RAMADHAN DAN MUHAJIRIN
Drs.St.Mukhlis Denro
Bulan Ramadhan juga mengajarkan
kepada ummat Islam untuk tampil sebagai muhajir yaitu orang yang hijrah dari jahiliyah
kepada islami, dari kufur kepada iman, dari nifaq kepada istiqamah, dan dari
syirik kepada tauhid.
Hijrah
adalah perjalanan Rasul dan para sahabat dari Mekkah menuju Madinah dalam
rangka untuk menyelamatkan aqidah dan melindungi jiwa ummat Islam dari ancaman
fisik kafir Quraisy, peserta hijrah itu disebut dengan muhajir atau muhajirin,
apa yang dilakukan oleh muhajirin dalam rangka perjalanan hijrahnya?
Sebuah rencana makar telah
difokuskan oleh kaum musyrikin Mekah kepada Rasulullah saw., hal ini dilakukan
setelah mereka berkali-kali gagal melakukan upaya menghalangi mencegah,
mengintimidasi, menteror dan sebagainya. Sasaran utama mereka adalah para
pengikut Rasulullah yang terdiri dari orang-orang lemah dan tidak
memiliki dukungan kuat dari kabilahnya maupun tokoh yang memiliki kekuatan.
Semua cara kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang kafir musyrik ternyata
tidak mampu menghentikan harakah dakwah. Maka mereka pun mencoba menggunakan
cara-cara lain, yaitu dengan cara “mudahanah” seperti dengan bujukan, rayuan
dan mengajak kompromi dan sebagainya, intinya adalah agar Rasulullah berhenti
tidak lagi menyerukan dakwah Islam kepada mereka.
Mereka menginginkan agar
kalimat tauhid, “La Ilaha Illallah” tidak lagi berkumandang di muka bumi. Namun
Rasulullah sedikit pun tidak bergeming dari tekadnya untuk terus menyampaikan
dakwah ini kepada seluruh manusia sampai Islam jaya di muka bumi atau beliau
binasa dalam memperjuangkannya.
Ketika orang-orang kafir
mengetahui bahwa dakwah Rasulullah diam-diam terus berkembang tidak hanya di
kalangan keluarga atau teman-teman dekatnya, akan tetapi mulai didukung oleh
orang-orang di luar kaum Quraisy, bahkan orang-orang dari luar kota
Mekah, maka bertambahlah kekhawatiran mereka karena jika Muhammad dapat keluar
dari negerinya pasti akan menyusun kekuatan bersama para pengikutnya untuk
memerangi mereka, maka mereka pun segera berkumpul di “darun nadwah” sebagai
tanda keseriusan dan kebulatan tekad untuk mengakhiri dakwah yang disampaikan
oleh Rasulullah.[Manhaj Haraki Dalam Hijrah Nabi,dakwatuna.com,21/12/2009
| 04 Muharram 1431 H].
Tersebarnya berita tentang
masuk Islamnya sekelompok penduduk Yatsrib (Madinah), membuat orang-orang kafir
Quraisy semakin meningkatkan tekanan terhadap orang-orang Mukmin di Makkah.
Lalu Nabi saw. memerintahkan
kaum Mukminin agar hijrah ke kota Madinah. Para sahabat segera berangkat menuju
Madinah secara diam-diam, agar tidak dihadang oleh musuh. Namun Umar bin
Khattab justru mengumumkan terlebih dahulu rencananya untuk berangkat ke
pengungsian kepada orang-orang kafir Makkah. Ia berseru, “Siapa di antara
kalian yang bersedia berpisah dengan ibunya, silakan hadang aku besok di lembah
anu, besuk pagi saya akan hijrah.” Tidak seorang pun berani menghadang Umar.
Setelah mengetahui kaum
Muslimin yang hijrah ke Madinah itu disambut baik dan menda¬pat penghormatan
yang memuaskan dari penduduk Yatsib, bermusyawarahlah kaum kafir Quraisy di
Darun Nadwah. Mereka merumuskan cara yang diambil untuk membunuh Rasululah saw.
yang diketahui belum berangkat bersama rombongan para sahabat. Rapat memutuskan
untuk mengumpulkan seorang algojo dari setiap kabilah guna membunuh Nabi saw.
bersama-sama. Pertimbangannya ialah, keluarga besar Nabi (Bani Manaf) tidak
akan berani berperang melawan semua suku yang telah mengu¬tus algojonya
masing-masing. Kelak satu-satunya pilihan yang mungkin ambil oleh Bani Manaf
ialah rela menerima diat (denda pembunuhan) atas terbunuhnya Nabi. Keputusan
bersama ini segera dilaksanakan dan para algojo telah berkumpul di sekeliling
rumah Nabi saw. Mere¬ka mendapat instruksi: “Keluarkan Muhammad dan rumahnya
dan langsung pengal tengkuknya dengan pedangmu!”[Hijrah Nabi dan Menetap di
Madinah , 6/1/2008 | 27 Zulhijjah 1428 H , Tim Kajian Manhaj Tarbiyah].
Muhammad Husain Haekal dalam
Sejarah Hidup Muhammad menuturkan, pemuda-pemuda yang sudah disiapkan kaum
Quraisy untuk membunuh Rasulullah pada malam itu sudah mengepung rumah Nabi
SAW. Pada saat bersamaan, Rasulullah menyuruh Ali bin Abi Thalib untuk memakai
mantelnya yang berwarna hijau dan tidur di kasur Rasulullah SAW. Nabi SAW
meminta Ali supaya ia tinggal dulu di Makkah untuk menyelesaikan berbagai
keperluan dan amanah umat, sebelum melaksanakan hijrah.
Sementara itu, para pemuda
yang sudah disiapkan Quraisy, dari sebuah celah, mengintip ke tempat tidur Nabi
SAW. Mereka melihat ada sesosok tubuh di tempat tidur itu dan mereka pun puas
bahwa orang yang mereka incar belum lari.
Menurut Martin Lings dalam
Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, para pemuda Quraisy yang
dipilih untuk membunuh Nabi SAW itu telah sepakat untuk bertemu di luar gerbang
rumah Nabi SAW saat malam tiba.
Menjelang larut malam,
Rasulullah keluar rumah menuju kediaman Abu Bakar setelah beliau membacakan
surah yang diberi nama dengan kalimat pembukanya, Yasiin. Ketika sampai pada
kalimat, “Dan, Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka
dinding pula dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.”
(QS Yasin [36]: 9).
Lalu, Nabi SAW dan Abu Bakar
keluar melalui jendela pintu belakang dan terus bertolak ke arah selatan, ke
arah Yaman, menuju Gua Tsur. Hal itu dilakukan untuk mengelabui para pemuda
Quraisy tersebut. Mereka menutup semua jalur menuju Madinah. Para pemuda ini
berencana akan menyergap Nabi SAW saat itu.
Dan, ketika memasuki rumah
Nabi SAW, mereka kaget karena Rasulullah sudah tidak ada. Mereka hanya
menemukan Ali sedang tidur di kasur Rasul SAW. Kafir Quraisy merasa kecolongan
karena tak menemukan Nabi Muhammad SAW.[Berbagai Peristiwa Seputar Hijrah Rasulullah SAW,
Republika OnLine, Rabu, 08 Desember 2010,
11:09 WIB ,Budi Raharjo].
Untuk mengelabui kaum Quraisy,
Rasulullah memutuskan akan menempuh jalan lain (rute yang berbeda) dari jalur
yang biasa digunakan penduduk Makkah untuk menuju Madinah. Rasulullah SAW
memutuskan akan berangkat bukan pada waktu yang biasa.
Padahal, Abu Bakar sudah menyiapkan dua
ekor unta sebagai kendaraan yang akan dipergunakan Nabi SAW pada saat
berhijrah. Hijrah ini dilakukan semata-mata untuk menyelamatkan dakwah dan
akidah Islam serta kaum Muslimin.
Rute yang ditempuh Rasul itu adalah
setelah keluar dari rumah beliau, jalan yang ditempuh adalah Gua Tsur, berjarak
sekitar 6-7 kilometer di selatan Makkah. Sedangkan Madinah berada di sebelah
utara Makkah. Langkah ini diambil untuk mengelabui kafir Quraisy. Di Gua Tsur
ini, Rasulullah dan Abu Bakar tinggal selama kurang lebih tiga hari.
Selanjutnya, beliau mengambil jalur ke
arah barat menuju Hudaibiyah, arah sebelah timur desa Sarat. Kemudian, menuju
arah Madinah dan berhenti di sebuah kawasan di al-Jumum dekat wilayah Usfan.
Lalu, bergerak ke arah barat dan memutar ke perkampungan Ummul Ma'bad dan
berhenti di wilayah Al-Juhfah.
Selanjutnya, beliau menuju Thanniyat
al-Murrah, Mulijah Laqaf, Muwijaj Hujaj, Bath Dzi Katsir, hingga tiba di Dzu
Salam. Di sini, beliau memutar ke arah barat sebelum meneruskan ke arah Madinah
dan berhenti di daerah Quba. Di sinilah beliau mendirikan Masjid Quba, yaitu
Masjid pertama yang didirikan Rasul SAW.
Setelah dari Quba, atau sekitar satu
kilometer dari Quba, beliau bersama umat Islam lainnya, melaksanakan shalat
Jumat. Untuk memperingati peristiwa itu, dibangunlah masjid di lokasi ini
dengan nama Masjid Jumat. Setelah itu, barulah Rasul SAW menuju
Madinah.[Syahrudin El Fikri, Inilah Rute Hijrah Nabi Muhammad SAW Dahulu, Republika.co.id.Rabu,
08 Desember 2010, 10:17 WIB].
Perintah untuk melakukan
hijrah dalam arti berpindah secara fisik demi untuk menyelamatkan masa depan
Islam yang sedang terancam sudah tidak ada lagi setelah pembebasan kota suci
Mekkah. Tetapi hijrah dalam pengertian maknawi, seperti hijrah dari sifat malas
dan putus asa kepada ketekunan berusaha, hijrah dari perilaku curang dan korup
kepada perilaku adil dan jujur, hijrah dari kemaksiatan kepada ketakwaan, serta
hijrah dari perangkap kemiskinan yang mendekatkan kepada kekufuran menuju
kehidupan yang layak dan bermartabat, tetap relevan sepanjang masa. Berbagai peristiwa
dan kondisi memprihatinkan yang bagai benang kusut terjadi dalam kehidupan
bangsa kita pada saat ini, hanya dapat diatasi dengan mengimplementasikan
ajaran dan nilai-nilai hijrah.
Pesan hijrah bernilai abadi
karena setiap Muslim dituntut untuk mengupayakan kehidupan diri dan masyarakat
di sekitarnya menjadi lebih baik dalam pergantian hari dan tahun. Sabda
Rasulullah SAW menyatakan, `'Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin,
adalah orang yang beruntung. Bila hari ini sama dengan kemarin, berarti orang
merugi, dan jika hari ini lebih jelek dari kemarin, adalah orang celaka.''
Dalam Alquran diungkapkan keterkaitan antara hijrah dengan turunnya rahmat
Allah.
Firman Allah SWT dalam
Alquran, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman,orang-orang yang berhijrah,
dan berjuang di jalan Allah, merekalah (orang-orang yang) mengharapkan rahmat
Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Al Baqarah [2]:
218) Sudah menjadi sunnatullah bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum
sampai mereka sendiri tidak berusaha mengubah dirinya.
"Sesungguhnya Allah tidak
akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada
diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu
kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung
bagi mereka selain Dia." (ar-Ra'd [13]:11) Oleh karena itu, menyambut
pergantian tahun Hijriyah perlu disertai dengan kesadaran yang kuat untuk
melakukan upaya-upaya konkret dalam membangun kualitas umat dalam berbagai
bidang, termasuk upaya menanggulangi kemiskinan. Esensi hijrah adalah perubahan
perilaku ke arah yang lebih baik dan positif, menyingkirkan segala keburukan
dan kerusakan serta menghadirkan kemaslahatan dalam kehidupan umat dan bangsa.[Prof Dr KH Didin Hafidhuddin, Momentum
Transformasi di Awal Hijriyah, Republika OnLine,Senin, 06 Desember 2010, 11:15
WIB].
Di dalam Risalah Tabukiyah,
Imam Ibnul Qoyyim membagi hijrah menjadi 2 macam. Pertama, hijrah dengan hati
menuju Allah dan Rasul-Nya. Hijrah ini hukumnya fardhu ‘ain bagi
setiap orang di setiap waktu. Macam yang kedua yaitu hijrah dengan badan dari
negeri kafir menuju negeri Islam. Diantara kedua macam hijrah ini hijrah dengan
hati kepada Allah dan Rasul-Nya adalah yang paling pokok.
Hijrah
Dengan Hati Kepada Allah
Alloh
berfirman, “Maka segeralah (berlari) kembali mentaati Alloh.” (Adz
Dzariyaat: 50)
Inti hijrah kepada Alloh ialah
dengan meninggalkan apa yang dibenci Allah menuju apa yang dicintai-Nya.
Rasulullah shollalaohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim
ialah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan
tangannya. Dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang
meninggalkan apa yang dilarang oleh Alloh.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Hijrah ini meliputi ‘dari’
dan ‘menuju’: Dari kecintaan kepada selain Allah menuju kecintaan
kepada-Nya, dari peribadahan kepada selain-Nya menuju peribadahan kepada-Nya,
dari takut kepada selain Allah menuju takut kepada-Nya. Dari berharap kepada
selain Allah menuju berharap kepada-Nya. Dari tawakal kepada selain Alloh
menuju tawakal kepada-Nya. Dari berdo’a kepada selain Allah menuju berdo’a
kepada-Nya. Dari tunduk kepada selain Alloh menuju tunduk kepada-Nya. Inilah
makna Allah, “Maka segeralah kembali pada Alloh.” (Adz Dzariyaat: 50).
Hijrah ini merupakan tuntutan syahadat Laa ilaha illalloh.
Hijrah
Dengan Hati Kepada Rosululloh
Alloh
berfirman, “Maka demi Robbmu (pada hakikatnya) mereka tidak beriman hingga
mereka menjadikanmu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan,
kemudian mereka tidak merasa keberatan di dalam hati mereka terhadap putusan yang
kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An Nisaa’: 65)
Hijrah ini sangat berat. Orang
yang menitinya dianggap orang yang asing diantara manusia sendirian walaupun
tetangganya banyak. Dia meninggalkan seluruh pendapat manusia dan menjadikan
Rasulullah sebagai hakim di dalam segala perkara yang diperselisihkan dalam
seluruh perkara agama. Hijrah ini merupakan tuntutan syahadat Muhammad
Rasulullah.Pilihan Allah dan Rasul-Nya itulah satu-satunya pilihan
Allah berfirman, “Dan
tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang
mukmin, apabila Alloh dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, ada bagi
mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa yang
mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang
nyata.” (Al Ahzab: 36)
Dengan demikian seorang muslim
yang menginginkan kecintaan Allah dan Rasul-Nya tidak ragu-ragu bahkan merasa
mantap meninggalkan segala perkara yang melalaikan dirinya dari mengingat
Allah. Dia rela meninggalkan pendapat kebanyakan manusia yang menyelisihi
ketetapan Allah dan Rasul-Nya walaupun harus dikucilkan manusia.
Seorang ulama’ salaf berkata,
“Ikutilah jalan-jalan petunjuk dan janganlah sedih karena sedikitnya
pengikutnya. Dan jauhilah jalan-jalan kesesatan dan janganlah gentar karena
banyaknya orang-orang binasa (yang mengikuti mereka).[ Abu Mushlih Ari Wahyudi,
Hijrah Kepada Allah dan
Rasul-Nya, www.muslim.or.id,
29 May 2008].
Dengan hijrah,banyak keberhasilan yang diraih oleh
ummat Islam dibandingkan saat berada di Mekkah, dari hijrah pula banyak
pelajaran yang dapat dipetik bagi ummat selanjutnya sebagaimana yang
diungkapkan oleh Shalih Hasyim
Menuju Peradaban yang Lebih “Diberkahi” Selasa, hidayatullah.com.06
Desember 2011 berikut ini;
Baru setelah hijrah ke Madinah terjadi
perkembangan spektakuler baik dari segi kaulitas maupun kuantitas kaum
Muslimin. Dalam waktu 10 tahun di Madinah, kaum muslim tercatat 10.000 orang.
Peristiwa hijrah ini kemudian dijadikan Khalifah Umar bin Khathab sebagai
momentum penetapan tahun baru Islam. Sekalipun banyak peristiwa besar yang
mendahuluinya, seperti pasukan gajah yang dipimpin oleh Raja Abraha untuk
menghancurkan Ka’bah dll. Dari sini titik tolak perubahan totalitas kaum
muslimin pertama terjadi.
Pelajaran Fundamental Hijrah. Ada
beberapa pelajaran penting dari peristiwa hijrah ini, dikaitkan “hijrah” modern
dengan visi membangunan peradaban Islam ke depan.
Pertama: Reformasi itu dimulai dari level kepemimpinan
Pertama: Reformasi itu dimulai dari level kepemimpinan
Yang perlu diluruskan bahwa hijrah itu
tidak identik dengan urbanisasi. Karena hijrah itu menuntut adanya perubahan
secara radikal dan total. Dan setiap perubahan itu, berimplikasi sangat jauh.
Perubahan itu memerlukan pengorbanan, maka terasa pahit. Apalagi jika seseorang
itu telah membangun imperium, kedaulatan, status quo sudah sedemikian kokoh.
Dipagari oleh kesetiaan dan hak-hak istimewa. Dalam kondisi demikian, perubahan
itu biasanya ditafsirkan dengan instabilitas, anti kemapanan dan lain-lain.
Kedua: Komitmen terhadap regenerasi
Kepimpinan yang baik adalah
mempersiapkan penggantinya. Penerus dan pewaris perjuangannya. Sebab usia seorang
pemimpin umumnya lebih pendek dibandingkan dengan nilai immaterial, misi yang
diperjuangkan. Bahkan ummat Muhammad hanya berumur berkisar 60 sampai 70 tahun
(HR. Ahmad). Nilai-nilai moral yang tidak secepatnya diwariskan, maka negara,
intitusi, akan kurang dinamis dalam merespon perubahan sekitarnya. Yang
dimaksud kader disini adalah seseorang yang dididik, disiapkan, disetting,
untuk melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan dalam sebuah keluarga, partai,
intitusi, lembaga, negara. Oleh karena itu sebelum Rasulullah Saw hijrah, telah
mempersiapkan Ali untuk menggantikan tempat tidurnya. Dengan regenerasi maka
kesinambungan amal dan transfer nilai akan berjalan dengan baik.
Ketiga: Memperkuat Sandaran Vertikal
Ketika rumah Rasulullah Saw sudah
dikepung oleh para algojo dari berbagai kabilah Arab untuk menghabisi nyawanya,
beliau tetap memiliki kestabilan jiwa. Hal ini merupakan salah satu buah
ketargantungannya (ta’alluq) kepada Al Khaliq yang sudah terlatih selama
13 tahun di Makkah. Bahkan pada malam hari, saat memutuskan berangkat secara
rahasia bersama kekasihnya Abu Bakar, beliau membacakan salah satu firman Allah
Swt. :“Dan Kami adakan dihadapan mereka dinding dan dibelakang mereka
dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat
melihat.” (QS. Yasin 36/9).
Sebuah bangsa yang dibangun tanpa
memperhatikan aspek moral, keterlibatan Tuhan maka ucapkanlah taziyah (ucapan
terakhir untuk mayit) kepada bengsa itu. Negara yang dibangun dengan
mengabaikan peranan Tuhan, laksana membangun istana pasir atau permukaan balon.
Negara itu akan keropos, mudah rapuh oleh tangan jahil penghuninya atau oleh
konspirasi eksternal.
Keempat: Membangun sinergi dengan pihak lain
Sesungguhnya eksistensi sebuah peradaban
sangat didukung oleh ketrampilannya dalam membangun kerjasama dengan pihak
lain. Untuk mendukung keberhasilan hijrah, Rasulullah Saw bekerjasama dengan
penggembala kambing orang Nasrani (Abdullah) untuk menghilangkan jejak dan rute
yang dilewati. Sehingga beliau dan Abu Bakar menaiki Gua Tsur dengan aman.
Tanpa sepengetahuan musuh-musuhnya.
Disamping konsep Islam teguh dalam
persoalan prinsip, terbuka pula dalam menerima perubahan-perubahan yang
bersifat tekhnikal. Rasulullah telah mengajarkan sikap keterbukaan dalam
memandang perbedaan. Perbedaan pandangan adalah suatu fitrah. Bahkan dengan
beragam perbedaan itu bisa mendewasakan seseorang. Yang penting, mensiasati dan
mengelola perbedaan itu agar menjadi produktif. Islam mengajarkan sepakat dalam
persoalan prinsip dan toleran dalam perbedaan yang bersifat non prinsip. Oleh
karena itu, kita dituntut menyederhanakan perbedaan dan mengedepankan
kesepahaman. Dengan kerjasama yang baik antara berbagai komponen komunitas
(pemimpin (Rasulullah), generasi tua (Abu Bakar), kalangan pemuda (Ali krw) kesulitan
dan tantangan seberat apapun akan mudah diatasi.
Kelima: Pemberdayaan perempuan
Kelima: Pemberdayaan perempuan
Sesungguhnya wanita adalah saudara
laki-laki (syaqoiqur Rijal). Dalam Islam laki-laki dan wanita itu satu
kesatuan. Bahkan wanita itu terbuat dari tulang rusuk laki-laki. Karena dari
satu jiwa, maka laki-laki dan perempuan saling membutuhkan dan saling
melengkapi. Laki-laki dan perempuan yang berprestasi akan mendapatkan balasan
yang sama.Oleh karena itu Allah memberikan tugas dan kewajiban kepada
makhluq-Nya sesuai dengan fungsi kodratinya.
Perempuan yang terdidik dengan baik,
memiliki kualitas yang melebihi laki-laki. Asma’ binti Abu Bakar dalam usia
belia berhasil mengomandani urusan logistik ketika hijrah. Sekalipun medan yang
dilewati terjal, dan nyawanya terancam. Demikianlah perempuan yang berkualitas,
mengungguli bidadari. Karena bidadari masuk surga karena takdir. Sedangkan
wanita shalihah berhasil karena perjuangan. Ketika masuk surga, menghargai
tempat yang dihuni.
Keenam: Membangun pola kepemimpinan Imamah
Ketika di Gua Tsur Abu Bakar merasa
cemas, Rasulullah Saw menghiburnya: Laa tahzan innalloha ma’anaa (Jangan
takut, sesungguhnya Allah bersama kita). Pada ayat ini beliau menggunakan khithab
(pembicaraan) nun jama’ (prular) “ma’anaa”. Disini diambil pelajaran
pentingnya berjamaah dalam membangun peradaban.
Berjamaah adalah media yang efektif dan
efisien dalam memperkecil konflik. Mengesampingkan perbedaan dan menonjolkan
persamaan. Berjamaah adalah fitrah manusia. Dengan berjamaah kita menyadari
keterbatasan kita. Keberhasilan kita terwujud didukung oleh pengorbanan pihak
lain, baik secara langsung maupun tidak langsung….Keberhasilan yang dinikmati
sendirian, tidak terlalu membahagiakan. Kesusahan yang ditanggung secara
kolektif, maka derita menjadi ringan untuk dipikul. Itulah pentingnya
kebersamaan. Dan karena kelemahan kita, menuntut adanya kerja sama dengan pihak
lain di luar kita. Bahkan menjaga keshalihan kita mustahil terwujud tanpa
berjamaah.
Demikian,
beberapa pesan yang bisa dipetik dari hijrah. Yang jelas, “Al Hijratu
maadhin ilaa yaumil qiayamah.” (hijrah tetap berlangsung sampai hari
kiamat). Baik secara maknawi (hajara, meninggalkan segala bentuk maksiat), pula
yang bersifat makani (haajara : meninggalkan lingkungan yang tidak Islami).
Ketika Islam belum mendominasi kehidupan.Wallahu A’lam. [Baloi Indah, 16 Ramadhan 1436.H/2015, Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam, Kepri]
PROFIL PENULIS
Penampilan
sederhana ini bernama Mukhlis yang dilahirkan di ujung Selatan Pulau
Sumatera yaitu Metro [Lampung Tengah] tanggal 3 April 1964
anak ketiga dari ayah bernama Sutan
Denak dan ibu Rosnidar dengan enam orang adik kakak yaitu Ernawati, Marsudi,
Erma, Septiyani, Mahdalena dan Adek Wahyuli, isteri bernama Yulismar S.Pd
[Ayang] dengan seorang anak wanita bernama Rani Ihsani Mukhlis, nama yang akrab
di kalangan teman dan sahabatnya adalah Mukhlis Denros. Kampung asalnya Kampani Barangan Selatan,
Nagari Lurah Ampalu, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak Kabupaten Padang
Pariaman, Sumatera Barat, dengan suku Koto, besar dan menempuh pendidikan di
Kota Lada Metro Lampung.
Pendidikan yang pernah ditempuhnya yaitu
SDN yang dimulai di SDN Koto Marapak [Kota Pariaman], ketika kelas IV dia harus
meninggalkan kampung bersama ayah dan ibunya menuju Metro, SD diselesaikannya
di SDN IV Metro, dilanjutkan ke SMP PGRI Metro, kemudian SMAN 135 Metro yang
dapat diselesaikan tahun 1984, tidak ada maksud untuk kuliah karena berbagai
faktor, berkat dorongan teman-teman dan gurunya terutama Ustadz Masnuni M.Ra'i,
Alfuadi Rusli, H. Muhammad Lazim, H. Fakhrudin, Sugito, Hayumi Rb,Hayumi Rf, H.
Rasyidin dan Malin Marajo di Masjid Al Jihad akhirnya tahun ini juga
melanjutkan kuliah di IAIN, inilah pendidikan terakhir yang ditempuhnya yaitu
Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Institut Agana Islam Negeri
[IAIN] Raden Intan Lampung di Metro
tamat tahun 1990. Ketika tamat kuliah dia harus meninggalkan Metro dan memulai
kiprahnya di Koto Baru Kabupaten Solok Sumatera Barat sebagai pendidik, dosen,
penulis, mubaligh hingga sebagai
politisi akhirnya.
Sejak di bangku SMA hingga tamat kuliah,
Mukhlis giat di OSIS Gema Al Qur'an AL
Jihad dan Remaja Masjid Al Jihad Metro
bersama teman-temannya Dody Sofial, Abul Fatrida, Yurnalis, M. Syafei,
Irza Murni, Gusnita, Herwina, Afrizal, Yohanes dan Rita Suryani, dikala kuliah
bergabung dengan HMI Cabang Metro bersama Ahmad Ridwan, Gatot Subroto, Sigit
Triyono, Syuhada', Raihan dan Usdek, mengikuti pengkaderan Basic Training di
Metro tahun 1985 dan Intermediate Training di Palembang tahun 1986 dan pernah
menjabat sebagai Sekretaris HMI Komisariat IAIN dan wakil sekretaris HMI Cabang
Metro.
Menjadi guru adalah cita-citanya sejak
awal dan hal itu telah terujud walaupun tidak sebagai PNS, pernah mengajar di
GAA dan SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah, mengajar di SMEA Budi Mulia Koto
Baru, MTsN Koto Baru Solok dan sebagai dosen PGTK Adzkia Padang, Aktivitas
sebagai pendidik ini dia tekuni sejak di bangku kuliah tahun 1984 sampai tahun
2000, kemudian aktif sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok utusan dari Partai
Keadilan/Partai Keadilan Sejahtera, selama dua periode 1999-2009. Di Solok
bersama teman-temannya yaitu Mahyeldi Ansharullah, Afrizal M Noor, Muhidi,
Nurfirmanwansyah, Johandrizon Syamsu, Ahmad Syafwan Nawawi, Firmansyah, Abdul Ghani,
Gustami Hidayat, Saifullah Salim,
Rudianto, Busril, Endrizal, Ismail Zain, Devi Herizon, Ilzan Sumarta, dan Helmi
Darlis merintis kegiatan da'wah sejak tahun 1990 di sekolah, kampus, dan
masjid-masjid melalui pesantren kilat, diskusi, ceramah dan khutbah sebagai
cikal bakal berdirinya Partai Keadilan ketika itu.
Tahun 1998 dikala Reformasi terjadi,
sekian partai berdiri untuk menyongsong Indonesia yang lebih demokratis setelah
lengsernya Soeharto kemudian dilanjutkan oleh BJ Habibie, berdiri pulalah
partai yang berbasiskan anak-anak muda kampus dengan kapasitas da'wah dan
tarbiyah, partai itu bernama Partai
Keadilan. Mukhlis diamanatkan oleh DPW PK Sumatera Barat sebagai ketua DPD PK
di Kabupaten Solok, pelantikan pengurus DPW dengan ketua Drs. Ahmad Syafwan
Nawawi dan DPD PK se Sumatera Barat dikukuhkan di Padang oleh DR. Nur Mahmudi
Ismail MSc sebagai Presiden Partai Keadilan pertama.
Dikala Partai Keadilan menjadi Partai Keadilan Sejahtera untuk kedua
kalinya Mukhlis Denros dipercaya sebagai ketua DPD di Kabupaten Solok dan
jabatan terakhir di partai dipercayakan kepadanya adalah sebagai Ketua Zona
Da'wah VII PKS Sumatera Barat hingga tahun 2007, yang membina DPD PKS Kota
Solok, Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan. Terlalu banyak pelajaran
dan pengalaman yang dia terima dari kegiatan da'wah dan partai bersama
teman-temannya
Mukhlis Denros, demikian akrab di sapa,
selain sebagai pendidik juga aktif berda’wah baik melalui ceramah, diskusi
agama, khutbah dan penyebaran tulisannya melalui Buletin Da’wah Garda Anak
Nagari serta media Nasional yang pernah memuat tulisannya seperti Majalah
Serial Khutbah Jum’at, Majalah Suara Masjid , Majalah Sabili, Majalah Tarbawi,
Majalah Ishlah, Majalah Reformasi Jakarta, Majalah Al Muslimun Bangil serta koran
Swadesi dan Sentana juga pernah memuat tulisannya yang sarat dengan pendidikan
dan nuansa islamnya, Media Mimbar Minang Padang selama bulan Ramadhan penuh
memuat tulisannya tiap hari terbit. Dia
tidak pernah membuang waktu dengan kegiatan yang tidak ada manfaatnya,
waktunya selalu terisi dengan aktivitas positif seperti membaca atau menulis
selain kegiatan harian lain.
Mukhlis
Denros Terima Penghargaan Sebagai Penulis Terbaik dari Media Suara Keadilan
Rakyat (SKR) , Minggu (15/12) di Gedung Pusat Kebudayaan kota
Sawahlunto.Penghargaan tersebut merupakan program Tabloit SKR yang selama ini
membentuk tim untuk melakukan penilaian terhadap sejumlah penulis dan tokoh di
Sumatera Barat dengan sejumlah kategori yang ditetapkan.
Penganugerahan sebagai Penulis Terbaik SKR Awards 2013
yang diberikan kepada Mukhlis Denros diserahkan oleh Wakil Wali Kota Sawah
Lunto yaitu Bapak Ismet SH, Mukhlis Denros dinilai sebagai penulis terbaik
karena konsistensinya dalam menulis berbagai pemikiran berkaitan dengan dakwah,
pendidikan dan politik yang telah melahirkan berbagai buku yang diterbitkan
oleh penerbit.
Mukhlis
Denros menerima berupa plakat dan piagam sebagai bentuk penghargaan atas
keberhasilannya menulis yang dinilai sebagai penulis terbaik, sebagaimana
penilaian TIM SKR yang terdiri dari Prof, Wil Chandry, Fadril Aziz Isaini dan
Prof,DR, H. Salmadanis, Mag.
Pada
malam penganugerahan SKR Awards 2013 tersebut
diserahkan 13 penghargaan dengan kategori berbeda kepada tokoh
lainnyayang dihadiri oleh Wawako Sawahlunto, Ismed, Pimpinan Serikat Perusahaan
Pers Pusat, Totok dan pendiiri Tabloit SKR, Riko Adiutama beserta sejumlah
tokoh Sumatera Barat lainnya.
Moto hidupnya sangat sederhana, agar
bermanfaat bagi orang lain dengan potensi yang dimiliki, semua itu hanya bisa
dilakukan dengan pendidikan yang
berkualitas. Dia menceritakan bahwa karena kegigihan orangtuanyalah untuk
mendidiknya dengan segala kesusahan dan derai air mata tapi akhirnya berhasil
mengantarkannya sebagai sarjana. Sebagai modal hidup di dunia ini,
sehingga dapat dikatakan tak bisa
membalas dan mengukur jasa orangtua yang telah mengantarkan kesuksesannya baik
memimpin partai maupun sebagai anggota
DPRD dalam dua periode ini. Bersama Partai Keadilan dan PPP Kota Solok tahun 2000 dia pernah dicalonkan
sebagai Wakil Wali Kota Solok yang berpasangan dengan Drs. Syukriadi Syukur.
Sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok
selama dua periode diembannya, dia tampil sebagai politisi yang kritis dan
bernas terhadap kebijakan Pemda dan Bupati yang tidak sesuai dengan kepentingan masyarat, diapun tidak
segan-segan menghantam anggota DPRD dikala mereka tidak aspiratif
[http://fraksi pks solok.blogspot.com].
Bersama ustadz
Mahyeldi Ansyarullah dalam gerakan da’wah dengan lembaga Al Madaniy di Padang
yang diawali tahun 1990, Mukhlis Denros banyak terlibat dalam berbagai kegiatan
da’wah seperti tahun 1994 pernah ke Palembang untuk mengikuti pertemuan da’i se
Jakarta dan Sumatera undangan dari Yayasan Bumi Andalas dan tahun 2000 Seminar
Nasional tentang Syari’ah di Medan yang diiringi dengan berbagai pertemuan
da'wah di Sumatera Barat ataupun di Jakarta, selain itu juga pernah selama 2
tahun sebagai da’i dari IIRO [Internasional islamic Relief Organisation] dan
kini sebagai anggota IKADI Solok yang juga memimpin yayasan Garda Anak Nagari
Sumatera Barat.
Organisasi lain yang
ikut dia tekuni selama di DPRD adalah sebagai Sekjen Majelis Ulama Indonesia
[MUI] Kabupaten Solok, sebagai Badan Pengawas Badan Amil Zakat Kabupaten Solok,
juga ikut membidani lahirnya beberapa lembaga da'wah berbentuk Yayasan di
Kabupaten Solok yang dikelola oleh teman-temannya seperti Yayasan Sinergi
Ummat, Yayasan Lukmanul Hakim, Yayasan Amanah Bunda, Yayasan Ahda Sabila,
Yayasan Nurul Haq, Yayasan Garda Anak Nagari dan Yayasan Selasih Solok.
Setelah dua periode
menyelesaikan tugas sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok, dalam mengisi
kegiatan hariannya Mukhlis Denros bersama isteri Yulismar S.Pd tinggal di
Nagari yang berbukit dan berlembah, yang sejuk dan asri, jauh dari kebisingan,
aman dan nyaman yaitu Jorong Cubadak Nagari Pianggu Kecamatan IX Koto Sungai
Lasi, Kabupaten Solok, Sumatera Barat tetap konsisten dengan kegiatan
sebelumnya yaitu da'wah dan menulis.
Sejak bulan Februari 2015, setelah enam tahun tinggal
di Cubadak Pianggu Kecamatan Sungai Lasi Kabupaten Solok Sumatera Barat, kini Mukhlis Denros menetap di Kota Batam
Kepri, turut berkiprah sebagai staf di Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Kota
Batam yang diketuai oleh Ibu Dra. Hj.
Helma Munaf, M.Pd dan bergabung pula dengan PMB [Persatuan Mubaligh Batam].
Di Batam, Mukhlis Denros dengan Pedro Johansis dan Mardison
mengembangkan Yayasan Garda Anak Nagari dengan membuka Garda Anak Nagari Provinsi Kepulauan Riau,
Insya Allah dalam waktu dekat akan membuka cabang Garda Anak Nagari di seluruh
Kabupaten dan Kota di Provinsi Kepulauan
Riau, semoga hal itu terujud.
DATA PRIBADI
Nama Lengkap :
Drs. St. Mukhlis Denros
Tempat dan Tanggal Lahir : Metro, 3 April 1964
Jumlah bersaudara : Anak ke 3 dari 7 orang
Nama Ayah : Sutan Denak
Nama Ibu : Rosnidar
Nama Isteri : Yulismar, S.Pd
Nama Anak : Rani Ihsani Mukhlis
RIWAYAT PENDIDIKAN
1.
SDN 4 Metro
Lampung, tamat tahun 1975
2.
SMP PGRI Metro
Lampung, tamat tahun 1981
3.
SMAN 135 Metro
Lampung, tamat tahun 1984
4.
Gema Al Qur'an Al
Jihad Metro tamat tahun 1988
5.
Sarjana Muda
Tarbiyah IAIN Raden Intan Lampung, tahun
1988
6.
Sarjana Tarbiyah
IAIN Raden Intan Lampung tamat tahun 1990
PENGALAMAN ORGANISASI
1.
Ketua Osis GAA Metro Lampung Tengah 1987-1989
2.
Sekum IRM Al Jihad Metro Lampung Tengah 1986-1988
3.
Wakil Sekretaris HMI Cab. Metro Lampung Tengah 1985-1990
4.
Sekjen
Majelis Ulama Indonesia [MUI}
Kab. Solok 2005/2006
5.
Anggota Pengawas BAZ
Kabupaten Solok 2006
6.
Anggota IKADI (Ikatan Da’i Indonesia)
Kabupaten Solok
7.
Da'i
IIRO [International Islamic Relief Org.] Sumbar 1995-1997
8.
Ketua Yayasan
Garda Anak Nagari Sumatera Barat
9.
Ketua Pembina Yayasan Selasih Kabupaten Solok
10.
Ketua Pembina Yayasan Lukmanul Hakim Kota
Solok
11.
.Ketua Yayasan Garda Anak Nagari Kab.Solok
2000-2005
12.
Pembina Yayasan Sinergi Ummat Kota Solok
13.
Pembina Yayasan Amanah Bunda Kabupaten Solok
PENGALAMAN
PROFESI
1.
Guru SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah
1988-1990
2.
Guru GAA Metro Lampung Tengah 1988-1990
3.
Guru MTsN Koto Baru Kabupaten Solok 1997-1999
4.
Guru SMK Budi Mulia Koto Baru Kab. Solok
1991-2000
5.
Dosen PGTK Adzkia Kota Padang 1994-2000
6.
Anggota
DPRD Kabupaten Solok Periode
1999-2004
7.
Anggota DPRD Kabupaten Solok Periode 2004-2009
8.
Staff Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam,
2015-
PERJALANAN
DA'WAH
1.
Maperca dan Basic Training HMI Cabang Metro
1985
2.
Intermediate Training HMI di Palembang 1986
3.
Latihan Pers Mahasiswa IAIN di Tanjung Karang
1986
4.
Tarbiyyah Islamiyyah di Sumatera Barat
1990-1994
5.
Muzakarah Du'at se Sumatera /Jakarta di
Sumatera Selatan 1994
6.
Muzakarah Du'at se Sumatera/Jakarta di Sumatera Selatan 1996
7.
Muzakarah Du'at se Sumatera/ Jakarta di Bukit Tinggi 1998
8.
Muzakarah Manajemen Zakat, IMZ Jakarta 2002
9.
Seminar Syari'ah Nasional di Medan Sumatera
Utara 2000
10.
Pertemuan Anggota DPRD se Indonesia di Jakarta 2000
11.
Pertemuan Anggota DPRD se Indonesia di Bogor 2002
12.
Pertemuan da'i IIRO se Indonesia di Jakarta 2000
13.
Silaturrahmi Nasional Anggota Legislatif di
Jakarta 2005
BUKU YANG
TELAH DITERBITKAN
1.
Fikih Wanita, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
2.
Tarbiyatul Aulad, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
3.
Kumpulan Ceramah Praktis, Nurul Haq, 2010
4.
Renungan Ramadhan, Pustaka Setia Bandung, 2011
5.
Memanusiakan Manusia, Qibla Jakarta, 2011
6.
Kumpulan Khutbah Jum’at, Pustaka Setia Bandung, 2011
7.
Khutbah Jum’at, Janji Allah dan Upaya Meraihnya, Arkola
Surabaya, 2011
8.
Khutbah Jum’at Penyejuk Hati, Pustaka Albana Jogjakarta,
2012
9.
Andai Aku Tahu Dosa Itu Ada, FAM Publishing Kediri, Jawa
Timur, 2012
10.
Kumpulan Khutbah Jum’at Terbaik, Mutiara Media, Jogjakarta, 2013
11.
Man Rabbuka, Al Barokah, Jogjakarta, 2014
12.
Ensiklopedi Penulis Indonesia Jilid I, FAM Publishing Kediri,
Jawa Timur,2014
13.
Kumpulan Khutbah Pengobat Hati, Mutiara Media, Jogjakarta, 2014
PUBLIKASI
TULISAN DI MEDIA
1.
Majalah Serial Khutbah Jum'at, Jakarta
2.
Majalah Suara Masjid, Jakarta
3.
Majalah Ishlah, Jakarta
4.
Majalah Reformasi, Jakarta
5.
Majalah Al Muslimun, Bangil
6.
Majalah Sabili, Jakarta
7.
Majalah Tarbawi, Jakarta
8.
Majalah Muamalat, Jakarta
9.
Majalah Kiblat, Jakarta
10.
Majalah Harmonis, Jakarta
11.
Majalah Estafet, Jakarta
12.
Majalah Sakinah, Jakarta
13.
Harian Serambi Minang, Padang
14.
Harian Semangat, Padang
15.
Harian Mimbar Minang, Padang
16.
Harian Singgalang, Padang
17.
Tabloid Sumbar Post, Padang
18.
Tabloid Zaman, Padang
19.
Tabloid Solinda, Kabupaten Solok
20.
Tabloid Lentera, Padang
21.
Tabloid Suara Keadilan Rakyat, Sawahlunto
22.
Tabloid, Media Islam Batam
23.
Tabloid Dyi’ar Islam Batam
24.
Buletin DPW PKS Sumatera Barat, Padang
25.
Buletin Riswan, Koto Baru Kabupaten Solok
26.
Buletin Da'wah Masjid Al Furqan Kota Solok
27.
Buletin Da'wah Garda Anak Nagari Kabupaten
Solok
28.
Buletin Da'wah Sebening Embun Solok
29.
Buletin Da'wah Selasih Solok
30.
Mingguan Suara Rakyat, Solok
31.
Mingguan Bijak, Padang
32.
Mingguan Swadesi, Jakarta
33.
Mingguan Sentana, Jakarta
34.
Mingguan Raden Intan Pos, IAIN Lampung
35.
Pariaman Post, Sumatera Barat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar