RAMADHAN DAN KEMENANGAN DA’WAH
Drs.St.Mukhlis Denros
Karena dakwahlah kita mengerti
bahwa bulan Ramadhan ada kewajiban untuk menjalankan ibadah puasa, karena
dakwah pulalah kita jadi seorang muslim yang berharga. Dakwah akan tetap
berlanjut seperti bola salju yang selalu menggelinding yang akan menggulung
siapa saja tertarik dengan hidayah-Nya. Dakwah tidak akan berhenti hingga
kemenangan Islam diraih, bahkan untuk
mempertahankan kemenangan itu dakwah harus semakin gencar dilakukan.
Dakwah adalah aktivitas menyeru manusia
kepada Allah swt dengan hikmah dan pelajaran yang baik dengan harapan agar
objek dakwah (mad’u) yang kita dakwahi beriman kepada Allah swt dan mengingkari
thagut (semua yang di abdi selain Allah) sehingga mereka keluar dari kegelapan
jahiliyah menuju cahaya Islam.
Jika kita melihat ayat-ayat
Al-Quran maupun hadits-hadits Rasulullah saw, kita akan banyak menemukan
fadhail (keutamaan) dakwah yang luar biasa. Dengan mengetahui, memahami, dan
menghayati keutamaan dakwah ini seorang muslim akan termotivasi secara kuat
untuk melakukan dakwah dan bergabung bersama kafilah dakwah di manapun ia
berada.
Mengetahui keutamaan dakwah termasuk
faktor terpenting yang mempengaruhi konsistensi seorang muslim dalam berdakwah
dan menjaga semangat dakwah, karena keyakinan terhadap keutamaan dakwah dapat
menjadikannya merasa ringan menghadapi beban dan rintangan dakwah betapapun
beratnya.[Fadhail (Keutamaan) Dakwah, Dakwatuna.com.8/3/2009 | 12 Rabiul Awwal
1430 H].
Suatu hari Anas bin Nadhar kacewa karena dia tidak
ikut dalam perang Badar, padahal saat
itu kemenangan dipihak ummat islam, yang dia sesalkan bukan kemenangan itu,
tapi dalam kemenangan itu tidak ada kontribusinya.
Dari realitas keberhasilan
da’wah islam itu, adakah keterlibatan kita sebagai mubaligh di dalamnya atau
hanya kita sibuk dengan ceramah tanpa melakukan pembinaan, da’wah bukanlah
ceramah saja tapi adalah pembinaan walaupun didalamnya tidak bisa dilepaskan
metode ceramah.
Da'wah mengandung
keutamaan, tidak satupun pekerjaan yang lebih baik di dunia ini selain
pekerjaan da'wah, keutamaan da'wah itu diantaranya;
1.Merupakan nikmat Allah terbesar kepada manusia
Diantara nikmat yang diberikan Allah ialah
nikmat iman atau hidayah yang diperoleh dari perjuangan da'wah, Rasulullah
bersabda; "Dan seandainya Allah memberi petunjuk kepada seseorang
dengan sebab engkau, maka itu lebih baik bagimu daripada apa yang dijangkau
matahari sejak terbit hingga terbenam" [HR. Bukhari Muslim].
Tanpa da'wah maka tidaklah
akan sampai iman dan islam kepada kita pada hari ini dan tentu kita masih dalam
keadaan kafir, begitu besar nikmat da'wah itu sehingga mampu melepaskan orang
dari kekafiran dan mengantarkan pengikutnya ke dalam syurga.
2.Da'wah itu pekerjaan para Nabi
Apapun pekerjaan yang dilakukan manusia
maka hal itu biasa, tapi pekerjaan da'wah
adalah pekerjaan yang luar biasa karena ini merupakan pekerjaan para
nabi, da'i meneruskan pekerjaan nabi ini hingga hari akhir, alangkah mulianya
kita bila mengemban pekerjaan para nabi "Dia Telah mensyari'atkan bagi
kamu tentang agama apa yang Telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang Telah
kami wahyukan kepadamu dan apa yang Telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa
dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.
amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya.
Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk
kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). [Asy Syura 42;13]
3.Pekerjaan yang paling mulia disisi Allah
Semua pekerjaan yang dilakukan manusia
selama untuk kebaikan adalah baik, tapi dari sekian pekerjaan itu ada pekerjaan
yang mulia dihadapan Allah yaitu berda'wah. Da'wah adalah pekerjaan yang paling
tinggi nilainya, da'wah adalah pekerjaan orang-orang piihan yaitu nabi dan
rasul maka juru da'wah adalah orang yang mulia setelah nabi dan rasul karena mereka
melakukan pekerjaan rasul;"Siapakah yang lebih baik perkataannya
daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan
berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"[Fushilat
41;33]
Rasulullah bersabda; "Orang
yang paling tinggi kedudukannya disisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang
paling banyak berkeliling di muka bumi dengan memberi nasehat kepada
manusia" [HR. Thahawi]
4.Membawa du'at kepada kehidupan Rabbany
Da'wah membawa para da'i kepada kehidupan
Rabbany yaitu kehidupan yang penuh dengan nilai-nilai Ilahi, mereka tercelup
pada kehidupan yang islami sehingga kehidupannya jauh dari hal-hal yang negatif
dan tercela, mereka adalah orang-orang yang selalu mengajak orang kepada agama
Allah dan mereka adalah orang-orang yang selalu mengajar melalui pembinaan
terhadap mad'unya namun tidak lupa
belajar untuk kepentingan peningkatan kualitas diri dan keluarganya;"
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab,
hikmah dan kenabian, lalu dia Berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu
menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (Dia
berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu selalu
mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya" [Ali
Imran 3;79].
Yang dikatakan dengan Rabbani itu adalah orang
yang selalu mengajar dan selalu secara terus menerus belajar Al Qur'an; "Sebaik-baik
kamu adalah orang yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarinya" [HR.
Bukhari dan Muslim]
5.Membahagiakan hidup para pendukungnya
Orang yang hidup dalam
naungan da'wah islamiyah hidupnya akan tentram, jauh dari gundah gulana apalagi
stres sebagaimana yang difirman Allah dalam surat An Nahl 16;97"Barangsiapa
yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan
beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan
Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik
dari apa yang Telah mereka kerjakan"
Kebahagiaan hidup para
da'i terletak di hati, tidak akan dirasakan melainkan oleh orang-orang yang
terlibat di dalamnya.
Dakwah sebagai sebuah
panggilan jiwa, menjadi kewajiban setiap muslim.Mereka yang sadar terhadap
dakwah membutuhkan banyak pengorbanan besar. Tak hanya waktu, melainkan segenap
jiwa, harta dan potensi terbaik dirinya. Seorang pengusaha akan berdakwah
dengan hartanya. Da’i berjiwa penulis menginfakkan tulisan sebagai sumbangsih
mencerdaskan umat. Seorang khatib menggerakkan lisan untuk menyerukan dakwah
bil haq dari atas mimbar.
Terlepas apapun profesi seorang
da’i, dia tak menafikan kebutuhan harta. Seorang manusia berakal sehat
memerlukan harta sebagai lambang kecintaan duniawi. Tapi tidak bagi seorang
pendakwah, harta baginya adalah jalan menuju surga. Kita bisa belajar sejarah
sahabat Rasulullah saw bagaimana mereka menginfakkan hartanya. Utsman tak segan
berinfak 100 ekor unta. Abu Bakar ra mengambil keputusan “berani”. Beliau
menyerahkan semua hartanya kepada Rasulullah. Saking herannya, Rasulullah
menanyakan “Apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu?”. Beliau menjawab “ Allah
dan Rasulnya”. Umar sendiri tak ketinggalan menyerahkan sebagian harta demi
kepentingan jihad fisabilillah.
Miskinkah para sahabat? Tidak
bahkan sejarah mencatat kekayaan dinilai seujung kuku. Mushab Bin Umair
mencontohkan bagaimana harta tidak dapat membeli iman. Siapa menyangka, sosok
tampan dan hartawan mau meninggalkan kemewahan duniawi. Sentuhan iman dan Islam
melahirkan hidayah bagi perjalanan hidup Mushab. Usai mendengar keagungan
Islam, meluncur ucapan syahadat dari bibirnya. Sirnalah kemewahan harta,
dan jadilah Mushab jatuh miskin. Tapi kemiskinan tak melunturkan niatnya
berdakwah. Allah SWT mengangkat beliau sebagai duta besar muslim pertama untuk
mensyiarkan Islam.“Dan belanjakanlah
(harta benda kalian) di jalan Allah, dan janganlah kalian menjatuhkan diri
kalian sendiri dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang berbuat baik “ ( QS al-Baqarah (2) : 195)
Seorang da’i memotret harta
dalam sebuah ungkapan indah “Jangan engkau meletakkan harta di hatimu, tapi
letakkan harta di tanganmu”. Nilai prinsip ini menguatkan hati setiap muslim,
mereka diajarkan tidak mencintai harta berlebihan. Harta sebagai manifestasi
syukur kepada Allah bagaikan sebuah pisau tajam. Ketika digunakan dalam jalan
kebaikan, harta mengantarkan kita kepada surga Allah. Ketika dalam kejahatan,
harta menjadi bencana pengantar ke neraka. Sekarang tinggal bagaimana seorang
muslim khususnya da’i memandang harta di tangannya.[,cybersabili.Kamis, 04 November 2010 19:29 Eman
Mulyatman].
Kerja apa saja membutuhkan
dana yang tidak sedikit apalagi untuk mencapai sebuah kemenangan yaitu
kemenangan da’wah yang tidak hanya membutuhkan waktu satu generasi saja, bukan
pula hanya cukup dengan harta dari sekian dermawan tapi semua kita harus
menyediakan dana untuk itu, dengan bijak Hasan Al Banna mengajak para da’ untuk
berda’wah dengan harta sendiri, ungkapan itu menyatakan “Sunduquna juyubuna”.
Selain dana yang tidak sedikit yang dibutuhkan dalam da’wah, da’wah juga
membutuhkan para da’i yang militansinya luar biasa karena da’wah ini hanya
membutuhkan orang-orang yang siap bergelut dengan da’wah apapun kondisinya
seorang da’i dituntut untuk selalu tegar di jalan da’wah, suatu hal yang lumrah
bila terjadi hal-hal yang berkaitan dengan kejiwaan, yang penting seorang da’i
tetap dalam bingkai ukhuwah islamiyyah dan bimbingan para pemimpin da’wah.
Jalan dakwah ini pasti
dipenuhi dengan beragam kesulitan, hambatan, rintangan, tribulasi. Para
aktifisnya akan berhadapan dengan beragam mihnah,
sebagaimana para dai generasi sebelumnya sejak Rasulullah dan para sahabatnya,
tabi’in, tabiit tabi’in, dan seterusnya.
Di antara mihnah itu ada yang
berupa ejekan, gelombang fitnah, teror fisik, manisnya rayuan, tekanan
keluarga, keterbatasan ekonomi, kemapanan, sampai kekuasaan. Kader dakwah harus
tegar dalam menghadapi semua mihnah itu.
Agar tegar dalam menghadapi
ejekan, sadarilah bahwa ejekan kepada Rasulullah jauh lebih hebat; maka biarkan
saja semua orang mengejek, tidak perlu diladeni.
Agar tegar dalam menghadapi fitnah, tetaplah bekerja dan beramal maka umat akan
tahu siapa yang benar dan siapa yang tukang fitnah. Agar tegar dalam menghadapi
teror fisik, tawakallah kepada Allah dan berdoalah senantiasa, di samping
persiapan lain yang juga perlu dilakukan oleh struktur dakwah. Agar tegar dalam
menghadapi manisnya rayuan, jagalah keikhlasan dan senantiasa memperbarui niat,
waspada dan tetap bersama jamaah.
Agar tegar dalam menghadapi
tekanan keluarga, ketegasan harus diutamakan . Iman tidak bisa ditukar dengan
keluarga, jika memang itu pilihannya. Agar tegar dalam kondisi
kekurangan/keterbatasan ekonomi, bersabar adalah kuncinya. Kekuatan ukhuwah
sesama aktivis dakwah juga berperan penting untuk menjaga kita tetap tegar.
Agar tegar dalam kemapanan harus memiliki paradigma semakin banyak kekayaan,
semakin banyak kontribusi bagi dakwah. Maka yang diteladani adalah Utsman bin
Affan dan Abdurrahman bin Auf. Agar tegar di puncak kekuasaan, kelurusan
orientasi perjuangan, ketaatan pada manhaj dakwah Rasulullah dan keyakinan akan
janji-janji-Nya. Dan pada semua mihnah, kedekatan dengan
Allah dan tawakal kepada-Nya merupakan kunci utama agar tegar di jalan dakwah![Abu
Nida, Resensi Buku, Tegar di Jalan Dakwah, dakwatuna.com.13/12/2010 |
06 Muharram 1432 H].
Kemangan
da’wah tidaklah datang dengan sendirinya, dia harus diperjuangkan melalui kerja
yang nyata, pengerahan dana yang tidak sedikit, selain itu kemenangan da’wah
tidak terlepas dari amal-amal harian yang harus dikerjakan oleh para pendukung
da’wah ini.
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya
Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah
benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa, (yaitu) orang-orang yang jika Kami
teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang,
menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang
mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS al-Hajj: 40-41)
Ini adalah janji yang Allah
ungkapkan berulang kali. Di surat Muhammad, Allah bersabda:Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS Muhammad: 7)
Siapapun yang konsekuen
membela agama ini Allah member jaminan kemenangan. “Jika Allah menolong kamu,
Maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu
(tidak memberi pertolongan), Maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu
(selain) dari Allah sesudah itu? karena itu hendaklah kepada Allah saja
orang-orang mukmin bertawakkal.”
Ayat di atas adalah janji
Allah yang pasti terjadi. Hati yang beriman, jiwa yang penuh dengan cahaya
bashirah akan menangkap firman Allah ini sebagai jaminan yang pasti dipenuhi.
Tidak tersisa sedikitpun keraguan bahwa pembela agama Allah pasti akan
mendapatkan kemenangan.
Tapi ternyata Allah memberikan
criteria yang cukup spesifik. Sederhana dan jelas. Empat kriterianya:
mendirikan sholat, menunaikan zakat, memerintahkan kepada yang ma’ruf, dan
melarang dari yang munkar.[Fahmi Islam Jiwanto, MA ,Syarat Kemenangan Dalam Dakwah, Dakwatuna; 17/1/2008 |
07 Muharram 1429 H].
Adapun tugas utama seorang
da’i dalam rangka untuk meraih kemenangan da’wah itu selain tetap menjaga
integritas pribadinya juga menjaga saudara-saudaranya yang terlibat dalam
da’wah, ada tiga tugas penting yang harus dijalankan pada dai dalam kancah ma’rakah
da’wah (bisa dalam bentuk amal tabligh, siyasiyah
(politik) hingga ghazwah (perang)).
Pertama,
seorang kader penggerak dakwah harus punya tugas moral untuk menjadi penggerak
semua rekan-rekan seperjuangnya untuk mau berpartisipasi dalam pemenangan
dakwah. Ini dilakukan dengan membangkitkan orientasi perjuangan (ittijah
jihadiyah) sebagai bukti kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. “Hai
Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh
orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus
orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar di antaramu, mereka dapat
mengalahkan seribu dari orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu
kaum yang tidak mengerti.” (Al-Anfaal: 65)
Kedua,
seorang penggerak dakwah yang sejati senantiasa mengawal perjuangan rekan-rekan
seperjuangannya agar mampu menjaga syakhsiyah rabbaniyah,
sebagaimana telah ditempa sebelumnya dalam proses panjang tarbiyah. Ma’rakah
siyasiyah, sebagai contoh, adalah medan ujian bagi soliditas
kepribadian (matanah syakhsiyah) para
kader penggerak dakwah, sebagai medan aktualisasi nilai dan fikrah yang
diyakini kebenarannya, serta sebagai medan tarbiyah maydaniyah
(pendidikan lapangan) yang sangat berharga. “Hai orang-orang yang
beriman, apabila kamu memerangi pasukan musuh, maka berteguh hatilah kamu dan
sebutlah nama Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada
Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu
menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah
beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang
yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya kepada
manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah….” (Al-Anfaal:
45-47).
Ketiga,
seorang penggerak dakwah yang istiqomah akan selalu melakukan konsolidasi
kepribadian dan barisan dengan rekan-rekan seperjuangannya, baik ketika bersiap
maupun ketika kembali dari medan ma’rakah. Tidak bisa
dinafikan bahwa akan muncul masalah-masalah operasional (qadhaya
tathbiqiyah) yang menimpa sebagian jajaran kader dakwah sebagai
konsekuensi gesekan dan benturan di lapangan dakwah. Terutama ketika medan yang
mereka masuki adalah medan ma’rakahsiyasiyah yang penuh
fitnah. Karena itu, konsolidasi dan merapatkan barisan adalah solusi yang harus
senantiasa dilakukan; dan sarananya adalah kembali melakukan tarbiyah. “Tidak
sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang).
Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang
untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan
kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya (dari medan perang),
supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (At-Taubah: 122)
Inilah tiga tugas penting yang
harus dilakukan seorang kader penggeraka dakwah jika ingin memenangkan dakwah
di setiap medan ma’rakah. Tugas ini harus
dilakukan secara terus menerus. Dengan begitu, ia bisa menjadi kader penggerak
dakwah yang responsif secara cepat dan tepat kala dakwah membutuhkannya.[Tiga
Tugas Dai Dalam Memenangkan Dakwah, Tim dakwatuna.com,1/6/2008 | 26 Jumadil Awal 1429 H].
Kemenangan da’wah itu
sebenarnya sudah Nampak dengan realitas kehidupan manusia khususnya ummat islam
yang secara pribadi menyadari bahwa islam harus diamalkan secara kaffah, ada upaya
untuk menegakkan syariat Islam dalam rumah tangganya denganmeninggalkan segala
sesuatu yang berbau jahiliyyah, begitu juga di masyarakat sudah berkembang
kehidupan yang islami pada beberapa sector seperti kaum muslimah tidak
ragu-ragu lagi mengenakan pakaian jilbab dalam aktivitasnya, tersebarnya
ekonomi yang bergerak di bidang syariah dengan meninggalkan secara pasti
ekonomi ribawi, demikian pula halnya keterlibatan pemerintah dan penguasa untuk
mensosialisasikan kehidupan yang islami melalui pemberantasan korupsi walaupun
masih pada tatatan politis.
Karena da’wah
itu tidak seusia seorang da’i, perjalanannya masih panjang sehingga kemenangan
da’wah yang merupakan kemenangan islam mungkin tidak sampai disaksikan oleh
para da’i dan penyokong da’wah tapi yang sebenarnya kemenangan da’wah itu sudah
diperoleh para da’i dengan keterlibatannya dalam da’wah, wallahu a’lam. [Baloi Indah, 22 Ramadhan 1436.H/ 2015, Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam, Kepri]
PROFIL PENULIS
Penampilan
sederhana ini bernama Mukhlis yang dilahirkan di ujung Selatan Pulau
Sumatera yaitu Metro [Lampung Tengah] tanggal 3 April 1964
anak ketiga dari ayah bernama Sutan
Denak dan ibu Rosnidar dengan enam orang adik kakak yaitu Ernawati, Marsudi,
Erma, Septiyani, Mahdalena dan Adek Wahyuli, isteri bernama Yulismar S.Pd
[Ayang] dengan seorang anak wanita bernama Rani Ihsani Mukhlis, nama yang akrab
di kalangan teman dan sahabatnya adalah Mukhlis Denros. Kampung asalnya Kampani Barangan Selatan,
Nagari Lurah Ampalu, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak Kabupaten Padang
Pariaman, Sumatera Barat, dengan suku Koto, besar dan menempuh pendidikan di
Kota Lada Metro Lampung.
Pendidikan yang pernah ditempuhnya yaitu
SDN yang dimulai di SDN Koto Marapak [Kota Pariaman], ketika kelas IV dia harus
meninggalkan kampung bersama ayah dan ibunya menuju Metro, SD diselesaikannya
di SDN IV Metro, dilanjutkan ke SMP PGRI Metro, kemudian SMAN 135 Metro yang
dapat diselesaikan tahun 1984, tidak ada maksud untuk kuliah karena berbagai
faktor, berkat dorongan teman-teman dan gurunya terutama Ustadz Masnuni M.Ra'i,
Alfuadi Rusli, H. Muhammad Lazim, H. Fakhrudin, Sugito, Hayumi Rb,Hayumi Rf, H.
Rasyidin dan Malin Marajo di Masjid Al Jihad akhirnya tahun ini juga
melanjutkan kuliah di IAIN, inilah pendidikan terakhir yang ditempuhnya yaitu
Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Institut Agana Islam Negeri
[IAIN] Raden Intan Lampung di Metro
tamat tahun 1990. Ketika tamat kuliah dia harus meninggalkan Metro dan memulai
kiprahnya di Koto Baru Kabupaten Solok Sumatera Barat sebagai pendidik, dosen,
penulis, mubaligh hingga sebagai
politisi akhirnya.
Sejak di bangku SMA hingga tamat kuliah,
Mukhlis giat di OSIS Gema Al Qur'an AL
Jihad dan Remaja Masjid Al Jihad Metro
bersama teman-temannya Dody Sofial, Abul Fatrida, Yurnalis, M. Syafei,
Irza Murni, Gusnita, Herwina, Afrizal, Yohanes dan Rita Suryani, dikala kuliah
bergabung dengan HMI Cabang Metro bersama Ahmad Ridwan, Gatot Subroto, Sigit
Triyono, Syuhada', Raihan dan Usdek, mengikuti pengkaderan Basic Training di
Metro tahun 1985 dan Intermediate Training di Palembang tahun 1986 dan pernah
menjabat sebagai Sekretaris HMI Komisariat IAIN dan wakil sekretaris HMI Cabang
Metro.
Menjadi guru adalah cita-citanya sejak
awal dan hal itu telah terujud walaupun tidak sebagai PNS, pernah mengajar di
GAA dan SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah, mengajar di SMEA Budi Mulia Koto
Baru, MTsN Koto Baru Solok dan sebagai dosen PGTK Adzkia Padang, Aktivitas
sebagai pendidik ini dia tekuni sejak di bangku kuliah tahun 1984 sampai tahun
2000, kemudian aktif sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok utusan dari Partai
Keadilan/Partai Keadilan Sejahtera, selama dua periode 1999-2009. Di Solok
bersama teman-temannya yaitu Mahyeldi Ansharullah, Afrizal M Noor, Muhidi,
Nurfirmanwansyah, Johandrizon Syamsu, Ahmad Syafwan Nawawi, Firmansyah, Abdul Ghani,
Gustami Hidayat, Saifullah Salim,
Rudianto, Busril, Endrizal, Ismail Zain, Devi Herizon, Ilzan Sumarta, dan Helmi
Darlis merintis kegiatan da'wah sejak tahun 1990 di sekolah, kampus, dan
masjid-masjid melalui pesantren kilat, diskusi, ceramah dan khutbah sebagai
cikal bakal berdirinya Partai Keadilan ketika itu.
Tahun 1998 dikala Reformasi terjadi,
sekian partai berdiri untuk menyongsong Indonesia yang lebih demokratis setelah
lengsernya Soeharto kemudian dilanjutkan oleh BJ Habibie, berdiri pulalah
partai yang berbasiskan anak-anak muda kampus dengan kapasitas da'wah dan
tarbiyah, partai itu bernama Partai
Keadilan. Mukhlis diamanatkan oleh DPW PK Sumatera Barat sebagai ketua DPD PK
di Kabupaten Solok, pelantikan pengurus DPW dengan ketua Drs. Ahmad Syafwan
Nawawi dan DPD PK se Sumatera Barat dikukuhkan di Padang oleh DR. Nur Mahmudi
Ismail MSc sebagai Presiden Partai Keadilan pertama.
Dikala Partai Keadilan menjadi Partai Keadilan Sejahtera untuk kedua
kalinya Mukhlis Denros dipercaya sebagai ketua DPD di Kabupaten Solok dan
jabatan terakhir di partai dipercayakan kepadanya adalah sebagai Ketua Zona
Da'wah VII PKS Sumatera Barat hingga tahun 2007, yang membina DPD PKS Kota
Solok, Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan. Terlalu banyak pelajaran
dan pengalaman yang dia terima dari kegiatan da'wah dan partai bersama
teman-temannya
Mukhlis Denros, demikian akrab di sapa,
selain sebagai pendidik juga aktif berda’wah baik melalui ceramah, diskusi
agama, khutbah dan penyebaran tulisannya melalui Buletin Da’wah Garda Anak
Nagari serta media Nasional yang pernah memuat tulisannya seperti Majalah
Serial Khutbah Jum’at, Majalah Suara Masjid , Majalah Sabili, Majalah Tarbawi,
Majalah Ishlah, Majalah Reformasi Jakarta, Majalah Al Muslimun Bangil serta koran
Swadesi dan Sentana juga pernah memuat tulisannya yang sarat dengan pendidikan
dan nuansa islamnya, Media Mimbar Minang Padang selama bulan Ramadhan penuh
memuat tulisannya tiap hari terbit. Dia
tidak pernah membuang waktu dengan kegiatan yang tidak ada manfaatnya,
waktunya selalu terisi dengan aktivitas positif seperti membaca atau menulis
selain kegiatan harian lain.
Mukhlis
Denros Terima Penghargaan Sebagai Penulis Terbaik dari Media Suara Keadilan
Rakyat (SKR) , Minggu (15/12) di Gedung Pusat Kebudayaan kota
Sawahlunto.Penghargaan tersebut merupakan program Tabloit SKR yang selama ini
membentuk tim untuk melakukan penilaian terhadap sejumlah penulis dan tokoh di
Sumatera Barat dengan sejumlah kategori yang ditetapkan.
Penganugerahan sebagai Penulis Terbaik SKR Awards 2013
yang diberikan kepada Mukhlis Denros diserahkan oleh Wakil Wali Kota Sawah
Lunto yaitu Bapak Ismet SH, Mukhlis Denros dinilai sebagai penulis terbaik
karena konsistensinya dalam menulis berbagai pemikiran berkaitan dengan dakwah,
pendidikan dan politik yang telah melahirkan berbagai buku yang diterbitkan
oleh penerbit.
Mukhlis
Denros menerima berupa plakat dan piagam sebagai bentuk penghargaan atas
keberhasilannya menulis yang dinilai sebagai penulis terbaik, sebagaimana
penilaian TIM SKR yang terdiri dari Prof, Wil Chandry, Fadril Aziz Isaini dan
Prof,DR, H. Salmadanis, Mag.
Pada
malam penganugerahan SKR Awards 2013 tersebut
diserahkan 13 penghargaan dengan kategori berbeda kepada tokoh
lainnyayang dihadiri oleh Wawako Sawahlunto, Ismed, Pimpinan Serikat Perusahaan
Pers Pusat, Totok dan pendiiri Tabloit SKR, Riko Adiutama beserta sejumlah
tokoh Sumatera Barat lainnya.
Moto hidupnya sangat sederhana, agar
bermanfaat bagi orang lain dengan potensi yang dimiliki, semua itu hanya bisa
dilakukan dengan pendidikan yang
berkualitas. Dia menceritakan bahwa karena kegigihan orangtuanyalah untuk
mendidiknya dengan segala kesusahan dan derai air mata tapi akhirnya berhasil
mengantarkannya sebagai sarjana. Sebagai modal hidup di dunia ini,
sehingga dapat dikatakan tak bisa
membalas dan mengukur jasa orangtua yang telah mengantarkan kesuksesannya baik
memimpin partai maupun sebagai anggota
DPRD dalam dua periode ini. Bersama Partai Keadilan dan PPP Kota Solok tahun 2000 dia pernah dicalonkan
sebagai Wakil Wali Kota Solok yang berpasangan dengan Drs. Syukriadi Syukur.
Sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok
selama dua periode diembannya, dia tampil sebagai politisi yang kritis dan
bernas terhadap kebijakan Pemda dan Bupati yang tidak sesuai dengan kepentingan masyarat, diapun tidak
segan-segan menghantam anggota DPRD dikala mereka tidak aspiratif
[http://fraksi pks solok.blogspot.com].
Bersama ustadz
Mahyeldi Ansyarullah dalam gerakan da’wah dengan lembaga Al Madaniy di Padang
yang diawali tahun 1990, Mukhlis Denros banyak terlibat dalam berbagai kegiatan
da’wah seperti tahun 1994 pernah ke Palembang untuk mengikuti pertemuan da’i se
Jakarta dan Sumatera undangan dari Yayasan Bumi Andalas dan tahun 2000 Seminar
Nasional tentang Syari’ah di Medan yang diiringi dengan berbagai pertemuan
da'wah di Sumatera Barat ataupun di Jakarta, selain itu juga pernah selama 2
tahun sebagai da’i dari IIRO [Internasional islamic Relief Organisation] dan
kini sebagai anggota IKADI Solok yang juga memimpin yayasan Garda Anak Nagari
Sumatera Barat.
Organisasi lain yang
ikut dia tekuni selama di DPRD adalah sebagai Sekjen Majelis Ulama Indonesia
[MUI] Kabupaten Solok, sebagai Badan Pengawas Badan Amil Zakat Kabupaten Solok,
juga ikut membidani lahirnya beberapa lembaga da'wah berbentuk Yayasan di
Kabupaten Solok yang dikelola oleh teman-temannya seperti Yayasan Sinergi
Ummat, Yayasan Lukmanul Hakim, Yayasan Amanah Bunda, Yayasan Ahda Sabila,
Yayasan Nurul Haq, Yayasan Garda Anak Nagari dan Yayasan Selasih Solok.
Setelah dua periode
menyelesaikan tugas sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok, dalam mengisi
kegiatan hariannya Mukhlis Denros bersama isteri Yulismar S.Pd tinggal di
Nagari yang berbukit dan berlembah, yang sejuk dan asri, jauh dari kebisingan,
aman dan nyaman yaitu Jorong Cubadak Nagari Pianggu Kecamatan IX Koto Sungai
Lasi, Kabupaten Solok, Sumatera Barat tetap konsisten dengan kegiatan
sebelumnya yaitu da'wah dan menulis.
Sejak bulan Februari 2015, setelah enam tahun tinggal
di Cubadak Pianggu Kecamatan Sungai Lasi Kabupaten Solok Sumatera Barat, kini Mukhlis Denros menetap di Kota Batam
Kepri, turut berkiprah sebagai staf di Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Kota
Batam yang diketuai oleh Ibu Dra. Hj.
Helma Munaf, M.Pd dan bergabung pula dengan PMB [Persatuan Mubaligh Batam].
Di Batam, Mukhlis Denros dengan Pedro Johansis dan Mardison
mengembangkan Yayasan Garda Anak Nagari dengan membuka Garda Anak Nagari Provinsi Kepulauan Riau,
Insya Allah dalam waktu dekat akan membuka cabang Garda Anak Nagari di seluruh
Kabupaten dan Kota di Provinsi Kepulauan
Riau, semoga hal itu terujud.
DATA PRIBADI
Nama Lengkap : Drs. St. Mukhlis Denros
Tempat dan Tanggal Lahir : Metro, 3 April 1964
Jumlah bersaudara : Anak ke 3 dari 7 orang
Nama Ayah : Sutan Denak
Nama Ibu : Rosnidar
Nama Isteri : Yulismar, S.Pd
Nama Anak : Rani Ihsani Mukhlis
RIWAYAT PENDIDIKAN
1.
SDN 4 Metro
Lampung, tamat tahun 1975
2.
SMP PGRI Metro
Lampung, tamat tahun 1981
3.
SMAN 135 Metro
Lampung, tamat tahun 1984
4.
Gema Al Qur'an Al
Jihad Metro tamat tahun 1988
5.
Sarjana Muda
Tarbiyah IAIN Raden Intan Lampung, tahun
1988
6.
Sarjana Tarbiyah
IAIN Raden Intan Lampung tamat tahun 1990
PENGALAMAN ORGANISASI
1.
Ketua Osis GAA Metro Lampung Tengah 1987-1989
2.
Sekum IRM Al Jihad Metro Lampung Tengah 1986-1988
3.
Wakil Sekretaris HMI Cab. Metro Lampung Tengah 1985-1990
4.
Sekjen
Majelis Ulama Indonesia [MUI}
Kab. Solok 2005/2006
5.
Anggota Pengawas BAZ
Kabupaten Solok 2006
6.
Anggota IKADI (Ikatan Da’i Indonesia)
Kabupaten Solok
7.
Da'i
IIRO [International Islamic Relief Org.] Sumbar 1995-1997
8.
Ketua Yayasan
Garda Anak Nagari Sumatera Barat
9.
Ketua Pembina Yayasan Selasih Kabupaten Solok
10.
Ketua Pembina Yayasan Lukmanul Hakim Kota
Solok
11.
.Ketua Yayasan Garda Anak Nagari Kab.Solok
2000-2005
12.
Pembina Yayasan Sinergi Ummat Kota Solok
13.
Pembina Yayasan Amanah Bunda Kabupaten Solok
PENGALAMAN
PROFESI
1.
Guru SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah
1988-1990
2.
Guru GAA Metro Lampung Tengah 1988-1990
3.
Guru MTsN Koto Baru Kabupaten Solok 1997-1999
4.
Guru SMK Budi Mulia Koto Baru Kab. Solok
1991-2000
5.
Dosen PGTK Adzkia Kota Padang 1994-2000
6.
Anggota
DPRD Kabupaten Solok Periode
1999-2004
7.
Anggota DPRD Kabupaten Solok Periode 2004-2009
8.
Staff Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam,
2015-
PERJALANAN
DA'WAH
1.
Maperca dan Basic Training HMI Cabang Metro
1985
2.
Intermediate Training HMI di Palembang 1986
3.
Latihan Pers Mahasiswa IAIN di Tanjung Karang
1986
4.
Tarbiyyah Islamiyyah di Sumatera Barat
1990-1994
5.
Muzakarah Du'at se Sumatera /Jakarta di
Sumatera Selatan 1994
6.
Muzakarah Du'at se Sumatera/Jakarta di Sumatera Selatan 1996
7.
Muzakarah Du'at se Sumatera/ Jakarta di Bukit Tinggi 1998
8.
Muzakarah Manajemen Zakat, IMZ Jakarta 2002
9.
Seminar Syari'ah Nasional di Medan Sumatera
Utara 2000
10.
Pertemuan Anggota DPRD se Indonesia di Jakarta 2000
11.
Pertemuan Anggota DPRD se Indonesia di Bogor 2002
12.
Pertemuan da'i IIRO se Indonesia di Jakarta 2000
13.
Silaturrahmi Nasional Anggota Legislatif di
Jakarta 2005
BUKU YANG
TELAH DITERBITKAN
1.
Fikih Wanita, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
2.
Tarbiyatul Aulad, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
3.
Kumpulan Ceramah Praktis, Nurul Haq, 2010
4.
Renungan Ramadhan, Pustaka Setia Bandung, 2011
5.
Memanusiakan Manusia, Qibla Jakarta, 2011
6.
Kumpulan Khutbah Jum’at, Pustaka Setia Bandung, 2011
7.
Khutbah Jum’at, Janji Allah dan Upaya Meraihnya, Arkola
Surabaya, 2011
8.
Khutbah Jum’at Penyejuk Hati, Pustaka Albana Jogjakarta,
2012
9.
Andai Aku Tahu Dosa Itu Ada, FAM Publishing Kediri, Jawa
Timur, 2012
10.
Kumpulan Khutbah Jum’at Terbaik, Mutiara Media, Jogjakarta, 2013
11.
Man Rabbuka, Al Barokah, Jogjakarta, 2014
12.
Ensiklopedi Penulis Indonesia Jilid I, FAM Publishing Kediri,2014
13.
Kumpulan Khutbah Pengobat Hati, Mutiara Media, Jogjakarta, 2014
PUBLIKASI
TULISAN DI MEDIA
1.
Majalah Serial Khutbah Jum'at, Jakarta
2.
Majalah Suara Masjid, Jakarta
3.
Majalah Ishlah, Jakarta
4.
Majalah Reformasi, Jakarta
5.
Majalah Al Muslimun, Bangil
6.
Majalah Sabili, Jakarta
7.
Majalah Tarbawi, Jakarta
8.
Majalah Muamalat, Jakarta
9.
Majalah Kiblat, Jakarta
10.
Majalah Harmonis, Jakarta
11.
Majalah Estafet, Jakarta
12.
Majalah Sakinah, Jakarta
13.
Harian Serambi Minang, Padang
14.
Harian Semangat, Padang
15.
Harian Mimbar Minang, Padang
16.
Harian Singgalang, Padang
17.
Tabloid Sumbar Post, Padang
18.
Tabloid Zaman, Padang
19.
Tabloid Solinda, Kabupaten Solok
20.
Tabloid Lentera, Padang
21.
Tabloid Suara Keadilan Rakyat, Sawahlunto
22.
Tabloid, Media Islam Batam
23.
Tabloid Dyi’ar Islam Batam
24.
Buletin DPW PKS Sumatera Barat, Padang
25.
Buletin Riswan, Koto Baru Kabupaten Solok
26.
Buletin Da'wah Masjid Al Furqan Kota Solok
27.
Buletin Da'wah Garda Anak Nagari Kabupaten
Solok
28.
Buletin Da'wah Sebening Embun Solok
29.
Buletin Da'wah Selasih Solok
30.
Mingguan Suara Rakyat, Solok
31.
Mingguan Bijak, Padang
32.
Mingguan Swadesi, Jakarta
33.
Mingguan Sentana, Jakarta
34.
Mingguan Raden Intan Pos, IAIN Lampung
35.
Pariaman Post, Sumatera Barat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar