RAMADHAN DAN KEUTAMAAN ILMU
Drs. St. Mukhlis Denros
Kewajiban untuk menuntut ilmu
sejak awal Islam sudah disampaikan oleh Rasulullah. Hidup akan mudah bila punya
ilmu bahkan untuk meraih kebahagiaan dunia dan akherat kuncinya hanya ilmu,begitu
besarnya keutamaan ilmu bagi kehidupan, peluang untuk menimba ilmu dan mengamalkannya
banyak pada bulan Ramadhan.
Sebuah
pendapat mengatakan, dengan seni hidup akan indah, dengan agama hidup akan
terarah dan dengan ilmu hidup akan mudah. Pendapat ini menyiratkan kepada kita
bahwa ilmu itu akan mempermudah hidup manusia, bila tidak ada ilmu kita akan
melakukan perjalanan kemana saja dengan jarak yang jauh hanya dengan berjalan
kaki, peradaban manusia masih primitive sebagaimana kehidupan pra sejarah masa
lalu, karena pentingnya ilmu itulah sampai Allah memerintahkan kepada ummat
manusia melalui wahyu pertama Nabi Muhammad untuk membaca. Dengan membaca orang
akan berilmu dengan ilmu kita akan lebih tahu kewajiban, larangan dan perintah
dari Allah.
Islam menolak
tegas terhadap sesuatu apa pun yang tidak didukung oleh bukti-bukti yang
tidak valid, sikap mengikuti suatu pemikiran/paham yang sifatnya membabi buta (taqlid),
mengecam terhadap asumsi dan keinginan yang semata-mata dilandasi oleh hawa
nafsu. Islam mengharamkan pula semua bentuk sihir, pedukunan, para normal
(ramalan) dan bentuk kebatilan yang lain.
Islam sangat
menghormati ilmu pengetahuan dan mengangkat derajat para ulama. Bahkan ilmuan
lebih mulia daripada ahli ibadah. Islam merespons dengan atusias terhadap ilmu
pengetahuan apa saja yang dinilai bisa mendatangkan manfaat bagi kelangsungan
kehidupan manusia baik ilmu umum maupun agama.
Karena itu
kewajiban menuntut ilmu dijelaskan dalam sebuah hadits dengan menggunakan
redaksi “faridhatun”. Ta marbuthah tersebut bukan tanda isim
muannats tetapi bermakna mubalaghah –
superlatif - (penyangatan). Islam sangat mendukung pemeluknya dalam berpikir
dan bertindak secara ilmiah, sehingga dalam menjalankan roda kehidupan
dibingkai oleh kesempurnaan ilmu dan keimanan.
Kata kerja ‘aqala’
mengandung pengertian menghubungkan sebagian pikiran dengan sebagian yang lain,
dengan mengajukan bukti-bukti yang nyata sebagai argumentasi yang dipahami
secara rasional. Dalam al-Quran kata ‘aqala disebut
kurang lebih sebanyak 50 kali dan tiga belas kali berupa pertanyaan retorik (istifham
tankiri), sebagai protes untuk mengadakan kajian ilmiah.
Belum lagi
meneliti kata “nazhara” (menganalisa), “tafakkara”
(memikirkan), “faqiha” (memahami), ‘alima'
(mengerti, menyadari), "burhan" (bukti,
argumentasi), "lubb" (intelektual,
cerdas, berakal). Jika kata-kata tersebut diteliti secara lebih cermat, akan
menemukan banyak sekali nilai-nilai ilmiah dalam Islam.
Orang-orang
kafir yang menolak mentah-mentah ajakan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW,
oleh al-Quran dideskripsikan sebuah komunitas yang tidak mau menggunakan akal
pikirannya. Mereka memenjara potensi akal sehatnya dengan mengekor tradisi yang
diwarisi nenek-moyang mereka secara turun temurun. Akal sehat mereka mengalami
disfungsi. Tidak digunakan untuk mencari kebenaran dan mengkritisi
kultur para pendahulu mereka. Maka, keberadaan mereka laksana binatang ternak
bahkan lebih sesat (bal hum adhol). Karena mereka
lemah dalam merespons simbol-simbol, ayat-ayat yang bertebaran di sekitar
mereka. [Sholih Hasyim , Ya Ilmuwan, Ya Ahli Ibadah, hidayatullah.comKamis, 14 April
2011].
Dengan ilmu,
seseorang bisa membedakan mana perintah sehingga ia bisa melaksanakannya, dan
mana yang merupakan larangan sehingga ia dapat menjauhinya. Maka tidaklah
mungkin bagi kita untuk menjadi hamba Allah yang taat apabila kita bodoh akan
syariat. Bagaimana mungkin kita dapat menggapai surga sedangkan kita tidak tahu
bagaimana caranya. Untuk itulah kemudian Allah Subhanahu Wata'ala dan RasulNya
Sallallahu 'Alahi Wasallam mewajibkan kita untuk menuntut ilmu. Dalam salah
satu hadits shahih, Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam pernah bersabda :"Menuntut
ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim." (HR. Ibnu Majah]
Bahkan lebih dari itu, ilmu adalah
kebutuhan kita sebagai jalan menuju surga. Rasulullah Sallallahu 'Alahi
Wasallam bersabda :"Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut
ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim).
Sungguh teramat beruntung orang yang
memiliki ilmu yang luas, sehingga ia mampu berbuat lebih baik, lebih benar, dan
lebih banyak daripada yang lain. Sebaliknya, orang yang kurang ilmu, maka ia
akan sering kali salah dalam ucapan maupun perbuatannya. Maka, menjadi sebuah
kewajiban bagi setiap manusia yang ingin bahagia dunia dan akhirat untuk
senantiasa menuntut ilmu.
Dalam salah satu hikmahnya, imam
asy-Syafi'i rahimhullah pernah bertutur :"Barangsiapa yang menginginkan
kesuksesan dunia maka dia harus memiliki ilmu, dan barangsiapa yang
menginginkan kebahagiaan di akhirat maka ia juga harus berilmu." (Majmu’
Syarh al-Muhadz-dzab, karya an-Nawawi dan Mawa'izh al-Imam asy-Syafi’i,
karya Shalih Ahmad asy-Syami).
Banyak sekali dampak yang akan dirasakan
jika seseorang kurang ilmu. Di antaranya, ia bisa bertindak salah. Karena itu,
kalau kita ragu, tidak mengetahui sebuah perkara secara jelas, maka
bertanyalah, agar jangan sampai bertindak keliru. Rasulullah Sallallahu 'Alahi
Wasallam bersabda :"Sesungguhnya obat kebodohan hanyalah bertanya."
(HR. Abu Dawud, dan Ibnu Majah).
Mengapa ada orang yang akhlak dan
bicaranya sangat bagus? Hal itu bisa terjadi karena ilmu yang dikuasainya
sangat dalam, wawasannya luas, dan pengalamannya banyak. Akibatnya, setiap dia
bertindak dan berkata, selalu baik dan benar, meski kadang kala terlihat kecil.
Sedangkan orang yang kurang ilmu,
cirinya adalah bila bicara sepanjang apa pun, tidak ada hal yang bermanfaat
yang dibicarakannya. Seorang ayah, misalnya, kalau kurang ilmu, wawasan, dan
pengalamannya, maka dalam mendidik anak cenderung akan lebih sering marah,
karena pilihan tindakan yang bijak terbatas. Berbeda dengan orang yang
sebaliknya, ia akan memilih tindakan yang terbaik, dengan cara terbaik agar
tidak ada siapa pun yang terluka oleh perkataan dan sikapnya. [Zuhdi Amin, Lc,
Artikel Khutbah Jum'at ,mengapa harus berilmu ?
Rabu, 24 Februari 10].
Rabu, 24 Februari 10].
Banyak keutamaan ilmu bagi manusia,
apalagi ilmu yang berkaitan dengan ibadah sehari-hari, jangan sampai kita tidak
mengerti hal-hal yang dekat dengan kehidupan kita, seperti masalah shalat, ada
seorang mahasiswa KKN yang bertanya kepada kepala desanya, “hari apa orang
shalat jum’at disini pak?’’, bahkan seorang oknum mantan Menteri di zaman Orde
Baru, ketika berkunjung ke sebuah pesantren, sang kiyai memperkenalkan
santrinya yang hafal Al Qur’an 30 juz, dengan tanggap sang Menteri bertanya,
“Oh iya, bagus, sekarang juz keberapa yang dia hafal?”, begitu pentingnya ilmu
agama demi kesempurnaan ibadah kita.
Berapa umur kita sekarang? Barapa usia
kita ketika mulai terkena beban syariat? Mungkin sudah belasan tahun bahkan
puluhan tahun kita mengenal islam dan melaksanakan ajarannya. Tapi pernahkah
kita berpikir, apakah ibadah kita ini sudah benar sesuai dengan contoh nabi
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Apakah cara kita berislam sudah sesuai dengan
perintah Allah dan Rasul-Nya? Sudahkah kita berislam dengan tata cara dan
urutan yang benar?
Apa yang kita tahu tentang Islam?
Terkadang, di antara kaum muslimin, ketika ditanya apa itu Islam mereka
kebingungan menjawab. Ya… Islam ya… kayak itu lah. Islam itu agama yang paling
benar, agama yang paling diridhai Allah, dibawa oleh Rasulullah Shallallahu
'Alaihi wa Sallam Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, dan jawaban-jawaban
lainnya. Ada juga yang menyebutkan mengenai rukun Islam ketika ditanya apa itu
Islam. Ya, mereka tidak sepenuhnya salah, tapi yang dimaksud si penanya dengan
Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan tauhid, tunduk kepada-Nya dengan
segala ketaatan/kepatuhan, serta melepaskan diri dari segala bentuk syirik dan
para pelaku syirik. Ketika diberi tahu mengenai hal ini malah yang ditanya
kebingungan, kok dia tidak pernah dengar mengenai hal ini.
Ada juga, ketika salah seorang muslim
sujud di dalam shalatnya dengan menghamparkan tanggannya ke lantai (tangan
sampai siku menempel di lantai), ia ditegur temannya dan memberi tahu bahwa hal
itu tidak boleh; dia malah kebingungan. Bahkan tidak percaya, karena selama
shalat puluhan tahun baru sekarang ini ada yang menegur dan mangatakan
perbuatan itu dilarang.
Banyak contoh yang dapat dikemukakan,
tapi kita mencukupkan itu saja. Sebagian kaum muslimin di dalam beribadah
terkadang tidak membekali dirinya dengan ilmu mengenai ibadah tersebut terlebih
dahulu. Selain merasa tidak penting, mereka juga bernaggapan bahwa belajar
hanya akan membuang waktu dan tenaga. Ngapain belajar segala, kalau mau sholat,
lihat saja orang yang sedang sholat, kemudian kita contoh. Beres, selesai,
simple kan? Tidak usah belajar. Makan waktu, tenaga, dan biaya.
Hal ini sangat memprihatinkan.
Terkadang, kita tahu ilmu tentang sesuatu sampai sedetil-detilnya, tapi untuk
permasalahan agama yang hubungannya dengan akhirat kita tidak tahu sama sekali,
walaupun hal itu kita lakukan setiap hari!! Kita ambil contoh, ada seorang bisa
mempelajari masalah mesin sampai sedetil-detilnya, tapi dia tidak tahu
bagaimana cara wudhu yang benar. Padahal setiap sholat harus berwudhu, lalu
bagaimana dengan sholat-nya?
Ilmu sebelum beramal sangat penting.
Kita harus mengilmui apa yang akan kita amalkan. Karena kalau tidak,
salah-salah kita akan terjerumus kepada bid’ah ataupun kesyirikan. Bid’ah lebih
disenangi syetan ketimbang maksiat, karena orang yang berbuat maksiat merasa
dirinya berbuat maksiat dan ada harapan untuk bertobat, sedanglan pelaku bid’ah
merasa bahwa dirinya sedang beribadah kepada Allah, jadi harapan untuk
bertaubat dari bid’ahnya sangat kecil sebab ia tidak merasa berbuat salah.
Adapaun syirik merupakan dosa besar yang paling besar yang pelakunya tidak akan
diampuni kalau mati dengan membawa dosa syirik tersebut (pelakunya mati sebelum
bertobat). Dan dia akan kekal di dalam neraka.[Beramal Perlu Ilmu!Perpustakaan-Islam.Com Abah Utik, 09 Agustus
2004].
Aa Gym menyebutkan agar ilmu itu
bermanfaat maka penuntutnya adalah orang-orang yang bersih hatinya, artinya
semakin banyak ilmu semakin baik kepribadian, lengkapnya sang da’i ini
menyebutkan.
Adapun ilmu yang dititipkan kepada
manusia mungkin tidak lebih dari setitik air di tengah samudera luas.
Kendatipun demikian, barangsiapa yang dikaruniai ilmu oleh Allah, yang dengan
ilmu tersebut semakin bertambah dekat dan kian takutlah ia kepada-Nya, niscaya "Allah akan meninggikan orang-orang
yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat." (QS. Al Mujadilah [58] : 11). Sungguh janji Allah itu
tidak akan pernah meleset sedikit pun!
Akan tetapi, walaupun hanya
"setetes" ilmu Allah yang dititipkan kepada mnusia, namun sangat
banyak ragamnya. ilmu itu baik kita kaji sepanjang membuat kita semakin takut
kepada Allah. Inilah ilmu yang paling berkah yang harus kita cari. sepanjang
kita menuntut ilmu itu jelas (benar) niat maupun caranya, niscaya kita akan
mendapatkan mamfaat darinya.
Hal lain yang hendaknya kita kaji dengan
seksama adalah bagaimana caranya agar kita dapat memperoleh ilmu yang sinar
cahayanya dapat meluas di dalam dada serta dapat membuka penutup hati? Imam
Syafii ketika masih menuntut ilmu, pernah mengeluh kepada gurunya. "Wahai, Guru. Mengapa ilmu yang sedang
kukaji ini susah sekali memahaminya dan bahkan cepat lupa?" Sang
guru menjawab, "Ilmu itu ibarat
cahaya. Ia hanya dapat menerangi gelas yang bening dan bersih."
Artinya, ilmu itu tidak akan menerangi hati yang keruh dan banyak maksiatnya.
Karenanya, jangan heran kalau kita
dapati ada orang yang rajin mendatangi majelis-majelis ta'lim dan pengajian,
tetapi akhlak dan perilakunya tetap buruk. Mengapa demikian? itu dikarenakan
hatinya tidak dapat terterangi oleh ilmu. Laksana air kopi yang kental dalam
gelas yang kotor. Kendati diterangi dengan cahaya sekuat apapun, sinarnya tidak
akan bisa menembus dan menerangi isi gelas. Begitulah kalau kita sudah tamak
dan rakus kepada dunia serta gemar maksiat, maka sang ilmu tidak akan pernah
menerangi hati.
Padahal kalau hati kita bersih, ia
ibarat gelas yang bersih diisi dengan air yang bening. Setitik cahaya pun akan
mampu menerangi seisi gelas. Walhasil, bila kita menginginkan ilmu yang bisa
menjadi ladang amal shalih, maka usahakanlah ketika menimbanya, hati kita
selalu dalam keadaan bersih. hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari
ketamakan terhadap urusan dunia dan tidak pernah digunakan untuk menzhalimi
sesama. Semakin hati bersih, kita akan semakin dipekakan oleh Allah untuk bisa
mendapatkan ilmu yang bermamfaat. darimana pun ilmu itu datangnya. Disamping
itu, kita pun akan diberi kesanggupan untuk menolak segala sesuatu yang akan
membawa mudharat.
Sebaik-baik ilmu adalah yang bisa
membuat hati kita bercahaya. Karenanya, kita wajib menuntut ilmu sekuat-kuatnya
yang membuat hati kita menjadi bersih, sehingga ilmu-ilmu yang lain (yang telah
ada dalam diri kita) menjadi bermamfaat.
Bila mendapat air yang kita timba dari
sumur tampak keruh, kita akan mencari tawas (kaporit) untuk menjernihkannya.
Demikian pun dalam mencari ilmu. Kita harus mencari ilmu yang bisa menjadi
"tawas"-nya supaya kalau hati sudah bening, ilmu-ilmu lain yang kita
kaji bisa diserap seraya membawa mamfaat. [Ilmu Pembersih Hati, K.H. Abdullah
Gymnastiar].
Paling tidak ada lima keutamaan ilmu
bagi seseorang dalam kehidupannya sehingga dengan ilmu itu juga bermanfaat bagi
orang lain sebagaimana yang dikutip dari pendapat Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin yaitu;
1.
Bahwa ilmu dien adalah warisan para nabi Shallallaahu alaihi wa Salam, warisan
yang lebih mulia dan berharga dari segala warisannya para nabi. Rasulullah
Shallallaahu alaihi wa Salam telah
bersabda:“Keutamaan
sesorang ‘alim (berilmu) atas seorang ‘abid (ahli ibadah) seperti keutamaan
bulan atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya ulama itu pewaris para nabi.
Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, mereka hanyalah
mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambilnya (warisan ilmu) maka dia telah
mengambil keuntungan yang banyak.” (HR. Tirmidzi).
2. Ilmu itu tetap akan kekal
sekalipun pemiliknya telah mati, tetapi harta yang jadi rebutan manusia itu
pasti akan sirna. Setiap kita pasti kenal Abu Hurairah Radhiallaahu anhu,
gudangnya periwayatan hadits, sehingga beliau menjadi sasaran bidik kejahatan
kaum Syi’ah dengan tuduhan-tuduhan keji yang dilancarkannya terhadap diri
beliau, dalam rangka menghancurkan Islam dan kaum muslimin.
Dari segi harta Abu Hurairah Radhiallaahu anhu memang
termasuk golongan fuqara’ (kaum papa), memang hartanya telah sirna, tapi
ilmunya tak pernah sirna, kita semua masih tetap membacanya. Inilah buah
seperti yang tersebut dalam hadits Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam :“Jika
manusia mati terputuslah amalnya kecuali tiga: shadaqah jariyah, atau ilmu yang
dia amalkan atau anak shalih yang mendoakannya.”
3. Ilmu, sebanyak apapun tak
menyusahkan pemiliknya untuk menyimpan, tak perlu gedung yang tinggi dan besar
untuk meletakkannya. Cukup disimpan dalam dada dan kepalanya, bahkan ilmu itu
yang akan menjaga pemiliknya sehingga memberi rasa nyaman dan aman, lain halnya
dengan harta yang semakin bertumpuk, semakin susah pula untuk mencari tempat
menyimpannya, belum lagi harus menjaganya dengan susah payah bahkan bisa
menggelisahkan pemiliknya.
4.
Ilmu, bisa menghantarkan pemiliknya menjadi saksi atas kebenaran dan keesaan
Allah. Adakah yang lebih tinggi dari tingkatan ini? Inilah firman Allah
Ta’ala:“Allah
menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang
menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga
menyatakan yang demikian itu). Tak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan
Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(Ali Imran: 18).
Sedang
pemilik harta? Harta sama sekali takkan menghantarkan pemiliknya sampai ke
derajat sana.
5.
Para ulama (Ahli ilmu syari’at), termasuk golongan petinggi kehidupan yang
Allah perintahkan supaya orang mentaatinya, tentunya selama tidak menganjurkan
durhaka kepada Allah dan RasulNya, sebagaimana firmanNya:“Hai orang-orang yang
beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan ulil amri di antara kamu.”
(An-Nisa: 59).
Ulil Amri, menurut ulama adalah Umara’ dan Hukama’ (Ahli
Hikmah/Ahli Ilmu/Ulama). Ulama berfungsi menjelaskan dengan gamblang syariat
Allah dan mengajak manusia ke jalan Allah. Umara’ berfungsi mengoperasionalkan
jalannya syariat Allah dan mengharuskan manusia untuk menegakkannya.[Afifi Widodo, Ilmu, Simbol Kejayaan Umat, www.alsofwah.or.id/khutbah].
Itulah salah
satu hikmah kenapa Allah menurunkan ayat yang pertama tentang “Iqra” yaitu
perintah untuk membaca, disana tersirat perintah untuk belajar, menelaah,
mengkaji dan meneliti sehingga berilmu sebelum yang lainnya dimiliki, Wallahu A’lam.[Baloi Indah, 28 Ramadhan 1436.H/2015, Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam, Kepri]
PROFIL PENULIS
Penampilan
sederhana ini bernama Mukhlis yang dilahirkan di ujung Selatan Pulau
Sumatera yaitu Metro [Lampung Tengah] tanggal 3 April 1964
anak ketiga dari ayah bernama Sutan
Denak dan ibu Rosnidar dengan enam orang adik kakak yaitu Ernawati, Marsudi,
Erma, Septiyani, Mahdalena dan Adek Wahyuli, isteri bernama Yulismar S.Pd
[Ayang] dengan seorang anak wanita bernama Rani Ihsani Mukhlis, nama yang akrab
di kalangan teman dan sahabatnya adalah Mukhlis Denros. Kampung asalnya Kampani Barangan Selatan,
Nagari Lurah Ampalu, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak Kabupaten Padang
Pariaman, Sumatera Barat, dengan suku Koto, besar dan menempuh pendidikan di
Kota Lada Metro Lampung.
Pendidikan yang pernah ditempuhnya yaitu
SDN yang dimulai di SDN Koto Marapak [Kota Pariaman], ketika kelas IV dia harus
meninggalkan kampung bersama ayah dan ibunya menuju Metro, SD diselesaikannya
di SDN IV Metro, dilanjutkan ke SMP PGRI Metro, kemudian SMAN 135 Metro yang
dapat diselesaikan tahun 1984, tidak ada maksud untuk kuliah karena berbagai
faktor, berkat dorongan teman-teman dan gurunya terutama Ustadz Masnuni M.Ra'i,
Alfuadi Rusli, H. Muhammad Lazim, H. Fakhrudin, Sugito, Hayumi Rb,Hayumi Rf, H.
Rasyidin dan Malin Marajo di Masjid Al Jihad akhirnya tahun ini juga
melanjutkan kuliah di IAIN, inilah pendidikan terakhir yang ditempuhnya yaitu
Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Institut Agana Islam Negeri
[IAIN] Raden Intan Lampung di Metro
tamat tahun 1990. Ketika tamat kuliah dia harus meninggalkan Metro dan memulai
kiprahnya di Koto Baru Kabupaten Solok Sumatera Barat sebagai pendidik, dosen,
penulis, mubaligh hingga sebagai
politisi akhirnya.
Sejak di bangku SMA hingga tamat kuliah,
Mukhlis giat di OSIS Gema Al Qur'an AL
Jihad dan Remaja Masjid Al Jihad Metro
bersama teman-temannya Dody Sofial, Abul Fatrida, Yurnalis, M. Syafei,
Irza Murni, Gusnita, Herwina, Afrizal, Yohanes dan Rita Suryani, dikala kuliah
bergabung dengan HMI Cabang Metro bersama Ahmad Ridwan, Gatot Subroto, Sigit
Triyono, Syuhada', Raihan dan Usdek, mengikuti pengkaderan Basic Training di
Metro tahun 1985 dan Intermediate Training di Palembang tahun 1986 dan pernah
menjabat sebagai Sekretaris HMI Komisariat IAIN dan wakil sekretaris HMI Cabang
Metro.
Menjadi guru adalah cita-citanya sejak
awal dan hal itu telah terujud walaupun tidak sebagai PNS, pernah mengajar di
GAA dan SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah, mengajar di SMEA Budi Mulia Koto
Baru, MTsN Koto Baru Solok dan sebagai dosen PGTK Adzkia Padang, Aktivitas
sebagai pendidik ini dia tekuni sejak di bangku kuliah tahun 1984 sampai tahun
2000, kemudian aktif sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok utusan dari Partai
Keadilan/Partai Keadilan Sejahtera, selama dua periode 1999-2009. Di Solok
bersama teman-temannya yaitu Mahyeldi Ansharullah, Afrizal M Noor, Muhidi,
Nurfirmanwansyah, Johandrizon Syamsu, Ahmad Syafwan Nawawi, Firmansyah, Abdul Ghani,
Gustami Hidayat, Saifullah Salim,
Rudianto, Busril, Endrizal, Ismail Zain, Devi Herizon, Ilzan Sumarta, dan Helmi
Darlis merintis kegiatan da'wah sejak tahun 1990 di sekolah, kampus, dan
masjid-masjid melalui pesantren kilat, diskusi, ceramah dan khutbah sebagai
cikal bakal berdirinya Partai Keadilan ketika itu.
Tahun 1998 dikala Reformasi terjadi,
sekian partai berdiri untuk menyongsong Indonesia yang lebih demokratis setelah
lengsernya Soeharto kemudian dilanjutkan oleh BJ Habibie, berdiri pulalah
partai yang berbasiskan anak-anak muda kampus dengan kapasitas da'wah dan
tarbiyah, partai itu bernama Partai
Keadilan. Mukhlis diamanatkan oleh DPW PK Sumatera Barat sebagai ketua DPD PK
di Kabupaten Solok, pelantikan pengurus DPW dengan ketua Drs. Ahmad Syafwan
Nawawi dan DPD PK se Sumatera Barat dikukuhkan di Padang oleh DR. Nur Mahmudi
Ismail MSc sebagai Presiden Partai Keadilan pertama.
Dikala Partai Keadilan menjadi Partai Keadilan Sejahtera untuk kedua
kalinya Mukhlis Denros dipercaya sebagai ketua DPD di Kabupaten Solok dan
jabatan terakhir di partai dipercayakan kepadanya adalah sebagai Ketua Zona
Da'wah VII PKS Sumatera Barat hingga tahun 2007, yang membina DPD PKS Kota
Solok, Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan. Terlalu banyak pelajaran
dan pengalaman yang dia terima dari kegiatan da'wah dan partai bersama
teman-temannya
Mukhlis Denros, demikian akrab di sapa,
selain sebagai pendidik juga aktif berda’wah baik melalui ceramah, diskusi
agama, khutbah dan penyebaran tulisannya melalui Buletin Da’wah Garda Anak
Nagari serta media Nasional yang pernah memuat tulisannya seperti Majalah
Serial Khutbah Jum’at, Majalah Suara Masjid , Majalah Sabili, Majalah Tarbawi,
Majalah Ishlah, Majalah Reformasi Jakarta, Majalah Al Muslimun Bangil serta koran
Swadesi dan Sentana juga pernah memuat tulisannya yang sarat dengan pendidikan
dan nuansa islamnya, Media Mimbar Minang Padang selama bulan Ramadhan penuh
memuat tulisannya tiap hari terbit. Dia
tidak pernah membuang waktu dengan kegiatan yang tidak ada manfaatnya,
waktunya selalu terisi dengan aktivitas positif seperti membaca atau menulis
selain kegiatan harian lain.
Mukhlis
Denros Terima Penghargaan Sebagai Penulis Terbaik dari Media Suara Keadilan
Rakyat (SKR) , Minggu (15/12) di Gedung Pusat Kebudayaan kota
Sawahlunto.Penghargaan tersebut merupakan program Tabloit SKR yang selama ini
membentuk tim untuk melakukan penilaian terhadap sejumlah penulis dan tokoh di
Sumatera Barat dengan sejumlah kategori yang ditetapkan.
Penganugerahan sebagai Penulis Terbaik SKR Awards 2013
yang diberikan kepada Mukhlis Denros diserahkan oleh Wakil Wali Kota Sawah
Lunto yaitu Bapak Ismet SH, Mukhlis Denros dinilai sebagai penulis terbaik
karena konsistensinya dalam menulis berbagai pemikiran berkaitan dengan dakwah,
pendidikan dan politik yang telah melahirkan berbagai buku yang diterbitkan
oleh penerbit.
Mukhlis
Denros menerima berupa plakat dan piagam sebagai bentuk penghargaan atas
keberhasilannya menulis yang dinilai sebagai penulis terbaik, sebagaimana
penilaian TIM SKR yang terdiri dari Prof, Wil Chandry, Fadril Aziz Isaini dan
Prof,DR, H. Salmadanis, Mag.
Pada
malam penganugerahan SKR Awards 2013 tersebut
diserahkan 13 penghargaan dengan kategori berbeda kepada tokoh
lainnyayang dihadiri oleh Wawako Sawahlunto, Ismed, Pimpinan Serikat Perusahaan
Pers Pusat, Totok dan pendiiri Tabloit SKR, Riko Adiutama beserta sejumlah
tokoh Sumatera Barat lainnya.
Moto hidupnya sangat sederhana, agar
bermanfaat bagi orang lain dengan potensi yang dimiliki, semua itu hanya bisa
dilakukan dengan pendidikan yang
berkualitas. Dia menceritakan bahwa karena kegigihan orangtuanyalah untuk
mendidiknya dengan segala kesusahan dan derai air mata tapi akhirnya berhasil
mengantarkannya sebagai sarjana. Sebagai modal hidup di dunia ini,
sehingga dapat dikatakan tak bisa
membalas dan mengukur jasa orangtua yang telah mengantarkan kesuksesannya baik
memimpin partai maupun sebagai anggota
DPRD dalam dua periode ini. Bersama Partai Keadilan dan PPP Kota Solok tahun 2000 dia pernah dicalonkan
sebagai Wakil Wali Kota Solok yang berpasangan dengan Drs. Syukriadi Syukur.
Sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok
selama dua periode diembannya, dia tampil sebagai politisi yang kritis dan
bernas terhadap kebijakan Pemda dan Bupati yang tidak sesuai dengan kepentingan masyarat, diapun tidak
segan-segan menghantam anggota DPRD dikala mereka tidak aspiratif
[http://fraksi pks solok.blogspot.com].
Bersama ustadz
Mahyeldi Ansyarullah dalam gerakan da’wah dengan lembaga Al Madaniy di Padang
yang diawali tahun 1990, Mukhlis Denros banyak terlibat dalam berbagai kegiatan
da’wah seperti tahun 1994 pernah ke Palembang untuk mengikuti pertemuan da’i se
Jakarta dan Sumatera undangan dari Yayasan Bumi Andalas dan tahun 2000 Seminar
Nasional tentang Syari’ah di Medan yang diiringi dengan berbagai pertemuan
da'wah di Sumatera Barat ataupun di Jakarta, selain itu juga pernah selama 2
tahun sebagai da’i dari IIRO [Internasional islamic Relief Organisation] dan
kini sebagai anggota IKADI Solok yang juga memimpin yayasan Garda Anak Nagari
Sumatera Barat.
Organisasi lain yang
ikut dia tekuni selama di DPRD adalah sebagai Sekjen Majelis Ulama Indonesia
[MUI] Kabupaten Solok, sebagai Badan Pengawas Badan Amil Zakat Kabupaten Solok,
juga ikut membidani lahirnya beberapa lembaga da'wah berbentuk Yayasan di
Kabupaten Solok yang dikelola oleh teman-temannya seperti Yayasan Sinergi
Ummat, Yayasan Lukmanul Hakim, Yayasan Amanah Bunda, Yayasan Ahda Sabila,
Yayasan Nurul Haq, Yayasan Garda Anak Nagari dan Yayasan Selasih Solok.
Setelah dua periode
menyelesaikan tugas sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok, dalam mengisi
kegiatan hariannya Mukhlis Denros bersama isteri Yulismar S.Pd tinggal di
Nagari yang berbukit dan berlembah, yang sejuk dan asri, jauh dari kebisingan,
aman dan nyaman yaitu Jorong Cubadak Nagari Pianggu Kecamatan IX Koto Sungai
Lasi, Kabupaten Solok, Sumatera Barat tetap konsisten dengan kegiatan
sebelumnya yaitu da'wah dan menulis.
Sejak bulan Februari 2015, setelah enam tahun tinggal
di Cubadak Pianggu Kecamatan Sungai Lasi Kabupaten Solok Sumatera Barat, kini Mukhlis Denros menetap di Kota Batam
Kepri, turut berkiprah sebagai staf di Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Kota
Batam yang diketuai oleh Ibu Dra. Hj.
Helma Munaf, M.Pd dan bergabung pula dengan PMB [Persatuan Mubaligh Batam].
Di Batam, Mukhlis Denros dengan Pedro Johansis dan Mardison
mengembangkan Yayasan Garda Anak Nagari dengan membuka Garda Anak Nagari Provinsi Kepulauan Riau,
Insya Allah dalam waktu dekat akan membuka cabang Garda Anak Nagari di seluruh
Kabupaten dan Kota di Provinsi Kepulauan
Riau, semoga hal itu terujud.
DATA PRIBADI
Nama Lengkap : Drs. St. Mukhlis Denros
Tempat dan Tanggal Lahir : Metro, 3 April 1964
Jumlah bersaudara : Anak ke 3 dari 7 orang
Nama Ayah : Sutan Denak
Nama Ibu : Rosnidar
Nama Isteri : Yulismar, S.Pd
Nama Anak : Rani Ihsani Mukhlis
RIWAYAT PENDIDIKAN
1.
SDN 4 Metro
Lampung, tamat tahun 1975
2.
SMP PGRI Metro
Lampung, tamat tahun 1981
3.
SMAN 135 Metro
Lampung, tamat tahun 1984
4.
Gema Al Qur'an Al
Jihad Metro tamat tahun 1988
5.
Sarjana Muda
Tarbiyah IAIN Raden Intan Lampung, tahun
1988
6.
Sarjana Tarbiyah
IAIN Raden Intan Lampung tamat tahun 1990
PENGALAMAN ORGANISASI
1.
Ketua Osis GAA Metro Lampung Tengah 1987-1989
2.
Sekum IRM Al Jihad Metro Lampung Tengah 1986-1988
3.
Wakil Sekretaris HMI Cab. Metro Lampung Tengah 1985-1990
4.
Sekjen
Majelis Ulama Indonesia [MUI}
Kab. Solok 2005/2006
5.
Anggota Pengawas BAZ
Kabupaten Solok 2006
6.
Anggota IKADI (Ikatan Da’i Indonesia)
Kabupaten Solok
7.
Da'i
IIRO [International Islamic Relief Org.] Sumbar 1995-1997
8.
Ketua Yayasan
Garda Anak Nagari Sumatera Barat
9.
Ketua Pembina Yayasan Selasih Kabupaten Solok
10.
Ketua Pembina Yayasan Lukmanul Hakim Kota
Solok
11.
.Ketua Yayasan Garda Anak Nagari Kab.Solok
2000-2005
12.
Pembina Yayasan Sinergi Ummat Kota Solok
13.
Pembina Yayasan Amanah Bunda Kabupaten Solok
PENGALAMAN
PROFESI
1.
Guru SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah
1988-1990
2.
Guru GAA Metro Lampung Tengah 1988-1990
3.
Guru MTsN Koto Baru Kabupaten Solok 1997-1999
4.
Guru SMK Budi Mulia Koto Baru Kab. Solok
1991-2000
5.
Dosen PGTK Adzkia Kota Padang 1994-2000
6.
Anggota
DPRD Kabupaten Solok Periode
1999-2004
7.
Anggota DPRD Kabupaten Solok Periode 2004-2009
8.
Staff Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam,
2015-
PERJALANAN
DA'WAH
1.
Maperca dan Basic Training HMI Cabang Metro
1985
2.
Intermediate Training HMI di Palembang 1986
3.
Latihan Pers Mahasiswa IAIN di Tanjung Karang
1986
4.
Tarbiyyah Islamiyyah di Sumatera Barat
1990-1994
5.
Muzakarah Du'at se Sumatera /Jakarta di
Sumatera Selatan 1994
6.
Muzakarah Du'at se Sumatera/Jakarta di Sumatera Selatan 1996
7.
Muzakarah Du'at se Sumatera/ Jakarta di Bukit Tinggi 1998
8.
Muzakarah Manajemen Zakat, IMZ Jakarta 2002
9.
Seminar Syari'ah Nasional di Medan Sumatera
Utara 2000
10.
Pertemuan Anggota DPRD se Indonesia di Jakarta 2000
11.
Pertemuan Anggota DPRD se Indonesia di Bogor 2002
12.
Pertemuan da'i IIRO se Indonesia di Jakarta 2000
13.
Silaturrahmi Nasional Anggota Legislatif di
Jakarta 2005
BUKU YANG
TELAH DITERBITKAN
1.
Fikih Wanita, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
2.
Tarbiyatul Aulad, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
3.
Kumpulan Ceramah Praktis, Nurul Haq, 2010
4.
Renungan Ramadhan, Pustaka Setia Bandung, 2011
5.
Memanusiakan Manusia, Qibla Jakarta, 2011
6.
Kumpulan Khutbah Jum’at, Pustaka Setia Bandung, 2011
7.
Khutbah Jum’at, Janji Allah dan Upaya Meraihnya, Arkola
Surabaya, 2011
8.
Khutbah Jum’at Penyejuk Hati, Pustaka Albana Jogjakarta,
2012
9.
Andai Aku Tahu Dosa Itu Ada, FAM Publishing Kediri, Jawa
Timur, 2012
10.
Kumpulan Khutbah Jum’at Terbaik, Mutiara Media, Jogjakarta, 2013
11.
Man Rabbuka, Al Barokah, Jogjakarta, 2014
12.
Ensiklopedi Penulis Indonesia Jilid I, FAM Publishing Kediri,2014
13.
Kumpulan Khutbah Pengobat Hati, Mutiara Media, Jogjakarta, 2014
PUBLIKASI
TULISAN DI MEDIA
1.
Majalah Serial Khutbah Jum'at, Jakarta
2.
Majalah Suara Masjid, Jakarta
3.
Majalah Ishlah, Jakarta
4.
Majalah Reformasi, Jakarta
5.
Majalah Al Muslimun, Bangil
6.
Majalah Sabili, Jakarta
7.
Majalah Tarbawi, Jakarta
8.
Majalah Muamalat, Jakarta
9.
Majalah Kiblat, Jakarta
10.
Majalah Harmonis, Jakarta
11.
Majalah Estafet, Jakarta
12.
Majalah Sakinah, Jakarta
13.
Harian Serambi Minang, Padang
14.
Harian Semangat, Padang
15.
Harian Mimbar Minang, Padang
16.
Harian Singgalang, Padang
17.
Tabloid Sumbar Post, Padang
18.
Tabloid Zaman, Padang
19.
Tabloid Solinda, Kabupaten Solok
20.
Tabloid Lentera, Padang
21.
Tabloid Suara Keadilan Rakyat, Sawahlunto
22.
Tabloid, Media Islam Batam
23.
Tabloid Dyi’ar Islam Batam
24.
Buletin DPW PKS Sumatera Barat, Padang
25.
Buletin Riswan, Koto Baru Kabupaten Solok
26.
Buletin Da'wah Masjid Al Furqan Kota Solok
27.
Buletin Da'wah Garda Anak Nagari Kabupaten
Solok
28.
Buletin Da'wah Sebening Embun Solok
29.
Buletin Da'wah Selasih Solok
30.
Mingguan Suara Rakyat, Solok
31.
Mingguan Bijak, Padang
32.
Mingguan Swadesi, Jakarta
33.
Mingguan Sentana, Jakarta
34.
Mingguan Raden Intan Pos, IAIN Lampung
35.
Pariaman Post, Sumatera Barat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar