RAMADHAN DAN KEBANGKITAN ISLAM
Drs.St.Mukhlis Denros
Banyak sarana untuk meraih
kebangkitan Islam diantaranya adalah menjadikan momentum Ramadhan sebagai media
untuk itu dengan menggelar dakwah pada setiap masjid untuk menyebarkan ilmu
keislaman yang lengkap melalui tabligh dan taklim, bahkan Rasul memberikan
motivasi kepada kita agar memberikan kontribusi terhadap kebangkitan Islam
dengan menyadarkan satu orang saja sehingga karena perantara kita orang itu
mendapat hidayah sama pahalanya dengan dunia dan segala isinya.
Sejak
tahun 1924 Islam berada dalam kehancuaran dengan tumbangnya kerajaan Islam
Khilafah Otmaniyah di Turki, kejadian ini bagi ummat Islam ibarat ayam
kehilangan induk, tidak ada lagi kekuatan jamaah yang mampu melindungi ummat
ini. Akhir-akhir ini semangat ummat Islam bangkit lagi untuk menaikkan izzah
Islam dan kaum muslimin dengan berbagai agenda diantaranya menyatukan ummat
Islam diseluruh dunia dengan konsep Ukhuwah Islamiyyah.
Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) meminta seluruh umat Islam di dunia tidak bercerai berai.“Hal
tersebut dimaksudkan agar tidak hanya kelompok bangsa tertentu saja yang
menikmati kesejahteran dan keadilan,” tutur SBY, Senin (27/6/2011).
Ke depan, lanjutnya, umat
Islam sedunia harus makin bersatu. Bersatu untuk membangun tatanan dunia yang
lebih aman, yang lebih adil, dan lebih sejahtera. “Tentu aman adil dan makmur
bagi semua, termasuk bagi umat Islam dan bukan aman adil dan makmur bagi
sekelompok bangsa, utamanya bangsa yang sudah lebih maju dan lebih kaya,”
imbuhnya.
SBY menambahkan, dunia Islam
juga bisa bekerja sama untuk meningkatkan pendidikan, membangun ekonomi,
meningkatkan kesejahteraan rakyat tanpa harus menunggu datangnya keadilan dan
kemakmuran dunia yang sejati.“Kita mesti pula bersatu untuk aktif dan terus
menerus melakukan pelurusan opini dan persepsi tentang Islam. Ini mesti kita
lakukan di semua forum, utamanya di forum-forum dunia, bisa melalui media
massa, bisa menerbitkan buku-buku tentang Islam dan apa saja agar tidak terjadi
kesalahan pandangan, kesalahan persepsi terhadap Islam, terhadap umat Islam sedunia,”
ungkapnya.
Dia menyeru agar umat Islam
bersatu untuk membimbing dan meluruskan kembali saudara-saudara seagama yang
tersesat dan menyimpang dari ajaran Islam.“Jangan karena nila setitik rusak
susu sebelanga. Peran juru dakwah dan ulama sangat mengemuka. Peran pendidikan,
termasuk pesantern, sangat sentral dan penting,” tutupnya.[SBY Seru Umat Islam
se-Dunia Bersatu, Dakwatuna.com.28/6/2011 | 27 Rajab 1432 H | Hits: 437].
Seruan dari SBY tersebut menyiratkan bahwa dengan
persatuanlah ummat Islam akan bangkit kembali untuk menegakkan hak-hak
kebenaran bagi manusia, bahkan lebih tegas yang mengatakan bahwa kebangkitan
Islam itu adakan diretas di bumi Nusantara ini sebagaimana sebuah pidato yang
berdurasi 20 menit.
Kebangkitan Islam itu dapat dipastikan terjadi karena
beberapa sebab bahkan yang menyebabkan kebangkitan itu menjadikan dunia di
tangan Islam dan ummatnya. Ada empat alasan mengapa masa depan di tangan
Islam, atau dengan ungkapan lain, Islam adalah agama dahulu, sekarang dan juga
masa depan :
1. Sesuai
dengan janji dan kehendak Allah sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur-an
Al-karim. Di antarnya :
a. “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang
yang beriman di antara kamu dan mengerjakanamal-amal saleh bahwa Dia
sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah
menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan
mengokohkan bagi mereka agama (Islam) yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan
Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam
ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada
mempersekutukan apapun dengan Aku.Dan siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji)
itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”. (Q.S. An-Nur /24 : 55).
b. “Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan
membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua
agama. Dan Cukuplah Allah sebagai saksi” (Q.S. Al-Afath /48 : 28).
c. “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama)
Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selalin
menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai.
Dia-lah yan telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petuunjuk dan agama yang
benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik itu
tidak menyukai” (Q.S. At-taubah / 9 : 32-33).
d. “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama)
Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah menyempurnakan cahaya-Nya,
walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai. Dia-lah yan telah mengutus
Rasul-Nya (dengan membawa) petuunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya
atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik itu tidak menyukai” (Q.S.
As-Shoff / 61 : 8-9).
e. “Sesungguhnya Kami pasti menolong Rasul-Rasul
kami dan orang-orang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya
saksi-saksi (kiamat)” (Q.S. Al-Mukmin /40 : 51).
f. “Jika kamu tidak mau menolongnya (Muhammad)
maka sesungguhnya Allah telah menolongnya ketika orang-orang kafir (musyrik
Mekkah) mengeluarkannya (dari Mekkah) sedangkan dia salah seorang dari dua
orang (dengan Abu Bakar Ash-shiddiq) ketika keduanya berada dalam gua, di waktu
berkata kepada temannya :”Janganlah kamu bersedih sesungguhnya Allah bersama
kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya
dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan kalimat
orang-orang kafir itu rendah dan Kalimat Allah itulah yang tinggi dan Allah
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Q.S. At-taubah /9 : 40).
2. Sesuai dengan berita gembira dari Nabi
Muhammad Saw. Di antaranya :
a. Imam Muslim meriwayatkan dalam Shohehnya :Dari
Tsauban bahwa Nabi Saw. berkata : Sesungguhnya Allah mengkerutkan bumi bagiku
sehingga aku melihat timur dan baratnya. Sesungguhnya kerajaan umatku akan
sampai ke wilayah yang dikerutkan padaku, dan aku diberi (Allah) dua simpanan
(pemerintahan Kisro dan kaisar di Irak dan Syam) merah dan dan putih (emas dan
perak)….(Hadits Riwayat Muslim).
b. Dari Nafi’ Bin Utaibah, dia
berkata : Ketika aku bersama Rasulullah dalam suatu peperangan, maka tiba-tiba
Nabi didatangi oleh suatu kaum dari sebelah barat, mereka memakai pakaian wol
putih, lalu mereka menghampiri Nabi di sebuah bukit kecil. Mereka berdiri
sedangkan Rasul duduk. Lalu berkata dalam diriku, datangi mereka dan berdirilah
diantara mereka sehingga mereka tidak bisa membunuhnya (Rasulullah). Kemudia
aku berkata lagi, barangkali Rasul sendang berbisik dengan mereka, lalu aku
datng lagi dan berdiri di antara mereka. Maka Rasul berkata : Aku menghafal
darinya empat (perkara) yang aku hitung dengan jariku, dia (Rasul) berkata :
“Kamu akan memerangi Jazirah Arabia maka Allah akan memberikan kemenangan (pada
kalian) atasnya, kemudian Persia, maka Allah akan memberikan kemenangan (pada
kalian) atasnya, kemudian kamu akan memerangi Romawi maka Allah akan memberikan
kemenangan (pada kalian) atasnya, kemudian kamu akan memerangi Dajjal, maka
Allah akan memberikan kemenangan (pada kalin) atasnya”. Lalu Nafi’ berkata :
Wahai Jabir kami mengira tidak akan keluar Dajjal sampai Romwi ditaklukkan
(oleh kaum Muslimin).
c. Imam Ahmad meriwayatkan
dalam Msunadnya, dari Abu Qubail ia berkata : Kami sedang berada di samping
Abdullah Bin Amr Bin Ash, kemudian ia ditanya : Kota manakah yang pertama kali
ditaklukkan, Konstantinopel atau Romawi? Lalu Abadullah menunjukkan sebuah
kotak yang terdapat rantai anting-antingnya (pegangan untuk mengangkat kotak
tersebut). Ia berkata : Lalu ia mengeluarkan sebuah buku dari kotak tersebut
dan berkata : Abdullah telah berkata : Ketika kami berada di sisi Rasulullah
Saw.kami menulis ucapan (jawaban) Beliau dari suatu pertanyaanyangdiajukan
kepadanya : Kota manakah yang pertama kali ditaklukkan, Konstantinopel atau
Romawi? Kota Hrakliuslah yang pertama kali bakal ditaklukkan jawab Beeliau”.
Tentang Hadist ini Dr. Yusuf Al-Qordhawi menjelaskan bahwa “ yang dimaksud
Romawi (pada saat ini) adalah kota Roma, ibu kota Italia. Sedangkan
Kostantinopel adalah kota Istambul.
3. Kekuatan dan keunggulan
ajaran Islam sehingga mempunyai daya tahan dan daya tarik sepanjang zaman.
Kendati Islam telah diturunkan sejak 1439 tahun yang lalu (sejak wahyu pertama
di turunkan di gua Hirak), namun kekuatan dan keunggulan ajran Islam masih
dapat dirasakan dan dibuktikan sampai hari ini, dan akan tetap dapat dibuktikan
sampai hari kiamat nanti sebagaimana logisnya sebuah agama yang berlaku sampai
akhir zaman atau hari kiamat kelak. Rahasia kekuatan dan keunggukan ajaran
Islam tersebut terletak pada :
4. Kegagalan Peradaban
Moderen;Faktor lain yang meneyebakan masa depan di tangan Islam ialah
peradaban moderena yang dibangun di atas dasar kapitalisme, sosialisme,
materialisme, nasionalisme, sekularisme dan demokrasi ala Barat telah gagal membangun
sebuah peradaban yang manusiawi. Akibat kegagalan tersebut, manusia hari ini
hidup dalam kondisi ketidak pastian, kegelisahan, kekerasan, ketidak adilan
(kezaliman), ketakutan dan mayoritas masyarakat dunia dilanda kemiskinan. Jiwa
manusai yang dibangun peradaban moderen kososng dan tidak memiliki pegangan
yang kuat. Penyakit jiwa dan bahkan penyakit fisik semakin hari semakin
bertambah dan kronis. Berbagai kejahatan terhadaapa manusia dan lingkungan
(alam) dengan mudah dilakukan baik oleh individu, geng preman, mavia bisnis,
maupun oleh negara seperti yang dilakukan oleh Amerika dan sekutunya.[Masa
Depan di Tangan Islam, Eramuslim.com. Selasa, 29/09/2009 11:19 WIB].
Guru Besar Universitas Al
Azhar Kairo, Prof. DR. Syeikh Abdul Hayyi Al Farmawi, menegaskan bahwa
kebangkitan Islam di masa depan akan dimulai di Indonesia. Abdul Hayyi
menyampaikan tausiyah dalam peringatan Hari Ulang Tahun Nahdatul Wathon Diniyah
Islamiyah (NWDI) ke-76 di Aula Yayasan Pendidikan Hamzanwadi (YPH) Pandok
Pesantren Darunnahdatain NW Pancor, Nusa Tenggara Barat.
Kebangkitan Islam di masa
depan akan dimulai di Indonesia, khususnya dengan diperkuatnya persatuan dan
kesatuan umat islam di Indonesia dalam menatap satu tujuan. “Tentunya harus
mencintai negerimu, bangunlah dan tinggikanlah derajat negerimu, untuk meraih
semua apa yang diinginkan di dalamnya. Sehingga, kebesaran Islam di Indonesia
bisa menjadi kenyataan,” katanya.
Pidato
berbahasa arabnya yang hanya sekitar 20 menit itu mampu menghipnotis ratusan
ribu jamaah nahdatul wathon yang menghadiri acara tersebut.[Guru Besar
Al-Azhar: Kebangkitan Islam Dimulai di Indonesia,dakwatuna.com,12/9/2011
| 13 Syawal 1432 H].
Pidato yang
disampaikan itu mengambil tempat di Pondok Pesantren karena memang Pondok
Pesantren telah banyak perannya untuk mewujudkan kebangkitan itu melalui
pendidikan dan pembinaan yang dilaksanakannya bahkan dapat dikatakan bahwa
bangsa ini berhutang besar terhadap pondok pesantren.
Peran pesantren dalam membangun negeri ini sebernarnya sama
dengan peran Islam itu sendiri. Peran Islam dalam membangunkan dunia Melayu
sudah terbukti secara historis. Dalam teori Prof. Naquib al-Attas tentang
Islamisasi masyarakat Melayu, Islam datang dengan membawa pandangan hidup baru
yang ditandai oleh munculnya semangat rasionalisme dan intelektualisme.
Pandangan hidup baru ini kemudian merubah pandangan hidup bangsa
Melayu-Indonesia yang sebelumnya dikuasai oleh dunia mitologi yang rapuh.
Menurut Snouck Hurgronje, agama Hindu tidak mempunyai peran
dalam pembinaan spiritual masyarakat awam yang kebanyakan dari kasta rendah. Di
Sumatera, yang pernah dikenal sebagai pusat berkumpulnya para pemikir Hindu,
misalnya, pandangan hidup Hindu hampir tidak berpengaruh terhadap masyarakat
waktu itu. Oleh karena itu pada masa kekuasaan kerajaan Hindu banyak anggota
masyarakat yang tertarik pada pandangan hidup Islam.
Namun, pandangan hidup Islam tidak serta merta dipahami
masyarakat dengan hanya membaca syahadat. Ia memerlukan proses transformasi
konsep-konsep ke dalam pikiran masyarakat; dan pemahaman suatu konsep hanya
effektif dilakukan melalui proses belajar mengajar. Pesantren dalam hal ini
berperan aktif dalam transformasi konsep-konsep penting dalam Islam ke
tengah-tengah masyarakat waktu itu. Peran Islam dalam merubah pandangan hidup
yang statis kepada yang dinamis, rasional dan teratur inilah yang disebut
dengan proses Islamisasi, kebalikan dari “akulturalisasi” (penyesuaian agama
dengan kultur setempat).
Jadi Islam masuk ke Indonesia dan disebarkan melalui
pendidikan pesantren dalam bentuk pandangan hidup, dan bukan sebagai gerakan
politik seperti yang diasumsikan Prof. Sartono Kartodirdjo. Terbukti raja-raja
di Jawa dan luar Jawa masuk Islam tanpa proses peperangan. Sebagai pandangan
hidup Islam membawa konsep baru tentang Tuhan Yang Maha Esa, tentang manusia,
tentang hidup, waktu, dunia dan akherat, bermasyarakat, keadilan, harta dan
lain-lain.
Dengan pandangan hidup Islam masyarakat lalu mengembangkan
semangat pembebasan dan perlawanan terhadap penjajah. Pemberontakan petani di
Banten tahun 1888, atau perang masyarakat Aceh melawan Belanda tahun 1873,
misalnya, tidak lepas dari peran kaum santri dan pesantren. Jadi Islam tidak
dapat dipahami hanya sebagai gerakan politik, tapi sebagai suatu pandangan
hidup yang memberi warna baru terhadap gerakan politik.
Peran pandangan hidup Islam terhadap bangkitnya bangsa
Melayu dapat dilihat dari fenomena tersebarnya kultur Islam dan tersebarnya
penggunaan bahasa Melayu sebagai alat untuk mengekspresikan karya sastra dan
berbagai diskursus pemikiran kegamaan dan filsafat. Dengan merasuknya pandangan
hidup Islam kedalam kultur Melayu, maka bahasa Melayu menjadi sangat kaya
dengan kosa kata dan terminologi Islam. Ini juga sekaligus merupakan jembatan
menuju lahirnya bahasa Melayu sebagai lingua franca.
Selain itu dengan gerakan hijrah ke pelosok-pelosok
pedesaan, pesantren mengembangkan masyarakat Muslim yang solid, yang pada
gilirannya berperan sebagai kubu pertahanan rakyat dalam melawan penjajah.
Peran para kiai dalam melawan penjajah tidak perlu dipertanyakan lagi. Raffles
sendiri dalam bukunya The History of Java mengakui bahaya para kiai terhadap
kepentingan Belanda. Sebab, menurutnya, banyak sekali kiai yang aktif dalam
berbagai pemberontakan.
Bahkan besarnya pengaruh kiai tidak hanya terbatas pada
masyarakat awam, tapi juga menjangkau istana-istana. Kiai Hasan Besari, dari
pesantren Tegalsari Ponorogo, misalnya berperan besar dalam meleraikan
pemberontakan di Keraton Kartasura. Bukan hanya itu, pesantren dulu juga mampu
melahirkan pujangga. Raden Ngabehi Ronggowarsito adalah santri Kiai Hasan
Besari yang berhasil menjadi Pujangga Jawa terkenal.
Di zaman pergerakan pra-kemerdekaan, peran pesantren juga
sangat menonjol, lagi-lagi melalui alumninya. HOS Cokroaminoto pendiri gerakan
Syarikat Islam dan guru pertama Soekarno di Surabaya, adalah juga alumni
pesantren. KH. Mas Mansur, KH.Hasyim Ash’ari, KH. Ahmad Dahlan, Ki Bagus
Hadikusumo, KH.Kahar Muzakkir, (untuk menyebut beberapa nama) adalah alumni
pesantren yang menjadi tokoh masyarakat yang sangat berpengaruh. Di tengah
masyarakat mereka adalah guru bangsa, tempat merujuk segala persoalan di
masyarakat. Di tengah percaturan politik menjelang kemerdekaan Republik
Indonesia peran mereka tidak diragukan lagi. [Hamid Fahmy Zarkasyi
Hutang Bangsa Pada Pesantren].
Apa yang
dikatakan oleh Guru Besar Universitas Al Azhar Kairo, Prof. DR. Syeikh Abdul
Hayyi Al Farmawi tentang Kebangkitan Islam itu diawali di Indonesia, sebenarnya
hal itu sudah diretas oleh generasi muslim terdahulu dalam berbagai gerakan
yang mereka lakukan sebagai mana yang diungkapkan oleh Deliar Noor “Nasionalisme
Indonesia dimulai sebenarnya dengan nasionalisme Islam”. Katanya lagi, “Sesuatu
gerakan yang penting di Indonesia mulanya adalah gerakan orang-orang Islam.
Mereka yang bergerak di bawah panji-panji yang bukan Islam kebanyakannya
terdiri dari mereka yang telah meninggalkan tempat buaian mereka semula, tempat
mereka mula-mula sekali mengecap asam garam pergerakan.”
Berdasarkan
pendapat dari Deliar Noor itu, dalam tulisan yang berjudul Islam meretas
kebangkitan, Agung Pribadi menyebutkan fakta-fakta sejarah yang sudah
terjadi di Indonesia yang merupakan awal dari kebangkian itu walaupun banyak
sekali kendali yang dihadapi apakah dari dalam Islam sendiri atau dari luar
yaitu kaum penjajah ;
Beberapa tokoh
pergerakan nasional terkemuka dari berbagai aliran berasal dari gerakan Islam.
Untuk aliran nasionalisme radikal Ki
Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat) tadinya berasal dari Sarekat
Islam (SI).Soekarno sendiri
pernah menjadi guru Muhammadiyah dan pernah nyantri di bawah bimbingan Tjokroaminoto. Bahkan beberapa
tokoh-tokoh PKI zaman pergerakan nasional berasal dan terinspirasi oleh
perjuangan SI. Tan Malaka
sendiri, yang menurut Kahin, adalah seorang Komunis Nasionalis dan pendiri
partai Murba, berasal dari SI Jakarta dan Semarang. Ia dibesarkan dalam suasana
semangatnya gerakan modernis Islam Kaoem Moeda di Sumatera Barat (Poeze: 1988).
Umat Islam
menduduki peran utama dalam gerakan politik dan militer. Semua perang yang
terjadi bersukma dari seruan jihad, perang suci. Sewaktu Pangeran
Diponegoro–pemimpin Perang Jawa–memanggil sukarelawan, maka kebanyakan mereka
yang tergugah adalah para ulama dan ustadz dari pelosok desa. Pemberontakan
petani menentang penindasan yang berlangsung terus-menerus sepanjang abad ke-19
selalu di bawah bendera Islam. Tindakan ini menyebabkan ia lebih dicintai dan
dihormati rakyatnya.
Demikian pula
yang dilakukan oleh Tengku Cik Di Tiro,
Teuku Umar, dan diteruskan oleh Cut Nyak Dhien dari tahun 1873-1906
adalah jihad melawan kape-kape (Kafir-kafir) Belanda yang menyengsarakan umat
Islam dan rakyat Aceh.
Begitu juga
dengan perang Padri. Bisa
dilihat, nama perang Padri menunjukkan perang ini adalah perang keagamaan. Kata
padri berasal dari kata ‘Padre’ (pendeta
atau pastur). Nama perang ini diberikan Belanda, meskipun Belanda memberi
penafsiran yang salah bahwa pejuang-pejuang itu adalah ‘pendeta-pendeta’.
Perang tersebut berlangsung selama 16 tahun. Selama itu bentrokan terjadi di
kalangan ulama Indonesia: ‘kaum tua’ dengan ‘kaum muda’ dan golongan adat
dengan ‘kaum muda’.
Bentrokan ini
dimanfaatkan Belanda untuk mengadu domba, namun tidak berhasil. Akhirnya kedua
kubu yang saling berselisih itu bersatu dan bersama-sama melawan Belanda.
Para ulama
juga memimpin pemberontakan terakhir yang terjadi pada tahun 1927 di pantai
barat Sumatera. Belanda, seperti pemerintahan Orde Baru, mencap semua
pemberontakan melawan pemerintahan adalah komunis atau PKI. Sehingga hari ini
kita temui dalam buku sejarah bahwa pemberontakan tahun 1927 di Sumbar itu
adalah PKI. Padahal itu dilakukan oleh Sumatera Thawalib. Memang ada sebagian
anggota Sumatera Thawalib yang kemudian menjadi anggota PKI tapi itu hanya
sebagian kecil saja (Lihat Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia).
Pada saat itu
gerak maju perjuangan kemerdekaan Indonesia pindah ke lingkungan politik dan
sipil, namun tetap mempunyai warna Islam yang kuat.
Pada 1912, pergerakan politik Indonesia
yang pertama, yakni Sarekat Islam
(SI), didirikan. Dengan segera, SI menjadi gerakan massa dengan anggotanya
mencapai 2 juta orang pada tahun 1919. Sebenarnya Sarekat Islam sudah berdiri
sejak tahun 1905 dengan nama Sarekat Dagang Islam.
H. Agus Salim, Tamar Djaja, Ridwan Saidi,
Anwar Harjono, Ahmad Mansyur Suryanegara, dan Adabi Darban pernah berkata bahwa
tanggal berdirinya Sarekat Dagang Islam ini lebih tepat disebut sebagai “Hari Kebangkitan Nasional”, dan bukan
tahun 1908 dengan patokan berdirinya Boedi Oetomo. Karena ruang lingkup Boedi
Oetomo hanyalah Pulau Jawa, bahkan hanya etnis Jawa Priyayi pada tahun 1908
itu. Sedangkan Sarekat Dagang Islam mempunyai cabang-cabang di seluruh
Indonesia. Jadi inilah yang layak disebut “Nasional”.
Tetapi
golongan nasionalis sekuler, sejarawan-sejarawan yang tidak nasionalis,
sejarawan-sejarawan “netral” yang menulis sejarah berdasarkan ‘pesanan’
mengaburkan hal ini. Golongan nasionalis menyimpangkan karena takut. Asas SDI
(Sarekat Dagang Islam) adalah Islam, sedangkan golongan nasionalis sekuler
paling takut pada Islam sebagai suatu ‘gerakan’. Mereka disebut Islamofobia,
meski mereka mengaku beragama Islam. Lalu mengapa Boedi Oetomo yang dijadikan
patokan? Karena Boedi Oetomo berdasarkan “Nasionalisme Sekuler” atau lebih
tepat lagi “Nasionalisme Jawa Sekuler”!
kebangkitan itu harus diupayakan dengan kerja keras atau jihad, dia tidak dapat dengan sendirinya, segenap tenaga,fikiran dan perasaan terkuras kesana, apalagi kita memakai istilah kebangkitan Islam berarati sebelumnya ummat ini sudah terpuruk, dengan penuh kesadaran kita ingin membangkitkannya kembali, sebagaimana pepatah Minangkabau menyebutkan “mambangkik batang tarandam” tentu membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani mengutarakan tentang sarat untuk meraih kejayaan itu.
Kami bisa
mengatakan dengan bahasa yang lebih jelas kepada kaum muslimin yang betul-betul
ingin kembali mendapatkan 'IZZAH (kehormatan), kejayaan dan hukum bagi Islam,
yaitu anda harus bisa merealisasikan dua perkara :
Pertama :
Anda harus mengembalikan syari'at Islam
ke dalam benak-benak kaum muslimin dalam keadaan bersih dari segenap unsur yang
menyusup ke dalamnya, apa yang sebenarnya bukan berasal daripadanya, ketika
Allah Tabaraka wa Ta'ala menurunkan firmannya : "Pada hari ini telah
Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-sempurnakan ni'mat-Ku, dan
telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu" (Al-Maaidah : 3).
Mengembalikan persoalan hari ini menjadi
seperti persoalan zaman pertama dahulu, membutuhkan perjuangan ekstra keras
dari para ulama kaum muslimin di pelbagai penjuru dunia.
Kedua :
Kerja keras yang terus menerus tanpa
henti ini harus dibarengi dengan ilmu yang telah terbersihkan itu.
Pada hari kaum muslimin telah kembali
memahami dien mereka sebagaimana yang dipahami para shahabat Rasulullah SAW,
kemudian melaksanakan pengamalan ajaran Islam yang telah terbersihkan ini
secara benar dalam semua segi kehidupan, maka pada hari itulah kaum mu'minin
dapat bergembira merasakan kemenangan yang datangnya dari Allah. [Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani,Asas Kebangkitan Dunia Islam, Created
at 29 February 2000, Assunnah.or.id].
Berdasarkan
data dan fakta tentang terbukanya jalan untuk menuju kebangkitan Islam maka
ummat islam selayaknya menyambutnya dengan kerja keras mengupayakan agar janji
Allah itu dapat diujudkan, menggalang kekuatan, memperteguh iman dan
memperbanyak ibadah artinya mempersiapkan segala sesuatunya sebagai muslim
sebagaimana kekuatan kita hari ini setara dengan kualitas para sahabat masa
lalu, karena kemenangan Islam tidak akan bertahan lama bila ummat yang
meraihnya bukan ummat yang berkualitas,Wallahu A’lam. [Baloi Indah, 24 Ramadhan 1436.H/2015 Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam, Kepri]
PROFIL PENULIS
Penampilan
sederhana ini bernama Mukhlis yang dilahirkan di ujung Selatan Pulau
Sumatera yaitu Metro [Lampung Tengah] tanggal 3 April 1964
anak ketiga dari ayah bernama Sutan
Denak dan ibu Rosnidar dengan enam orang adik kakak yaitu Ernawati, Marsudi,
Erma, Septiyani, Mahdalena dan Adek Wahyuli, isteri bernama Yulismar S.Pd
[Ayang] dengan seorang anak wanita bernama Rani Ihsani Mukhlis, nama yang akrab
di kalangan teman dan sahabatnya adalah Mukhlis Denros. Kampung asalnya Kampani Barangan Selatan,
Nagari Lurah Ampalu, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak Kabupaten Padang
Pariaman, Sumatera Barat, dengan suku Koto, besar dan menempuh pendidikan di
Kota Lada Metro Lampung.
Pendidikan yang pernah ditempuhnya yaitu
SDN yang dimulai di SDN Koto Marapak [Kota Pariaman], ketika kelas IV dia harus
meninggalkan kampung bersama ayah dan ibunya menuju Metro, SD diselesaikannya
di SDN IV Metro, dilanjutkan ke SMP PGRI Metro, kemudian SMAN 135 Metro yang
dapat diselesaikan tahun 1984, tidak ada maksud untuk kuliah karena berbagai
faktor, berkat dorongan teman-teman dan gurunya terutama Ustadz Masnuni M.Ra'i,
Alfuadi Rusli, H. Muhammad Lazim, H. Fakhrudin, Sugito, Hayumi Rb,Hayumi Rf, H.
Rasyidin dan Malin Marajo di Masjid Al Jihad akhirnya tahun ini juga
melanjutkan kuliah di IAIN, inilah pendidikan terakhir yang ditempuhnya yaitu
Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Institut Agana Islam Negeri
[IAIN] Raden Intan Lampung di Metro
tamat tahun 1990. Ketika tamat kuliah dia harus meninggalkan Metro dan memulai
kiprahnya di Koto Baru Kabupaten Solok Sumatera Barat sebagai pendidik, dosen,
penulis, mubaligh hingga sebagai
politisi akhirnya.
Sejak di bangku SMA hingga tamat kuliah,
Mukhlis giat di OSIS Gema Al Qur'an AL
Jihad dan Remaja Masjid Al Jihad Metro
bersama teman-temannya Dody Sofial, Abul Fatrida, Yurnalis, M. Syafei,
Irza Murni, Gusnita, Herwina, Afrizal, Yohanes dan Rita Suryani, dikala kuliah
bergabung dengan HMI Cabang Metro bersama Ahmad Ridwan, Gatot Subroto, Sigit
Triyono, Syuhada', Raihan dan Usdek, mengikuti pengkaderan Basic Training di
Metro tahun 1985 dan Intermediate Training di Palembang tahun 1986 dan pernah
menjabat sebagai Sekretaris HMI Komisariat IAIN dan wakil sekretaris HMI Cabang
Metro.
Menjadi guru adalah cita-citanya sejak
awal dan hal itu telah terujud walaupun tidak sebagai PNS, pernah mengajar di
GAA dan SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah, mengajar di SMEA Budi Mulia Koto
Baru, MTsN Koto Baru Solok dan sebagai dosen PGTK Adzkia Padang, Aktivitas
sebagai pendidik ini dia tekuni sejak di bangku kuliah tahun 1984 sampai tahun
2000, kemudian aktif sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok utusan dari Partai
Keadilan/Partai Keadilan Sejahtera, selama dua periode 1999-2009. Di Solok
bersama teman-temannya yaitu Mahyeldi Ansharullah, Afrizal M Noor, Muhidi,
Nurfirmanwansyah, Johandrizon Syamsu, Ahmad Syafwan Nawawi, Firmansyah, Abdul Ghani,
Gustami Hidayat, Saifullah Salim,
Rudianto, Busril, Endrizal, Ismail Zain, Devi Herizon, Ilzan Sumarta, dan Helmi
Darlis merintis kegiatan da'wah sejak tahun 1990 di sekolah, kampus, dan
masjid-masjid melalui pesantren kilat, diskusi, ceramah dan khutbah sebagai
cikal bakal berdirinya Partai Keadilan ketika itu.
Tahun 1998 dikala Reformasi terjadi,
sekian partai berdiri untuk menyongsong Indonesia yang lebih demokratis setelah
lengsernya Soeharto kemudian dilanjutkan oleh BJ Habibie, berdiri pulalah
partai yang berbasiskan anak-anak muda kampus dengan kapasitas da'wah dan
tarbiyah, partai itu bernama Partai
Keadilan. Mukhlis diamanatkan oleh DPW PK Sumatera Barat sebagai ketua DPD PK
di Kabupaten Solok, pelantikan pengurus DPW dengan ketua Drs. Ahmad Syafwan
Nawawi dan DPD PK se Sumatera Barat dikukuhkan di Padang oleh DR. Nur Mahmudi
Ismail MSc sebagai Presiden Partai Keadilan pertama.
Dikala Partai Keadilan menjadi Partai Keadilan Sejahtera untuk kedua
kalinya Mukhlis Denros dipercaya sebagai ketua DPD di Kabupaten Solok dan
jabatan terakhir di partai dipercayakan kepadanya adalah sebagai Ketua Zona
Da'wah VII PKS Sumatera Barat hingga tahun 2007, yang membina DPD PKS Kota
Solok, Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan. Terlalu banyak pelajaran
dan pengalaman yang dia terima dari kegiatan da'wah dan partai bersama
teman-temannya
Mukhlis Denros, demikian akrab di sapa,
selain sebagai pendidik juga aktif berda’wah baik melalui ceramah, diskusi
agama, khutbah dan penyebaran tulisannya melalui Buletin Da’wah Garda Anak
Nagari serta media Nasional yang pernah memuat tulisannya seperti Majalah
Serial Khutbah Jum’at, Majalah Suara Masjid , Majalah Sabili, Majalah Tarbawi,
Majalah Ishlah, Majalah Reformasi Jakarta, Majalah Al Muslimun Bangil serta koran
Swadesi dan Sentana juga pernah memuat tulisannya yang sarat dengan pendidikan
dan nuansa islamnya, Media Mimbar Minang Padang selama bulan Ramadhan penuh
memuat tulisannya tiap hari terbit. Dia
tidak pernah membuang waktu dengan kegiatan yang tidak ada manfaatnya,
waktunya selalu terisi dengan aktivitas positif seperti membaca atau menulis
selain kegiatan harian lain.
Mukhlis
Denros Terima Penghargaan Sebagai Penulis Terbaik dari Media Suara Keadilan
Rakyat (SKR) , Minggu (15/12) di Gedung Pusat Kebudayaan kota
Sawahlunto.Penghargaan tersebut merupakan program Tabloit SKR yang selama ini
membentuk tim untuk melakukan penilaian terhadap sejumlah penulis dan tokoh di
Sumatera Barat dengan sejumlah kategori yang ditetapkan.
Penganugerahan sebagai Penulis Terbaik SKR Awards 2013
yang diberikan kepada Mukhlis Denros diserahkan oleh Wakil Wali Kota Sawah
Lunto yaitu Bapak Ismet SH, Mukhlis Denros dinilai sebagai penulis terbaik
karena konsistensinya dalam menulis berbagai pemikiran berkaitan dengan dakwah,
pendidikan dan politik yang telah melahirkan berbagai buku yang diterbitkan
oleh penerbit.
Mukhlis
Denros menerima berupa plakat dan piagam sebagai bentuk penghargaan atas
keberhasilannya menulis yang dinilai sebagai penulis terbaik, sebagaimana
penilaian TIM SKR yang terdiri dari Prof, Wil Chandry, Fadril Aziz Isaini dan
Prof,DR, H. Salmadanis, Mag.
Pada
malam penganugerahan SKR Awards 2013 tersebut
diserahkan 13 penghargaan dengan kategori berbeda kepada tokoh
lainnyayang dihadiri oleh Wawako Sawahlunto, Ismed, Pimpinan Serikat Perusahaan
Pers Pusat, Totok dan pendiiri Tabloit SKR, Riko Adiutama beserta sejumlah
tokoh Sumatera Barat lainnya.
Moto hidupnya sangat sederhana, agar
bermanfaat bagi orang lain dengan potensi yang dimiliki, semua itu hanya bisa
dilakukan dengan pendidikan yang
berkualitas. Dia menceritakan bahwa karena kegigihan orangtuanyalah untuk
mendidiknya dengan segala kesusahan dan derai air mata tapi akhirnya berhasil
mengantarkannya sebagai sarjana. Sebagai modal hidup di dunia ini,
sehingga dapat dikatakan tak bisa
membalas dan mengukur jasa orangtua yang telah mengantarkan kesuksesannya baik
memimpin partai maupun sebagai anggota
DPRD dalam dua periode ini. Bersama Partai Keadilan dan PPP Kota Solok tahun 2000 dia pernah dicalonkan
sebagai Wakil Wali Kota Solok yang berpasangan dengan Drs. Syukriadi Syukur.
Sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok
selama dua periode diembannya, dia tampil sebagai politisi yang kritis dan
bernas terhadap kebijakan Pemda dan Bupati yang tidak sesuai dengan kepentingan masyarat, diapun tidak
segan-segan menghantam anggota DPRD dikala mereka tidak aspiratif
[http://fraksi pks solok.blogspot.com].
Bersama ustadz
Mahyeldi Ansyarullah dalam gerakan da’wah dengan lembaga Al Madaniy di Padang
yang diawali tahun 1990, Mukhlis Denros banyak terlibat dalam berbagai kegiatan
da’wah seperti tahun 1994 pernah ke Palembang untuk mengikuti pertemuan da’i se
Jakarta dan Sumatera undangan dari Yayasan Bumi Andalas dan tahun 2000 Seminar
Nasional tentang Syari’ah di Medan yang diiringi dengan berbagai pertemuan
da'wah di Sumatera Barat ataupun di Jakarta, selain itu juga pernah selama 2
tahun sebagai da’i dari IIRO [Internasional islamic Relief Organisation] dan
kini sebagai anggota IKADI Solok yang juga memimpin yayasan Garda Anak Nagari
Sumatera Barat.
Organisasi lain yang
ikut dia tekuni selama di DPRD adalah sebagai Sekjen Majelis Ulama Indonesia
[MUI] Kabupaten Solok, sebagai Badan Pengawas Badan Amil Zakat Kabupaten Solok,
juga ikut membidani lahirnya beberapa lembaga da'wah berbentuk Yayasan di
Kabupaten Solok yang dikelola oleh teman-temannya seperti Yayasan Sinergi
Ummat, Yayasan Lukmanul Hakim, Yayasan Amanah Bunda, Yayasan Ahda Sabila,
Yayasan Nurul Haq, Yayasan Garda Anak Nagari dan Yayasan Selasih Solok.
Setelah dua periode
menyelesaikan tugas sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok, dalam mengisi
kegiatan hariannya Mukhlis Denros bersama isteri Yulismar S.Pd tinggal di
Nagari yang berbukit dan berlembah, yang sejuk dan asri, jauh dari kebisingan,
aman dan nyaman yaitu Jorong Cubadak Nagari Pianggu Kecamatan IX Koto Sungai
Lasi, Kabupaten Solok, Sumatera Barat tetap konsisten dengan kegiatan
sebelumnya yaitu da'wah dan menulis.
Sejak bulan Februari 2015, setelah enam tahun tinggal
di Cubadak Pianggu Kecamatan Sungai Lasi Kabupaten Solok Sumatera Barat, kini Mukhlis Denros menetap di Kota Batam
Kepri, turut berkiprah sebagai staf di Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Kota
Batam yang diketuai oleh Ibu Dra. Hj.
Helma Munaf, M.Pd dan bergabung pula dengan PMB [Persatuan Mubaligh Batam].
Di Batam, Mukhlis Denros dengan Pedro Johansis dan Mardison
mengembangkan Yayasan Garda Anak Nagari dengan membuka Garda Anak Nagari Provinsi Kepulauan Riau,
Insya Allah dalam waktu dekat akan membuka cabang Garda Anak Nagari di seluruh
Kabupaten dan Kota di Provinsi Kepulauan
Riau, semoga hal itu terujud.
DATA PRIBADI
Nama Lengkap : Drs. St. Mukhlis Denros
Tempat dan Tanggal Lahir : Metro, 3 April 1964
Jumlah bersaudara : Anak ke 3 dari 7 orang
Nama Ayah : Sutan Denak
Nama Ibu : Rosnidar
Nama Isteri : Yulismar, S.Pd
Nama Anak : Rani Ihsani Mukhlis
RIWAYAT PENDIDIKAN
1.
SDN 4 Metro
Lampung, tamat tahun 1975
2.
SMP PGRI Metro
Lampung, tamat tahun 1981
3.
SMAN 135 Metro
Lampung, tamat tahun 1984
4.
Gema Al Qur'an Al
Jihad Metro tamat tahun 1988
5.
Sarjana Muda
Tarbiyah IAIN Raden Intan Lampung, tahun
1988
6.
Sarjana Tarbiyah
IAIN Raden Intan Lampung tamat tahun 1990
PENGALAMAN ORGANISASI
1.
Ketua Osis GAA Metro Lampung Tengah 1987-1989
2.
Sekum IRM Al Jihad Metro Lampung Tengah 1986-1988
3.
Wakil Sekretaris HMI Cab. Metro Lampung Tengah 1985-1990
4.
Sekjen
Majelis Ulama Indonesia [MUI}
Kab. Solok 2005/2006
5.
Anggota Pengawas BAZ
Kabupaten Solok 2006
6.
Anggota IKADI (Ikatan Da’i Indonesia)
Kabupaten Solok
7.
Da'i
IIRO [International Islamic Relief Org.] Sumbar 1995-1997
8.
Ketua Yayasan
Garda Anak Nagari Sumatera Barat
9.
Ketua Pembina Yayasan Selasih Kabupaten Solok
10.
Ketua Pembina Yayasan Lukmanul Hakim Kota
Solok
11.
.Ketua Yayasan Garda Anak Nagari Kab.Solok
2000-2005
12.
Pembina Yayasan Sinergi Ummat Kota Solok
13.
Pembina Yayasan Amanah Bunda Kabupaten Solok
PENGALAMAN
PROFESI
1.
Guru SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah
1988-1990
2.
Guru GAA Metro Lampung Tengah 1988-1990
3.
Guru MTsN Koto Baru Kabupaten Solok 1997-1999
4.
Guru SMK Budi Mulia Koto Baru Kab. Solok
1991-2000
5.
Dosen PGTK Adzkia Kota Padang 1994-2000
6.
Anggota
DPRD Kabupaten Solok Periode
1999-2004
7.
Anggota DPRD Kabupaten Solok Periode 2004-2009
8.
Staff Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam,
2015-
PERJALANAN
DA'WAH
1.
Maperca dan Basic Training HMI Cabang Metro
1985
2.
Intermediate Training HMI di Palembang 1986
3.
Latihan Pers Mahasiswa IAIN di Tanjung Karang
1986
4.
Tarbiyyah Islamiyyah di Sumatera Barat
1990-1994
5.
Muzakarah Du'at se Sumatera /Jakarta di
Sumatera Selatan 1994
6.
Muzakarah Du'at se Sumatera/Jakarta di Sumatera Selatan 1996
7.
Muzakarah Du'at se Sumatera/ Jakarta di Bukit Tinggi 1998
8.
Muzakarah Manajemen Zakat, IMZ Jakarta 2002
9.
Seminar Syari'ah Nasional di Medan Sumatera
Utara 2000
10.
Pertemuan Anggota DPRD se Indonesia di Jakarta 2000
11.
Pertemuan Anggota DPRD se Indonesia di Bogor 2002
12.
Pertemuan da'i IIRO se Indonesia di Jakarta 2000
13.
Silaturrahmi Nasional Anggota Legislatif di
Jakarta 2005
BUKU YANG
TELAH DITERBITKAN
1.
Fikih Wanita, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
2.
Tarbiyatul Aulad, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
3.
Kumpulan Ceramah Praktis, Nurul Haq, 2010
4.
Renungan Ramadhan, Pustaka Setia Bandung, 2011
5.
Memanusiakan Manusia, Qibla Jakarta, 2011
6.
Kumpulan Khutbah Jum’at, Pustaka Setia Bandung, 2011
7.
Khutbah Jum’at, Janji Allah dan Upaya Meraihnya, Arkola
Surabaya, 2011
8.
Khutbah Jum’at Penyejuk Hati, Pustaka Albana Jogjakarta,
2012
9.
Andai Aku Tahu Dosa Itu Ada, FAM Publishing Kediri, Jawa
Timur, 2012
10.
Kumpulan Khutbah Jum’at Terbaik, Mutiara Media, Jogjakarta, 2013
11.
Man Rabbuka, Al Barokah, Jogjakarta, 2014
12.
Ensiklopedi Penulis Indonesia Jilid I, FAM Publishing Kediri,2014
13.
Kumpulan Khutbah Pengobat Hati, Mutiara Media, Jogjakarta, 2014
PUBLIKASI
TULISAN DI MEDIA
1.
Majalah Serial Khutbah Jum'at, Jakarta
2.
Majalah Suara Masjid, Jakarta
3.
Majalah Ishlah, Jakarta
4.
Majalah Reformasi, Jakarta
5.
Majalah Al Muslimun, Bangil
6.
Majalah Sabili, Jakarta
7.
Majalah Tarbawi, Jakarta
8.
Majalah Muamalat, Jakarta
9.
Majalah Kiblat, Jakarta
10.
Majalah Harmonis, Jakarta
11.
Majalah Estafet, Jakarta
12.
Majalah Sakinah, Jakarta
13.
Harian Serambi Minang, Padang
14.
Harian Semangat, Padang
15.
Harian Mimbar Minang, Padang
16.
Harian Singgalang, Padang
17.
Tabloid Sumbar Post, Padang
18.
Tabloid Zaman, Padang
19.
Tabloid Solinda, Kabupaten Solok
20.
Tabloid Lentera, Padang
21.
Tabloid Suara Keadilan Rakyat, Sawahlunto
22.
Tabloid, Media Islam Batam
23.
Tabloid Dyi’ar Islam Batam
24.
Buletin DPW PKS Sumatera Barat, Padang
25.
Buletin Riswan, Koto Baru Kabupaten Solok
26.
Buletin Da'wah Masjid Al Furqan Kota Solok
27.
Buletin Da'wah Garda Anak Nagari Kabupaten
Solok
28.
Buletin Da'wah Sebening Embun Solok
29.
Buletin Da'wah Selasih Solok
30.
Mingguan Suara Rakyat, Solok
31.
Mingguan Bijak, Padang
32.
Mingguan Swadesi, Jakarta
33.
Mingguan Sentana, Jakarta
34.
Mingguan Raden Intan Pos, IAIN Lampung
35.
Pariaman Post, Sumatera Barat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar