidak
terbatas pada obyek tertentu, tetapi membaca segala sesuatu dari ayat-ayat
Allah; baik yang bersifat qauli maupun yang kauni.Ayat-ayat
yang berbentuk ciptaan-Nya (Alladzi khuliqa) ataupun ayat-ayat yang
diajarkannya melalui lisan para Nabi-Nya (Alladzi ’allama) dalam wujud
Kitab al-Qur’an.
Membaca disini
maksudnya bukanlah mengeja kata-kata. Membaca dalam pengertiannya yang luas
mengandung makna: melakukan pengamatan dengan indera, memikirkan dengan akal, mengambil
hikmah dengan qalbu serta menerima dan meyakini kebenaran yang difirmankan oleh
Allah melalui Nabi-Nya.
Jika demikian, amatlah wajar apabila kegiatan membaca menjadi pusat perhatian
Allah, sehingga ditempatkan sebagai wahyu pertama yang harus dilakukan oleh
Rasulullah dan ummat beliau, karena memiliki posisi yang sangat penting dalam
kehidupan manusia.[Iqra’, Menjadikan
Anda Bebas dari Kejahilan! Hidayatullah.com.Rabu, 08 Juni 2011 Ainur
Rofiq].
Islam adalah
agama yang sempurna. Kesempurnaan ini akan senantiasa dijaga oleh Allah sampai hari
kiamat. Namun, sudah menjadi sunatullah bahwa akan selalu muncul orang-orang
ataupun kelompok yang berusaha merusak atau pun memunculkan kekaburan pada
agama yang sudah jelas ini.
Di antaranya adalah perusakan yang dilakukan oleh orang-orang yang lebih mengedepankan akal dibanding nash Al Qur’an dan As Sunnah. Gerakan ini muncul di banyak tempat dan sudah berlangsung sejak dulu. Termasuk di Indonesia, gerakan ini sekarang dikenal dengan Jaringan Islam Liberal (JIL).
Di antaranya adalah perusakan yang dilakukan oleh orang-orang yang lebih mengedepankan akal dibanding nash Al Qur’an dan As Sunnah. Gerakan ini muncul di banyak tempat dan sudah berlangsung sejak dulu. Termasuk di Indonesia, gerakan ini sekarang dikenal dengan Jaringan Islam Liberal (JIL).
Menurut
pemahaman Ahlus Sunnah, satu hal yang sudah mapan (sudah pasti dan tetap) dalam
aqidah bahwa dalam memahami agama ini harus selalu mendahulukan Al Qur’an dan
As Sunnah berdasar pemahaman Salafus Shalih dibanding akal.Manakala ada sesuatu
yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As-Sunnah maka harus kita singkirkan.
Hal ini berdasarkan apa yang Allah jelaskan dalam kitab-Nya dan Rasulullah
sebutkan dalam Sunnahnya, di antaranya:“Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya
Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurat: 1)
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari
Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.Amat
sedikitlah kamu mengambil pelajaran (darinya).” (Al-A’raf: 3)
“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih maka
putusannya (terserah) kepada Allah.(Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah
Allah Tuhanku.Kepada-Nyalah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali.”
(Asy-Syura: 10)
Nabi bersabda:“Saya tinggalkan pada kalian dua
perkara yang kalian tidak akan sesat setelah berpegang dengan keduanya yaitu
Kitab Allah dan Sunnahku.” (Riwayat Al-Hakim dari Abu Hurairah).
Ketika masa
semakin jauh dari zaman kenabian dan semakin banyak muncul fitnah, datang
sebuah pemikiran atau paham bahwa akal harus didahulukan daripada wahyu (dalil
naqli) ketika keduanya bertentangan -menurut pemahaman penganutnya-.Paham
taqdimul aql ‘alan naql (mendahulukan akal dari pada naqli) yang berarti pula
taqdisul ‘aql (mengkultuskan akal) ini, jika kita teliti silsilah nasabnya
(asal-usulnya), maka ia akan berujung pada Iblis la’natullah ‘alaihi.
Dialah yang
pertama kali menggunakan akalnya untuk menolak perintah Allah tatkala Allah memerintahkan dia bersama malaikat sujud
kepada Nabi Adam. Allah berfirman:“Sesungguhnya
Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami
katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”; maka merekapun
bersujud kecuali Iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah
berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku
menyuruhmu?” Iblis menjawab: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya
dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (Al-A’raf: 11-12)
Ibnul Qayyim berkata: “Perbuatan menentang wahyu dengan
akal adalah warisan Syaikh Abu Murrah (iblis). Dialah yang pertama kali
menentang wahyu dengan akal dan mendahulukan akal dari pada wahyu.”
Manhaj
(metodologi) ini kemudian diwarisi oleh para pengikut iblis dari kalangan musuh
para Rasul.Di antaranya adalah kaum Nabi Nuh yang melakukan penentangan
terhadap dakwah beliau. Mereka berkata sebagaimana dikisahkan oleh Allah :“Dan
berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: ‘Kami tidak melihat kamu
melainkan sebagai manusia biasa seperti kami. Dan kami tidak melihat
orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang yang hina dina di antara kami
yang mudah percaya begitu saja. Kami tidak melihat kamu memiliki kelebihan
apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.’”
(Hud: 27)
Yakni,
orang-orang yang menentang Nabi Nuh berkata bahwa mereka (para pengikut Nabi
Nuh) mengikuti beliau tanpa dipikir benar-benar (Tafsir As-Sa’di, hal. 380).
Orang-orang kafir itu beralasan, mereka tidak mengikuti Nabi Nuh u karena
menganggap diri mereka sebagai orang-orang yang rasionya maju dan berpikir
panjang, sedang pengikut para rasul berakal pendek (lekas percaya).[Al-Ustadz
Qomar Suaidi Lc,Penyembah Akal adalah pengikut Iblis,www.asysyari’ah, Monday,
11 July 2011 08:04].
Allah Yang Maha
Pengatur (ArRabb) memberikan pula sumber informasi berupa wahyu yang diturunkan
kepada para Rasul yang kemudian disebar luaskan kepada manusia.Nabi Muhammad
RasuluLlah SAW adalah nabi dan rasul yang terakhir.Setelah beliau, Allah tidak
lagi menurunkan wahyu. Dalam shalat kita minta kepada Allah: Ihdina shShira-tha
lMustqiym (1:6), tuntunlah kami ke jalan yang lurus. Maka Allah menjawab: Alif,
Lam, Mim. Dza-lika lKita-bu la- Rayba fiyhi Hudan lilMuttaqiyn (s. alBaqarah,
1-2), inilah kitab tak ada keraguan dalamnya penuntun bagi Muttaqiyn (s. Sapi
betina, 2:1-2). Al Quran yang tak ada keraguan dalamnya memberikan informasi
kepada manusia tentang perkara-perkara yang manusia tidak sanggup
mendapatkannya sendiri dengan kekuatan akalnya: 'Allama lInsa-na Ma-lam Ya'lam
(s. al'Alaq, 5), (Allah) mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.
Kebenaran mutlak (Al Haqq) tidak mungkin dapat dicapai oleh manusia
dengan kekuatan akalnya.Kebenaran mutlak tidak mungkin diperoleh dengan upaya
pemikiran mekanisme otak yang berwujud filsafat.Juga kebenaran mutlak tidak
dapat dicapai manusia dengan upaya renungan mekanisme qalbu dalam wujud
tasawuf.Al Haqq tidak dapat dicapai melalui filsafat ataupun tasawuf. Al Haqqu
min rabbikum (s. alKahf, 29), artinya Al Haqq itu dari Rabb kamu (s. Gua
18:29). Alam ghaib juga tidak mungkin diketahui manusia dengan kekuatan
akalnya.Filsafat dan tasawuf tidak mungkin dapat menyentuh alam ghaib.
Demikianlah tolok ukur produk pemikiran dan renungan yang berupa
filsafat dan tasawuf itu adalah: "Dza-lika lKita-bu la- Rayba fiyhi Hudan
lilMuttaqiyn". Filsafat dan tasawuf harus dibingkai oleh Al Quran dan
Hadits shahih, sebab kalau tidak demikian, maka filsafat dan tasawuf itu
menjadi liar.Sungguh-sungguh suatu keniscayaan, para penganut dan pengamal
filsafat dan tasawuf tanpa kendali itu menjadi sesat. Terjadilah fenomena yang
naif, lucu, tetapi mengibakan, yaitu antara lain filosof itu berimajinasi
tentang pantheisme, sufi itu ber"kasyaf" terbuka hijab, merasa
bersatu dengan Allah. Adapun indikator penganut dan pengamal filsafat dan
tasawuf tanpa kendali itu, adalah upaya yang sia-sia untuk mempersatukan segala
agama. Inilah yang selalu kita mohonkan kepada Allah SAW setiap shalat, agar
tidak terperosok ke dalam golongan "Dha-lluwn", kaum
sesat. [H.Muh.Nur AbdurrahmanPeranan Wahyu dan Akal dalam Kehidupan
Makassar, 20 Oktober 1991].
Kita harus menempatkan posisi akal untuk mengolah informasi atau ilmu
yang diterimanya, tidak lebih, bila menempatkan akal diatas segala-galanya maka
sesatlah kehidupan yang dilalui, untuk menyerap, menelaah, dan membedakan yang
benar dengan yang salah maka gunakanlah akal, itulah makanya ilmu yang benar
bisa menempatkan akal sesuai proporsinya, demikian pentingnya ilmu dibandingkan
segala milik yang ada pada manusia.
Dari segi harta Abu Hurairah Radhiallaahu anhu memang
termasuk golongan fuqara’ (kaum papa), memang hartanya telah sirna, tapi
ilmunya tak pernah sirna, kita semua masih tetap membacanya. Inilah buah
seperti yang tersebut dalam hadits Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam :“Jika manusia mati terputuslah amalnya
kecuali tiga: shadaqah jariyah, atau ilmu yang dia amalkan atau anak shalih
yang mendoakannya.”
Ilmu, sebanyak apapun tak menyusahkan pemiliknya untuk menyimpan,
tak perlu gedung yang tinggi dan besar untuk meletakkannya. Cukup disimpan
dalam dada dan kepalanya, bahkan ilmu itu yang akan menjaga pemiliknya sehingga
memberi rasa nyaman dan aman, lain halnya dengan harta yang semakin bertumpuk,
semakin susah pula untuk mencari tempat menyimpannya, belum lagi harus
menjaganya dengan susah payah bahkan bisa menggelisahkan pemiliknya.
Ilmu, bisa menghantarkan pemiliknya menjadi saksi atas
kebenaran dan keesaan Allah.Adakah yang lebih tinggi dari tingkatan ini? Inilah
firman Allah Ta’ala:“Allah
menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang
menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga
menyatakan yang demikian itu).Tak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan
Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali Imran:
18).
Sedang pemilik harta? Harta sama sekali takkan
menghantarkan pemiliknya sampai ke derajat sana.
Para ulama (Ahli ilmu syari’at), termasuk golongan
petinggi kehidupan yang Allah perintahkan supaya orang mentaatinya, tentunya
selama tidak menganjurkan durhaka kepada Allah dan RasulNya, sebagaimana
firmanNya:“Hai orang-orang yang beriman,
taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan ulil amri di antara kamu.”
(An-Nisa: 59).
Ulil Amri, menurut ulama adalah Umara’ dan Hukama’ (Ahli
Hikmah/Ahli Ilmu/Ulama). Ulama berfungsi menjelaskan dengan gamblang syariat
Allah dan mengajak manusia ke jalan Allah. Umara’ berfungsi mengoperasionalkan
jalannya syariat Allah dan mengharuskan manusia untuk menegakkannya.
Para ulama, mereka itulah yang tetap tegar dalam
mewujudkan syariat Allah hingga datangnya hari kiamat. Rasulullah Shallallaahu
alaihi wa Salam telah bersabda:“Barangsiapa
yang Allah kehendaki padanya kebaikan, maka Allah akan fahamkan dia dalam
(masalah) dien. Aku adalah Al-Qasim (yang membagi) sedang Allah Azza wa Jalla
adalah yang Maha Memberi. Umat ini akan senantiasa tegak di atas perkara Allah,
tidak akan memadharatkan kepada mereka, orang-orang yang menyelisihi mereka
sampai datang putusan Allah.” (HR. Al-Bukhari).
Imam Ahmad mengatakan tentang kelompok ini: “Jika mereka bukan Ahlu Hadits maka aku
tidak tahu siapa mereka itu”.[Afifi Widodo, Ilmu,
Simbol Kejayaan Umatwww.alsofwah.or.id/khutbah].
Ilmu itu
berasal dari Allah, sehingga tidak patut dicemari, berbahagialah orang-orang
yang mampu meraihnya dengan menggunakan akalnya, yaitu akal yang terbimbing
oleh hidayah dan wahyu, bukan akal yang akal-akalan untuk mengacak-acak ajaran
Islam dengan persepsi yang keliru melalui kelompok-kelompok sekuler dan
liberal, selayaknya dengan ilmu ummat islam akan jaya lagi sebagaimana
masa-masa lalu yang sudah menorehkan sejarah gemilang pada kejayaan Islam, Wallahu A’lam. [Baloi Indah, 3 Ramadhan 1436.H/2015, Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam, Kepri]
Penampilan
sederhana ini bernama Mukhlis yang dilahirkan di ujung Selatan Pulau
Sumatera yaitu Metro [Lampung Tengah] tanggal 3 April 1964
anak ketiga dari ayah bernama Sutan
Denak dan ibu Rosnidar dengan enam orang adik kakak yaitu Ernawati, Marsudi,
Erma, Septiyani, Mahdalena dan Adek Wahyuli, isteri bernama Yulismar S.Pd
[Ayang] dengan seorang anak wanita bernama Rani Ihsani Mukhlis, nama yang akrab
di kalangan teman dan sahabatnya adalah Mukhlis Denros. Kampung asalnya Kampani Barangan Selatan,
Nagari Lurah Ampalu, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak Kabupaten Padang
Pariaman, Sumatera Barat, dengan suku Koto, besar dan menempuh pendidikan di
Kota Lada Metro Lampung.
Pendidikan yang pernah ditempuhnya yaitu
SDN yang dimulai di SDN Koto Marapak [Kota Pariaman], ketika kelas IV dia harus
meninggalkan kampung bersama ayah dan ibunya menuju Metro, SD diselesaikannya
di SDN IV Metro, dilanjutkan ke SMP PGRI Metro, kemudian SMAN 135 Metro yang
dapat diselesaikan tahun 1984, tidak ada maksud untuk kuliah karena berbagai
faktor, berkat dorongan teman-teman dan gurunya terutama Ustadz Masnuni M.Ra'i,
Alfuadi Rusli, H. Muhammad Lazim, H. Fakhrudin, Sugito, Hayumi Rb,Hayumi Rf, H.
Rasyidin dan Malin Marajo di Masjid Al Jihad akhirnya tahun ini juga
melanjutkan kuliah di IAIN, inilah pendidikan terakhir yang ditempuhnya yaitu
Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Institut Agana Islam Negeri
[IAIN] Raden Intan Lampung di Metro
tamat tahun 1990. Ketika tamat kuliah dia harus meninggalkan Metro dan memulai
kiprahnya di Koto Baru Kabupaten Solok Sumatera Barat sebagai pendidik, dosen,
penulis, mubaligh hingga sebagai
politisi akhirnya.
Sejak di bangku SMA hingga tamat kuliah,
Mukhlis giat di OSIS Gema Al Qur'an AL
Jihad dan Remaja Masjid Al Jihad Metro
bersama teman-temannya Dody Sofial, Abul Fatrida, Yurnalis, M. Syafei,
Irza Murni, Gusnita, Herwina, Afrizal, Yohanes dan Rita Suryani, dikala kuliah
bergabung dengan HMI Cabang Metro bersama Ahmad Ridwan, Gatot Subroto, Sigit
Triyono, Syuhada', Raihan dan Usdek, mengikuti pengkaderan Basic Training di
Metro tahun 1985 dan Intermediate Training di Palembang tahun 1986 dan pernah
menjabat sebagai Sekretaris HMI Komisariat IAIN dan wakil sekretaris HMI Cabang
Metro.
Menjadi guru adalah cita-citanya sejak
awal dan hal itu telah terujud walaupun tidak sebagai PNS, pernah mengajar di
GAA dan SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah, mengajar di SMEA Budi Mulia Koto
Baru, MTsN Koto Baru Solok dan sebagai dosen PGTK Adzkia Padang, Aktivitas
sebagai pendidik ini dia tekuni sejak di bangku kuliah tahun 1984 sampai tahun
2000, kemudian aktif sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok utusan dari Partai
Keadilan/Partai Keadilan Sejahtera, selama dua periode 1999-2009. Di Solok
bersama teman-temannya yaitu Mahyeldi Ansharullah, Afrizal M Noor, Muhidi,
Nurfirmanwansyah, Johandrizon Syamsu, Ahmad Syafwan Nawawi, Firmansyah, Abdul
Ghani, Gustami Hidayat, Saifullah Salim,
Rudianto, Busril, Endrizal, Ismail Zain, Devi Herizon, Ilzan Sumarta, dan Helmi
Darlis merintis kegiatan da'wah sejak tahun 1990 di sekolah, kampus, dan
masjid-masjid melalui pesantren kilat, diskusi, ceramah dan khutbah sebagai
cikal bakal berdirinya Partai Keadilan ketika itu.
Tahun 1998 dikala Reformasi terjadi,
sekian partai berdiri untuk menyongsong Indonesia yang lebih demokratis setelah
lengsernya Soeharto kemudian dilanjutkan oleh BJ Habibie, berdiri pulalah
partai yang berbasiskan anak-anak muda kampus dengan kapasitas da'wah dan
tarbiyah, partai itu bernama Partai
Keadilan. Mukhlis diamanatkan oleh DPW PK Sumatera Barat sebagai ketua DPD PK
di Kabupaten Solok, pelantikan pengurus DPW dengan ketua Drs. Ahmad Syafwan
Nawawi dan DPD PK se Sumatera Barat dikukuhkan di Padang oleh DR. Nur Mahmudi
Ismail MSc sebagai Presiden Partai Keadilan pertama.
Dikala Partai Keadilan menjadi Partai Keadilan Sejahtera untuk kedua
kalinya Mukhlis Denros dipercaya sebagai ketua DPD di Kabupaten Solok dan
jabatan terakhir di partai dipercayakan kepadanya adalah sebagai Ketua Zona
Da'wah VII PKS Sumatera Barat hingga tahun 2007, yang membina DPD PKS Kota
Solok, Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan. Terlalu banyak pelajaran
dan pengalaman yang dia terima dari kegiatan da'wah dan partai bersama
teman-temannya
Mukhlis Denros, demikian akrab di sapa,
selain sebagai pendidik juga aktif berda’wah baik melalui ceramah, diskusi
agama, khutbah dan penyebaran tulisannya melalui Buletin Da’wah Garda Anak
Nagari serta media Nasional yang pernah memuat tulisannya seperti Majalah
Serial Khutbah Jum’at, Majalah Suara Masjid , Majalah Sabili, Majalah Tarbawi,
Majalah Ishlah, Majalah Reformasi Jakarta, Majalah Al Muslimun Bangil serta
koran Swadesi dan Sentana juga pernah memuat tulisannya yang sarat dengan
pendidikan dan nuansa islamnya, Media Mimbar Minang Padang selama bulan
Ramadhan penuh memuat tulisannya tiap hari terbit. Dia tidak pernah membuang waktu dengan kegiatan
yang tidak ada manfaatnya, waktunya selalu terisi dengan aktivitas positif
seperti membaca atau menulis selain kegiatan harian lain.
Mukhlis
Denros Terima Penghargaan Sebagai Penulis Terbaik dari Media Suara Keadilan
Rakyat (SKR) , Minggu (15/12) di Gedung Pusat Kebudayaan kota
Sawahlunto.Penghargaan tersebut merupakan program Tabloit SKR yang selama ini
membentuk tim untuk melakukan penilaian terhadap sejumlah penulis dan tokoh di
Sumatera Barat dengan sejumlah kategori yang ditetapkan.
Penganugerahan sebagai Penulis Terbaik SKR Awards 2013
yang diberikan kepada Mukhlis Denros diserahkan oleh Wakil Wali Kota Sawah
Lunto yaitu Bapak Ismet SH, Mukhlis Denros dinilai sebagai penulis terbaik
karena konsistensinya dalam menulis berbagai pemikiran berkaitan dengan dakwah,
pendidikan dan politik yang telah melahirkan berbagai buku yang diterbitkan
oleh penerbit.
Mukhlis
Denros menerima berupa plakat dan piagam sebagai bentuk penghargaan atas
keberhasilannya menulis yang dinilai sebagai penulis terbaik, sebagaimana
penilaian TIM SKR yang terdiri dari Prof, Wil Chandry, Fadril Aziz Isaini dan
Prof,DR, H. Salmadanis, Mag.
Pada
malam penganugerahan SKR Awards 2013 tersebut
diserahkan 13 penghargaan dengan kategori berbeda kepada tokoh
lainnyayang dihadiri oleh Wawako Sawahlunto, Ismed, Pimpinan Serikat Perusahaan
Pers Pusat, Totok dan pendiiri Tabloit SKR, Riko Adiutama beserta sejumlah
tokoh Sumatera Barat lainnya.
Moto hidupnya sangat sederhana, agar
bermanfaat bagi orang lain dengan potensi yang dimiliki, semua itu hanya bisa
dilakukan dengan pendidikan yang
berkualitas. Dia menceritakan bahwa karena kegigihan orangtuanyalah untuk
mendidiknya dengan segala kesusahan dan derai air mata tapi akhirnya berhasil
mengantarkannya sebagai sarjana. Sebagai modal hidup di dunia ini,
sehingga dapat dikatakan tak bisa
membalas dan mengukur jasa orangtua yang telah mengantarkan kesuksesannya baik
memimpin partai maupun sebagai anggota
DPRD dalam dua periode ini. Bersama Partai Keadilan dan PPP Kota Solok tahun 2000 dia pernah dicalonkan
sebagai Wakil Wali Kota Solok yang berpasangan dengan Drs. Syukriadi Syukur.
Sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok
selama dua periode diembannya, dia tampil sebagai politisi yang kritis dan
bernas terhadap kebijakan Pemda dan Bupati yang tidak sesuai dengan kepentingan masyarat, diapun tidak
segan-segan menghantam anggota DPRD dikala mereka tidak aspiratif
[http://fraksi pks solok.blogspot.com].
Bersama ustadz
Mahyeldi Ansyarullah dalam gerakan da’wah dengan lembaga Al Madaniy di Padang
yang diawali tahun 1990, Mukhlis Denros banyak terlibat dalam berbagai kegiatan
da’wah seperti tahun 1994 pernah ke Palembang untuk mengikuti pertemuan da’i se
Jakarta dan Sumatera undangan dari Yayasan Bumi Andalas dan tahun 2000 Seminar
Nasional tentang Syari’ah di Medan yang diiringi dengan berbagai pertemuan
da'wah di Sumatera Barat ataupun di Jakarta, selain itu juga pernah selama 2
tahun sebagai da’i dari IIRO [Internasional islamic Relief Organisation] dan
kini sebagai anggota IKADI Solok yang juga memimpin yayasan Garda Anak Nagari
Sumatera Barat.
Organisasi lain yang
ikut dia tekuni selama di DPRD adalah sebagai Sekjen Majelis Ulama Indonesia
[MUI] Kabupaten Solok, sebagai Badan Pengawas Badan Amil Zakat Kabupaten Solok,
juga ikut membidani lahirnya beberapa lembaga da'wah berbentuk Yayasan di
Kabupaten Solok yang dikelola oleh teman-temannya seperti Yayasan Sinergi
Ummat, Yayasan Lukmanul Hakim, Yayasan Amanah Bunda, Yayasan Ahda Sabila,
Yayasan Nurul Haq, Yayasan Garda Anak Nagari dan Yayasan Selasih Solok.
Setelah dua periode
menyelesaikan tugas sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok, dalam mengisi
kegiatan hariannya Mukhlis Denros bersama isteri Yulismar S.Pd tinggal di
Nagari yang berbukit dan berlembah, yang sejuk dan asri, jauh dari kebisingan,
aman dan nyaman yaitu Jorong Cubadak Nagari Pianggu Kecamatan IX Koto Sungai
Lasi, Kabupaten Solok, Sumatera Barat tetap konsisten dengan kegiatan
sebelumnya yaitu da'wah dan menulis.
Sejak bulan Februari 2015, setelah enam tahun tinggal
di Cubadak Pianggu Kecamatan Sungai Lasi Kabupaten Solok Sumatera Barat, kini Mukhlis Denros menetap di Kota Batam
Kepri, turut berkiprah sebagai staf di Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Kota
Batam yang diketuai oleh Ibu Dra. Hj.
Helma Munaf, M.Pd dan bergabung pula dengan PMB [Persatuan Mubaligh Batam].
Di Batam, Mukhlis Denros dengan Pedro Johansis dan Mardison
mengembangkan Yayasan Garda Anak Nagari dengan membuka Garda Anak Nagari
Provinsi Kepulauan Riau, Insya Allah dalam waktu dekat akan membuka cabang
Garda Anak Nagari di seluruh Kabupaten dan Kota Provinsi Kepulauan Riau, semoga hal itu terujud.
Nama Lengkap :
Drs. St. Mukhlis Denros
Tempat dan Tanggal Lahir : Metro, 3 April 1964
Jumlah bersaudara : Anak ke 3 dari 7 orang
Nama Ayah : Sutan Denak
Nama Ibu : Rosnidar
Nama Isteri : Yulismar, S.Pd
Nama Anak : Rani Ihsani Mukhlis
RIWAYAT PENDIDIKAN
1.
SDN 4 Metro
Lampung, tamat tahun 1975
2.
SMP PGRI Metro
Lampung, tamat tahun 1981
3.
SMAN 135 Metro
Lampung, tamat tahun 1984
4.
Gema Al Qur'an Al
Jihad Metro tamat tahun 1988
5.
Sarjana Muda
Tarbiyah IAIN Raden Intan Lampung, tahun
1988
6.
Sarjana Tarbiyah
IAIN Raden Intan Lampung tamat tahun 1990
PENGALAMAN ORGANISASI
1.
Ketua Osis GAA Metro Lampung Tengah 1987-1989
2.
Sekum IRM Al Jihad Metro Lampung Tengah 1986-1988
3.
Wakil Sekretaris HMI Cab. Metro Lampung Tengah 1985-1990
4.
Sekjen
Majelis Ulama Indonesia [MUI}
Kab. Solok 2005/2006
5.
Anggota Pengawas BAZ
Kabupaten Solok 2006
6.
Anggota IKADI (Ikatan Da’i Indonesia)
Kabupaten Solok
7.
Da'i
IIRO [International Islamic Relief Org.] Sumbar 1995-1997
8.
Ketua Yayasan
Garda Anak Nagari Sumatera Barat
9.
Ketua Pembina Yayasan Selasih Kabupaten Solok
10.
Ketua Pembina Yayasan Lukmanul Hakim Kota
Solok
11.
.Ketua Yayasan Garda Anak Nagari Kab.Solok
2000-2005
12.
Pembina Yayasan Sinergi Ummat Kota Solok
13.
Pembina Yayasan Amanah Bunda Kabupaten Solok
PENGALAMAN
PROFESI
1.
Guru SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah
1988-1990
2.
Guru GAA Metro Lampung Tengah 1988-1990
3.
Guru MTsN Koto Baru Kabupaten Solok 1997-1999
4.
Guru SMK Budi Mulia Koto Baru Kab. Solok
1991-2000
5.
Dosen PGTK Adzkia Kota Padang 1994-2000
6.
Anggota
DPRD Kabupaten Solok Periode
1999-2004
7.
Anggota DPRD Kabupaten Solok Periode 2004-2009
8.
Staff Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam,
2015-
PERJALANAN
DA'WAH
1.
Maperca dan Basic Training HMI Cabang Metro
1985
2.
Intermediate Training HMI di Palembang 1986
3.
Latihan Pers Mahasiswa IAIN di Tanjung Karang
1986
4.
Tarbiyyah Islamiyyah di Sumatera Barat
1990-1994
5.
Muzakarah Du'at se Sumatera /Jakarta di
Sumatera Selatan 1994
6.
Muzakarah Du'at se Sumatera/Jakarta di Sumatera Selatan 1996
7.
Muzakarah Du'at se Sumatera/ Jakarta di Bukit Tinggi 1998
8.
Muzakarah Manajemen Zakat, IMZ Jakarta 2002
9.
Seminar Syari'ah Nasional di Medan Sumatera
Utara 2000
10.
Pertemuan Anggota DPRD se Indonesia di Jakarta 2000
11.
Pertemuan Anggota DPRD se Indonesia di Bogor 2002
12.
Pertemuan da'i IIRO se Indonesia di Jakarta 2000
13.
Silaturrahmi Nasional Anggota Legislatif di
Jakarta 2005
BUKU YANG
TELAH DITERBITKAN
1.
Fikih Wanita, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
2.
Tarbiyatul Aulad, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
3.
Kumpulan Ceramah Praktis, Nurul Haq, 2010
4.
Renungan Ramadhan, Pustaka Setia Bandung, 2011
5.
Memanusiakan Manusia, Qibla Jakarta, 2011
6.
Kumpulan Khutbah Jum’at, Pustaka Setia Bandung, 2011
7.
Khutbah Jum’at, Janji Allah dan Upaya Meraihnya, Arkola
Surabaya, 2011
8.
Khutbah Jum’at Penyejuk Hati, Pustaka Albana Jogjakarta,
2012
9.
Andai Aku Tahu Dosa Itu Ada, FAM Publishing Kediri, Jawa
Timur, 2012
10.
Kumpulan Khutbah Jum’at Terbaik, Mutiara Media, Jogjakarta, 2013
11.
Man Rabbuka, Al Barokah, Jogjakarta, 2014
12.
Ensiklopedi Penulis Indonesia Jilid I, FAM Publishing
Kediri, Jawa Timur,2014
13.
Kumpulan Khutbah Pengobat Hati, Mutiara Media, Jogjakarta, 2014
PUBLIKASI
TULISAN DI MEDIA
1.
Majalah Serial Khutbah Jum'at, Jakarta
2.
Majalah Suara Masjid, Jakarta
3.
Majalah Ishlah, Jakarta
4.
Majalah Reformasi, Jakarta
5.
Majalah Al Muslimun, Bangil
6.
Majalah Sabili, Jakarta
7.
Majalah Tarbawi, Jakarta
8.
Majalah Muamalat, Jakarta
9.
Majalah Kiblat, Jakarta
10.
Majalah Harmonis, Jakarta
11.
Majalah Estafet, Jakarta
12.
Majalah Sakinah, Jakarta
13.
Harian Serambi Minang, Padang
14.
Harian Semangat, Padang
15.
Harian Mimbar Minang, Padang
16.
Harian Singgalang, Padang
17.
Tabloid Sumbar Post, Padang
18.
Tabloid Zaman, Padang
19.
Tabloid Solinda, Kabupaten Solok
20.
Tabloid Lentera, Padang
21.
Tabloid Suara Keadilan Rakyat, Sawahlunto
22.
Tabloid, Media Islam Batam
23.
Tabloid Dyi’ar Islam Batam
24.
Buletin DPW PKS Sumatera Barat, Padang
25.
Buletin Riswan, Koto Baru Kabupaten Solok
26.
Buletin Da'wah Masjid Al Furqan Kota Solok
27.
Buletin Da'wah Garda Anak Nagari Kabupaten
Solok
28.
Buletin Da'wah Sebening Embun
29.
Buletin Da'wah Selasih Solok
30.
Mingguan Suara Rakyat, Solok
31.
Mingguan Bijak, Padang
32.
Mingguan Swadesi, Jakarta
33.
Mingguan Sentana, Jakarta
34.
Mingguan Raden Intan Pos, IAIN Lampung
35.
Pariaman Post, Sumatera Barat


Tidak ada komentar:
Posting Komentar