RAMADHAN DAN ISTIDRAJ
Drs.St.Mukhlis Denros
Ramadhan adalah bulan
pendidikan,banyak bidang pendidikan yang diajarkan di dalamnya. Memang puasa
itu diwajibkan kepada setiap muslim yang mukmin, tapi bagi mereka yang masih
kecil atau anak dan remaja mereka manjadikan puasa sebagai sarana latihan, dilakukan pendidikan puasa secara bertahap. Begitu juga
dakwah harus dilakukan secara bertahap sesuai dengan akal, ilmu dan kemampuan
seseorang. Walaupun Ramadhan membuka peluang untuk mencapai derajat taqwa,
namun fase muslim, mukmin, muhsin dan mukhlis harus dilalui secara bertahap.
Kegiatan
da’wah bukan hanya sebatas penyampaian materi dakwah dalam ceramah dan khutbah,
da’wah itu jangkauan luas dari pada sebatas itu, begitu juga halnya orang yang
mengemban da’wah bukanlah sembarang orang tapi orang-orang pilihan yang dilalui
dari berbagai training dan pengkaderan walaupun secara umum da’wah itumemang
diwajibkan kepada setiap muslim.
Semua
umat Islam sepakat bahwa dakwah adalah amalan yang disyariatkan dan masuk
kategori fardhu kifayah. Tidak boleh kategori diabaikan, diacuhkan, dan
dikurangi bobot kewajibannya. Hal itu disebabkan terdapat banyak perintah dalam
Al-Qur’an dan As Sunah untuk berdakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar, seperti
firman Allah “Dan hendaklah ada di antara
kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan kepada yang
ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (Ali Imran:104).
Ayat
ini bersifat umum dan merupakan kewajiban atas setiap individu untuk
melaksanakannya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Huruf (من) disitu berarti penjelas. Kalau menjadi penjelas maknanya
jadilah kamu wahai kaum mukminin sebagai umat yang menyeru kepada kebaikan,
menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar (lihat Jami’ul
Bayan oleh At-Thabary 4/26). Atau sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hafizh
Ibnu Katsir, maksud dari ayat ini adalah jadilah kamu sekelompok orang dari
umat yang melaksanakan kewajiban dakwah. Kewajiban ini wajib atas setiap
muslim, sebagaimana hadits shohih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim
dari Abu Hurairah, telah bersabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam , “Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka
hendaklah ia mengubah dengan tangannya, kalau tidak mampu, hendaklah mengubah
dengan lisannya, kalau tidak mampu hendaklah mengubah dengan hatinya, dan
itulah selemah-lemah iman.” Dan pada riwayat lain, “Dan setelah itu tidak ada iman sedikitpun
Dakwah Ilallah merupakan kewajiban
yang disyari’atkan dan menjadi tanggung jawab yang harus dipikul kaum muslimin
seluruhnya. Artinya setiap muslim dituntut untuk berdakwah sesuai kemampuannya
dan peluang yang dimilikinya. Oleh sebab itu wajiblah bagi kita untuk semangat
berpartisipasi dalam berdakwah menyebarkan Islam ke mana saja dan di mana saja
kita berada. [Muh. Ubaidillah Al-Ghifary, Kewajiban Kita BerpartisipasiDalam DakwahIlallah, www.alsofwah.or.id/khutbah].
Sebagai
muslim, apapun pekerjaan yang diembannya, dia bisa menjadikan dakwah sebagai
pekerjaan utamanya, dokter adalah pekerjaan tapi dengan dakwah pekerjaan
dokternya akan lebih baik lagi karena tugas sebagai dokter dilakukan dengan
penuh tanggungjawab yang dilandasi dengan nilai-nilai islam, demikian pula
dengan pekerjaan lainnya sehingga jangan heran bila seorang ulama, da’i, kiyai
dan mubaligh yang berhasil menjadi anggota dewan dia akan memeran da’wah di
Parlemen sesuai dengan kapasitasnya, tapi yang jelas dimana saja seorang da’i
berada maka harus mempersiapkan dirinya terutama ruhiyyah sebelum da’wah
digelar. Pentingnya ruhiyyah bagi seorang da’I diungkapkan oleh Dr. Attabiq Luthfi, MA di bawah ini;
Ruhiyah adalah bekal yang
terbaik bagi setiap muslim, terutama bagi seorang da’i. Ruhiyah inilah yang
akan memotivasi, menggerakkan dan kemudian menilai setiap perbuatan yang
dilakukannya.. Keberadaan ruhiyah yang baik dan stabil menentukan kualitas
sukses hidup seseorang, demikian juga dengan dakwah. Sangat tepat ungkapan yang
menyatakan, “Ar-Ruhiyah qablad dakwah kama Annal Ilma qablal qauli wal amal”.
Ungkapan ini merupakan “iqtibas” dari salah satu judul bab dalam kitab shahih
Al-Bukhari, “Berilmu sebelum berbicara dan beramal, demikian juga memiliki
ruhiyah yang baik sebelum berdakwah dan berjuang”.
Dalam konteks dakwah, menjaga
dan mempertahankan ruhiyah harus senantiasa dilakukan sebelum beranjak ke medan
dakwah, sehingga sangat ironis jika seseorang berdakwah tanpa mempersiapkan
bekal ruhiyah yang maksimal, bisa jadi dakwahnya akan ”hambar” seperti juga
ruhiyahnya yang sedang ”kering”. Allah swt berfirman, “Hai orang-orang yang
beriman, ruku’lah kalian bersama-sama, sujudlah dan sembahlah Tuhanmu, kemudian
lakukanlah amal kebaikan, dan berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad”.
(Al-Hajj: 77-78)
Menurut susunannya, ayat di
atas memuat perintah Allah kepada orang-orang yang beriman berdasarkan skala
prioritas; diawali dengan perintah menjaga dan memperbaiki kualitas ruhiyah
yang tercermin dalam tiga perintah Allah: ruku’, sujud dan ibadah, kemudian
diiringi dengan implementasi dari ruhiyah tersebut dalam bentuk amal dan jihad
yang benar. Yang diharapkan dari menjalankan perintah ayat ini sesuai dengan
urutannya adalah agar kalian meraih kemenangan dan keberuntungan dalam seluruh
aspek kehidupan, terlebih urusan yang kental dengan ruhiyah yaitu dakwah.
Tentunya susunan ayat Al-Qur’an yang demikian bijak dan tepat bukan semata-mata
hanya memenuhi aspek keindahan bahasa atau ketepatan makna, namun lebih dari
itu, terdapat hikmah yang layak untuk digali karena susunan ayat atau surah
dalam Al-Qur’an memang bersifat “tauqifiy” (berdasarkan wahyu, bukan ijtihad).
Peri pentingnya ruhiyah dalam
dakwah dapat dipahami juga dari sejarah turunnya surah Al-Muzzammil. Surah ini
secara hukum dapat dibagikan menjadi dua kelompok; kelompok yang pertama dari
awal surah hingga ayat 19 yang berisi instruksi kewajiban shalat malam dan
kelompok kedua yang berisi rukhshah dalam hukum qiyamul lail menjadi sunnah
mu’akkadah, yaitu pada ayat yang terakhir, ayat 20. Bisa dibayangkan satu tahun
lamanya generasi terbaik dari umat ini melaksanakan kewajiban qiyamul lail
layaknya sholat lima waktu semata-mata untuk mengisi dan memperkuat ruhiyah
mereka sebelun segala sesuatunya. Baru di tahun berikutnya turun rukhshah dalam
menjalankan sholat malam yang merupakan inti dari aktivitas memperkuat ruhiyah.
Hal ini dilakukan, karena mereka memang dipersiapkan untuk mengemban amanah
dakwah yang cukup berat dan berkesinambungan.[Ruhiyah, Bekal Berdakwah, Dakwatuna;
18/4/2007 | 01 Rabiuts Tsani 1428 H].
Keringnya ruhiyyah seseorang
akan mempengaruhi dirinya yang tentu saja juga akan mempengaruhi kerja dan
hasil da’wah, da’i yang ruhiyyahnya tidak terjaga dengan baik akan diserang
oleh berbagai penyakit diantaranya penyakit isti’na yaitu merasa tinggi atau
merasa lebih dari orang lain, isti’jal yaitu sikap terburu-buru. Padahal da’wah
itu melalui proses yang panjang namun pasti yang kita kenal dengan nama
istidraj atau tadaruj.
tadarruj bermakna:
bertahap. Sebagian yang lain mengatakan: sedikit demi sedikit. Yang lainnya
lagi mengatakan: gradual. Dan ada juga yang mengatakan: langkah demi
langkah.
“Bertahap” maksudnya adalah
kalau kita hendak menyelesaikan suatu perjalanan panjang, maka kita akan
membagi perjalanan panjang tersebut dalam beberapa tahapan, dan untuk mencapai
tujuan akhir dari perjalanan, kita harus melewati semua tahapan yang ada. Pada
setiap tahapan tersebut mungkin kita rehat, makan, shalat dan sebagainya,
istilahnya adalah tazawwud (menambah perbekalan) agar mampu melanjutkan
perjalanan pada tahapan berikutnya. Kendaraan kita pun perlu mendapatkan
perlakukan yang sama.
“Sedikit demi sedikit”
ibaratnya seperti makan sepiring nasi. Tentunya tidak kita telan sekaligus,
tetapi, kita makan sesuap demi sesuap, kita kunyah dengan baik suapan itu, baru
kita menelannya. Ambil lagi suapan ke dua, ketiga, keempat dan seterusnya.
Begini penjelasan dari yang lainnya.
“gradual” itu istilah Inggris,
maksudnya adalah menyelesaikan sesuatu grad demi grad, langkah demi langkah,
tahap demi tahap.
“Jadi, kata tadarruj paling tidak
menggambarkan dua hal sekaligus, yaitu:
1. Gambaran dari ‘tahapan’ atau
‘sedikit demi sedikit’ atau ‘gradual’ atau ‘langkah demi langkah’ di satu sisi,
dan
2. Suasana jalan yang menanjak
dari bawah ke atas sebagaimana tanjakan sebuah tangga yang terdiri dari
beberapa anak tangga”.
“Perlu juga kita ketahui, ada
bermacam-macam tangga yang pernah kita temui; ada tangga sebuah bangunan yang
antara anak tangga satu ke anak tangga dua menggunakan ukuran standard, yaitu
15 cm, sehingga siapa pun yang menaiki tangga standard ini akan merasakan
kenyamanan. Namun ada juga yang tidak standard, mungkin bisa 25 sampai 30
centimeter, sehingga untuk menaikinya kita perlu mengangkat kaki tinggi-tinggi,
sehingga membuat kita cepat lelah dan kecapekan”.
“Ada juga yang dalam membuat
lebar anak tangganya standard, sehingga satu anak tangga cukup dengan satu
ayunan langkah kaki, namun ada juga yang dalam membuat lebar anak tangga tidak
standard, sehingga untuk menyelesaikan satu anak tangga diperlukan dua
langkah”.
Kerja-kerja dakwah itu mirip
dengan menaiki tangga, sehingga sangat tepat kalau ada istilah tadarruj ini.
Namun, paling tidak ada dua hal yang perlu
dijelaskan di sini, yaitu:
1. Tadarruj dalam dakwah bukanlah
tadarruj yang bersifat fisik. Ia adalah sesuatu yang bersifat ma’nawi atau non
fisik. Oleh karena itu, ia tidak bersifat kasat mata yang semua orang dengan
mudah dapat mengukur dan menilainya. Untuk membuat dan mengukurnya diperlukan
sudut pandang (nazhrah) yang akurat dari orang-orang yang berpengalaman
(khabir). Dan kalau hal ini dilakukan melalui ijtihad jama’i akan semakin baik.
2. Bisa dipastikan bahwa bahasa
‘target’ pada setiap darajah pastilah berbeda. Sekedar contoh; kalau tadarruj
yang kita maksud terdiri dari lima darajah, dan pada darajah kelima – misalnya
– adalah: ‘tercapainya pembentukan 5 kelas untuk setiap tingkatan pendidikan
SLTA’, bisa dipastikan bahwa pada darajah (anak tangga 1) tentulah ‘target’-nya
tidaklah demikian. Dan sudah tentu juga bahasa khithab (wacana) pada darajah 1
pastilah tidak sama dengan darajah 2, 3, 4 dan 5.[Musyafa Ahmad Rahim, Lc,Makna Tadarruj,Dakwatuna.com.27/7/2011 | 26 Sya'ban 1432
H].
Ketika
datang dua orang pada waktu berbeda, mereka adalah Arab Baduy, sengaja kepada Rasulullah menyatakan diri untuk masuk
Islam. Orang pertama Rasul menyatakan bahwa ucapkan syahadat saja dan pulanglah
karena engkau sudah islam, orang yang kedua setelah bersyahadat diberikan oleh
Rasulullah sebilah pedang, agar besok berangkat ke medan jihad, kedua orang itu
sama-sama masuk islam tapi penanganannya jauh berbeda, karena Rasul mengetahui
kualitas kedua orang itu.
Melakukan
tugas apalagi yang berkaitan dengan da’wah harus melalui tahap-tahap tertentu,
tidak boleh tergesa-gesa, melalui proses yang alami, hal ini disebut dengan
professional, da’wah yang professional adalah da’wah yang dilakukan dengan
ihsan dan itqan [baik dan rapi]. Dr. Attabiq Luthfi, MA mengomentari tentang da’wah yang professional itu dalam
tulisannya di bawah ini;
Seorang yang
profesional adalah seorang yang tekun, sabar dan tahan godaan, senantiasa
dinamis dan mencari kreatifitas baru dalam berdakwah, karena memang ia tidak
akan pernah setuju dan rela jika dakwah ini vakum, berjalan di tempat dan tidak
mendapat tempat di hati umat. Contoh paling fenomenal adalah nabi Nuh as.
Ditengah penolakan kaumnya, ia tetap mencari terobosan baru dalam berdakwah
agar keberlangsungan dakwah bisa dipertahankan. Ia tetap komit dan tegar,
bahkan mencari alternatif sarana dakwah yang beragam sesuai dengan kondisi dan
tuntutan kaumnya: “Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru
kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari
kebenaran)…… Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman)
dengan cara terang-terangan kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi)
dengan terang-terangan dan dengan diam-diam”. (Nuh: 5-9).
Disinilah profesionalitas kita
akan terus diuji dengan beragam ujian sehingga akan lahir kaliber manusia yang
diabadikan oleh Allah sebagai kelompok yang tetap tegar dan jujur dalam dakwah
mereka, “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa
yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur.
Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah
(janjinya)”. (Al-Ahzab: 23). Inilah prinsip yang senatiasa dipegang oleh para
pendahulu dakwah, karena mereka yakin bahwa kecintaan Allah hAnya akan
dianugerahkan kepada mereka yang beramal dengan tulus, cerdas, tuntas dan
serius. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah cinta jika hambaNya
beramal dengan itqan”. Itqan dalam arti berbuat lebih banyak, lebih bermutu dan
berkualitas dari umumnya orang mampu berbuat dan bekerja, seperti yang Allah
gambarkan tentang kelompok manusia muhsin yang mampu beramal, lebih tinggi di
atas rata-rata kebanyakan manusia sanggup beramal. “Sesungguhnya mereka sebelum
itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat dengan ihsan. Di dunia mereka
sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi
sebelum fajar”. (Adz-Dzariyat: 16-18)
Ruang dakwah ke depan memang
akan menuntut lebih profesionalisme kita dalam konteks “keilmuan” yang bisa
dipertanggungjawabkan (bashirah) sehingga dakwah citra dakwah ini akan tetap
baik seiring dengan permasalahan dan perkembangan dunia global yang lebih
menantang. Mari ciptakan suasana ilmiyyah yang merupakan komponen dasar dari
profesionalitas dalam dakwah kita [ Profesionalisme Dalam Dakwah, Dakwatuna.com;
5/2/2008 | 26 Muharram 1429 H].
Karena kerja
da’wah ini sudah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya maka
selayaknya kita mengikuti manhaj da’wah Rasulullah kalau mau hasil yang kira
peroleh sebagaimana kualitas di masa da’wah beliau, karena kerja da’wah adalah
milik Allah yang diembankan-Nya kepada kita sebagai seorang muslim maka kita
hanya dituntut untuk bekerja sesuai dengan sunnah Rasul dan Sunnatullah maka
hasilnya kelak akan kita lihat dan balasannya juga akan kita peroleh sesuai
dengan kadar iman dan keikhlasan kita dalam berbuat, berbuatlah karena Allah,
Rasul dan orang-orang beriman akan menyaksikan apa yang sudah kita kerjakan, wallahu
a’lam. [Baloi Indah, 18 Ramadhan 1436.H/2015, Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam, Kepri]
PROFIL PENULIS
Penampilan
sederhana ini bernama Mukhlis yang dilahirkan di ujung Selatan Pulau
Sumatera yaitu Metro [Lampung Tengah] tanggal 3 April 1964
anak ketiga dari ayah bernama Sutan
Denak dan ibu Rosnidar dengan enam orang adik kakak yaitu Ernawati, Marsudi,
Erma, Septiyani, Mahdalena dan Adek Wahyuli, isteri bernama Yulismar S.Pd
[Ayang] dengan seorang anak wanita bernama Rani Ihsani Mukhlis, nama yang akrab
di kalangan teman dan sahabatnya adalah Mukhlis Denros. Kampung asalnya Kampani Barangan Selatan,
Nagari Lurah Ampalu, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak Kabupaten Padang
Pariaman, Sumatera Barat, dengan suku Koto, besar dan menempuh pendidikan di
Kota Lada Metro Lampung.
Pendidikan yang pernah ditempuhnya yaitu
SDN yang dimulai di SDN Koto Marapak [Kota Pariaman], ketika kelas IV dia harus
meninggalkan kampung bersama ayah dan ibunya menuju Metro, SD diselesaikannya
di SDN IV Metro, dilanjutkan ke SMP PGRI Metro, kemudian SMAN 135 Metro yang
dapat diselesaikan tahun 1984, tidak ada maksud untuk kuliah karena berbagai
faktor, berkat dorongan teman-teman dan gurunya terutama Ustadz Masnuni M.Ra'i,
Alfuadi Rusli, H. Muhammad Lazim, H. Fakhrudin, Sugito, Hayumi Rb,Hayumi Rf, H.
Rasyidin dan Malin Marajo di Masjid Al Jihad akhirnya tahun ini juga
melanjutkan kuliah di IAIN, inilah pendidikan terakhir yang ditempuhnya yaitu
Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Institut Agana Islam Negeri
[IAIN] Raden Intan Lampung di Metro
tamat tahun 1990. Ketika tamat kuliah dia harus meninggalkan Metro dan memulai
kiprahnya di Koto Baru Kabupaten Solok Sumatera Barat sebagai pendidik, dosen,
penulis, mubaligh hingga sebagai
politisi akhirnya.
Sejak di bangku SMA hingga tamat kuliah,
Mukhlis giat di OSIS Gema Al Qur'an AL
Jihad dan Remaja Masjid Al Jihad Metro
bersama teman-temannya Dody Sofial, Abul Fatrida, Yurnalis, M. Syafei,
Irza Murni, Gusnita, Herwina, Afrizal, Yohanes dan Rita Suryani, dikala kuliah
bergabung dengan HMI Cabang Metro bersama Ahmad Ridwan, Gatot Subroto, Sigit
Triyono, Syuhada', Raihan dan Usdek, mengikuti pengkaderan Basic Training di
Metro tahun 1985 dan Intermediate Training di Palembang tahun 1986 dan pernah
menjabat sebagai Sekretaris HMI Komisariat IAIN dan wakil sekretaris HMI Cabang
Metro.
Menjadi guru adalah cita-citanya sejak
awal dan hal itu telah terujud walaupun tidak sebagai PNS, pernah mengajar di
GAA dan SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah, mengajar di SMEA Budi Mulia Koto
Baru, MTsN Koto Baru Solok dan sebagai dosen PGTK Adzkia Padang, Aktivitas
sebagai pendidik ini dia tekuni sejak di bangku kuliah tahun 1984 sampai tahun
2000, kemudian aktif sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok utusan dari Partai
Keadilan/Partai Keadilan Sejahtera, selama dua periode 1999-2009. Di Solok
bersama teman-temannya yaitu Mahyeldi Ansharullah, Afrizal M Noor, Muhidi,
Nurfirmanwansyah, Johandrizon Syamsu, Ahmad Syafwan Nawawi, Firmansyah, Abdul Ghani,
Gustami Hidayat, Saifullah Salim,
Rudianto, Busril, Endrizal, Ismail Zain, Devi Herizon, Ilzan Sumarta, dan Helmi
Darlis merintis kegiatan da'wah sejak tahun 1990 di sekolah, kampus, dan
masjid-masjid melalui pesantren kilat, diskusi, ceramah dan khutbah sebagai
cikal bakal berdirinya Partai Keadilan ketika itu.
Tahun 1998 dikala Reformasi terjadi,
sekian partai berdiri untuk menyongsong Indonesia yang lebih demokratis setelah
lengsernya Soeharto kemudian dilanjutkan oleh BJ Habibie, berdiri pulalah
partai yang berbasiskan anak-anak muda kampus dengan kapasitas da'wah dan
tarbiyah, partai itu bernama Partai
Keadilan. Mukhlis diamanatkan oleh DPW PK Sumatera Barat sebagai ketua DPD PK
di Kabupaten Solok, pelantikan pengurus DPW dengan ketua Drs. Ahmad Syafwan
Nawawi dan DPD PK se Sumatera Barat dikukuhkan di Padang oleh DR. Nur Mahmudi
Ismail MSc sebagai Presiden Partai Keadilan pertama.
Dikala Partai Keadilan menjadi Partai Keadilan Sejahtera untuk kedua
kalinya Mukhlis Denros dipercaya sebagai ketua DPD di Kabupaten Solok dan
jabatan terakhir di partai dipercayakan kepadanya adalah sebagai Ketua Zona
Da'wah VII PKS Sumatera Barat hingga tahun 2007, yang membina DPD PKS Kota
Solok, Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan. Terlalu banyak pelajaran
dan pengalaman yang dia terima dari kegiatan da'wah dan partai bersama
teman-temannya
Mukhlis Denros, demikian akrab di sapa,
selain sebagai pendidik juga aktif berda’wah baik melalui ceramah, diskusi
agama, khutbah dan penyebaran tulisannya melalui Buletin Da’wah Garda Anak
Nagari serta media Nasional yang pernah memuat tulisannya seperti Majalah
Serial Khutbah Jum’at, Majalah Suara Masjid , Majalah Sabili, Majalah Tarbawi,
Majalah Ishlah, Majalah Reformasi Jakarta, Majalah Al Muslimun Bangil serta koran
Swadesi dan Sentana juga pernah memuat tulisannya yang sarat dengan pendidikan
dan nuansa islamnya, Media Mimbar Minang Padang selama bulan Ramadhan penuh
memuat tulisannya tiap hari terbit. Dia
tidak pernah membuang waktu dengan kegiatan yang tidak ada manfaatnya,
waktunya selalu terisi dengan aktivitas positif seperti membaca atau menulis
selain kegiatan harian lain.
Mukhlis
Denros Terima Penghargaan Sebagai Penulis Terbaik dari Media Suara Keadilan
Rakyat (SKR) , Minggu (15/12) di Gedung Pusat Kebudayaan kota
Sawahlunto.Penghargaan tersebut merupakan program Tabloit SKR yang selama ini
membentuk tim untuk melakukan penilaian terhadap sejumlah penulis dan tokoh di
Sumatera Barat dengan sejumlah kategori yang ditetapkan.
Penganugerahan sebagai Penulis Terbaik SKR Awards 2013
yang diberikan kepada Mukhlis Denros diserahkan oleh Wakil Wali Kota Sawah
Lunto yaitu Bapak Ismet SH, Mukhlis Denros dinilai sebagai penulis terbaik
karena konsistensinya dalam menulis berbagai pemikiran berkaitan dengan dakwah,
pendidikan dan politik yang telah melahirkan berbagai buku yang diterbitkan
oleh penerbit.
Mukhlis
Denros menerima berupa plakat dan piagam sebagai bentuk penghargaan atas
keberhasilannya menulis yang dinilai sebagai penulis terbaik, sebagaimana
penilaian TIM SKR yang terdiri dari Prof, Wil Chandry, Fadril Aziz Isaini dan
Prof,DR, H. Salmadanis, Mag.
Pada
malam penganugerahan SKR Awards 2013 tersebut
diserahkan 13 penghargaan dengan kategori berbeda kepada tokoh
lainnyayang dihadiri oleh Wawako Sawahlunto, Ismed, Pimpinan Serikat Perusahaan
Pers Pusat, Totok dan pendiiri Tabloit SKR, Riko Adiutama beserta sejumlah
tokoh Sumatera Barat lainnya.
Moto hidupnya sangat sederhana, agar
bermanfaat bagi orang lain dengan potensi yang dimiliki, semua itu hanya bisa
dilakukan dengan pendidikan yang
berkualitas. Dia menceritakan bahwa karena kegigihan orangtuanyalah untuk
mendidiknya dengan segala kesusahan dan derai air mata tapi akhirnya berhasil
mengantarkannya sebagai sarjana. Sebagai modal hidup di dunia ini,
sehingga dapat dikatakan tak bisa
membalas dan mengukur jasa orangtua yang telah mengantarkan kesuksesannya baik
memimpin partai maupun sebagai anggota
DPRD dalam dua periode ini. Bersama Partai Keadilan dan PPP Kota Solok tahun 2000 dia pernah dicalonkan
sebagai Wakil Wali Kota Solok yang berpasangan dengan Drs. Syukriadi Syukur.
Sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok
selama dua periode diembannya, dia tampil sebagai politisi yang kritis dan
bernas terhadap kebijakan Pemda dan Bupati yang tidak sesuai dengan kepentingan masyarat, diapun tidak
segan-segan menghantam anggota DPRD dikala mereka tidak aspiratif
[http://fraksi pks solok.blogspot.com].
Bersama ustadz
Mahyeldi Ansyarullah dalam gerakan da’wah dengan lembaga Al Madaniy di Padang
yang diawali tahun 1990, Mukhlis Denros banyak terlibat dalam berbagai kegiatan
da’wah seperti tahun 1994 pernah ke Palembang untuk mengikuti pertemuan da’i se
Jakarta dan Sumatera undangan dari Yayasan Bumi Andalas dan tahun 2000 Seminar
Nasional tentang Syari’ah di Medan yang diiringi dengan berbagai pertemuan
da'wah di Sumatera Barat ataupun di Jakarta, selain itu juga pernah selama 2
tahun sebagai da’i dari IIRO [Internasional islamic Relief Organisation] dan
kini sebagai anggota IKADI Solok yang juga memimpin yayasan Garda Anak Nagari
Sumatera Barat.
Organisasi lain yang
ikut dia tekuni selama di DPRD adalah sebagai Sekjen Majelis Ulama Indonesia
[MUI] Kabupaten Solok, sebagai Badan Pengawas Badan Amil Zakat Kabupaten Solok,
juga ikut membidani lahirnya beberapa lembaga da'wah berbentuk Yayasan di
Kabupaten Solok yang dikelola oleh teman-temannya seperti Yayasan Sinergi
Ummat, Yayasan Lukmanul Hakim, Yayasan Amanah Bunda, Yayasan Ahda Sabila,
Yayasan Nurul Haq, Yayasan Garda Anak Nagari dan Yayasan Selasih Solok.
Setelah dua periode
menyelesaikan tugas sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok, dalam mengisi
kegiatan hariannya Mukhlis Denros bersama isteri Yulismar S.Pd tinggal di
Nagari yang berbukit dan berlembah, yang sejuk dan asri, jauh dari kebisingan,
aman dan nyaman yaitu Jorong Cubadak Nagari Pianggu Kecamatan IX Koto Sungai
Lasi, Kabupaten Solok, Sumatera Barat tetap konsisten dengan kegiatan
sebelumnya yaitu da'wah dan menulis.
Sejak bulan Februari 2015, setelah enam tahun tinggal
di Cubadak Pianggu Kecamatan Sungai Lasi Kabupaten Solok Sumatera Barat, kini Mukhlis Denros menetap di Kota Batam
Kepri, turut berkiprah sebagai staf di Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Kota
Batam yang diketuai oleh Ibu Dra. Hj.
Helma Munaf, M.Pd dan bergabung pula dengan PMB [Persatuan Mubaligh Batam].
Di Batam, Mukhlis Denros dengan Pedro Johansis dan Mardison
mengembangkan Yayasan Garda Anak Nagari dengan membuka Garda Anak Nagari Provinsi Kepulauan Riau,
Insya Allah dalam waktu dekat akan membuka cabang Garda Anak Nagari di seluruh
Kabupaten dan Kota di Provinsi Kepulauan
Riau, semoga hal itu terujud.
DATA PRIBADI
Nama Lengkap :
Drs. St. Mukhlis Denros
Tempat dan Tanggal Lahir : Metro, 3 April 1964
Jumlah bersaudara : Anak ke 3 dari 7 orang
Nama Ayah : Sutan Denak
Nama Ibu : Rosnidar
Nama Isteri : Yulismar, S.Pd
Nama Anak : Rani Ihsani Mukhlis
RIWAYAT PENDIDIKAN
1.
SDN 4 Metro
Lampung, tamat tahun 1975
2.
SMP PGRI Metro
Lampung, tamat tahun 1981
3.
SMAN 135 Metro
Lampung, tamat tahun 1984
4.
Gema Al Qur'an Al
Jihad Metro tamat tahun 1988
5.
Sarjana Muda
Tarbiyah IAIN Raden Intan Lampung, tahun
1988
6.
Sarjana Tarbiyah
IAIN Raden Intan Lampung tamat tahun 1990
PENGALAMAN ORGANISASI
1.
Ketua Osis GAA Metro Lampung Tengah 1987-1989
2.
Sekum IRM Al Jihad Metro Lampung Tengah 1986-1988
3.
Wakil Sekretaris HMI Cab. Metro Lampung Tengah 1985-1990
4.
Sekjen
Majelis Ulama Indonesia [MUI}
Kab. Solok 2005/2006
5.
Anggota Pengawas BAZ
Kabupaten Solok 2006
6.
Anggota IKADI (Ikatan Da’i Indonesia)
Kabupaten Solok
7.
Da'i
IIRO [International Islamic Relief Org.] Sumbar 1995-1997
8.
Ketua Yayasan
Garda Anak Nagari Sumatera Barat
9.
Ketua Pembina Yayasan Selasih Kabupaten Solok
10.
Ketua Pembina Yayasan Lukmanul Hakim Kota
Solok
11.
.Ketua Yayasan Garda Anak Nagari Kab.Solok
2000-2005
12.
Pembina Yayasan Sinergi Ummat Kota Solok
13.
Pembina Yayasan Amanah Bunda Kabupaten Solok
PENGALAMAN
PROFESI
1.
Guru SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah
1988-1990
2.
Guru GAA Metro Lampung Tengah 1988-1990
3.
Guru MTsN Koto Baru Kabupaten Solok 1997-1999
4.
Guru SMK Budi Mulia Koto Baru Kab. Solok
1991-2000
5.
Dosen PGTK Adzkia Kota Padang 1994-2000
6.
Anggota
DPRD Kabupaten Solok Periode
1999-2004
7.
Anggota DPRD Kabupaten Solok Periode 2004-2009
8.
Staff Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam,
2015-
PERJALANAN
DA'WAH
1.
Maperca dan Basic Training HMI Cabang Metro
1985
2.
Intermediate Training HMI di Palembang 1986
3.
Latihan Pers Mahasiswa IAIN di Tanjung Karang
1986
4.
Tarbiyyah Islamiyyah di Sumatera Barat
1990-1994
5.
Muzakarah Du'at se Sumatera /Jakarta di
Sumatera Selatan 1994
6.
Muzakarah Du'at se Sumatera/Jakarta di Sumatera Selatan 1996
7.
Muzakarah Du'at se Sumatera/ Jakarta di Bukit Tinggi 1998
8.
Muzakarah Manajemen Zakat, IMZ Jakarta 2002
9.
Seminar Syari'ah Nasional di Medan Sumatera
Utara 2000
10.
Pertemuan Anggota DPRD se Indonesia di Jakarta 2000
11.
Pertemuan Anggota DPRD se Indonesia di Bogor 2002
12.
Pertemuan da'i IIRO se Indonesia di Jakarta 2000
13.
Silaturrahmi Nasional Anggota Legislatif di
Jakarta 2005
BUKU YANG
TELAH DITERBITKAN
1.
Fikih Wanita, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
2.
Tarbiyatul Aulad, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
3.
Kumpulan Ceramah Praktis, Nurul Haq, 2010
4.
Renungan Ramadhan, Pustaka Setia Bandung, 2011
5.
Memanusiakan Manusia, Qibla Jakarta, 2011
6.
Kumpulan Khutbah Jum’at, Pustaka Setia Bandung, 2011
7.
Khutbah Jum’at, Janji Allah dan Upaya Meraihnya, Arkola
Surabaya, 2011
8.
Khutbah Jum’at Penyejuk Hati, Pustaka Albana Jogjakarta,
2012
9.
Andai Aku Tahu Dosa Itu Ada, FAM Publishing Kediri, Jawa
Timur, 2012
10.
Kumpulan Khutbah Jum’at Terbaik, Mutiara Media, Jogjakarta, 2013
11.
Man Rabbuka, Al Barokah, Jogjakarta, 2014
12.
Ensiklopedi Penulis Indonesia Jilid I, FAM Publishing Kediri,
Jawa Timur,2014
13.
Kumpulan Khutbah Pengobat Hati, Mutiara Media, Jogjakarta, 2014
PUBLIKASI
TULISAN DI MEDIA
1.
Majalah Serial Khutbah Jum'at, Jakarta
2.
Majalah Suara Masjid, Jakarta
3.
Majalah Ishlah, Jakarta
4.
Majalah Reformasi, Jakarta
5.
Majalah Al Muslimun, Bangil
6.
Majalah Sabili, Jakarta
7.
Majalah Tarbawi, Jakarta
8.
Majalah Muamalat, Jakarta
9.
Majalah Kiblat, Jakarta
10.
Majalah Harmonis, Jakarta
11.
Majalah Estafet, Jakarta
12.
Majalah Sakinah, Jakarta
13.
Harian Serambi Minang, Padang
14.
Harian Semangat, Padang
15.
Harian Mimbar Minang, Padang
16.
Harian Singgalang, Padang
17.
Tabloid Sumbar Post, Padang
18.
Tabloid Zaman, Padang
19.
Tabloid Solinda, Kabupaten Solok
20.
Tabloid Lentera, Padang
21.
Tabloid Suara Keadilan Rakyat, Sawahlunto
22.
Tabloid, Media Islam Batam
23.
Tabloid Dyi’ar Islam Batam
24.
Buletin DPW PKS Sumatera Barat, Padang
25.
Buletin Riswan, Koto Baru Kabupaten Solok
26.
Buletin Da'wah Masjid Al Furqan Kota Solok
27.
Buletin Da'wah Garda Anak Nagari Kabupaten
Solok
28.
Buletin Da'wah Sebening Embun Solok
29.
Buletin Da'wah Selasih Solok
30.
Mingguan Suara Rakyat, Solok
31.
Mingguan Bijak, Padang
32.
Mingguan Swadesi, Jakarta
33.
Mingguan Sentana, Jakarta
34.
Mingguan Raden Intan Pos, IAIN Lampung
35.
Pariaman Post, Sumatera Barat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar