RAMDHAN DAN TAUBAT NASUHA
Drs. St. Mukhlis Denros
Ramadhan disebut juga dengan Syahrul
Ghufran artinya bulan ampunan. Allah akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya bila
dilakukan dengan sungguh-sungguh bertaubat yaitu taubat nasuha. Menyesali
perbuatan dosa, tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang pernah terjadi dan
menghiasi hidup dengan amal shaleh.
Allah
menciptakan hamba-Nya dalam kondisi suci, mulia dan tidak berdosa sebagai mana
yang disabdakan oleh Rasulullah Saw, “Setiap bayi yang lahir ke dunia ini dalam
keadaan suci, maka akan jadi Yahudi, Nasrani dan Majusi tergantung dari pendidikan
orangtuanya”. Orangtua yang dimaksud adalah guru ketika di sekolah, ayah dan
ibu ketika berada dalam rumah tangga dan tokoh masyarakat ketika berada di
lingkungan sosialnya, ketiga orang inilah yang berperan penting agar anak
terpelihara kesuciannya. Namun realita kehidupan manusia penuh dengan gelimang
dosa, maksiat, salah dan keliru bahkan dengan merendahkan diri manusia mengakui
dirinya adalah makhluk yang dhaif, yaitu lemah dan tidak berdaya untuk menolak
dosa dan maksiat.
Dalam kehidupan ini kita selaku
manusia tidak pernah luput dari kesalahan. Entah sudah berapa banyak kita
melakukan perbuatan dosa. Jika dihitung dan dicatat perbuatan dosa kita setiap
hari dalam sebulan mungkin kita akan mendapatkan catatan dosa kita
setebal kamus. Atau mungkin berjilid-jilid banyaknya. Bayangkanlah! Berapa
banyak dosa yang kita perbuat selama hidup kita? Lalu bagaimana kita akan
menemui Sang Pencipta dengan berlumur dosa?
Memang sudah menjadi fitrah manusia
untuk berbuat kesalahan. Hal ini telah disabdakan oleh nabi Muhammad SAW,
“Setiap anak Adam pasti berbuat dosa, dan sebaik-baik pembuat dosa adalah
mereka yang bertaubat”. (HR.Tirmidzi). Seperti yang disabdakan Rasulullah SAW,
walaupun manusia berbuat dosa. Tidak lantas menjadikan manusia merugi begitu
saja. Bagi mereka yang mau bertaubat itulah yang terbaik untuk mereka.
Bahkan dalam hadis lain disebutkan
jika seluruh umat manusia tidak ada yang berbuat dosa. Maka Allah SWT
menggantinya dengan umat yang berbuat dosa, kemudian mereka memohon ampunan dan
Allah SWT mengampuninya. "Kalau kalian tidak berbuat dosa niscaya Allah
SWT akan mengganti kalian dengan kaum yang lain pembuat dosa, tetapi mereka
beristighfar dan Allah SWT mengampuni mereka".( HR.Muslim). Hal ini
mempertegas akan fitrah manusia dalam berbuat dosa.
Ketahuilah! Murka Allah SWT itu sangat
dasyat. Siksaan Allah sangat pedih. Akan tetapi kasih sayang-Nya meliputi alam
semesta. Ampunan Allah SWT sangat teramat luas bagi hambanya yang mau
bertaubat. Selama dosa itu bukan menyekutukan Allah SWT maka Allah akan
mengampuni dosa itu sebasar apapun dosa itu.[Agustiar Nur Akbar, Luasnya
Ampunan Allah SWT, Republika.co.id.Jumat,
20 Mei 2011 08:58 WIB].
Rasulullah
adalah suri tauladan bagi seluruh umat, dimana kita ketahui bahwasanya Rasulullah
senantiasa mengajarkan manusia pada kebaikan, kita tahu bahwasanya Beliau
adalah seorang hamba yang sudah diampuni setiap dosa selama masa hidupnya, akan
tetapi beliau senantiasa memohon ampunan kepada Allah, bahkan Rasulullah setiap
harinya beristighfar (memohon ampunan) kepada Allah sebanyak 70 sampai 100 kali
dalam sehari sebagaimana dijelaskan dalam dua hadis shahih :Dari Abu Hurairah
RA berkata, ia mendengar Rasulullah SAWbersabda : “Demi Allah. Sungguh aku
selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70
kali.” (HR Bukhari).
Rasulullah SAW
bersabda, “Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena
aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR
Muslim).
Seperti itulah
istighfar Rasulullah SAW sebagai manusia yang sudah diampuni setiap dosa selama
hayatnya, maka sungguh harus ribuan bahkan jutaan kali kita memanjatkan
istghfar kepada Allah karena diri kita penuh dengan tumpukan dosa yang
dilakukan siang dan malam, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits Qudsi:Allah
berfirman dalam hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa
di waktu siang dan malam, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka
mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.” (HR Muslim ).
Sungguh
maghfirah itu sangat luas dan sangat dekat asalkan kita mendekatkan diri
kepada-Nya dengan melaksanakan segala perintah dan manjauhi setiap
larangan-Nya.
Ketika Allah
menjelaskan bahwasanya kita selaku manusia sering melakukan dosa siang dan
malam, maka Allah memerintahkan kepada Rasulullah untuk mengajarkan sebuah doa
yang dianjurkan untuk dibaca siang dan malam hari yang masyhur dengan sayyidul
istighfar, sebagai doa pengakuan atas setiap dosa dan mengharapkan ampunan
dari-Nya.[Imron Nurtsani Lc,Meraih Maghfirah Allah, Republika.co.id. Sabtu, 20 Agustus 2011
14:15 WIB].
Manakala seorang hamba berbuat
dosa, durhaka, kesalahan atau keburukan, Allah berfirman kepadanya, "Wahai
hamba-Ku, kembalilah kepada-Ku. Bertaubatalah niscaya Aku akan mengampunimu."
Allah Ta'ala telah
berfirman dalam Kitab-Nya :Katakanlah, "Hai hamba-hamba-Ku yang
melampui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari
rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya
Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar [39] :
53)
"Dan (juga)
orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri
sendiri, mereka ingat Allah, lalu memohon amun atas dosa-dosa mereka dan siapa
lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah". (QS. Ali-Imran [3] :
135)
Tiada yang memaafkan
kekurangan-kekurangan, kecuali hanya Allah, dan tiada yang mengampuni
dosa-dosa, selain hanya Allah."Dan mereka tidak meneruskan perbuatan
kejinya itu, sedang mereka mengetahui."(QS. Ali-Imran [3] : 135)
Rasulullah
juga bersabda,“ Sekali-kali tidak akan beranjak kedua kaki seorang hamba
(manusia) pada Hari Kiamat nanti sehingga kepadanya ditanya tentang empat
perkara: Pertama, kemana umurnya dia habiskan. Kedua, ke mana masa
mudanya dia pergunakan. Ketiga, ke mana harta-bendanya ia belanjakan. Keempat,
ke mana ilmunya diamalkan.” [al-hadits].
Islam tak
pernah menganggap taubat sebagai langkah terlambat. Kapanpun kesadaran itu
muncul, Allah tetap menerimanya, selama nafas masih menempel di badan. Hisab
(perhitungan) akan amal-amal buruk kita di mata Allah akan segera terhapus
dengan taubat kita yang sungguh-sungguh (taubatan nasuha).
Kata Nabi, “Siapa
yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah akan menerima
taubat dan memaafkannya.” (H.R. Muslim)
Hanya saja
dalam Islam, menyangkut taubat ada kaidah dan adab-adabnya. Secara
terminologis, taubat mencakup tiga syarat: Pertama, meninggalkan
perbuatan dosa. Kedua, menyesali perbuatan yang telah dilakukannya. Ketiga,
bertekad tidak akan melakukannya kembali.
Taubat adalah
sebuah kata yang sangat sederhana, akan tetapi tindakan ke arahnya bukanlah
pekerjaan yang mudah. Banyak orang yang menginginkan segera mengakhiri
segala tindak dosanya, akan tetapi akibat balutan nodanya demikian pekat,
selalu saja mengalami kegagalan untuk bertaubat. Hanya mereka yang punya tekad
kuat dan yang dapat petunjuk dari Allah yang segera melangkahkan kaki menuju
taubat.
Setiap
manusia, pada dasarnya tidak akan terlepas dari perbuatan dosa. Sayangnya
terkadang –di antara tumpukan dosa itu—seseorang merasa bahwa semuanya sudah
terlambat untuk dibersihkan atau dihilangkan.
Perasaan
seperti ini jelas keliru. Hal itu termasuk Al Khabair, yakni satu di antara
puluhan dosa besar, yakni berputus asa dari rahmat Allah SWT.
Jangan sampai
hal seperti ini dibiarkan terus.Syetan akan memanfaatkan kondisi setengah putus
asa hingga bener-benar putus asa seperti ini, untuk terus mendorong kita
semakin terjerumus dalam bujuk rayunya.
Allah SWt berfirman,”
…dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan; karena sesungguhnya
syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS.Al Baqarah: 168).
Lebih lanjut Allah menjelaskan: “Barangsiapa yang mengikuti
langkah-lanngkah syetan, maka sesungguhnya syetan itu menyuruh mengerjakan yang
keji dan yang munkar.” (QS.24: 21)
Sebagai akibat
dari sikap mengikuti syetan ini, kemudian melahirkan sikap lain, yaitu: “
semuanya sudah terlanjur atau nasi sudah menjadi bubur” dan perasaan lain
seolah semua dosanya itu tidak akan ada lagi ampunan. Orang yang membiarkan
dirinya ada dalam suasana seperti ini akan terus tercampakkan dalam perbuatan
dosa dan kemaksiatan yang semakin jauh dan dalam. Tentu sikap seperti ini
berakibat fatal bagi individu yang bersangkutan. [Segerakan Tobat, Agar Lebih Terhormat!,hidayatullah.com
Kamis, 16 Desember 2010].
Imam Muslim di dalam kitab Shahihnya
meriwayatkan Hadits dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu bahwasanya Rasulullah
bersabda : “Barangsiapa yang melaksanakan wudlu dengan baik, kemudian
mendatangi (tempat shalat) Jum’at, lalu mendengarkan dan menyimak (khutbah)
dengan seksama, niscaya dosanya antara hari itu dan hari Jum’at (sebelumnya)
akan diampuni, dan ditambah tiga hari.” (HR.Muslim,]
Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda“Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at,
dan Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa yang terjadi di antaranya
apabila dosa-dosa besar dihindari.” (HR. Muslim,233)
Sebaliknya, orang yang meremehkan dan
mengabaikan kewajiban yang agung ini diancam dengan ancaman dan peringatan yang
keras. Di dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam bersabda di atas mimbarnya. “Hendaknya orang-orang itu benar-benar
menghentikan kebiasaan mereka meninggalkan shalat Jum’at atau Allah benar-benar
akan menyegel hati mereka kemudian mereka benar-benar akan termasuk orang-orang
yang lalai.” (HR.Muslim)
Dalam Hadits lain disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam bersabda :“Barangsiapa yang meninggalkan tiga shalat Jum’at karena
meremehkan, Allah akan menyegel hatinya.” (HR.Ahmad, Tirmidzi, An-Nasa’i,
dan Ibnu Majah).
Dalam riwayat lain disebutkan: “Ia
adalah munafik.” (HR.Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban,) Artikel Khutbah
Jum'at :Hari Taubat dan Waktu Mustajab, Kamis, 13 Januari 11].
Berbuat dosa karena meremehkan dosa itu
maka sikap demikian sangatlah dibenci Allah dan mereka adalaha orang-orang
munafik, sebagaimana Rasulullah menyatakan bahwa orang beriman itu dikala
melihat dosanya walaupun dosa kecil tapi
seperti gunung yang akan menghamtamnya, sedangkan orang munafik ketika
melihat dosanya walaupun dosa itu besar maka seperti melihat seekor lalat yang
akan hinggap ke mukanya, cukup dengan sekali gerakan saja maka lalat itu akan
terbang darinya. Taubat itu sangat penting sekali untuk membersihkan diri dari
perbuatan dosa yang pernah dilakukan karena akibat dosa itu bukan hanya di
akherat saja tapi berawal dari dunia, dosa membuat kita malu terhadap diri
sendiri, malu terhadap orang lain, tidak mampu kita memberi nasehat kepada
orang lain dengan petuah-petuah agama karena kita bergelimang dengan dosa, maka
jalannya hanya dengan bertaubat yaitu taubatan nasuha, berikut ini dua kisah
yang menceritakan taubatnya pendosa dan pelaku maksiat;
Dalam sebuah hadist yang
dikategorikan oleh Bukhari dan Muslim secara sepakat disebutkan bahwa dahulu di
kalangan orang-orang yang sebelum kalian —yakni kaum Bani Israel— ada seorang
lelaki yang telah membunuh 99 orang.
Lekaki ini telah berlumuran darah.
Jari-jemarinya, pakaiannya, tangan, dan pedangnya, semuanya basah oleh darah,
karena telah membunuh 99 orang dari kalangan orang-orang yang jiwanya
terpelihara.
Padahal seandainya semua
penduduk bumi dan penduduk langit bersatu padu untuk membunuh lelaki muslim,
tentulah Allah akan mencampakkan mereka semua dengan mukadi bawah ke dalam
Neraka. Maka terlebih lagi dengan seseorang yang datang dengan pedang yang
terhunus, sikap yang kejam, jahat, lagi emosi, akhirnya dia membunuh 99 orang.
Lelaki pelaku kejahatan ini
telah melumuri dirinya dengan darah banyak orang dan membinasakan banyak jiwa
yang diharamkan oleh Allah membunuhnya serta mencabut nyawa mereka. Sesudah
dirinya berlumuran dengan kejahatan dan dosa besar ini, ia menyadari
kesalahannya terhadap Allah.
Ia pun berpikir tentang
pertemuannya dengan Allah nanti, teringat saat hari kedatangannya kepada Allah
untuk mempertanggungjawabkan semua dosanya. Dia menyakini bahwa tiada yang
mengampuni dosanya, yag menghukumnya, yang menghisabnya, dan yang membenci
seorang hamba karena dosa, kecuali Allah Ta'ala.
Maka keluarlah ia dengan
pakaian yang berlumuran darah, sedang pedangnya masih meneteskan darah segar
dan jari-jemarinya berbelepotan darah. Ia datang bagaikan seorang yang mabuk,
terkejut, lagi ketakutan seraya bertanya-tanya kepada semua orang, "Apakah
aku masih bisa diampuni?"
Dia menyadari bahwa tiada yang
dapat memeri fatwa dalam masalah ini, kecuali hanhya orang-orang yang ahli
dalam hukum Allah. Ia pun pergi ke sana, ke tempt rahib itu, seorang ahli
ibadah dari kalangan kaum Bani Israel yang belum pernah merasakan manisnya limu
dan tidak pernah membekali dirinya dengan pengetahuan, penelitian, dan
penguasaan terhadap masalah-masalah agama. Dia hanya melakukan ibadahnya
menurut tata cara yang dibuat-buatnya sendiri tanpa ada dalil, baik dari
syariat maupun agama.
Ia pun pergi dengan langkah
yang cepat dengan penuh penyesalan, karena dosa-dosanya yang telah dilakukan,
lalu ia mengetuk pintu kuil si rahib itu.
Rahib itu mengharamkan atas
dirinya daging, makanan yang baik, pakaian yang baik, dan kawin itu, padahal
Allah tidak mengharamkan semuanya itu atas dirinya. Dia lakukan hal itu, karena
kejahilannya tentang maksud Allah Ta'ala. Ia pun keluar menyambutnya.
Lelaki penjahat ini masuk dan
ternyata pakaiannya masih berlumuran arah segar, membuat si rahib kaget, dan
terkejut bukan kepalang. Si rahib berkata, "Aku berlindung kepada Allah
dari kejahatanmu".
Sambutan ini jelas bukan tata
cara yang biasa digunakan oleh para ulama dan para da'i yang menghendaki
hidayah bagi manusia, karena pintu Allah selalu terbuka, pemberiannya
senantiasa datang dan pergi, pahala-Nya senantiasa terbuka pada malam hari
untuk menerima taubat orang-orang yang berdosa pada siang harinya, dan
senantiasa terbuka pada siang hari untuk menerima taubat orang-orang yang
berdoa pada malam harinya, hingga matahari terbit dari arah tenggelamnya (hari
Kiamat).
Si penjahat bertanya,
"Wahai rahib ahli ibadah, aku telah membunuh 99 orang, maka masih adakah
jalan bagiku untuk bertaubat?" Rahib jahil itu menjawab, "Tiada
taubat bagimu".
Mahasuci Allah, apakah engkau
menutup pintu yang selalu dibuka oleh Allah? Apakah engkau memutuskan tali yang
telah dijulurkan oleh Allah? Apakah engkau mencegah hujan yang telah dirutunkan
oleh Allah? Apakah engkau menutup jalan masuk yang telah Allah buat?
Padahal Allahlah yang
menciptakan. Allah lah yang telah menetapkan, Allah yang memberikan ampunan,
Allahlah yang menghisab, Allahlah yang berbisik kepada seorang hamba pada hari
yang tiada bermanfaat lagi harta benda dan anak-anak, kecuali orang yang
bersih, lalu Allah menyuruhnya mengakui dosa-dosanya, kemudian Allah
mengampuninya, jika Dia menghendaki. Maka apakah urusanmu, hari rahib, sehingga
engkau ikut campur dalam urusan antara para hamba dengan Tuhannya.
Apakah engkau memang seorang
yang ahli untuk memberi fatwa dalam masalah ini? Bukan, engkau bukanlah seorang
yang ahli dalam bidang ini. Hal ini hanya bisa ditangani oleh para ulama yang
mengamalkan ilmunya lagi mengetahui tujuan syari'at-Nya.
Akhirnya si penjahat ini putus
asa memandang kehidupan ini. Di matanya dunia ini terasa gelap, kehendak dan
tekadanya melemah, dan keindahan yang terlihat diwajahnya menjadi buruk. Ia
pengangkat pedangnya dan membunuh rahib ini, sebagai balasan yang setimpal untuk
guna menggenapkan 100 orang manusia yang telah dibunuh.
Selanjutnya, ia keluar menemui
orang-orang guna menanyakan kembali mereka, bukan karena alasan apapun,
melainkan karena jiwanya sangat menginginkan untuk taubat dan kembali ke jalan
Tuhannya ser ta menghadap kepada-Nya. Ia bertanya kepada mereka, "Masih
adakah jalan untuk bertaubat bagiku?"
Orang alim itu pun tersenyum
menyambut kedatangannya, begitu melihatnya, ia langsung menyambutnya dengan
hangatdan mendudukkannya di sebelahnya setelah memeluk dan menghormatinya. Ia
bertanya, "Apakah keperluanmu datang ke mari?" Ia menjawab, "Aku
telah membunuh 100 orang yang terpelihara darahnya, maka masih adakah jalan
taubat bagiku?".
Orang alim itu balik bertanya,
"Lalu siapakah yang menghalang-halangi antara kamu dengan taubat dan
siapakah yang mencegahmu dari melakukan taubat? Pintu Allah terbuka lebar
bagimu, maka bergembiralah dengan ampunan, "Bergembiralah dengan perkenan
dariNya dan bergembiralah dengan taubat yang mulus". Ia berkata, "Aku
kepada Allah semoga Dia menerima taubatmu".
Orang alim itu berkata kepadanya,
"Sesungguhnya engkau tinggal di kampung yang jahat, karena sebagian
kampung dan sebagian kota itu adakalanya memberikan pengaruh untuk berbuat
kedurhakaan dan kejahatan bagi para penghuninya. Barangsiapa lemah imannya
ditempat seperti ini, maka ia akan mudah berbuat durhaka dan terasa ringanlah
baginya semua dosa, serta menggampangkannya untuk melakukan tindakan menentang
Tuhannya."[Aid Abdullah Al-Qarni,Taubatnya Sang Pembunuh,
Eramuslim.com.Senin, 08/08/2011 14:51 WIB].
Dalam kitab Al-Firasah karya
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, yang diterjemahkan menjadi 'Keajaiban Firasat', ada
satu peristiwa yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasa'i yang patut kita renungkan,
yakni bagaimana seorang pelaku dosa seketika diampuni oleh Allah dan rasul-Nya.
Pernah ada seorang wanita yang
telah diperkosa oleh seorang laki-laki di kegelapan malam menjelang masuknya
waktu Subuh. Tak lama berselang, melintas pula laki-laki lain dan mendapati
wanita itu tengah meminta pertolongan, hingga ia pun berusaha menolongnya.
Pemerkosa wanita tadi telah kabur.
Pada saat lelaki itu hendak
mendekati, melintas pula sekelompok laki-laki lain dan mendengar wanita itu
minta tolong kepada mereka. Kemudian, mereka menangkap lelaki yang hendak menolong
wanita itu, sedangkan lelaki yang memperkosa wanita itu terlewatkan oleh
mereka.
Maka, dibawalah laki-laki itu
kepada Rasulullah dan mengabarkan kepada Beliau bahwa ia telah memperkosa
wanita tersebut. Dan, mereka mengabarkan bahwa laki-laki itu ditangkapnya
dengan susah payah.
Tetapi, lelaki itu menyangkal seraya berkata,
"Justru aku hendak menolongnya, tetapi mereka salah orang. Mereka akhirnya
mengejar dan menangkapku. Wanita itu berkata, "Dusta, dialah yang telah
memperkosaku."
Rasulullah kemudian berkata,
"Bawalah ia dan rajamlah." Tetapi, datang seorang lelaki lain dan
berkata, "Jangan rajam ia, rajamlah aku. Karena, akulah yang telah
melakukan pemerkosaan terhadapnya." Lalu, ia mengakui dan menceritakan
semua perbuatannya.
Kemudian, Rasulullah berkata
kepada wanita yang diperkosa, "Engkau telah diampuni." Kepada orang
yang hendak menolong, Beliau hanya menasihatinya. Kemudian, Umar RA berkata,
"Rajamlah orang yang telah berbuat zina." Akan tetapi, Rasulullah
menolaknya dan berkata, "Tidak perlu, karena ia telah bertobat."
Imam Ahmad meriwayatkan,
"Lalu mereka berkata, 'Wahai Rasulullah, rajamlah ia'!" Beliau
menjawab, "Ia telah melakukan tobat, yang seandainya penduduk Madinah
melakukannya, pasti Allah akan menerima tobat mereka."
Allah sangat mencintai
hamba-hamba-Nya yang bertobat dan pasti akan mengampuni dosa orang-orang yang
mau bertobat. Dalam riwayat lain Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya
Allah menyukai seorang hamba mukmin yang terjerumus dosa, tetapi bertobat."
(HR Ahmad). [Dr Abdul Mannan,Allah
Maha Menerima Tobat, Republika.co.id.Sabtu, 06 Agustus 2011 11:23 WIB].
Tidak mungkin
manusia selalu bergelimang dengan dosa dan maksiat kepada Allah, sebelum ajal
datang masih ada peluang untuk mengakui kesalahan, menghentikan dosa dan
maksiat, mohon ampun kepada Allah atas segala
dosa yang dilakukan dengan taubat nasuha yaitu taubat yang
sebenar-benarnya, disadari dari hati nurani yang paling dalam bahwa menyesal
atas segala dosa yang dilakukan, hanya ampunan Allah yang diharapkan karena
Allah Pemberi Ampun dan Penerima taubat hamba-Nya, Wallahu A’lam.[Baloi Indah, 29 Ramadhan 1436.H/2015, Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam Kepri]
PROFIL PENULIS
Penampilan
sederhana ini bernama Mukhlis yang dilahirkan di ujung Selatan Pulau
Sumatera yaitu Metro [Lampung Tengah] tanggal 3 April 1964
anak ketiga dari ayah bernama Sutan
Denak dan ibu Rosnidar dengan enam orang adik kakak yaitu Ernawati, Marsudi,
Erma, Septiyani, Mahdalena dan Adek Wahyuli, isteri bernama Yulismar S.Pd
[Ayang] dengan seorang anak wanita bernama Rani Ihsani Mukhlis, nama yang akrab
di kalangan teman dan sahabatnya adalah Mukhlis Denros. Kampung asalnya Kampani Barangan Selatan,
Nagari Lurah Ampalu, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak Kabupaten Padang
Pariaman, Sumatera Barat, dengan suku Koto, besar dan menempuh pendidikan di
Kota Lada Metro Lampung.
Pendidikan yang pernah ditempuhnya yaitu
SDN yang dimulai di SDN Koto Marapak [Kota Pariaman], ketika kelas IV dia harus
meninggalkan kampung bersama ayah dan ibunya menuju Metro, SD diselesaikannya
di SDN IV Metro, dilanjutkan ke SMP PGRI Metro, kemudian SMAN 135 Metro yang
dapat diselesaikan tahun 1984, tidak ada maksud untuk kuliah karena berbagai
faktor, berkat dorongan teman-teman dan gurunya terutama Ustadz Masnuni M.Ra'i,
Alfuadi Rusli, H. Muhammad Lazim, H. Fakhrudin, Sugito, Hayumi Rb,Hayumi Rf, H.
Rasyidin dan Malin Marajo di Masjid Al Jihad akhirnya tahun ini juga
melanjutkan kuliah di IAIN, inilah pendidikan terakhir yang ditempuhnya yaitu
Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Institut Agana Islam Negeri
[IAIN] Raden Intan Lampung di Metro
tamat tahun 1990. Ketika tamat kuliah dia harus meninggalkan Metro dan memulai
kiprahnya di Koto Baru Kabupaten Solok Sumatera Barat sebagai pendidik, dosen,
penulis, mubaligh hingga sebagai
politisi akhirnya.
Sejak di bangku SMA hingga tamat kuliah,
Mukhlis giat di OSIS Gema Al Qur'an AL
Jihad dan Remaja Masjid Al Jihad Metro
bersama teman-temannya Dody Sofial, Abul Fatrida, Yurnalis, M. Syafei,
Irza Murni, Gusnita, Herwina, Afrizal, Yohanes dan Rita Suryani, dikala kuliah
bergabung dengan HMI Cabang Metro bersama Ahmad Ridwan, Gatot Subroto, Sigit
Triyono, Syuhada', Raihan dan Usdek, mengikuti pengkaderan Basic Training di
Metro tahun 1985 dan Intermediate Training di Palembang tahun 1986 dan pernah
menjabat sebagai Sekretaris HMI Komisariat IAIN dan wakil sekretaris HMI Cabang
Metro.
Menjadi guru adalah cita-citanya sejak
awal dan hal itu telah terujud walaupun tidak sebagai PNS, pernah mengajar di
GAA dan SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah, mengajar di SMEA Budi Mulia Koto
Baru, MTsN Koto Baru Solok dan sebagai dosen PGTK Adzkia Padang, Aktivitas
sebagai pendidik ini dia tekuni sejak di bangku kuliah tahun 1984 sampai tahun
2000, kemudian aktif sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok utusan dari Partai
Keadilan/Partai Keadilan Sejahtera, selama dua periode 1999-2009. Di Solok
bersama teman-temannya yaitu Mahyeldi Ansharullah, Afrizal M Noor, Muhidi,
Nurfirmanwansyah, Johandrizon Syamsu, Ahmad Syafwan Nawawi, Firmansyah, Abdul Ghani,
Gustami Hidayat, Saifullah Salim,
Rudianto, Busril, Endrizal, Ismail Zain, Devi Herizon, Ilzan Sumarta, dan Helmi
Darlis merintis kegiatan da'wah sejak tahun 1990 di sekolah, kampus, dan
masjid-masjid melalui pesantren kilat, diskusi, ceramah dan khutbah sebagai
cikal bakal berdirinya Partai Keadilan ketika itu.
Tahun 1998 dikala Reformasi terjadi,
sekian partai berdiri untuk menyongsong Indonesia yang lebih demokratis setelah
lengsernya Soeharto kemudian dilanjutkan oleh BJ Habibie, berdiri pulalah
partai yang berbasiskan anak-anak muda kampus dengan kapasitas da'wah dan
tarbiyah, partai itu bernama Partai
Keadilan. Mukhlis diamanatkan oleh DPW PK Sumatera Barat sebagai ketua DPD PK
di Kabupaten Solok, pelantikan pengurus DPW dengan ketua Drs. Ahmad Syafwan
Nawawi dan DPD PK se Sumatera Barat dikukuhkan di Padang oleh DR. Nur Mahmudi
Ismail MSc sebagai Presiden Partai Keadilan pertama.
Dikala Partai Keadilan menjadi Partai Keadilan Sejahtera untuk kedua
kalinya Mukhlis Denros dipercaya sebagai ketua DPD di Kabupaten Solok dan
jabatan terakhir di partai dipercayakan kepadanya adalah sebagai Ketua Zona
Da'wah VII PKS Sumatera Barat hingga tahun 2007, yang membina DPD PKS Kota
Solok, Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan. Terlalu banyak pelajaran
dan pengalaman yang dia terima dari kegiatan da'wah dan partai bersama
teman-temannya
Mukhlis Denros, demikian akrab di sapa,
selain sebagai pendidik juga aktif berda’wah baik melalui ceramah, diskusi
agama, khutbah dan penyebaran tulisannya melalui Buletin Da’wah Garda Anak
Nagari serta media Nasional yang pernah memuat tulisannya seperti Majalah
Serial Khutbah Jum’at, Majalah Suara Masjid , Majalah Sabili, Majalah Tarbawi,
Majalah Ishlah, Majalah Reformasi Jakarta, Majalah Al Muslimun Bangil serta koran
Swadesi dan Sentana juga pernah memuat tulisannya yang sarat dengan pendidikan
dan nuansa islamnya, Media Mimbar Minang Padang selama bulan Ramadhan penuh
memuat tulisannya tiap hari terbit. Dia
tidak pernah membuang waktu dengan kegiatan yang tidak ada manfaatnya,
waktunya selalu terisi dengan aktivitas positif seperti membaca atau menulis
selain kegiatan harian lain.
Mukhlis
Denros Terima Penghargaan Sebagai Penulis Terbaik dari Media Suara Keadilan
Rakyat (SKR) , Minggu (15/12) di Gedung Pusat Kebudayaan kota
Sawahlunto.Penghargaan tersebut merupakan program Tabloit SKR yang selama ini
membentuk tim untuk melakukan penilaian terhadap sejumlah penulis dan tokoh di
Sumatera Barat dengan sejumlah kategori yang ditetapkan.
Penganugerahan sebagai Penulis Terbaik SKR Awards 2013
yang diberikan kepada Mukhlis Denros diserahkan oleh Wakil Wali Kota Sawah
Lunto yaitu Bapak Ismet SH, Mukhlis Denros dinilai sebagai penulis terbaik
karena konsistensinya dalam menulis berbagai pemikiran berkaitan dengan dakwah,
pendidikan dan politik yang telah melahirkan berbagai buku yang diterbitkan
oleh penerbit.
Mukhlis
Denros menerima berupa plakat dan piagam sebagai bentuk penghargaan atas
keberhasilannya menulis yang dinilai sebagai penulis terbaik, sebagaimana
penilaian TIM SKR yang terdiri dari Prof, Wil Chandry, Fadril Aziz Isaini dan
Prof,DR, H. Salmadanis, Mag.
Pada
malam penganugerahan SKR Awards 2013 tersebut
diserahkan 13 penghargaan dengan kategori berbeda kepada tokoh
lainnyayang dihadiri oleh Wawako Sawahlunto, Ismed, Pimpinan Serikat Perusahaan
Pers Pusat, Totok dan pendiiri Tabloit SKR, Riko Adiutama beserta sejumlah
tokoh Sumatera Barat lainnya.
Moto hidupnya sangat sederhana, agar
bermanfaat bagi orang lain dengan potensi yang dimiliki, semua itu hanya bisa
dilakukan dengan pendidikan yang
berkualitas. Dia menceritakan bahwa karena kegigihan orangtuanyalah untuk
mendidiknya dengan segala kesusahan dan derai air mata tapi akhirnya berhasil
mengantarkannya sebagai sarjana. Sebagai modal hidup di dunia ini,
sehingga dapat dikatakan tak bisa
membalas dan mengukur jasa orangtua yang telah mengantarkan kesuksesannya baik
memimpin partai maupun sebagai anggota
DPRD dalam dua periode ini. Bersama Partai Keadilan dan PPP Kota Solok tahun 2000 dia pernah dicalonkan
sebagai Wakil Wali Kota Solok yang berpasangan dengan Drs. Syukriadi Syukur.
Sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok
selama dua periode diembannya, dia tampil sebagai politisi yang kritis dan
bernas terhadap kebijakan Pemda dan Bupati yang tidak sesuai dengan kepentingan masyarat, diapun tidak
segan-segan menghantam anggota DPRD dikala mereka tidak aspiratif
[http://fraksi pks solok.blogspot.com].
Bersama ustadz
Mahyeldi Ansyarullah dalam gerakan da’wah dengan lembaga Al Madaniy di Padang
yang diawali tahun 1990, Mukhlis Denros banyak terlibat dalam berbagai kegiatan
da’wah seperti tahun 1994 pernah ke Palembang untuk mengikuti pertemuan da’i se
Jakarta dan Sumatera undangan dari Yayasan Bumi Andalas dan tahun 2000 Seminar
Nasional tentang Syari’ah di Medan yang diiringi dengan berbagai pertemuan
da'wah di Sumatera Barat ataupun di Jakarta, selain itu juga pernah selama 2
tahun sebagai da’i dari IIRO [Internasional islamic Relief Organisation] dan
kini sebagai anggota IKADI Solok yang juga memimpin yayasan Garda Anak Nagari
Sumatera Barat.
Organisasi lain yang
ikut dia tekuni selama di DPRD adalah sebagai Sekjen Majelis Ulama Indonesia
[MUI] Kabupaten Solok, sebagai Badan Pengawas Badan Amil Zakat Kabupaten Solok,
juga ikut membidani lahirnya beberapa lembaga da'wah berbentuk Yayasan di
Kabupaten Solok yang dikelola oleh teman-temannya seperti Yayasan Sinergi
Ummat, Yayasan Lukmanul Hakim, Yayasan Amanah Bunda, Yayasan Ahda Sabila,
Yayasan Nurul Haq, Yayasan Garda Anak Nagari dan Yayasan Selasih Solok.
Setelah dua periode
menyelesaikan tugas sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok, dalam mengisi
kegiatan hariannya Mukhlis Denros bersama isteri Yulismar S.Pd tinggal di
Nagari yang berbukit dan berlembah, yang sejuk dan asri, jauh dari kebisingan,
aman dan nyaman yaitu Jorong Cubadak Nagari Pianggu Kecamatan IX Koto Sungai
Lasi, Kabupaten Solok, Sumatera Barat tetap konsisten dengan kegiatan
sebelumnya yaitu da'wah dan menulis.
Sejak bulan Februari 2015, setelah enam tahun tinggal
di Cubadak Pianggu Kecamatan Sungai Lasi Kabupaten Solok Sumatera Barat, kini Mukhlis Denros menetap di Kota Batam
Kepri, turut berkiprah sebagai staf di Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Kota
Batam yang diketuai oleh Ibu Dra. Hj.
Helma Munaf, M.Pd dan bergabung pula dengan PMB [Persatuan Mubaligh Batam].
Di Batam, Mukhlis Denros dengan Pedro Johansis dan Mardison
mengembangkan Yayasan Garda Anak Nagari dengan membuka Garda Anak Nagari Provinsi Kepulauan Riau,
Insya Allah dalam waktu dekat akan membuka cabang Garda Anak Nagari di seluruh
Kabupaten dan Kota di Provinsi Kepulauan
Riau, semoga hal itu terujud.
DATA PRIBADI
Nama Lengkap : Drs. St. Mukhlis Denros
Tempat dan Tanggal Lahir : Metro, 3 April 1964
Jumlah bersaudara : Anak ke 3 dari 7 orang
Nama Ayah : Sutan Denak
Nama Ibu : Rosnidar
Nama Isteri : Yulismar, S.Pd
Nama Anak : Rani Ihsani Mukhlis
RIWAYAT PENDIDIKAN
1.
SDN 4 Metro
Lampung, tamat tahun 1975
2.
SMP PGRI Metro
Lampung, tamat tahun 1981
3.
SMAN 135 Metro
Lampung, tamat tahun 1984
4.
Gema Al Qur'an Al
Jihad Metro tamat tahun 1988
5.
Sarjana Muda
Tarbiyah IAIN Raden Intan Lampung, tahun
1988
6.
Sarjana Tarbiyah
IAIN Raden Intan Lampung tamat tahun 1990
PENGALAMAN ORGANISASI
1.
Ketua Osis GAA Metro Lampung Tengah 1987-1989
2.
Sekum IRM Al Jihad Metro Lampung Tengah 1986-1988
3.
Wakil Sekretaris HMI Cab. Metro Lampung Tengah 1985-1990
4.
Sekjen
Majelis Ulama Indonesia [MUI}
Kab. Solok 2005/2006
5.
Anggota Pengawas BAZ
Kabupaten Solok 2006
6.
Anggota IKADI (Ikatan Da’i Indonesia)
Kabupaten Solok
7.
Da'i
IIRO [International Islamic Relief Org.] Sumbar 1995-1997
8.
Ketua Yayasan
Garda Anak Nagari Sumatera Barat
9.
Ketua Pembina Yayasan Selasih Kabupaten Solok
10.
Ketua Pembina Yayasan Lukmanul Hakim Kota
Solok
11.
.Ketua Yayasan Garda Anak Nagari Kab.Solok
2000-2005
12.
Pembina Yayasan Sinergi Ummat Kota Solok
13.
Pembina Yayasan Amanah Bunda Kabupaten Solok
PENGALAMAN
PROFESI
1.
Guru SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah
1988-1990
2.
Guru GAA Metro Lampung Tengah 1988-1990
3.
Guru MTsN Koto Baru Kabupaten Solok 1997-1999
4.
Guru SMK Budi Mulia Koto Baru Kab. Solok
1991-2000
5.
Dosen PGTK Adzkia Kota Padang 1994-2000
6.
Anggota
DPRD Kabupaten Solok Periode
1999-2004
7.
Anggota DPRD Kabupaten Solok Periode 2004-2009
8.
Staff Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam,
2015-
PERJALANAN
DA'WAH
1.
Maperca dan Basic Training HMI Cabang Metro
1985
2.
Intermediate Training HMI di Palembang 1986
3.
Latihan Pers Mahasiswa IAIN di Tanjung Karang
1986
4.
Tarbiyyah Islamiyyah di Sumatera Barat
1990-1994
5.
Muzakarah Du'at se Sumatera /Jakarta di
Sumatera Selatan 1994
6.
Muzakarah Du'at se Sumatera/Jakarta di Sumatera Selatan 1996
7.
Muzakarah Du'at se Sumatera/ Jakarta di Bukit Tinggi 1998
8.
Muzakarah Manajemen Zakat, IMZ Jakarta 2002
9.
Seminar Syari'ah Nasional di Medan Sumatera
Utara 2000
10.
Pertemuan Anggota DPRD se Indonesia di Jakarta 2000
11.
Pertemuan Anggota DPRD se Indonesia di Bogor 2002
12.
Pertemuan da'i IIRO se Indonesia di Jakarta 2000
13.
Silaturrahmi Nasional Anggota Legislatif di
Jakarta 2005
BUKU YANG
TELAH DITERBITKAN
1.
Fikih Wanita, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
2.
Tarbiyatul Aulad, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
3.
Kumpulan Ceramah Praktis, Nurul Haq, 2010
4.
Renungan Ramadhan, Pustaka Setia Bandung, 2011
5.
Memanusiakan Manusia, Qibla Jakarta, 2011
6.
Kumpulan Khutbah Jum’at, Pustaka Setia Bandung, 2011
7.
Khutbah Jum’at, Janji Allah dan Upaya Meraihnya, Arkola
Surabaya, 2011
8.
Khutbah Jum’at Penyejuk Hati, Pustaka Albana Jogjakarta,
2012
9.
Andai Aku Tahu Dosa Itu Ada, FAM Publishing Kediri, Jawa
Timur, 2012
10.
Kumpulan Khutbah Jum’at Terbaik, Mutiara Media, Jogjakarta, 2013
11.
Man Rabbuka, Al Barokah, Jogjakarta, 2014
12.
Ensiklopedi Penulis Indonesia Jilid I, FAM Publishing Kediri,2014
13.
Kumpulan Khutbah Pengobat Hati, Mutiara Media, Jogjakarta, 2014
PUBLIKASI
TULISAN DI MEDIA
1.
Majalah Serial Khutbah Jum'at, Jakarta
2.
Majalah Suara Masjid, Jakarta
3.
Majalah Ishlah, Jakarta
4.
Majalah Reformasi, Jakarta
5.
Majalah Al Muslimun, Bangil
6.
Majalah Sabili, Jakarta
7.
Majalah Tarbawi, Jakarta
8.
Majalah Muamalat, Jakarta
9.
Majalah Kiblat, Jakarta
10.
Majalah Harmonis, Jakarta
11.
Majalah Estafet, Jakarta
12.
Majalah Sakinah, Jakarta
13.
Harian Serambi Minang, Padang
14.
Harian Semangat, Padang
15.
Harian Mimbar Minang, Padang
16.
Harian Singgalang, Padang
17.
Tabloid Sumbar Post, Padang
18.
Tabloid Zaman, Padang
19.
Tabloid Solinda, Kabupaten Solok
20.
Tabloid Lentera, Padang
21.
Tabloid Suara Keadilan Rakyat, Sawahlunto
22.
Tabloid, Media Islam Batam
23.
Tabloid Dyi’ar Islam Batam
24.
Buletin DPW PKS Sumatera Barat, Padang
25.
Buletin Riswan, Koto Baru Kabupaten Solok
26.
Buletin Da'wah Masjid Al Furqan Kota Solok
27.
Buletin Da'wah Garda Anak Nagari Kabupaten
Solok
28.
Buletin Da'wah Sebening Embun Solok
29.
Buletin Da'wah Selasih Solok
30.
Mingguan Suara Rakyat, Solok
31.
Mingguan Bijak, Padang
32.
Mingguan Swadesi, Jakarta
33.
Mingguan Sentana, Jakarta
34.
Mingguan Raden Intan Pos, IAIN Lampung
35.
Pariaman Post, Sumatera Barat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar