RAMADHAN DAN KERATON
Drs. St. Mukhlis Denros
Banyak amaliah puasa Ramadhan
yang dilakukan di keraton diluar Syariat Islam sejak dari menjelang Ramadhan
hingga berakhirnya puasa Ramadhan.Aqidah tauhid mengajak ummat Islam untuk
membersihkan iman dari syirik, kurafat, tahyul dan bid’ah. Ajaran Islam yang
memurnikan tauhid harus diikuti meskipun datangnya dari surau di ujung desa,
dan semua yang syirik menodai tauhid harus ditentang meskipun datangnya dari
keraton.
Keraton
atau kraton (bahasa Jawa)
adalah daerah tempat seorang penguasa (raja atau ratu) memerintah atau
tempat tinggalnya (istana).
Dalam pengertian sehari-hari, keraton sering merujuk pada istana penguasa di
Jawa. Dalam bahasa Jawa, kata kraton (ke-ratu-an) berasal dari kata
dasar ratu yang berarti penguasa. Kata Jawa ratu
berkerabat dengan kata dalam bahasa
Melayu; datuk/datu. Dalam bahasa Jawa
sendiri dikenal istilah kedaton
yang memiliki akar kata dari datu, di Keraton Surakarta istilah kedaton
merujuk kepada kompleks tertutup bagian dalam keraton tempat raja dan
putra-putrinya tinggal. Masyarakat Keraton pada umumnya memiliki gelar kebangsawanan. [Wikipedia bebas
Indonesia].
Walau sudah
merdeka tapi keratin masih berfungsi layaknya sebuah kerajaan pada masa dahulu
walaupun itu hanya sebatas seremonial adat saja dan merupakan warisan nenek
moyang yang nampaknya tetap dilestarikan,
Keraton-keraton di Indonesia diantaranya;
Nama Keraton
|
Nama Kerajaan
|
Provinsi
|
| Keraton Surosowan | Kesultanan Banten | Banten |
| Keraton Kaibon | Kesultanan Banten | Banten |
| Keraton Kasepuhan | Kesultanan Cirebon | Jawa Barat |
| Keraton Kanoman | Kesultanan Cirebon | Jawa Barat |
| Keraton Kacirebonan | Kesultanan Cirebon | Jawa Barat |
| Keraton Sumedang Larang | Kerajaan Sumedang Larang | Jawa Barat |
| Keraton Surakarta Hadiningrat | Kasunanan Surakarta Hadiningrat | Jawa Tengah |
| Pura Mangkunegaran | Praja Mangkunagaran | Jawa Tengah |
| Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat | Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat | D.I. Yogyakarta |
| Pura Paku Alaman | Kadipaten Paku Alaman | D.I. Yogyakarta |
| Keraton Sumenep | Kadipaten Sumenep | Jawa Timur |
| Kedaton Kutai Kartanegara | Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura | Kalimantan Timur |
Sebagai
peninggalan sejarah, kita setuju bila budaya masa lampau dilestarikan di
keratin, tetapi tentu budaya yang sesuai dengan kemajuan zaman dan syariata
Islam apalagi sebagian besar para raja
dan pengabdi di keraton tersebut sebelumnya sudah memeluk Islam. Namun sisi
gelap keraton membuat nuansa Islam di dalamnya hilang bahkan kegiatan syirik
marak dilakukan di dalamnya sebagaimana yang diungkapkan oleh nahi mungkar.com.
Seharusnya di dalam negara Republik Indonesia tidak ada
lagi budaya feodal dan monarkis yang masih eksis. Kenyataannya, budaya seperti
itu justru dihidup-hidupkan bahkan dibiayai oleh pemerintah, baik melalui APBD
maupun APBN dengan alasan melestarikan budaya bangsa.
Keraton atau Kesultanan atau apalah nama lainnya,
adalah institusi yang tidak saja melestarikan budaya bangsa yang penuh
kemusyrikan dan aneka kemunkaran lainnya, tetapi juga melestarikan budaya
bangsa yang dikaterogikan sebagai perbudakan, melalui ‘budaya luhur’ abdi
dalem.
Di Metro TV pernah ditayangkan realita kehidupan abdi
dalem Keraton Jogjakarta, yang jumlahnya mencapai 2300 orang. Mereka menerima
upah yang jauh di bawah garis kemanusiaan. Untuk abdi dalem berpangkat panglima
perang, memperoleh upah sebesar Rp 45.000 (empat puluh lima ribu rupiah) setiap
tiga bulan. Jadi sebulan rata-rata memperoleh Rp 15.000 (lima belas ribu
rupiah). Sedangkan abdi dalem yang berpangkat prajurit, jauh lebih kecil,
bahkan ada yang cuma diupahi beberapa ribu rupiah saja per bulannya.
Meski begitu, ironisnya, peminat menjadi abdi dalem
tidak sedikit. Bahkan harus ngantri segala. Mereka beranggapan menjadi abdi
dalem sebagai pengabdian kepada Sultan dan Keraton Jogja, selain juga untuk ngalap
berkah (mengharap berkah). Gilanya lagi, mereka merasa keberkahan itu
benar-benar menghampiri. Misalnya, salah seorang abdi dalem yang berprofesi
ganda sebagai penjual cendol, sebelum menjadi prajurit Keraton Jogja mengaku
pendapatanya per hari rata-rata Rp 11.000 (sebelas ribu rupiah), namun sejak
menjadi prajurit pendapatannya justru meningkat hingga mencapai Rp 17.000
hingga Rp 20.000 per hari. Begitu menurut pengakuannya.
(http://david.bits-soft.com/siapa-mau-jadi-abdi-dalem-kraton/)
Nampaknya mereka (para abdi dalem) itu tersugesti
sedemikian rupa. Tingkat kejahilan mereka (para abdi dalem) yang sedemikian
rupa itu, telah dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang masih menganut
feodalisme. Sesungguhnya, ini merupakan perbudakan yang dikekalkan dengan dalih
melestarikan kebudayaan, juga merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang
dibungkus dengan argumen mengabdi kepada kebudayaan.
Dari sudut pandang Islam, budaya abdi dalem sama
sekali jauh dari nilai-nilai kemanusiaan, oleh karenanya jauh dari nilai-nilai
Islam. Dalam pandangan Islam, setiap orang punya dua hal, yaitu hak dan
kewajiban. Keduanya harus ditunaikan secara seimbang. Seorang prajurit, selain
mempunyai hak berupa upah yang layak, sehinga dapat mencukupi kehidupan
keluarganya, juga mempunyai kewajiban yang bila diabaikan maka ia digolongkan
sebagai pengkhianat.
Sedangkan dalam budaya abdi dalem, sebelum menjadi
abdi dalem mereka disaring melalui persyaratan yang ketat, ada masa percobaan,
ada jenjang karir dan sebagainya. Namun, upahnya jauh lebih rendah dari upah
minimum yang berlaku, padahal upah minimum yang berlaku saja masih jauh dari
kelayakan. Ini jelas melanggar HAM dan merupakan perbudakan berbungkus
kebudayaan.
Mengharapkan berkah melalui ‘profesi’ sebagai abdi
dalem jelas keliru. Sebab, seharusnya harapan memperoleh berkah dipanjatkan
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setelah bekerja keras, memenuhi kewajiban
dengan sebaik-baiknya, kemudian mendapat upah selayak-layaknya, barulah
seseorang itu menggantungkan harapan mendapat berkah dari Allah Subhanahu wa
Ta’ala dengan membelanjakan penghasilannya di jalan yang diridhoi Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
Mengharap berkah (ngalap berkah) versi abdi
dalem, jelas bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan, bertentangan dengan
nilai-nilai Islam. Apalagi harapan itu digantungkan dengan cara membiarkan
dirinya didzalimi orang lain. Maka yang sesungguhnya mereka peroleh bukanlah
berkah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena, Allah tidak suka terhadap orang
yang gemar berbuat dzalim, dan tidak suka kepada orang yang membiarkan
kedzaliman berlangsung.
Dalam konteks ini, baik sang abdi dalem, maupun para
Sultan atau Raja dan seluruh keluarganya, termasuk aparat pemerintah yang
mengekalkan hal ini dengan dalih melestarikan kebudyaaan, mereka sesungguhnya adalah
orang-orang yang mendapat laknat Allah.[ Pembudakan dan Pemusyrikan di Keraton Berkedok Kebudayaan, nahyi
mungkar.com.19 January 2009].
Walaupun sang Raja atau
Sultan seorang muslim tapi kegiatan yang berlansung di Kraton itu banyak
yang mengandung dan mengundang syirik seperti acara pernikahan, kelahiran dan
kematian.
Terhadap pernikahan putri bungsu Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku
Buwono X, Gusti Kanjeng Ratu Bendara atau GRAy Nurastuti Wijareni dengan
Kanjeng Pangeran Haryo Yudanegara atau Achmad Ubaidillah, tak henti-henti media
mengulasnya. Bahkan di beberapa stasiun televisi ditayangkan berulang kali
dalam Headline News-nya. Beberapa event yang
ditayangkan dan diberi perhatian khusus tak semua selaras dengan akidah dan
nilai-nilai Islam. Salah satunya -acara yang dianggap menarik dan unik- adalah
penganten edan-edanan.
Penganten edan-edanan menjadi salah satu proses pernikahan agung di
Kraton Yogyakarta saat mengawal KPH Yudanegara saat hendak melakukan prosesi
panggih atau temu penganten. Yaitu dua pasang penganten yang berdandan
seperti penganten namun berantakan. Bahkan terlihat seperti orang gila, makanya
disebut penganten edan-edanan.
Menurut keyakinan kraton, tradisi penganten edan-edanan yang berperilaku
seperti orang gila sambil menari-nari ini untuk membuka jalan bagi penganten
dan untuk mengusir atau menolak bala, agar proses pernikahan berjalan
lancar."Ini sebagai tolak bala' agar acara berlangsung lancar tanpa
halangan apapun, kamilah penolak balanya," kata salah satu pemeran manten
edan-edanan Nyi Mas Wedono Hamong Sumowiyardjo. (Lihat: Tolak Bala,
Manten Edan-edanan Kawal Mantu Sultan Selasa, www.detiknews.com,
18/10/2011)
Isti'adzah maknanya adalah meminta perlindungan. Yakni meminta agar
dilindungi dan diamankan dari keburukan. Dan itu termasuk bagian dari thalab (permintaan)
seperti istighatsah (meminta dihilangkan bencana), isti'anah (minta
pertolongan), istisqa' (meminta diberikan hujan) dan semisalnya. Semua itu
termasuk doa. Dan doa termasuk ibadah. Oleh karena itu ia harus ditujukan dan
dimohonkan kepada Allah Allah semata, jika kepada selain-Nya maka termasuk
syirik. Allah Ta'ala berfirman,"Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu
adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya
di samping (menyembah) Allah." (QS. Al-Jin: 18)
"Yang (berbuat) demikian Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya lah
kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai
apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada
mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat
memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari
kemusyrikanmu. . ." (QS. Faathir: 13-14)
Maka mengusir bala' dan berlindung dari gangguan makhluk halus dengan
mengadakan dua pasang penganten edan-edanan yang bertingkah dan menari-nari
seperti orang gila termasuk bagian dari isti'adzah. Hanya kepada siapa itu
dimohonkan. Jika kepada Allah tentu ada aturan/syariat yang mengaturnya, dan
pasti tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam lainnya seperti menutup
aurat dan mejaga kehormatan diri. Sementara tolak bala' ala kraton Yogyakarta
jelas tidak ada petunjuknya dalam syariat Islam, padahal Islam selalu
memberikan perhatian pada urusan doa. Kemudian pertanyaan, ini syariat siapa? Dan
jika menuruti pembuat syariat penganten edan-edanan itu berarti doa ditujukan
kepadanya.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin menyebutkan satu kaidah,
"Sesungguhnya setiap manusia yang bersandar kepada suatu sebab yang tak
pernah ditetapkan oleh syariat sebagai sebab, maka ia telah melakukan
kesyirikan dengan syirik kecil." (Al-Qaul al-Mufid, Syarhu Kitab
al-Tauhid, Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin: 1/358)
Dan dalam perkataan beliau yang lain, "Sesungguhnya setiap orang
yang meyakini sesuatu sebagai sebab dalam satu perkara, tapi tidak pernah ada
ketetapan bahwa itu sebagai sebab, baik secara kauni (sebab akibat) atau
syar'i, maka kesyirikan yang diperbuatnya itu termasuk syirik kecil. Karena
kita tidak punya hak untuk menetapkan bahwa ini merupakan sebab kecuali apabila
Allah telah menjadikannya sebagai sebab, baik kauni atau syar'i. Yang disebut
syar'i itu seperti membaca Al-Qur'an dan doa. Sedangkan yang kauni itu seperti
berobat yang telah terbukti manfaatnya." [Badrul Tamam Kesyirikan Dalam
Acara Pernikahan Putri Sultan Yogyakarta, voa-islam.com Rabu, 19 Oct 2011].
Tahun 2009 saya berkunjung ke Keraton Surakarta Hadiningrat, di dalamnya
terhampar halaman berpasir dan di sekeliling bangunan ada banyak patung Bunda
Maria, menurut salah seorang abdi dalem bahwa pasir yang terdapat di halaman
itu dianggap mempunyai kekuatan magis sehingga siapa yang datang ditawari untuk
membawanya pulang, tidak gratis, harus membayar dengan harga tertentu, tawaran
iu saya tolak, sedangkan patung Maria yang banyak terpajang itu merupakan
hadiah dari Ratu Belanda yang datang ke Keraton itu. Sehingga sulit untuk
menentukan bersihnya Keraton dari noda syirik, kurafat, tahyul dan bid’ah.
Kita sebagai manusia pasti punya salah dan dosa, semua dosa itu akan
diampuni Allah bila bertaubat sebelum wafat kecuali dosa syirik yaitu dosa
menserikatkan Allah dengan berbagai ritual yang
diada-adakan dengan dalih tradisi dan adat istiadat sebagaimana yang
dilakoni di Keraton.
Lawan dari muwahhid
(bertauhid, mengesakan Allah) adalah musyrik (orang yang menyekutukan
Allah dengan lain-Nya). Yaitu yang terlahir dari kemusyrikan meskipun dengan
salah satu dari macam-macam syirik, seperti dengan ucapan, sifat-sifat,
perbuatan, keyakinan, mu’amalah (pergaulan), persetujuan, dan penilaiannya bahwa
syirik itu baik. Begitu pula apabila ia rela mengucapkan atau mendengarkan
kata-kata syirik.
Orang-orang pada
masa jahiliyah, karena dalam ibadah mereka telah melakukan syirik, menyekutu-kan Allah dengan hal-hal yang menurut mereka baik,karena akal mereka
tidak berfungsi dan mereka selalumengikuti kesesatan yang sudah jelas bersumber dari nenek moyang
mereka, maka mereka tetap saja selalu
menyembah berhala-berhala, patung-patung, pohon-pohon, kuburan, tugu,
batu-batu besar, dan lain-lain. Mereka minta
keberkahan dari benda-benda tersebut seraya mengharapkan syafa’at (pertolongan) benda-benda itu di
sisi Penciptanya. Mereka berlindung
kepada benda-benda tersebut, dan berpegang teguh dengan anggapan mereka, bahwa
dengan itu, mereka mencukupi makan minum mereka.
Dari
perbuatan syirik ini kemudian muncul kesesatan-kesesatan
yang merupakan cabang-cabang daripohon kemusyrikan itu. Seperti takhayul (klenik), bersumpah dengan menyebutkan benda-benda yang mereka jadikan tuhan, menggantungkan mantra-mantra,benda-benda pengasih (sikep), dan jimat-jimat
untuk memperoleh atau menolak apa yang mereka kehendaki. Maka dengan perbuatan itu mereka telah menyepadankan
dan menyekutukan antara Allah dengan makhluk-Nya, yaitu dengan sama-sama
dicintai, dijadikan harapan, ditakuti,
dijadikan tempat berlindung, diyakini mampu mencegah, memberi, mendekatkan
dan menjauhkan.
Perbuatan-perbuatan
yang dilandasi dengan kebodohan ini kemudian
berkembang dan marata, dan api kesesatan
menyala di antara mereka, sampai mereka
membuat upacara-upacara agama yang tidak diizinkan oleh Allah. Mereka
menjadikan binatang-binatang tertentu
menjadi saibah, wasilah dan ham. Begitulah, orang-orang jahiliyah itu berbuat dalam kebodohan dan kesesatan, sampai kemudian
Allah mengutus Nabi-Nya Muhammad sebagai
pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, sekaligus mengajak mereka
untuk menyembah Allah dengan izin-Nya, dan
juga ibarat lampu yang memberikan penerangan.
Maka Nabi
Muhammad kemudian memberi-kan penerangan
terbuka tentang hakekat tauhid dengan cara mengesakan Allah dan membersihkan
diri dari penyembahan-penyembahan kepada lain-Nya. Dan itulah hakekat tauhid. Nabi n juga menegaskan
kepada orang-orang jahiliyah tentang keharusan untuk mengesakan Allah dan
meninggalkan syirik (menyekutukan Allah dengan yang lain). Itulah tauhid yang
dijelaskan Allah dalam kitab-Nya yang diturunkan kepada Nabi Muhammad .
Allah menerangkan tauhid dengan membuat perumpamaan-perumpamaan, dan mengetengahkanargumen-argumen
secara jelas dan rinci. Oleh karena itu. anda dapat melihat Al-Qur’an dan
Hadits lebih banyak menyebutkan syirik dan orang-orang yangmusyrik daripada menyebutkan kekafiran dan orang-orang
kafir.
Menyebut-nyebut syirik pada masa itu, dan pada masa sesudahnya,
yaitu masa Sahabat dan Tabi’in adalah suatu hal yang dikenal secara populer.
Bahkan menyebutnya sampai pada tingkat yang sangat masyhur.
Namun ketika pondasi-pondasi syirik itu sirna, karena orang-orang yang musyrik juga sudah tidak ada lagi, sementara ajaran-ajaran agama secara benar menjadi gejala umum, maka hampir tidak ada orang yang menyinggung-nyinggung tentang kemusyrikan. Tidak ada mulut yang mau dikotori dengan menyebut syirik itu. Karenanya para ulama kemudian banyak membahas masalah murtad, dengan menyebut-nyebut hal-hal yang menyebabkan kafir, dan mereka tidak membahas hal-hal yang dapat menjadikan musyrik pada seseorang.
Namun ketika pondasi-pondasi syirik itu sirna, karena orang-orang yang musyrik juga sudah tidak ada lagi, sementara ajaran-ajaran agama secara benar menjadi gejala umum, maka hampir tidak ada orang yang menyinggung-nyinggung tentang kemusyrikan. Tidak ada mulut yang mau dikotori dengan menyebut syirik itu. Karenanya para ulama kemudian banyak membahas masalah murtad, dengan menyebut-nyebut hal-hal yang menyebabkan kafir, dan mereka tidak membahas hal-hal yang dapat menjadikan musyrik pada seseorang.
Setelah
penjelasan ini, kita lihat bahwa syirik dalam uluhiyyah (menyembah
Allah) tidak disebut-sebut. Padahal tauhid
uluhiyyah (hanya menyembah Allah saja) merupakan pokok agama Islam.
Tauhid inilah yang menyebabkan terjadinya pertentangan antara para rasul dan umatnya; dan ajaran
tauhid ini pula yang dibawa oleh para rasul
di mana merekadiutus oleh Allah.
Sebagaimana
ditegaskan oleh Allah“Dan
kami tidak mengutus sebelum kamu (Mu-hammad)
seorang rasul pun, kecuali Kami mem-berikan wahyu kepadanya, bahwa sesungguhnya
tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Aku. Oleh karena itu, sembahlah
Aku.”
(Al-An-biya’ : 25) [Diringkasdari buku
“ Kemusyrikan Menurut Madzhab Syafi`i
“ Dr. Abdur Rahman al-Khumayyis
Oleh: Husnul Yaqin,Lc].
Kemusyrikan
bukan hanya marak di Keraton saja bahkan pada setiap yang dianggap keramat
seperti kuburan para wali juga dijadikan tempat untuk menebar syirik, nampaknya
semua kegiatan yang digelar di Keraton tidak lepas dari budaya Hindu yang sarat
dengan syirik, seperti setiap datangnya hari-hari besar Islam seperti Maulid
Nabi, Isra’ Mi’raj dan bulan Muharam, semua benda-benda pusaka Keraton diarak
sekitar kota, lalu dibersihkan, kemudian air bekas mencuci benda pusaka itu
diambil oleh masyarakat, disiramkan kekebunnya dengan harapan setiap tanaman
yang disiram itu akan berbuah lebat. Demikian pula halnya ketika masa panen,
diadakan acara mengumpulkan semua hasil panen di depan Keraton, lalu dibadikan,
semuanya berebut menerima dan mengambil buah-buahan itu, dengan harapan akan
mendatangkan berkah bagi mereka.
Selayaknya, dizaman merdeka ini, tidak ada
lagi feodalisme dan perbudakan dalam sebuah kerajaan, yang memperlakukan
manusia secara diskriminatif, jangan ada lagi negara dalam negara, semuanya
bersatu dalam paying NKRI, jadikanlah Keraton sebagai simbul kejayaan kerajaan
masa lalu, artinya itu adalah sejarah, seharusnya dizaman yang modern ini
masyarakat kita terdidik, sejak dari rajanya hingga rakyatnya mengerti dengan
Islam sehingga mampu untuk menghindari segala perbuatan, sikap, amal perbuatan
dan cetusan hati yang bernilai syirik, karena hal itu akan merusak iman
seseorang, Wallahu A’lam. [Baloi Indah 30 Ramadhan 1436.H/2015, Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam, Kepri]
PROFIL PENULIS
Penampilan
sederhana ini bernama Mukhlis yang dilahirkan di ujung Selatan Pulau
Sumatera yaitu Metro [Lampung Tengah] tanggal 3 April 1964
anak ketiga dari ayah bernama Sutan
Denak dan ibu Rosnidar dengan enam orang adik kakak yaitu Ernawati, Marsudi,
Erma, Septiyani, Mahdalena dan Adek Wahyuli, isteri bernama Yulismar S.Pd
[Ayang] dengan seorang anak wanita bernama Rani Ihsani Mukhlis, nama yang akrab
di kalangan teman dan sahabatnya adalah Mukhlis Denros. Kampung asalnya Kampani Barangan Selatan,
Nagari Lurah Ampalu, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak Kabupaten Padang
Pariaman, Sumatera Barat, dengan suku Koto, besar dan menempuh pendidikan di
Kota Lada Metro Lampung.
Pendidikan yang pernah ditempuhnya yaitu
SDN yang dimulai di SDN Koto Marapak [Kota Pariaman], ketika kelas IV dia harus
meninggalkan kampung bersama ayah dan ibunya menuju Metro, SD diselesaikannya
di SDN IV Metro, dilanjutkan ke SMP PGRI Metro, kemudian SMAN 135 Metro yang
dapat diselesaikan tahun 1984, tidak ada maksud untuk kuliah karena berbagai
faktor, berkat dorongan teman-teman dan gurunya terutama Ustadz Masnuni M.Ra'i,
Alfuadi Rusli, H. Muhammad Lazim, H. Fakhrudin, Sugito, Hayumi Rb,Hayumi Rf, H.
Rasyidin dan Malin Marajo di Masjid Al Jihad akhirnya tahun ini juga
melanjutkan kuliah di IAIN, inilah pendidikan terakhir yang ditempuhnya yaitu
Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Institut Agana Islam Negeri
[IAIN] Raden Intan Lampung di Metro
tamat tahun 1990. Ketika tamat kuliah dia harus meninggalkan Metro dan memulai
kiprahnya di Koto Baru Kabupaten Solok Sumatera Barat sebagai pendidik, dosen,
penulis, mubaligh hingga sebagai
politisi akhirnya.
Sejak di bangku SMA hingga tamat kuliah,
Mukhlis giat di OSIS Gema Al Qur'an AL
Jihad dan Remaja Masjid Al Jihad Metro
bersama teman-temannya Dody Sofial, Abul Fatrida, Yurnalis, M. Syafei,
Irza Murni, Gusnita, Herwina, Afrizal, Yohanes dan Rita Suryani, dikala kuliah
bergabung dengan HMI Cabang Metro bersama Ahmad Ridwan, Gatot Subroto, Sigit
Triyono, Syuhada', Raihan dan Usdek, mengikuti pengkaderan Basic Training di
Metro tahun 1985 dan Intermediate Training di Palembang tahun 1986 dan pernah
menjabat sebagai Sekretaris HMI Komisariat IAIN dan wakil sekretaris HMI Cabang
Metro.
Menjadi guru adalah cita-citanya sejak
awal dan hal itu telah terujud walaupun tidak sebagai PNS, pernah mengajar di
GAA dan SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah, mengajar di SMEA Budi Mulia Koto
Baru, MTsN Koto Baru Solok dan sebagai dosen PGTK Adzkia Padang, Aktivitas
sebagai pendidik ini dia tekuni sejak di bangku kuliah tahun 1984 sampai tahun
2000, kemudian aktif sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok utusan dari Partai
Keadilan/Partai Keadilan Sejahtera, selama dua periode 1999-2009. Di Solok
bersama teman-temannya yaitu Mahyeldi Ansharullah, Afrizal M Noor, Muhidi,
Nurfirmanwansyah, Johandrizon Syamsu, Ahmad Syafwan Nawawi, Firmansyah, Abdul Ghani,
Gustami Hidayat, Saifullah Salim,
Rudianto, Busril, Endrizal, Ismail Zain, Devi Herizon, Ilzan Sumarta, dan Helmi
Darlis merintis kegiatan da'wah sejak tahun 1990 di sekolah, kampus, dan
masjid-masjid melalui pesantren kilat, diskusi, ceramah dan khutbah sebagai
cikal bakal berdirinya Partai Keadilan ketika itu.
Tahun 1998 dikala Reformasi terjadi,
sekian partai berdiri untuk menyongsong Indonesia yang lebih demokratis setelah
lengsernya Soeharto kemudian dilanjutkan oleh BJ Habibie, berdiri pulalah
partai yang berbasiskan anak-anak muda kampus dengan kapasitas da'wah dan
tarbiyah, partai itu bernama Partai
Keadilan. Mukhlis diamanatkan oleh DPW PK Sumatera Barat sebagai ketua DPD PK
di Kabupaten Solok, pelantikan pengurus DPW dengan ketua Drs. Ahmad Syafwan
Nawawi dan DPD PK se Sumatera Barat dikukuhkan di Padang oleh DR. Nur Mahmudi
Ismail MSc sebagai Presiden Partai Keadilan pertama.
Dikala Partai Keadilan menjadi Partai Keadilan Sejahtera untuk kedua
kalinya Mukhlis Denros dipercaya sebagai ketua DPD di Kabupaten Solok dan
jabatan terakhir di partai dipercayakan kepadanya adalah sebagai Ketua Zona
Da'wah VII PKS Sumatera Barat hingga tahun 2007, yang membina DPD PKS Kota
Solok, Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan. Terlalu banyak pelajaran
dan pengalaman yang dia terima dari kegiatan da'wah dan partai bersama
teman-temannya
Mukhlis Denros, demikian akrab di sapa,
selain sebagai pendidik juga aktif berda’wah baik melalui ceramah, diskusi
agama, khutbah dan penyebaran tulisannya melalui Buletin Da’wah Garda Anak
Nagari serta media Nasional yang pernah memuat tulisannya seperti Majalah
Serial Khutbah Jum’at, Majalah Suara Masjid , Majalah Sabili, Majalah Tarbawi,
Majalah Ishlah, Majalah Reformasi Jakarta, Majalah Al Muslimun Bangil serta koran
Swadesi dan Sentana juga pernah memuat tulisannya yang sarat dengan pendidikan
dan nuansa islamnya, Media Mimbar Minang Padang selama bulan Ramadhan penuh
memuat tulisannya tiap hari terbit. Dia
tidak pernah membuang waktu dengan kegiatan yang tidak ada manfaatnya,
waktunya selalu terisi dengan aktivitas positif seperti membaca atau menulis
selain kegiatan harian lain.
Mukhlis
Denros Terima Penghargaan Sebagai Penulis Terbaik dari Media Suara Keadilan
Rakyat (SKR) , Minggu (15/12) di Gedung Pusat Kebudayaan kota
Sawahlunto.Penghargaan tersebut merupakan program Tabloit SKR yang selama ini
membentuk tim untuk melakukan penilaian terhadap sejumlah penulis dan tokoh di
Sumatera Barat dengan sejumlah kategori yang ditetapkan.
Penganugerahan sebagai Penulis Terbaik SKR Awards 2013
yang diberikan kepada Mukhlis Denros diserahkan oleh Wakil Wali Kota Sawah
Lunto yaitu Bapak Ismet SH, Mukhlis Denros dinilai sebagai penulis terbaik
karena konsistensinya dalam menulis berbagai pemikiran berkaitan dengan dakwah,
pendidikan dan politik yang telah melahirkan berbagai buku yang diterbitkan
oleh penerbit.
Mukhlis
Denros menerima berupa plakat dan piagam sebagai bentuk penghargaan atas
keberhasilannya menulis yang dinilai sebagai penulis terbaik, sebagaimana
penilaian TIM SKR yang terdiri dari Prof, Wil Chandry, Fadril Aziz Isaini dan
Prof,DR, H. Salmadanis, Mag.
Pada
malam penganugerahan SKR Awards 2013 tersebut
diserahkan 13 penghargaan dengan kategori berbeda kepada tokoh
lainnyayang dihadiri oleh Wawako Sawahlunto, Ismed, Pimpinan Serikat Perusahaan
Pers Pusat, Totok dan pendiiri Tabloit SKR, Riko Adiutama beserta sejumlah
tokoh Sumatera Barat lainnya.
Moto hidupnya sangat sederhana, agar
bermanfaat bagi orang lain dengan potensi yang dimiliki, semua itu hanya bisa
dilakukan dengan pendidikan yang
berkualitas. Dia menceritakan bahwa karena kegigihan orangtuanyalah untuk
mendidiknya dengan segala kesusahan dan derai air mata tapi akhirnya berhasil
mengantarkannya sebagai sarjana. Sebagai modal hidup di dunia ini,
sehingga dapat dikatakan tak bisa
membalas dan mengukur jasa orangtua yang telah mengantarkan kesuksesannya baik
memimpin partai maupun sebagai anggota
DPRD dalam dua periode ini. Bersama Partai Keadilan dan PPP Kota Solok tahun 2000 dia pernah dicalonkan
sebagai Wakil Wali Kota Solok yang berpasangan dengan Drs. Syukriadi Syukur.
Sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok
selama dua periode diembannya, dia tampil sebagai politisi yang kritis dan
bernas terhadap kebijakan Pemda dan Bupati yang tidak sesuai dengan kepentingan masyarat, diapun tidak
segan-segan menghantam anggota DPRD dikala mereka tidak aspiratif
[http://fraksi pks solok.blogspot.com].
Bersama ustadz
Mahyeldi Ansyarullah dalam gerakan da’wah dengan lembaga Al Madaniy di Padang
yang diawali tahun 1990, Mukhlis Denros banyak terlibat dalam berbagai kegiatan
da’wah seperti tahun 1994 pernah ke Palembang untuk mengikuti pertemuan da’i se
Jakarta dan Sumatera undangan dari Yayasan Bumi Andalas dan tahun 2000 Seminar
Nasional tentang Syari’ah di Medan yang diiringi dengan berbagai pertemuan
da'wah di Sumatera Barat ataupun di Jakarta, selain itu juga pernah selama 2
tahun sebagai da’i dari IIRO [Internasional islamic Relief Organisation] dan
kini sebagai anggota IKADI Solok yang juga memimpin yayasan Garda Anak Nagari
Sumatera Barat.
Organisasi lain yang
ikut dia tekuni selama di DPRD adalah sebagai Sekjen Majelis Ulama Indonesia
[MUI] Kabupaten Solok, sebagai Badan Pengawas Badan Amil Zakat Kabupaten Solok,
juga ikut membidani lahirnya beberapa lembaga da'wah berbentuk Yayasan di
Kabupaten Solok yang dikelola oleh teman-temannya seperti Yayasan Sinergi
Ummat, Yayasan Lukmanul Hakim, Yayasan Amanah Bunda, Yayasan Ahda Sabila,
Yayasan Nurul Haq, Yayasan Garda Anak Nagari dan Yayasan Selasih Solok.
Setelah dua periode
menyelesaikan tugas sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok, dalam mengisi
kegiatan hariannya Mukhlis Denros bersama isteri Yulismar S.Pd tinggal di
Nagari yang berbukit dan berlembah, yang sejuk dan asri, jauh dari kebisingan,
aman dan nyaman yaitu Jorong Cubadak Nagari Pianggu Kecamatan IX Koto Sungai
Lasi, Kabupaten Solok, Sumatera Barat tetap konsisten dengan kegiatan
sebelumnya yaitu da'wah dan menulis.
Sejak bulan Februari 2015, setelah enam tahun tinggal
di Cubadak Pianggu Kecamatan Sungai Lasi Kabupaten Solok Sumatera Barat, kini Mukhlis Denros menetap di Kota Batam
Kepri, turut berkiprah sebagai staf di Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Kota
Batam yang diketuai oleh Ibu Dra. Hj.
Helma Munaf, M.Pd dan bergabung pula dengan PMB [Persatuan Mubaligh Batam].
Di Batam, Mukhlis Denros dengan Pedro Johansis dan Mardison
mengembangkan Yayasan Garda Anak Nagari dengan membuka Garda Anak Nagari Provinsi Kepulauan Riau,
Insya Allah dalam waktu dekat akan membuka cabang Garda Anak Nagari di seluruh
Kabupaten dan Kota di Provinsi Kepulauan
Riau, semoga hal itu terujud.
DATA PRIBADI
Nama Lengkap : Drs. St. Mukhlis Denros
Tempat dan Tanggal Lahir : Metro, 3 April 1964
Jumlah bersaudara : Anak ke 3 dari 7 orang
Nama Ayah : Sutan Denak
Nama Ibu : Rosnidar
Nama Isteri : Yulismar, S.Pd
Nama Anak : Rani Ihsani Mukhlis
RIWAYAT PENDIDIKAN
1.
SDN 4 Metro
Lampung, tamat tahun 1975
2.
SMP PGRI Metro
Lampung, tamat tahun 1981
3.
SMAN 135 Metro
Lampung, tamat tahun 1984
4.
Gema Al Qur'an Al
Jihad Metro tamat tahun 1988
5.
Sarjana Muda
Tarbiyah IAIN Raden Intan Lampung, tahun
1988
6.
Sarjana Tarbiyah
IAIN Raden Intan Lampung tamat tahun 1990
PENGALAMAN ORGANISASI
1.
Ketua Osis GAA Metro Lampung Tengah 1987-1989
2.
Sekum IRM Al Jihad Metro Lampung Tengah 1986-1988
3.
Wakil Sekretaris HMI Cab. Metro Lampung Tengah 1985-1990
4.
Sekjen
Majelis Ulama Indonesia [MUI}
Kab. Solok 2005/2006
5.
Anggota Pengawas BAZ
Kabupaten Solok 2006
6.
Anggota IKADI (Ikatan Da’i Indonesia)
Kabupaten Solok
7.
Da'i
IIRO [International Islamic Relief Org.] Sumbar 1995-1997
8.
Ketua Yayasan
Garda Anak Nagari Sumatera Barat
9.
Ketua Pembina Yayasan Selasih Kabupaten Solok
10.
Ketua Pembina Yayasan Lukmanul Hakim Kota
Solok
11.
.Ketua Yayasan Garda Anak Nagari Kab.Solok
2000-2005
12.
Pembina Yayasan Sinergi Ummat Kota Solok
13.
Pembina Yayasan Amanah Bunda Kabupaten Solok
PENGALAMAN
PROFESI
1.
Guru SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah
1988-1990
2.
Guru GAA Metro Lampung Tengah 1988-1990
3.
Guru MTsN Koto Baru Kabupaten Solok 1997-1999
4.
Guru SMK Budi Mulia Koto Baru Kab. Solok
1991-2000
5.
Dosen PGTK Adzkia Kota Padang 1994-2000
6.
Anggota
DPRD Kabupaten Solok Periode
1999-2004
7.
Anggota DPRD Kabupaten Solok Periode 2004-2009
8.
Staff Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam,
2015-
PERJALANAN
DA'WAH
1.
Maperca dan Basic Training HMI Cabang Metro
1985
2.
Intermediate Training HMI di Palembang 1986
3.
Latihan Pers Mahasiswa IAIN di Tanjung Karang
1986
4.
Tarbiyyah Islamiyyah di Sumatera Barat
1990-1994
5.
Muzakarah Du'at se Sumatera /Jakarta di
Sumatera Selatan 1994
6.
Muzakarah Du'at se Sumatera/Jakarta di Sumatera Selatan 1996
7.
Muzakarah Du'at se Sumatera/ Jakarta di Bukit Tinggi 1998
8.
Muzakarah Manajemen Zakat, IMZ Jakarta 2002
9.
Seminar Syari'ah Nasional di Medan Sumatera
Utara 2000
10.
Pertemuan Anggota DPRD se Indonesia di Jakarta 2000
11.
Pertemuan Anggota DPRD se Indonesia di Bogor 2002
12.
Pertemuan da'i IIRO se Indonesia di Jakarta 2000
13.
Silaturrahmi Nasional Anggota Legislatif di
Jakarta 2005
BUKU YANG
TELAH DITERBITKAN
1.
Fikih Wanita, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
2.
Tarbiyatul Aulad, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
3.
Kumpulan Ceramah Praktis, Nurul Haq, 2010
4.
Renungan Ramadhan, Pustaka Setia Bandung, 2011
5.
Memanusiakan Manusia, Qibla Jakarta, 2011
6.
Kumpulan Khutbah Jum’at, Pustaka Setia Bandung, 2011
7.
Khutbah Jum’at, Janji Allah dan Upaya Meraihnya, Arkola
Surabaya, 2011
8.
Khutbah Jum’at Penyejuk Hati, Pustaka Albana Jogjakarta,
2012
9.
Andai Aku Tahu Dosa Itu Ada, FAM Publishing Kediri, Jawa
Timur, 2012
10.
Kumpulan Khutbah Jum’at Terbaik, Mutiara Media, Jogjakarta, 2013
11.
Man Rabbuka, Al Barokah, Jogjakarta, 2014
12.
Ensiklopedi Penulis Indonesia Jilid I, FAM Publishing Kediri,2014
13.
Kumpulan Khutbah Pengobat Hati, Mutiara Media, Jogjakarta, 2014
PUBLIKASI
TULISAN DI MEDIA
1.
Majalah Serial Khutbah Jum'at, Jakarta
2.
Majalah Suara Masjid, Jakarta
3.
Majalah Ishlah, Jakarta
4.
Majalah Reformasi, Jakarta
5.
Majalah Al Muslimun, Bangil
6.
Majalah Sabili, Jakarta
7.
Majalah Tarbawi, Jakarta
8.
Majalah Muamalat, Jakarta
9.
Majalah Kiblat, Jakarta
10.
Majalah Harmonis, Jakarta
11.
Majalah Estafet, Jakarta
12.
Majalah Sakinah, Jakarta
13.
Harian Serambi Minang, Padang
14.
Harian Semangat, Padang
15.
Harian Mimbar Minang, Padang
16.
Harian Singgalang, Padang
17.
Tabloid Sumbar Post, Padang
18.
Tabloid Zaman, Padang
19.
Tabloid Solinda, Kabupaten Solok
20.
Tabloid Lentera, Padang
21.
Tabloid Suara Keadilan Rakyat, Sawahlunto
22.
Tabloid, Media Islam Batam
23.
Tabloid Dyi’ar Islam Batam
24.
Buletin DPW PKS Sumatera Barat, Padang
25.
Buletin Riswan, Koto Baru Kabupaten Solok
26.
Buletin Da'wah Masjid Al Furqan Kota Solok
27.
Buletin Da'wah Garda Anak Nagari Kabupaten
Solok
28.
Buletin Da'wah Sebening Embun Solok
29.
Buletin Da'wah Selasih Solok
30.
Mingguan Suara Rakyat, Solok
31.
Mingguan Bijak, Padang
32.
Mingguan Swadesi, Jakarta
33.
Mingguan Sentana, Jakarta
34.
Mingguan Raden Intan Pos, IAIN Lampung
35.
Pariaman Post, Sumatera Barat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar