Senin, 25 Mei 2015

30. Ramadhan dan Keraton






RAMADHAN DAN KERATON
Drs. St. Mukhlis Denros



Banyak amaliah puasa Ramadhan yang dilakukan di keraton diluar Syariat Islam sejak dari menjelang Ramadhan hingga berakhirnya puasa Ramadhan.Aqidah tauhid mengajak ummat Islam untuk membersihkan iman dari syirik, kurafat, tahyul dan bid’ah. Ajaran Islam yang memurnikan tauhid harus diikuti meskipun datangnya dari surau di ujung desa, dan semua yang syirik menodai tauhid harus ditentang meskipun datangnya dari keraton.

Keraton atau kraton (bahasa Jawa) adalah daerah tempat seorang penguasa (raja atau ratu) memerintah atau tempat tinggalnya (istana). Dalam pengertian sehari-hari, keraton sering merujuk pada istana penguasa di Jawa. Dalam bahasa Jawa, kata kraton (ke-ratu-an) berasal dari kata dasar ratu yang berarti penguasa. Kata Jawa ratu berkerabat dengan kata dalam bahasa Melayu; datuk/datu. Dalam bahasa Jawa sendiri dikenal istilah kedaton yang memiliki akar kata dari datu, di Keraton Surakarta istilah kedaton merujuk kepada kompleks tertutup bagian dalam keraton tempat raja dan putra-putrinya tinggal. Masyarakat Keraton pada umumnya memiliki gelar kebangsawanan. [Wikipedia bebas Indonesia].

Walau sudah merdeka tapi keratin masih berfungsi layaknya sebuah kerajaan pada masa dahulu walaupun itu hanya sebatas seremonial adat saja dan merupakan warisan nenek moyang yang nampaknya tetap dilestarikan,  Keraton-keraton di Indonesia diantaranya;

Nama Keraton
Nama Kerajaan
Provinsi
Keraton Surosowan Kesultanan Banten Banten
Keraton Kaibon Kesultanan Banten Banten
Keraton Kasepuhan Kesultanan Cirebon Jawa Barat
Keraton Kanoman Kesultanan Cirebon Jawa Barat
Keraton Kacirebonan Kesultanan Cirebon Jawa Barat
Keraton Sumedang Larang Kerajaan Sumedang Larang Jawa Barat
Keraton Surakarta Hadiningrat Kasunanan Surakarta Hadiningrat Jawa Tengah
Pura Mangkunegaran Praja Mangkunagaran Jawa Tengah
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat D.I. Yogyakarta
Pura Paku Alaman Kadipaten Paku Alaman D.I. Yogyakarta
Keraton Sumenep Kadipaten Sumenep Jawa Timur
Kedaton Kutai Kartanegara Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Kalimantan Timur

            Sebagai peninggalan sejarah, kita setuju bila budaya masa lampau dilestarikan di keratin, tetapi tentu budaya yang sesuai dengan kemajuan zaman dan syariata Islam apalagi sebagian besar  para raja dan pengabdi di keraton tersebut sebelumnya sudah memeluk Islam. Namun sisi gelap keraton membuat nuansa Islam di dalamnya hilang bahkan kegiatan syirik marak dilakukan di dalamnya sebagaimana yang diungkapkan oleh nahi mungkar.com.

Seharusnya di dalam negara Republik Indonesia tidak ada lagi budaya feodal dan monarkis yang masih eksis. Kenyataannya, budaya seperti itu justru dihidup-hidupkan bahkan dibiayai oleh pemerintah, baik melalui APBD maupun APBN dengan alasan melestarikan budaya bangsa.

 Keraton atau Kesultanan atau apalah nama lainnya, adalah institusi yang tidak saja melestarikan budaya bangsa yang penuh kemusyrikan dan aneka kemunkaran lainnya, tetapi juga melestarikan budaya bangsa yang dikaterogikan sebagai perbudakan, melalui ‘budaya luhur’ abdi dalem.

 Di Metro TV pernah ditayangkan realita kehidupan abdi dalem Keraton Jogjakarta, yang jumlahnya mencapai 2300 orang. Mereka menerima upah yang jauh di bawah garis kemanusiaan. Untuk abdi dalem berpangkat panglima perang, memperoleh upah sebesar Rp 45.000 (empat puluh lima ribu rupiah) setiap tiga bulan. Jadi sebulan rata-rata memperoleh Rp 15.000 (lima belas ribu rupiah). Sedangkan abdi dalem yang berpangkat prajurit, jauh lebih kecil, bahkan ada yang cuma diupahi beberapa ribu rupiah saja per bulannya.

 Meski begitu, ironisnya, peminat menjadi abdi dalem tidak sedikit. Bahkan harus ngantri segala. Mereka beranggapan menjadi abdi dalem sebagai pengabdian kepada Sultan dan Keraton Jogja, selain juga untuk ngalap berkah (mengharap berkah). Gilanya lagi, mereka merasa keberkahan itu benar-benar menghampiri. Misalnya, salah seorang abdi dalem yang berprofesi ganda sebagai penjual cendol, sebelum menjadi prajurit Keraton Jogja mengaku pendapatanya per hari rata-rata Rp 11.000 (sebelas ribu rupiah), namun sejak menjadi prajurit pendapatannya justru meningkat hingga mencapai Rp 17.000 hingga Rp 20.000 per hari. Begitu  menurut pengakuannya. (http://david.bits-soft.com/siapa-mau-jadi-abdi-dalem-kraton/)
 Nampaknya mereka (para abdi dalem) itu tersugesti sedemikian rupa. Tingkat kejahilan mereka (para abdi dalem) yang sedemikian rupa itu, telah dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang masih menganut feodalisme. Sesungguhnya, ini merupakan perbudakan yang dikekalkan dengan dalih melestarikan kebudayaan, juga merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang dibungkus dengan argumen mengabdi kepada kebudayaan.
 Dari sudut pandang Islam, budaya abdi dalem sama sekali jauh dari nilai-nilai kemanusiaan, oleh karenanya jauh dari nilai-nilai Islam. Dalam pandangan Islam, setiap orang punya dua hal, yaitu hak dan kewajiban. Keduanya harus ditunaikan secara seimbang. Seorang prajurit, selain mempunyai hak berupa upah yang layak, sehinga dapat mencukupi kehidupan keluarganya, juga mempunyai kewajiban yang bila diabaikan maka ia digolongkan sebagai pengkhianat.
 Sedangkan dalam budaya abdi dalem, sebelum menjadi abdi dalem mereka disaring melalui persyaratan yang ketat, ada masa percobaan, ada jenjang karir dan sebagainya. Namun, upahnya jauh lebih rendah dari upah minimum yang berlaku, padahal upah minimum yang berlaku saja masih jauh dari kelayakan. Ini jelas melanggar HAM dan merupakan perbudakan berbungkus kebudayaan.

 Mengharapkan berkah melalui ‘profesi’ sebagai abdi dalem jelas keliru. Sebab, seharusnya harapan memperoleh berkah dipanjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setelah bekerja keras, memenuhi kewajiban dengan sebaik-baiknya, kemudian mendapat upah selayak-layaknya, barulah seseorang itu menggantungkan harapan mendapat berkah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan membelanjakan penghasilannya di jalan yang diridhoi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 Mengharap berkah (ngalap berkah) versi abdi dalem, jelas bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan, bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Apalagi harapan itu digantungkan dengan cara membiarkan dirinya didzalimi orang lain. Maka yang sesungguhnya mereka peroleh bukanlah berkah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena, Allah tidak suka terhadap orang yang gemar berbuat dzalim, dan tidak suka kepada orang yang membiarkan kedzaliman berlangsung.
 Dalam konteks ini, baik sang abdi dalem, maupun para Sultan atau Raja dan seluruh keluarganya, termasuk aparat pemerintah yang mengekalkan hal ini dengan dalih melestarikan kebudyaaan, mereka sesungguhnya adalah orang-orang yang mendapat laknat Allah.[ Pembudakan dan Pemusyrikan di Keraton Berkedok Kebudayaan, nahyi mungkar.com.19 January 2009].
Walaupun sang Raja atau  Sultan seorang muslim tapi kegiatan yang berlansung di Kraton itu banyak yang mengandung dan mengundang syirik seperti acara pernikahan, kelahiran dan kematian.
Terhadap pernikahan putri bungsu Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Kanjeng Ratu Bendara atau GRAy Nurastuti Wijareni dengan Kanjeng Pangeran Haryo Yudanegara atau Achmad Ubaidillah, tak henti-henti media mengulasnya. Bahkan di beberapa stasiun televisi ditayangkan berulang kali dalam Headline News-nya. Beberapa event yang ditayangkan dan diberi perhatian khusus tak semua selaras dengan akidah dan nilai-nilai Islam. Salah satunya -acara yang dianggap menarik dan unik- adalah penganten edan-edanan.

Penganten edan-edanan menjadi salah satu proses pernikahan agung di Kraton Yogyakarta saat mengawal KPH Yudanegara saat hendak melakukan prosesi panggih atau  temu penganten. Yaitu dua pasang penganten yang berdandan seperti penganten namun berantakan. Bahkan terlihat seperti orang gila, makanya disebut penganten edan-edanan.

Menurut keyakinan kraton, tradisi penganten edan-edanan yang berperilaku seperti orang gila sambil menari-nari ini untuk membuka jalan bagi penganten dan untuk mengusir atau menolak bala, agar proses pernikahan berjalan lancar."Ini sebagai tolak bala' agar acara berlangsung lancar tanpa halangan apapun, kamilah penolak balanya," kata salah satu pemeran manten edan-edanan Nyi Mas Wedono Hamong Sumowiyardjo. (Lihat: Tolak Bala, Manten Edan-edanan Kawal Mantu Sultan Selasa, www.detiknews.com, 18/10/2011)

Isti'adzah maknanya adalah meminta perlindungan. Yakni meminta agar dilindungi dan diamankan dari keburukan. Dan itu termasuk bagian dari thalab (permintaan) seperti istighatsah (meminta dihilangkan bencana), isti'anah (minta pertolongan), istisqa' (meminta diberikan hujan) dan semisalnya. Semua itu termasuk doa. Dan doa termasuk ibadah. Oleh karena itu ia harus ditujukan dan dimohonkan kepada Allah Allah semata, jika kepada selain-Nya maka termasuk syirik. Allah Ta'ala berfirman,"Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah." (QS. Al-Jin:  18)

"Yang (berbuat) demikian Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu. . ." (QS. Faathir: 13-14)

Maka mengusir bala' dan berlindung dari gangguan makhluk halus dengan mengadakan dua pasang penganten edan-edanan yang bertingkah dan menari-nari seperti orang gila termasuk bagian dari isti'adzah. Hanya kepada siapa itu dimohonkan. Jika kepada Allah tentu ada aturan/syariat yang mengaturnya, dan pasti tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam lainnya seperti menutup aurat dan mejaga kehormatan diri. Sementara tolak bala' ala kraton Yogyakarta jelas tidak ada petunjuknya dalam syariat Islam, padahal Islam selalu memberikan perhatian pada urusan doa. Kemudian pertanyaan, ini syariat siapa? Dan jika menuruti pembuat syariat penganten edan-edanan itu berarti doa ditujukan kepadanya.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin menyebutkan satu kaidah, "Sesungguhnya setiap manusia yang bersandar kepada suatu sebab yang tak pernah ditetapkan oleh syariat sebagai sebab, maka ia telah melakukan kesyirikan dengan syirik kecil." (Al-Qaul al-Mufid, Syarhu Kitab al-Tauhid, Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin: 1/358)

Dan dalam perkataan beliau yang lain, "Sesungguhnya setiap orang yang meyakini sesuatu sebagai sebab dalam satu perkara, tapi tidak pernah ada ketetapan bahwa itu sebagai sebab, baik secara kauni (sebab akibat) atau syar'i, maka kesyirikan yang diperbuatnya itu termasuk syirik kecil. Karena kita tidak punya hak untuk menetapkan bahwa ini merupakan sebab kecuali apabila Allah telah menjadikannya sebagai sebab, baik kauni atau syar'i. Yang disebut syar'i itu seperti membaca Al-Qur'an dan doa. Sedangkan yang kauni itu seperti berobat yang telah terbukti manfaatnya." [Badrul Tamam Kesyirikan Dalam Acara Pernikahan Putri Sultan Yogyakarta, voa-islam.com Rabu, 19 Oct 2011].

Tahun 2009 saya berkunjung ke Keraton Surakarta Hadiningrat, di dalamnya terhampar halaman berpasir dan di sekeliling bangunan ada banyak patung Bunda Maria, menurut salah seorang abdi dalem bahwa pasir yang terdapat di halaman itu dianggap mempunyai kekuatan magis sehingga siapa yang datang ditawari untuk membawanya pulang, tidak gratis, harus membayar dengan harga tertentu, tawaran iu saya tolak, sedangkan patung Maria yang banyak terpajang itu merupakan hadiah dari Ratu Belanda yang datang ke Keraton itu. Sehingga sulit untuk menentukan bersihnya Keraton dari noda syirik, kurafat, tahyul dan bid’ah.
Kita sebagai manusia pasti punya salah dan dosa, semua dosa itu akan diampuni Allah bila bertaubat sebelum wafat kecuali dosa syirik yaitu dosa menserikatkan Allah dengan berbagai ritual yang  diada-adakan dengan dalih tradisi dan adat istiadat sebagaimana yang dilakoni di Keraton.
Lawan dari muwahhid (bertauhid, mengesakan Allah) adalah musyrik (orang yang menyekutukan Allah dengan lain-Nya). Yaitu yang terlahir dari kemusyrikan meskipun dengan salah satu dari macam-macam syirik, seperti dengan ucapan, sifat-sifat, perbuatan, keyakinan, mu’amalah (pergaulan), persetujuan, dan penilaiannya bahwa syirik itu baik. Begitu pula apabila ia rela mengucapkan atau mendengarkan kata-kata syirik.
Orang-orang pada masa jahiliyah, karena dalam ibadah mereka telah melakukan syirik, menyekutu-kan Allah dengan hal-hal yang menurut mereka baik,karena akal mereka  tidak berfungsi dan mereka selalumengikuti kesesatan yang sudah jelas bersumber dari nenek moyang mereka, maka mereka tetap saja selalu menyembah berhala-berhala, patung-patung, pohon-pohon, kuburan, tugu, batu-batu besar, dan lain-lain. Mereka minta keberkahan dari benda-benda tersebut seraya mengharapkan syafa’at (pertolongan) benda-benda itu di sisi Penciptanya.  Mereka berlindung kepada benda-benda tersebut, dan berpegang teguh dengan anggapan mereka, bahwa dengan itu, mereka mencukupi makan minum mereka.
Dari perbuatan syirik ini kemudian muncul kesesatan-kesesatan yang merupakan cabang-cabang daripohon kemusyrikan itu. Seperti takhayul (klenik), bersumpah dengan menyebutkan benda-benda yang mereka jadikan tuhan, menggantungkan mantra-mantra,benda-benda pengasih (sikep), dan jimat-jimat untuk memperoleh atau menolak apa yang mereka kehendaki. Maka dengan perbuatan itu mereka telah menyepadankan dan menyekutukan antara Allah dengan makhluk-Nya, yaitu dengan sama-sama dicintai, dijadikan harapan, ditakuti, dijadikan tempat berlindung, diyakini mampu mencegah, memberi, mendekatkan dan menjauhkan.
Perbuatan-perbuatan yang dilandasi dengan kebodohan ini kemudian berkembang dan marata, dan api kesesatan menyala di antara mereka, sampai  mereka membuat upacara-upacara agama yang tidak diizinkan oleh Allah. Mereka menjadikan binatang-binatang tertentu menjadi saibah, wasilah dan ham. Begitulah, orang-orang jahiliyah itu berbuat dalam kebodohan dan kesesatan, sampai kemudian Allah mengutus Nabi-Nya Muhammad sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, sekaligus mengajak mereka untuk menyembah Allah dengan izin-Nya, dan juga ibarat lampu yang memberikan penerangan.
Maka Nabi Muhammad  kemudian memberi-kan penerangan terbuka tentang hakekat tauhid dengan cara mengesakan Allah dan membersihkan diri dari penyembahan-penyembahan kepada lain-Nya. Dan itulah hakekat tauhid. Nabi n juga menegaskan kepada orang-orang jahiliyah tentang keharusan untuk mengesakan Allah dan meninggalkan syirik (menyekutukan Allah dengan yang lain). Itulah tauhid yang dijelaskan Allah dalam kitab-Nya yang diturunkan kepada Nabi Muhammad .
Allah menerangkan tauhid dengan membuat perumpamaan-perumpamaan, dan mengetengahkanargumen-argumen secara jelas dan rinci. Oleh karena itu. anda dapat melihat Al-Qur’an dan Hadits lebih banyak  menyebutkan syirik dan orang-orang yangmusyrik daripada menyebutkan kekafiran dan orang-orang kafir.
Menyebut-nyebut syirik pada masa itu, dan pada masa sesudahnya, yaitu masa Sahabat dan Tabi’in adalah suatu hal yang dikenal secara populer. Bahkan menyebutnya sampai pada tingkat yang sangat masyhur. 

Namun ketika pondasi-pondasi syirik itu sirna, karena orang-orang yang musyrik juga sudah tidak ada lagi, sementara ajaran-ajaran agama secara benar menjadi gejala umum, maka hampir tidak ada orang yang menyinggung-nyinggung tentang kemusyrikan. Tidak ada mulut yang mau dikotori dengan menyebut syirik itu. Karenanya para ulama kemudian banyak membahas masalah murtad, dengan menyebut-nyebut hal-hal yang menyebabkan kafir, dan mereka tidak membahas hal-hal yang dapat menjadikan musyrik pada seseorang.
Setelah penjelasan ini, kita lihat bahwa syirik dalam uluhiyyah (menyembah Allah) tidak disebut-sebut. Padahal tauhid uluhiyyah (hanya menyembah Allah saja) merupakan pokok agama Islam. Tauhid inilah yang menyebabkan terjadinya pertentangan  antara para rasul dan umatnya; dan ajaran tauhid ini pula yang dibawa oleh para rasul di mana merekadiutus oleh Allah.
Sebagaimana ditegaskan oleh Allah“Dan kami tidak mengutus sebelum kamu (Mu-hammad) seorang rasul pun, kecuali Kami mem-berikan wahyu kepadanya, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Aku. Oleh karena itu, sembahlah Aku.” (Al-An-biya’ : 25) [Diringkasdari buku “ Kemusyrikan Menurut Madzhab Syafi`iDr. Abdur Rahman al-Khumayyis Oleh: Husnul Yaqin,Lc].
Kemusyrikan bukan hanya marak di Keraton saja bahkan pada setiap yang dianggap keramat seperti kuburan para wali juga dijadikan tempat untuk menebar syirik, nampaknya semua kegiatan yang digelar di Keraton tidak lepas dari budaya Hindu yang sarat dengan syirik, seperti setiap datangnya hari-hari besar Islam seperti Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj dan bulan Muharam, semua benda-benda pusaka Keraton diarak sekitar kota, lalu dibersihkan, kemudian air bekas mencuci benda pusaka itu diambil oleh masyarakat, disiramkan kekebunnya dengan harapan setiap tanaman yang disiram itu akan berbuah lebat. Demikian pula halnya ketika masa panen, diadakan acara mengumpulkan semua hasil panen di depan Keraton, lalu dibadikan, semuanya berebut menerima dan mengambil buah-buahan itu, dengan harapan akan mendatangkan berkah bagi mereka.

Selayaknya, dizaman merdeka ini, tidak ada lagi feodalisme dan perbudakan dalam sebuah kerajaan, yang memperlakukan manusia secara diskriminatif, jangan ada lagi negara dalam negara, semuanya bersatu dalam paying NKRI, jadikanlah Keraton sebagai simbul kejayaan kerajaan masa lalu, artinya itu adalah sejarah, seharusnya dizaman yang modern ini masyarakat kita terdidik, sejak dari rajanya hingga rakyatnya mengerti dengan Islam sehingga mampu untuk menghindari segala perbuatan, sikap, amal perbuatan dan cetusan hati yang bernilai syirik, karena hal itu akan merusak iman seseorang, Wallahu A’lam. [Baloi Indah 30 Ramadhan 1436.H/2015, Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam, Kepri]





PROFIL PENULIS

Penampilan sederhana ini bernama Mukhlis yang dilahirkan di ujung Selatan Pulau Sumatera  yaitu  Metro [Lampung Tengah] tanggal 3 April 1964 anak ketiga dari  ayah bernama Sutan Denak dan ibu Rosnidar dengan enam orang adik kakak yaitu Ernawati, Marsudi, Erma, Septiyani, Mahdalena dan Adek Wahyuli, isteri bernama Yulismar S.Pd [Ayang] dengan seorang anak wanita bernama Rani Ihsani Mukhlis, nama yang akrab di kalangan teman dan sahabatnya adalah Mukhlis Denros. Kampung asalnya Kampani Barangan Selatan, Nagari Lurah Ampalu, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, dengan suku Koto, besar dan menempuh pendidikan di Kota Lada Metro Lampung.

Pendidikan yang pernah ditempuhnya yaitu SDN yang dimulai di SDN Koto Marapak [Kota Pariaman], ketika kelas IV dia harus meninggalkan kampung bersama ayah dan ibunya menuju Metro, SD diselesaikannya di SDN IV Metro, dilanjutkan ke SMP PGRI Metro, kemudian SMAN 135 Metro yang dapat diselesaikan tahun 1984, tidak ada maksud untuk kuliah karena berbagai faktor, berkat dorongan teman-teman dan gurunya terutama Ustadz Masnuni M.Ra'i, Alfuadi Rusli, H. Muhammad Lazim, H. Fakhrudin, Sugito, Hayumi Rb,Hayumi Rf, H. Rasyidin dan Malin Marajo di Masjid Al Jihad akhirnya tahun ini juga melanjutkan kuliah di IAIN, inilah pendidikan terakhir yang ditempuhnya yaitu Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Institut Agana Islam Negeri [IAIN]  Raden Intan Lampung di Metro tamat tahun 1990. Ketika tamat kuliah dia harus meninggalkan Metro dan memulai kiprahnya di Koto Baru Kabupaten Solok Sumatera Barat sebagai pendidik, dosen, penulis, mubaligh  hingga sebagai politisi akhirnya.


Sejak di bangku SMA hingga tamat kuliah, Mukhlis  giat di OSIS Gema Al Qur'an AL Jihad dan Remaja Masjid Al Jihad Metro  bersama teman-temannya Dody Sofial, Abul Fatrida, Yurnalis, M. Syafei, Irza Murni, Gusnita, Herwina, Afrizal, Yohanes dan Rita Suryani, dikala kuliah bergabung dengan HMI Cabang Metro bersama Ahmad Ridwan, Gatot Subroto, Sigit Triyono, Syuhada', Raihan dan Usdek, mengikuti pengkaderan Basic Training di Metro tahun 1985 dan Intermediate Training di Palembang tahun 1986 dan pernah menjabat sebagai Sekretaris HMI Komisariat IAIN dan wakil sekretaris HMI Cabang Metro.

Menjadi guru adalah cita-citanya sejak awal dan hal itu telah terujud walaupun tidak sebagai PNS, pernah mengajar di GAA dan SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah, mengajar di SMEA Budi Mulia Koto Baru, MTsN Koto Baru Solok dan sebagai dosen PGTK Adzkia Padang, Aktivitas sebagai pendidik ini dia tekuni sejak di bangku kuliah tahun 1984 sampai tahun 2000, kemudian aktif sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok utusan dari Partai Keadilan/Partai Keadilan Sejahtera, selama dua periode 1999-2009. Di Solok bersama teman-temannya yaitu Mahyeldi Ansharullah, Afrizal M Noor, Muhidi, Nurfirmanwansyah, Johandrizon Syamsu, Ahmad Syafwan Nawawi, Firmansyah, Abdul Ghani, Gustami Hidayat,  Saifullah Salim, Rudianto, Busril, Endrizal, Ismail Zain, Devi Herizon, Ilzan Sumarta, dan Helmi Darlis merintis kegiatan da'wah sejak tahun 1990 di sekolah, kampus, dan masjid-masjid melalui pesantren kilat, diskusi, ceramah dan khutbah sebagai cikal bakal berdirinya Partai Keadilan ketika itu.

Tahun 1998 dikala Reformasi terjadi, sekian partai berdiri untuk menyongsong Indonesia yang lebih demokratis setelah lengsernya Soeharto kemudian dilanjutkan oleh BJ Habibie, berdiri pulalah partai yang berbasiskan anak-anak muda kampus dengan kapasitas da'wah dan tarbiyah, partai  itu bernama Partai Keadilan. Mukhlis diamanatkan oleh DPW PK Sumatera Barat sebagai ketua DPD PK di Kabupaten Solok, pelantikan pengurus DPW dengan ketua Drs. Ahmad Syafwan Nawawi dan DPD PK se Sumatera Barat dikukuhkan di Padang oleh DR. Nur Mahmudi Ismail MSc sebagai Presiden Partai Keadilan pertama.

Dikala Partai Keadilan  menjadi Partai Keadilan Sejahtera untuk kedua kalinya Mukhlis Denros dipercaya sebagai ketua DPD di Kabupaten Solok dan jabatan terakhir di partai dipercayakan kepadanya adalah sebagai Ketua Zona Da'wah VII PKS Sumatera Barat hingga tahun 2007, yang membina DPD PKS Kota Solok, Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan. Terlalu banyak pelajaran dan pengalaman yang dia terima dari kegiatan da'wah dan partai bersama teman-temannya

Mukhlis Denros, demikian akrab di sapa, selain sebagai pendidik juga aktif berda’wah baik melalui ceramah, diskusi agama, khutbah dan penyebaran tulisannya melalui Buletin Da’wah Garda Anak Nagari serta media Nasional yang pernah memuat tulisannya seperti Majalah Serial Khutbah Jum’at, Majalah Suara Masjid , Majalah Sabili, Majalah Tarbawi, Majalah Ishlah, Majalah Reformasi Jakarta, Majalah Al Muslimun Bangil serta koran Swadesi dan Sentana juga pernah memuat tulisannya yang sarat dengan pendidikan dan nuansa islamnya, Media Mimbar Minang Padang selama bulan Ramadhan penuh memuat tulisannya tiap hari terbit. Dia  tidak pernah membuang waktu dengan kegiatan yang tidak ada manfaatnya, waktunya selalu terisi dengan aktivitas positif seperti membaca atau menulis selain kegiatan harian lain.
Mukhlis Denros Terima Penghargaan Sebagai Penulis Terbaik dari Media Suara Keadilan Rakyat (SKR) , Minggu (15/12)  di Gedung Pusat Kebudayaan kota Sawahlunto.Penghargaan tersebut merupakan program Tabloit SKR yang selama ini membentuk tim untuk melakukan penilaian terhadap sejumlah penulis dan tokoh di Sumatera Barat dengan sejumlah kategori yang ditetapkan.
Penganugerahan sebagai Penulis Terbaik SKR Awards 2013 yang diberikan kepada Mukhlis Denros diserahkan oleh Wakil Wali Kota Sawah Lunto yaitu Bapak Ismet SH, Mukhlis Denros dinilai sebagai penulis terbaik karena konsistensinya dalam menulis berbagai pemikiran berkaitan dengan dakwah, pendidikan dan politik yang telah melahirkan berbagai buku yang diterbitkan oleh penerbit.
Mukhlis Denros menerima  berupa plakat dan piagam sebagai bentuk penghargaan atas keberhasilannya menulis yang dinilai sebagai penulis terbaik, sebagaimana penilaian TIM SKR yang terdiri dari Prof, Wil Chandry, Fadril Aziz Isaini dan Prof,DR, H. Salmadanis, Mag.
Pada malam penganugerahan SKR Awards 2013 tersebut  diserahkan 13 penghargaan dengan kategori berbeda kepada tokoh lainnyayang dihadiri oleh Wawako Sawahlunto, Ismed, Pimpinan Serikat Perusahaan Pers Pusat, Totok dan pendiiri Tabloit SKR, Riko Adiutama beserta sejumlah tokoh Sumatera Barat lainnya.
Moto hidupnya sangat sederhana, agar bermanfaat bagi orang lain dengan potensi yang dimiliki, semua itu hanya bisa dilakukan dengan  pendidikan yang berkualitas. Dia menceritakan bahwa karena kegigihan orangtuanyalah untuk mendidiknya dengan segala kesusahan dan derai air mata tapi akhirnya berhasil mengantarkannya sebagai sarjana. Sebagai modal hidup di dunia ini, sehingga  dapat dikatakan tak bisa membalas dan mengukur jasa orangtua yang telah mengantarkan kesuksesannya baik memimpin  partai maupun sebagai anggota DPRD dalam dua periode ini. Bersama Partai Keadilan dan PPP  Kota Solok tahun 2000 dia pernah dicalonkan sebagai Wakil Wali Kota Solok yang berpasangan dengan Drs. Syukriadi Syukur.

Sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok selama dua periode diembannya, dia tampil sebagai politisi yang kritis dan bernas terhadap kebijakan Pemda dan Bupati yang tidak sesuai  dengan kepentingan masyarat, diapun tidak segan-segan menghantam anggota DPRD dikala mereka tidak aspiratif [http://fraksi pks solok.blogspot.com].

Bersama ustadz Mahyeldi Ansyarullah dalam gerakan da’wah dengan lembaga Al Madaniy di Padang yang diawali tahun 1990, Mukhlis Denros banyak terlibat dalam berbagai kegiatan da’wah seperti tahun 1994 pernah ke Palembang untuk mengikuti pertemuan da’i se Jakarta dan Sumatera undangan dari Yayasan Bumi Andalas dan tahun 2000 Seminar Nasional tentang Syari’ah di Medan yang diiringi dengan berbagai pertemuan da'wah di Sumatera Barat ataupun di Jakarta, selain itu juga pernah selama 2 tahun sebagai da’i dari IIRO [Internasional islamic Relief Organisation] dan kini sebagai anggota IKADI Solok yang juga memimpin yayasan Garda Anak Nagari Sumatera Barat.

Organisasi lain yang ikut dia tekuni selama di DPRD adalah sebagai Sekjen Majelis Ulama Indonesia [MUI] Kabupaten Solok, sebagai Badan Pengawas Badan Amil Zakat Kabupaten Solok, juga ikut membidani lahirnya beberapa lembaga da'wah berbentuk Yayasan di Kabupaten Solok yang dikelola oleh teman-temannya seperti Yayasan Sinergi Ummat, Yayasan Lukmanul Hakim, Yayasan Amanah Bunda, Yayasan Ahda Sabila, Yayasan Nurul Haq, Yayasan Garda Anak Nagari dan Yayasan Selasih Solok.

Setelah dua periode menyelesaikan tugas sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok, dalam mengisi kegiatan hariannya Mukhlis Denros bersama isteri Yulismar S.Pd tinggal di Nagari yang berbukit dan berlembah, yang sejuk dan asri, jauh dari kebisingan, aman dan nyaman yaitu Jorong Cubadak Nagari Pianggu Kecamatan IX Koto Sungai Lasi, Kabupaten Solok, Sumatera Barat tetap konsisten dengan kegiatan sebelumnya yaitu da'wah dan menulis.

Sejak bulan Februari 2015, setelah enam tahun tinggal di Cubadak Pianggu Kecamatan Sungai Lasi Kabupaten Solok Sumatera Barat,  kini Mukhlis Denros menetap di Kota Batam Kepri, turut berkiprah sebagai staf di Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Kota Batam yang diketuai oleh Ibu Dra. Hj. Helma Munaf, M.Pd dan bergabung pula dengan PMB [Persatuan Mubaligh Batam].

Di Batam, Mukhlis Denros dengan Pedro Johansis dan Mardison mengembangkan Yayasan Garda Anak Nagari dengan membuka  Garda Anak Nagari Provinsi Kepulauan Riau, Insya Allah dalam waktu dekat akan membuka cabang Garda Anak Nagari di seluruh Kabupaten dan Kota di Provinsi  Kepulauan Riau, semoga hal itu terujud.



0
DATA PRIBADI

Nama Lengkap                          : Drs. St. Mukhlis Denros
            Tempat dan Tanggal Lahir          : Metro, 3 April 1964
     Jumlah bersaudara                     : Anak ke 3 dari 7 orang
            Nama Ayah                              : Sutan Denak
            Nama Ibu                                 : Rosnidar
            Nama Isteri                              : Yulismar, S.Pd
            Nama Anak                             : Rani Ihsani Mukhlis
           

RIWAYAT PENDIDIKAN
1.             SDN 4 Metro Lampung, tamat tahun 1975
2.             SMP PGRI Metro Lampung, tamat tahun 1981
3.             SMAN 135 Metro Lampung, tamat tahun 1984
4.             Gema Al Qur'an Al Jihad Metro tamat tahun 1988
5.             Sarjana Muda Tarbiyah  IAIN Raden Intan Lampung, tahun 1988
6.             Sarjana Tarbiyah IAIN Raden Intan Lampung tamat tahun 1990

PENGALAMAN ORGANISASI
1.             Ketua Osis GAA  Metro Lampung Tengah 1987-1989
2.             Sekum IRM Al Jihad Metro  Lampung Tengah  1986-1988
3.             Wakil Sekretaris HMI Cab. Metro Lampung  Tengah 1985-1990
4.             Sekjen  Majelis Ulama Indonesia [MUI}  Kab. Solok  2005/2006
5.             Anggota Pengawas  BAZ   Kabupaten Solok 2006
6.             Anggota IKADI (Ikatan Da’i Indonesia) Kabupaten Solok
7.             Da'i  IIRO [International Islamic Relief Org.] Sumbar 1995-1997
8.             Ketua Yayasan  Garda Anak Nagari Sumatera Barat
9.             Ketua Pembina Yayasan Selasih Kabupaten Solok
10.         Ketua Pembina Yayasan Lukmanul Hakim Kota Solok
11.         .Ketua Yayasan Garda Anak Nagari Kab.Solok 2000-2005
12.         Pembina Yayasan Sinergi Ummat Kota Solok
13.         Pembina Yayasan Amanah Bunda Kabupaten Solok

PENGALAMAN PROFESI
1.             Guru SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah 1988-1990
2.             Guru GAA Metro Lampung Tengah 1988-1990
3.             Guru MTsN Koto Baru Kabupaten Solok 1997-1999
4.             Guru SMK Budi Mulia Koto Baru Kab. Solok 1991-2000
5.             Dosen PGTK Adzkia Kota Padang 1994-2000
6.             Anggota  DPRD Kabupaten Solok  Periode 1999-2004
7.             Anggota DPRD Kabupaten Solok  Periode 2004-2009
8.             Staff Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam, 2015-
  
PERJALANAN DA'WAH
1.             Maperca dan Basic Training HMI Cabang Metro 1985
2.             Intermediate Training HMI di Palembang 1986
3.             Latihan Pers Mahasiswa IAIN di Tanjung Karang 1986
4.             Tarbiyyah Islamiyyah di Sumatera Barat 1990-1994
5.             Muzakarah Du'at se Sumatera /Jakarta di Sumatera Selatan 1994
6.             Muzakarah Du'at  se Sumatera/Jakarta di Sumatera Selatan 1996
7.             Muzakarah Du'at  se Sumatera/ Jakarta di Bukit Tinggi 1998
8.             Muzakarah Manajemen Zakat, IMZ Jakarta 2002
9.             Seminar Syari'ah Nasional di Medan Sumatera Utara 2000
10.         Pertemuan Anggota DPRD  se Indonesia di Jakarta 2000
11.         Pertemuan Anggota DPRD  se Indonesia di Bogor 2002
12.         Pertemuan da'i  IIRO se Indonesia  di Jakarta 2000
13.         Silaturrahmi Nasional Anggota Legislatif di Jakarta 2005

BUKU YANG TELAH  DITERBITKAN
1.             Fikih Wanita, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
2.             Tarbiyatul Aulad, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
3.             Kumpulan Ceramah Praktis, Nurul Haq, 2010
4.             Renungan Ramadhan, Pustaka Setia Bandung, 2011
5.             Memanusiakan Manusia, Qibla Jakarta, 2011
6.             Kumpulan Khutbah Jum’at, Pustaka Setia Bandung, 2011
7.             Khutbah Jum’at, Janji Allah dan Upaya Meraihnya, Arkola Surabaya, 2011
8.             Khutbah Jum’at Penyejuk Hati, Pustaka Albana Jogjakarta, 2012
9.             Andai Aku Tahu Dosa Itu Ada, FAM Publishing Kediri, Jawa Timur, 2012
10.         Kumpulan Khutbah Jum’at Terbaik, Mutiara Media,  Jogjakarta, 2013
11.         Man Rabbuka, Al Barokah, Jogjakarta, 2014
12.         Ensiklopedi Penulis Indonesia Jilid I, FAM Publishing Kediri,2014
13.         Kumpulan Khutbah Pengobat Hati, Mutiara Media,  Jogjakarta, 2014

PUBLIKASI TULISAN DI MEDIA
1.             Majalah Serial Khutbah Jum'at, Jakarta
2.             Majalah Suara Masjid, Jakarta
3.             Majalah Ishlah, Jakarta
4.             Majalah Reformasi, Jakarta
5.             Majalah Al Muslimun, Bangil
6.             Majalah Sabili, Jakarta
7.             Majalah Tarbawi, Jakarta
8.             Majalah Muamalat, Jakarta
9.             Majalah Kiblat, Jakarta
10.         Majalah Harmonis, Jakarta
11.         Majalah Estafet, Jakarta
12.         Majalah Sakinah, Jakarta
13.         Harian Serambi Minang, Padang
14.         Harian Semangat, Padang
15.         Harian Mimbar Minang, Padang
16.         Harian Singgalang, Padang
17.         Tabloid Sumbar Post, Padang
18.         Tabloid Zaman, Padang
19.         Tabloid Solinda, Kabupaten Solok
20.         Tabloid Lentera, Padang
21.         Tabloid Suara Keadilan Rakyat, Sawahlunto
22.         Tabloid, Media Islam Batam
23.         Tabloid Dyi’ar Islam Batam
24.         Buletin DPW PKS Sumatera Barat, Padang
25.         Buletin Riswan, Koto Baru Kabupaten Solok
26.         Buletin Da'wah Masjid Al Furqan Kota Solok
27.         Buletin Da'wah Garda Anak Nagari Kabupaten Solok
28.         Buletin Da'wah Sebening Embun Solok
29.         Buletin Da'wah Selasih Solok
30.         Mingguan Suara Rakyat, Solok
31.         Mingguan Bijak, Padang
32.         Mingguan Swadesi, Jakarta
33.         Mingguan Sentana, Jakarta
34.         Mingguan Raden Intan Pos, IAIN Lampung
35.         Pariaman Post, Sumatera Barat
36.         www.padangtoday.com, Sumatera Barat
37.         www.republika,online, Jakarata
38.         www.koran cyber.com, Padang Panjang





Tidak ada komentar:

Posting Komentar