RAMADHAN
DAN ISRAF
Drs.St.Mukhlis
Denros
Ramadhan
mendidik kita menjadi ummat yang hidup pertengahan dengan mengedepankan halal
lagi baik walaupun hidup sederhana, tinggalkan yang haram walaupun sedikit dan
raihlah yang halal sebanyak-banyaknya.Seorang mukmin bersifat tawazun artinya
seimbang dalam hidupnya dengan meninggalkan segala hal yang berlebih-lebihan.
Jangan turuti langkah-langkah syaitan yang menyerukan “mencari yang haram saja
sulit apalagi yang haram”, jangan pula
terpedaya dengan gaya hidup tiga H “halal
haram hantam”.
Allah
menghalalkan segala yang baik di dunia ini agar dapat dinikmati oleh manusia,
tapi tidak semuanya yang halal itu harus dinikmati, selain diukur dengan
kemampuan finansial juga menjaga diri dengan sikap sederhana, itulah cermin hidup seorang muslim, untuk
hidup mewah dan berlebih-lebihan semua orang bisa tapi untuk hidup sederhana
hanya orang-orang tertentu saja yang mampu, hidup sederhana ketika dalam
kekurangan semua orang bisa karena memang sudah keadaan tapi hidup sederhana
ketika kaya dan berada siapa yang mampu.
"Tidak
bakal susah orang yang hidup sederhana." Demikian sabda Nabi Muhammad SAW
dalam riwayat Imam Ahmad. Hadis ini hanyalah salah satu dari sekian banyaknya
sabda Nabi yang menyerukan pentingnya hidup sederhana. Dan, prinsip kesederhaan
ini tidak hanya terucap melalui kata-kata tetapi juga mengejawantah dalam laku
keseharian beliau.
Ibnu
Amir pernah memberikan kesaksian perihal hebatnya kesederhanaan dan
ketawadhuan Rasulullah, di tengah kedudukannya yang luhur di antara umat
manusia. "Aku pernah melihat Rasul melempar jumrah dari atas unta tanpa
kawalan pasukan, tanpa senjata, dan juga tanpa pengawal."
Menurut
Ibnu Amir, Rasul menaiki keledai berpelanakan kain beludru dan dibonceng pula.
Sering menjenguk orang yang sakit, mengantar jenazah, menghadiri undangan dari
seorang budak, mengesol sandalnya, menambal pakaiannya, dan mengerjakan
pekerjaan rumah bersama istri-istrinya.
Pernah
suatu ketika, Rasulullah bertemu dengan seorang laki-laki yang kemudian gemetar
karena kewibawaan beliau. Melihat hal itu, Muhammad SAW berujar untuk
menenangkan laki-laki tersebut, "Tenanglah aku bukanlah seorang raja,
namun aku hanyalah anak dari wanita Quraisy yang makan dendeng."
Saat
dia berkumpul dan berbaur dengan para sahabatnya, tak tebersit sedikit pun
sikap untuk menonjolkan dirinya. Sehingga, manakala ada seorang tamu asing
datang ia tak bisa membedakan Rasulullah dengan para sahabatnya. Ini memaksanya
bertanya yang mana Rasulullah.
Bayangkan,
seorang tokoh publik kelas dunia-akhirat sulit dikenali lantaran kesederhanaan
dan ketawadhuannya. Memilih hidup sederhana tidak identik dengan hidup miskin,
atau memerosokkannya dalam kemiskinan, sebagaimana tecermin dalam hadis di atas.[Makmun Nawawi,
Hidup Sederhana, republika.co.id.Senin, 11 April 2011 12:20 WIB].
Khusus tentang harta bagaimana seorang mukmin
dapat mengalokasikan hartanya memakai skala prioritas, tidak semua harus kita
beli dan miliki, masih banyak keperluan lain yang membutuhkan biaya tidak sedikit,
bentuk lain dari tabzir adalah
mengeluarkan dana untuk konsumsi rokok, bagi perokok yang menghabiskan
dana sekian ribu dalam sehari semalam selain tidak baik bagi kesehatan juga
telah menghambur-hamburkan harta untuk hal yang tidak ada manfaatnya bahkan
banyak mudharatnya.
Termasuk tabzir adalah
biaya pesta yang berlebih-lebihan dengan alokasi dana yang tidak pada
tempatnya, hanya sebatas untuk menyenangkan tamu saja seperti harus mengundang penyanyi dan alat musik,
walimah atau pesta pernikahan adalah acara yang sakral kenapa harus dihiasi
dengan hal-hal yang tidak disukai Allah.
Membeli sesuatu yang
belum/tidak perlu untuk dimiliki saat sekarang, hanya karena melihat tetangga
atau pengaruh iklan yang menggiurkan sehingga harus hutang kian kemari hanya
untuk memenuhi status sosial agar sederajat dengan tetangga, itulah makanya
janganlah sering bertandang ke rumah tetangga karena ”Apa yang ada di rumah tetangga seolah-olah cocok juga untuk dirumah
kita”. Dan piknik yang berketerusan. Resiko pelesiran ialah dana demi
mendapatkan kesenangan sesaat, sebenarnya jiwa kita perlu refresing untuk
menyegarkan perasaan, tapi bila refreshing sering dilakukan selain mubazir
waktu dan tenaga juga membutuhkan dana yang tidak sedikit. Allah berfirman;"Dan
berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin
dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan
(hartamu) secara boros"[Al Isra’ 17;26].
Apa yang dimiliki manusia,
apapun yang diperjuangkannya tidak lepas dari pemuasan nafsunya, apakah nafsu
perut atau nafsu biologis, secara wajar hal itu tidaklah terlarang, tapi sikap
sederhana dan berhati-hati harus jadi pegangan seorang mukmin karena dengan
semuanya itu kadangkala mengajak manusia jadi budak nafsu dan hamba dunia, untuk
itulah Sheikh Yusuf Qardawi
memberikan nasehatnya kepada kita agar punya sikap iffah terhadap perut dan
kemaluan.
Betapa banyaknya manusia yang
tergelincir ke lembah kehinaan, akibat tidak dapat menjaga nafsu perut dan
kemaluan. Mereka menjadi budak perut dan kemaluannya. Mereka dikatakan sebagai
binatang ternak oleh al-Qur'an, karena hidupnya hanyalah mengikuti hawa nafsu
yang bersumber dari perut dan kemaluannya.
Manusia yang sabar dan dapat
menahan diri dari syahwat perut dan kemaluan disebut dengan iffah. Manusia yang
memiliki iffah, dan sabar atas segala bentuk syahwat, terutama yang berasal
dari syahwat perut dan kemaluan akan menjadi manusia yang memiliki iffah yang
tinggi, sehingga Allah akan selalu menjaganya, dan diselamatkan dari segala
kehinaan di dunia dan akhirat.
Manusia yang sudah menjadi
budak syahwat perut dan kemaluan itu, dia akan kehilangan rasa malunya, dan
tidak lagi sensitif terhadap perbuatannya, serta membiarkan dirinya
bergelimangan dengan dosa. Rasa iffah menjadi sirna dan pupus, tak ada lagi
yang tersisa dalam dirinya. Kebaikan yang tersisa di dalam dirinya punah
seketika, dan selalu bangga dengan dosa dan kedurhakaannya yang dilakukannya
terhadap Allah Azza Wa Jalla. Semuanya itu merupakan buah dari sifatnya yang
sudah dikendalikan oleh syahwat perut dan kemaluan.
Manusia yang sudah
dikendalikan hawa nafsunya akan selalu berkeluh kesah, yaitu dengan
meperturutkan hawa hafsunya, dan terkadang dengan melepaskan amarahnya dengan
suara yang tinggi. Ini repleksi dari amarah dan nafsu yang sudah tidak
terkendeali lagi oleh orang-orang yang sudah dikendalikan hawa nafsunya.
Terkadang berbuat melanggar batas-batas yang sudah ditentukan oleh Allah
Ta'ala, dan berbuat dengan kianat, serta membabi buta, dan kehilangan kontrol
atas dirinya.[Bersikap Iffahlah Terhadap Perut dan Kemaluan,
Eramuslim.com.Selasa, 12/04/2011 10:04 WIB].
Dr. Sayyid Nuhmenjelaskan
makna israf dan factor-faktor penyebabnya sebagaimana tulisan beliau dalam
eramuslim.com berikut ini;
Israf mempunyai makna
melakukan sesuatu, tetapi tidak dalam rangka ketaatan, atau boros dan melampui
batas. (kitab al-Qumus al-Muhiith, 3/15). Tetapi, israaf ialah penyakit rohani
berupa perbuatan yang melampui batas kewajaran, baik dalam hal makanan,
minuman, pakaian, tempat tinggal, dan lain sebagainya.
Faktor-Faktor Penyebab
Israaf
Pertama, latar belakang
keluarga. Sikap israaf dapat timbul akibat pengaruh situasi dan kondisi serta
latar belakang keluarga. Seseorang yang dibesarkan disebuah lingkungan keluarga
yang diwarnai oleh sikap senang berlaku israaf dn berfoya-foya , maka
kmungkinan besar dirinya akan tertulari oleh penyakit itu, kecuali mereka
dikasihi oleh-Nya. Seorang penyair melukiskan fenomena tersebut dalam untaian
syairnya seperti :“Seseorang akan tumbuh berkembang, sebagaimana yang
dibiasakan oleh orang tuanya”.
Dari keterangan diatas agaknya
kita dapat memetik hikmah rahasia ajaran Islam yang meminta kepada para orang
tua agar mereka menjadikan tuntutan syariah Allah sebagai rujukan dalam memilih
jodoh bagi putra-putrinya :“Dan kawinkanlah orang-orang sendirian (belum
kawin) diantara kamu, dan (kawinkanlah) orang-orang yang shaleh (baik) di
antara hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang
perempuan.” (QS. An-Nuur [24] : 32)
“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita
musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih
baik daripada wanita musyrik walaupun ia menarik hatimu. Jangahlan kamu
menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum beriman.
Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik daripada orang musyrik walaupun dia
menarik perhatian hatimu. Mereka akan mengajakmu ke neraka, sedang Allah
mengajakmu ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2] :
221)
Kedua, keluasan rezeki yang
diperoleh setelah kesempitan. Sebab lain yan dapat mendorong sikap israaf
adalah keluasan atau kemudahan dalam mendapatkan rezeki atau kesenangan hidup
yang sebelumnya sangat sulit didapatkan. Di kalangan umat ini kerap terjadi
kasus orang-orang yang selagi mereka dicoba oleh Allah dengan kesempaitan
rezeki dan aneka kekurangan hidup lainnya, mereka mampu bersikap sabara dan
tabah menerima keadaan tersebut.
Mereka masih tetap bertahan
memegang kendali prinsip-prinsip Ilahi. Akan tetapi manakala mereka dicoba oleh
Allah dengan kelapangan rezeki dan kemudahan mendapatkan kesenangan hidup,
justru mereka tidak mampu bersikap tawassuth (pertengahan) dan I’tidal
(seimbang) dalam mempergunakan harta dan kenikmatan hidup yang ada pada dirinya
untuk menuju keridhaan –Nya. Sebaliknya, sikap hidup mereka berbalik drastis
dan berlaku israaf dan tabdziir (menyia-nyiakan harta).
Amr bin Auf r.a.
meriwayatkan bahwasanya Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, bersabda :
“Sebarkanlah berita gembira dan bercita-citalah dengna sesuatu yang membuat
kalian senang. Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku kawatirkan atas kalian,
tetapi aku kawatir jika dunia telah dihamparkan kepada kalian sebagaimana
dihamparkan kepada umat terdahulu, kemudian kalian akan saling berlomba
sebagaimana mereka berlomba, sehingga akhirnya, hal iu akan membinasakan
kalaian, sebagaimana telah membinasakan mereka.” (HR Bukhari dan Muslim)
Abu Sa’id al Hudri r.a
juga meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalahu Alaihi Wa salam, bersabda :
“Sesungguhnya kehidupan dunia itu manis dan menawaan, dan sesungguhnya Allah
menjadikan kalian Khalifah diatasnya. Maka takutlah kalian dengan manisnya
kehidupan dunia dan waspadalah terhadap wanita , karena sesungguhnya awal
fitnah yang menimpa Bani Israel adalah wanita.” (HR. Muslim)
Seorang muslim akan diuji oleh
Allah isteri dan anak-anaknya. Yaitu melalui adat kebiasaan mereka. Jika kita
tidak waspada, teliti, serta sabar dalam menghadapinya, maka kita akan mudah
sekali dipengaruhi oleh mereka.
Jika kebetulan anak dan isteri
kita itu senang berperilaku israaf, maka boleh jadi perilakunya itu akan mudah
sekali menghinggapi kita. Oleh karena itu, ajaran islam memberikan peringatan
agar kita memiliki sikap selektif dalam memilih calon seorang isteri.[Penyebab
Gagalnya Dakwah : Israaf (Berlebihan), Senin, 07/03/2011 14:18 WIB].
Ketika sendiri seseorang bisa
untuk mengatur keuangannya dengan baik sesuai dengan aturan yang jelas sehingga
sikap hemat dapat dijalan dengan baik tapi ketika sudah berkeluarga banyak
sekali tuntutan kehidupan yang dapat merobek kantong suami, kalaulah untuk
kebutuhan yang penting masih dapat ditolerir, tapi terlalu banyak uang keluar
untuk kebutuhan yang tidak dan belum diperlukan, faktornya karena keinginan
isteri, sikap menyenangkan isteri inilah yang membuat suami tidak tega menyatakan
“tidak” ketika isteri meminta sesuatu. Aa Gym menyoroti rumah tangga yang hidup
bermewah-mewah mendatangkan kehancuran;
Mau dibawa kemana rumah tangga kita ini,
apakah mau bermewah-mewahan, mau pamer bangunan dan kendaraan atau rumah tangga
kita ini adalah rumah tangga yang punya kepribadian yang nantinya akan menjadi
nyaman. Jangan sampai rumah tangga kita ini menjadi rumah tangga yang
hubuddunya, karena semua penyakit akarnya dari cinta dunia ini. Orang sekarang
menyebutnya materialistis. Bangsa ini roboh karena pecinta dunianya terlalu
banyak. Acara tv membuat kita menjadi yakin bahwa dunia ini alat ukurnya adalah
materi. Pelan tapi pasti kita harus mulai mengatakan dunia ini tidak ada
apa-apanya. Di dunia ini kita hanya mampir. Dengan konsep yang kita kenal yaitu
rumus ‘tukang parkir’. Yang tadinya bangga dengan merk menjadi malu dengan
topeng yang dikenakannya. Nanti pelan-pelan akan menjadi begitu.
Bukannya kita harus hidup miskin. Nanti
akan terjadi suasana di rumah tidak goyah, lebih sabar, melihat dunia menjadi
tidak ada apa-apanya dan tidak sombong. Lihat kembali rumus ‘tukang parkir’, ia
punya mobil tidak sombong, mobilnya ganti-ganti tidak takabur, diambil satu
persatu sampai habis tidak sakit hati. Mengapa ? karena tukang parkir tidak merasa
memiliki hanya tertitipi.
Ketika melihat orang kaya biasa saja karena sama saja cuma menumpang di dunia ini jadi tidak menjilat, kepada atasan tidak minder, suasana kantor yang iri dan dengki jadi minimal.
Jadi visi kita terhadap dunia ini akan
berbeda. Kita tidak bergantung lagi kepada dunia, tidak tamak, tidak licik,
tidak serakah. Hidup akan bersahaja dan proporsional. Sekarang kita sedang
krisis, masa ini dapat menjadi
momentum karena dengan krisis harga-harga naik, kecemasan orang meningkat, ini kesempatan kita buat berdakwah. Mau naik berapa saja harganya tidak apa-apa yang penting terbeli. Jika tidak terjangkau jangan beli, yang penting adalah kebutuhan standar tercukupi. Orang yang sengsara bukan tidak cukup tetapi karena kebutuhannya melampaui batas. Padahal Allah menciptakan kita lengkap dengan rezekinya. Mulai dari buyut kita yang lahir ke dunia tidak punya
apa-apa sampai akhir hayatnya masih makan dan dapat tempat berteduh terus.
momentum karena dengan krisis harga-harga naik, kecemasan orang meningkat, ini kesempatan kita buat berdakwah. Mau naik berapa saja harganya tidak apa-apa yang penting terbeli. Jika tidak terjangkau jangan beli, yang penting adalah kebutuhan standar tercukupi. Orang yang sengsara bukan tidak cukup tetapi karena kebutuhannya melampaui batas. Padahal Allah menciptakan kita lengkap dengan rezekinya. Mulai dari buyut kita yang lahir ke dunia tidak punya
apa-apa sampai akhir hayatnya masih makan dan dapat tempat berteduh terus.
Orang tua kita lahir tidak membawa
apa-apa sampai saat ini masih makan terus, berpakaian, dan berteduh. Begitu
pula kita sampai hari ini. Hanya saja disaat krisis begini kita harus lebih
kreatif. Mustahil Allah menciptakan manusia tanpa rezekinya kita akan bingung
menghadapi hidup. Semua orang sudah ada rezekinya. Dan barangsiapa yang hatinya
akrab dengan Allah dan yakin segala sesuatu milik Allah, tiada yang punya
selain Allah, kita milik Allah. Kita hanya mahluk dan yang membagi, menahan dan
mengambil rezeki adalah Allah. Orang yang yakin seperti itu akan dicukupi oleh
Allah.
Satu contoh hal yang disebut kurang
syukur dalam hidup itu adalah kalau hidup kita itu Ishro yaitu berlebihan,
boros, dan bermewah-mewahan. Hati-hati yang suka hidup mewah, yang senang
kepada merk itu adalah kufur nikmat. Mengapa? Karena setiap Allah memberi uang
itu ada hitungannya. Mereka yang terbiasa glamour, hidup mewah, yang senang
kepada merk termasuk yang akan menderita karena hidupnya akan biaya tinggi.
Pasti merk itu akan berubah-ubah tidak akan terus sama dalam dua puluh tahun.
Harus siap-siap menderita karena akan mengeluarkan uang banyak utnuk mengejar
kemewahannya, untuk menjaganya dan untuk perawatannya.
Dia juga akan disiksa oleh kotor hati
yaitu riya'. Makin mahal tingkat pamernya makin tinggi. Dan pamer itu
membutuhkan pikiran lebih, lelah dan tegang karena rampok akan berminat.
Inginnya diperlihatkan tapi takut dirampok jadinya pening. Makin tinggi
keinginan pamer makin orang lain menjadi iri/dengki. Pokoknya kalau kita
terbiasa hidup mewah resikonya tinggi. Ketentraman tidak terasa. Hal yang bagus
itu adalah yang disebut syukur yaitu hidup bersahaja atau proporsional. Kalau
Amirul Mukminin hidupnya sangat sederhana, kalau seperti kita ini hidup
bersahaja saja, biaya dan perawatan akan murah.[ Indahnya Hidup Bersahaja, K.H. Abdullah
Gymnastiar].
Israf bukan hanya melanda
kehidupan pribadi dan keluarga saja tapi pihak pemerintahpun melakukannya
bahkan lebih kebablasan lagi apalagi anggaran yang tersedia memang harus
dihabiskan.
Dalam rangka menghabiskan
anggaran, kadang orang yang “ditugaskan” (untuk ikut menghabiskan anggaran)
tidak faham. Kok ada pekerjaaan yang tidak perlu dikerjakan tetapi dibiayai
mahal. Leha-leha, enak-enakan dan tidak usah menghasilkan apa-apa, namun
dibiayai dengan mahal.
Kalau sekadar iseng-iseng cari
contoh, misalnya apa yang dialami seorang wartawan di zaman orde baru. Wartawan
dari surat kabar di Jakarta itu tahu-tahu ditugaskan untuk meliput tentang
seberapa besar ramainya penerbangan di Kalimantan pada saat menjelang tahun
baru. Wartawan itu dengan rekannya yang lain dari surat kabar lain pula sudah
diberi tiket dari satu departemen, tinggal terbang. Sampai di Kalimantan ya
hanya untuk melhat-lihat, seberapa ramainya orang yang hilir mudik untuk
bepergian dengan kapal terbang.
Saat itu kondisinya sepi.
Tidak ada peningkatan apa-apa mengenai jumlah para penumpang kapal terbang. Dan
tampaknya data dan liputan dari wartawan —yang dia sendiri tidak tahu kenapa
ditugaskan untuk meliput yang macam ini— agaknya tidak dibutuhkan. Karena
liputan itu pun tidak layak sebagai berita. Tidak ada apa-apanya. Jadi untuk
apa?
Ya, kalau dikaitkan dengan
ancang-ancang untuk menghabiskan anggaran, boleh jadi itu salah satu darinya.
Intinya, hasil tidak
diperlukan. Memang tidak untuk meraih hasil. Yang penting itu kan anggaran bisa
habis.[Hartono
Ahmad Jaiz, Tren Menghabiskan Anggaran Belanja,
Nahimungkar.com.Selasa, 21/12/2010 08:50 WIB].
Israf
bukan hanya merusak kantong pribadi juga merusak kepribadian keluarga sehingga
berlakulah besar pasak dari pada tiang, kita memenuhi segala sesuatu sesuai
dengan kemauan tanpa mengukur kemampuan, lebih gilanya lagi harus menggadaikan
barang berharga, menjualnya bahkan pinjam sana sini untuk memenuhi keinginan
nafsu, memperturutkan dunia, kita telah menjadikan diri kita sebagai hamba dunia,
kita telah melupakan diri kita sebagai hamba Allah.
Imam Shon’ani dalam Subulu as
Salam syarah Bulughu al-Maram menjelaskan. Bahwasanya yang dimaksud dengan
hamba dinar dan dirham adalah orang yang menghambakan dirinya kepada duniawi.
Ketika ia mencari dunia seolah ia adalah hamba dari dunia itu dan dunia adalah
sang raja-nya. Serta ia telah benar-benar tenggelam kepada syahwat duniawinya.
Beliau juga menambahkan.
Bahawasanya yang tercela dari dunia adalah ketika seorang hamba telah
menenggelamkan dan menyibukan dirinya untuk dunia. Sehingga ia melupakan
kewajibannnya kepada Allah SWT. Dzat yang lebih berhak diutamakan dari apapun
dan siapapun.
‘abdullah artinya hamba Allah,
menuhankan Allah SWT. Dari sini kita bisa juga maknai. Bahwasanya ‘abdu ad-dirham
dan ‘abdu ad-dinar, hamba dirham dan hamba dinar. Orang yang menuhankan dirham
serta dinar. Dimana dirham dan dinar adalah perlambang dari materi atau
duniawi. Ini seperti yang diisyaratkan Imam Shon’ani. Namun ia tidak sampai
jatuh pada hukum syirik.
Ketika kita menghalalkan segala cara untuk
mendapatkan materi. Ketika kita tidak menghiraukan status harta itu. Apakah ia
syubhat, haram, atau halal. Yang penting kita mendapatkannya. Bukankah itu
sudah termasuk dari penghambaan kepada materi? Menyerahkan diri, melakukan
apapun demi materi. [Agustiar Nur Akbar,Hamba Duniawi, republika.co.id
Sabtu, 02 Juli 2011 12:11 WIB].
Israf yaitu
hidup berlebih-lebihan tentang dunia, untuk sementara memang mendatangkan
keindahan dan kesenangan, tapi semua itu harus dibayar dengan harga yang mahal,
tabungan yang semakin menipis, perhiasan yang harus dijual, sawah ladang
digadaikan, rumah disegel bank, kendaraan diincar orang, yang akhirnya membuat
diri tidak bebas, jiwa resak gelisah,
panic dan kalut yang akan mendatangkan sekian penyakit dan kesengsaraan lainnya
mungkin tenggelam dalam penjara karena tidak mampu melunasi hutang, apalagi
terlibat pula praktek korupsi, israf menjadikan manusia sebagai hamba dunia
dengan melupakan Tuhan sebenarnya yaitu Allah, Wallahu a’lam. [Baloi Indah, 13 Ramadhan 1436.H/2015, Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam, Kepri]
PROFIL PENULIS
Penampilan
sederhana ini bernama Mukhlis yang dilahirkan di ujung Selatan Pulau
Sumatera yaitu Metro [Lampung Tengah] tanggal 3 April 1964
anak ketiga dari ayah bernama Sutan
Denak dan ibu Rosnidar dengan enam orang adik kakak yaitu Ernawati, Marsudi,
Erma, Septiyani, Mahdalena dan Adek Wahyuli, isteri bernama Yulismar S.Pd
[Ayang] dengan seorang anak wanita bernama Rani Ihsani Mukhlis, nama yang akrab
di kalangan teman dan sahabatnya adalah Mukhlis Denros. Kampung asalnya Kampani Barangan Selatan,
Nagari Lurah Ampalu, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak Kabupaten Padang
Pariaman, Sumatera Barat, dengan suku Koto, besar dan menempuh pendidikan di
Kota Lada Metro Lampung.
Pendidikan yang pernah ditempuhnya yaitu
SDN yang dimulai di SDN Koto Marapak [Kota Pariaman], ketika kelas IV dia harus
meninggalkan kampung bersama ayah dan ibunya menuju Metro, SD diselesaikannya
di SDN IV Metro, dilanjutkan ke SMP PGRI Metro, kemudian SMAN 135 Metro yang
dapat diselesaikan tahun 1984, tidak ada maksud untuk kuliah karena berbagai
faktor, berkat dorongan teman-teman dan gurunya terutama Ustadz Masnuni M.Ra'i,
Alfuadi Rusli, H. Muhammad Lazim, H. Fakhrudin, Sugito, Hayumi Rb,Hayumi Rf, H.
Rasyidin dan Malin Marajo di Masjid Al Jihad akhirnya tahun ini juga
melanjutkan kuliah di IAIN, inilah pendidikan terakhir yang ditempuhnya yaitu
Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Institut Agana Islam Negeri
[IAIN] Raden Intan Lampung di Metro
tamat tahun 1990. Ketika tamat kuliah dia harus meninggalkan Metro dan memulai
kiprahnya di Koto Baru Kabupaten Solok Sumatera Barat sebagai pendidik, dosen,
penulis, mubaligh hingga sebagai
politisi akhirnya.
Sejak di bangku SMA hingga tamat kuliah,
Mukhlis giat di OSIS Gema Al Qur'an AL
Jihad dan Remaja Masjid Al Jihad Metro
bersama teman-temannya Dody Sofial, Abul Fatrida, Yurnalis, M. Syafei,
Irza Murni, Gusnita, Herwina, Afrizal, Yohanes dan Rita Suryani, dikala kuliah
bergabung dengan HMI Cabang Metro bersama Ahmad Ridwan, Gatot Subroto, Sigit
Triyono, Syuhada', Raihan dan Usdek, mengikuti pengkaderan Basic Training di
Metro tahun 1985 dan Intermediate Training di Palembang tahun 1986 dan pernah
menjabat sebagai Sekretaris HMI Komisariat IAIN dan wakil sekretaris HMI Cabang
Metro.
Menjadi guru adalah cita-citanya sejak
awal dan hal itu telah terujud walaupun tidak sebagai PNS, pernah mengajar di
GAA dan SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah, mengajar di SMEA Budi Mulia Koto
Baru, MTsN Koto Baru Solok dan sebagai dosen PGTK Adzkia Padang, Aktivitas
sebagai pendidik ini dia tekuni sejak di bangku kuliah tahun 1984 sampai tahun
2000, kemudian aktif sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok utusan dari Partai
Keadilan/Partai Keadilan Sejahtera, selama dua periode 1999-2009. Di Solok
bersama teman-temannya yaitu Mahyeldi Ansharullah, Afrizal M Noor, Muhidi,
Nurfirmanwansyah, Johandrizon Syamsu, Ahmad Syafwan Nawawi, Firmansyah, Abdul Ghani,
Gustami Hidayat, Saifullah Salim,
Rudianto, Busril, Endrizal, Ismail Zain, Devi Herizon, Ilzan Sumarta, dan Helmi
Darlis merintis kegiatan da'wah sejak tahun 1990 di sekolah, kampus, dan
masjid-masjid melalui pesantren kilat, diskusi, ceramah dan khutbah sebagai
cikal bakal berdirinya Partai Keadilan ketika itu.
Tahun 1998 dikala Reformasi terjadi,
sekian partai berdiri untuk menyongsong Indonesia yang lebih demokratis setelah
lengsernya Soeharto kemudian dilanjutkan oleh BJ Habibie, berdiri pulalah
partai yang berbasiskan anak-anak muda kampus dengan kapasitas da'wah dan
tarbiyah, partai itu bernama Partai
Keadilan. Mukhlis diamanatkan oleh DPW PK Sumatera Barat sebagai ketua DPD PK
di Kabupaten Solok, pelantikan pengurus DPW dengan ketua Drs. Ahmad Syafwan
Nawawi dan DPD PK se Sumatera Barat dikukuhkan di Padang oleh DR. Nur Mahmudi
Ismail MSc sebagai Presiden Partai Keadilan pertama.
Dikala Partai Keadilan menjadi Partai Keadilan Sejahtera untuk kedua
kalinya Mukhlis Denros dipercaya sebagai ketua DPD di Kabupaten Solok dan
jabatan terakhir di partai dipercayakan kepadanya adalah sebagai Ketua Zona
Da'wah VII PKS Sumatera Barat hingga tahun 2007, yang membina DPD PKS Kota
Solok, Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan. Terlalu banyak pelajaran
dan pengalaman yang dia terima dari kegiatan da'wah dan partai bersama
teman-temannya
Mukhlis Denros, demikian akrab di sapa,
selain sebagai pendidik juga aktif berda’wah baik melalui ceramah, diskusi
agama, khutbah dan penyebaran tulisannya melalui Buletin Da’wah Garda Anak
Nagari serta media Nasional yang pernah memuat tulisannya seperti Majalah
Serial Khutbah Jum’at, Majalah Suara Masjid , Majalah Sabili, Majalah Tarbawi,
Majalah Ishlah, Majalah Reformasi Jakarta, Majalah Al Muslimun Bangil serta koran
Swadesi dan Sentana juga pernah memuat tulisannya yang sarat dengan pendidikan
dan nuansa islamnya, Media Mimbar Minang Padang selama bulan Ramadhan penuh
memuat tulisannya tiap hari terbit. Dia
tidak pernah membuang waktu dengan kegiatan yang tidak ada manfaatnya,
waktunya selalu terisi dengan aktivitas positif seperti membaca atau menulis
selain kegiatan harian lain.
Mukhlis
Denros Terima Penghargaan Sebagai Penulis Terbaik dari Media Suara Keadilan
Rakyat (SKR) , Minggu (15/12) di Gedung Pusat Kebudayaan kota
Sawahlunto.Penghargaan tersebut merupakan program Tabloit SKR yang selama ini
membentuk tim untuk melakukan penilaian terhadap sejumlah penulis dan tokoh di
Sumatera Barat dengan sejumlah kategori yang ditetapkan.
Penganugerahan sebagai Penulis Terbaik SKR Awards 2013
yang diberikan kepada Mukhlis Denros diserahkan oleh Wakil Wali Kota Sawah
Lunto yaitu Bapak Ismet SH, Mukhlis Denros dinilai sebagai penulis terbaik
karena konsistensinya dalam menulis berbagai pemikiran berkaitan dengan dakwah,
pendidikan dan politik yang telah melahirkan berbagai buku yang diterbitkan
oleh penerbit.
Mukhlis
Denros menerima berupa plakat dan piagam sebagai bentuk penghargaan atas
keberhasilannya menulis yang dinilai sebagai penulis terbaik, sebagaimana
penilaian TIM SKR yang terdiri dari Prof, Wil Chandry, Fadril Aziz Isaini dan
Prof,DR, H. Salmadanis, Mag.
Pada
malam penganugerahan SKR Awards 2013 tersebut
diserahkan 13 penghargaan dengan kategori berbeda kepada tokoh
lainnyayang dihadiri oleh Wawako Sawahlunto, Ismed, Pimpinan Serikat Perusahaan
Pers Pusat, Totok dan pendiiri Tabloit SKR, Riko Adiutama beserta sejumlah
tokoh Sumatera Barat lainnya.
Moto hidupnya sangat sederhana, agar
bermanfaat bagi orang lain dengan potensi yang dimiliki, semua itu hanya bisa
dilakukan dengan pendidikan yang
berkualitas. Dia menceritakan bahwa karena kegigihan orangtuanyalah untuk
mendidiknya dengan segala kesusahan dan derai air mata tapi akhirnya berhasil
mengantarkannya sebagai sarjana. Sebagai modal hidup di dunia ini,
sehingga dapat dikatakan tak bisa
membalas dan mengukur jasa orangtua yang telah mengantarkan kesuksesannya baik
memimpin partai maupun sebagai anggota
DPRD dalam dua periode ini. Bersama Partai Keadilan dan PPP Kota Solok tahun 2000 dia pernah dicalonkan
sebagai Wakil Wali Kota Solok yang berpasangan dengan Drs. Syukriadi Syukur.
Sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok
selama dua periode diembannya, dia tampil sebagai politisi yang kritis dan
bernas terhadap kebijakan Pemda dan Bupati yang tidak sesuai dengan kepentingan masyarat, diapun tidak
segan-segan menghantam anggota DPRD dikala mereka tidak aspiratif
[http://fraksi pks solok.blogspot.com].
Bersama ustadz
Mahyeldi Ansyarullah dalam gerakan da’wah dengan lembaga Al Madaniy di Padang
yang diawali tahun 1990, Mukhlis Denros banyak terlibat dalam berbagai kegiatan
da’wah seperti tahun 1994 pernah ke Palembang untuk mengikuti pertemuan da’i se
Jakarta dan Sumatera undangan dari Yayasan Bumi Andalas dan tahun 2000 Seminar
Nasional tentang Syari’ah di Medan yang diiringi dengan berbagai pertemuan
da'wah di Sumatera Barat ataupun di Jakarta, selain itu juga pernah selama 2
tahun sebagai da’i dari IIRO [Internasional islamic Relief Organisation] dan
kini sebagai anggota IKADI Solok yang juga memimpin yayasan Garda Anak Nagari
Sumatera Barat.
Organisasi lain yang
ikut dia tekuni selama di DPRD adalah sebagai Sekjen Majelis Ulama Indonesia
[MUI] Kabupaten Solok, sebagai Badan Pengawas Badan Amil Zakat Kabupaten Solok,
juga ikut membidani lahirnya beberapa lembaga da'wah berbentuk Yayasan di
Kabupaten Solok yang dikelola oleh teman-temannya seperti Yayasan Sinergi
Ummat, Yayasan Lukmanul Hakim, Yayasan Amanah Bunda, Yayasan Ahda Sabila,
Yayasan Nurul Haq, Yayasan Garda Anak Nagari dan Yayasan Selasih Solok.
Setelah dua periode
menyelesaikan tugas sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok, dalam mengisi
kegiatan hariannya Mukhlis Denros bersama isteri Yulismar S.Pd tinggal di
Nagari yang berbukit dan berlembah, yang sejuk dan asri, jauh dari kebisingan,
aman dan nyaman yaitu Jorong Cubadak Nagari Pianggu Kecamatan IX Koto Sungai
Lasi, Kabupaten Solok, Sumatera Barat tetap konsisten dengan kegiatan
sebelumnya yaitu da'wah dan menulis.
Sejak bulan Februari 2015, setelah enam tahun tinggal
di Cubadak Pianggu Kecamatan Sungai Lasi Kabupaten Solok Sumatera Barat, kini Mukhlis Denros menetap di Kota Batam
Kepri, turut berkiprah sebagai staf di Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Kota
Batam yang diketuai oleh Ibu Dra. Hj.
Helma Munaf, M.Pd dan bergabung pula dengan PMB [Persatuan Mubaligh Batam].
Di Batam, Mukhlis Denros dengan Pedro Johansis dan Mardison
mengembangkan Yayasan Garda Anak Nagari dengan membuka Garda Anak Nagari Provinsi Kepulauan Riau,
Insya Allah dalam waktu dekat akan membuka cabang Garda Anak Nagari di seluruh
Kabupaten dan Kota di Provinsi Kepulauan
Riau, semoga hal itu terujud.
DATA PRIBADI
Nama Lengkap :
Drs. St. Mukhlis Denros
Tempat dan Tanggal Lahir : Metro, 3 April 1964
Jumlah bersaudara : Anak ke 3 dari 7 orang
Nama Ayah : Sutan Denak
Nama Ibu : Rosnidar
Nama Isteri : Yulismar, S.Pd
Nama Anak : Rani Ihsani Mukhlis
RIWAYAT PENDIDIKAN
1.
SDN 4 Metro
Lampung, tamat tahun 1975
2.
SMP PGRI Metro
Lampung, tamat tahun 1981
3.
SMAN 135 Metro
Lampung, tamat tahun 1984
4.
Gema Al Qur'an Al
Jihad Metro tamat tahun 1988
5.
Sarjana Muda
Tarbiyah IAIN Raden Intan Lampung, tahun
1988
6.
Sarjana Tarbiyah
IAIN Raden Intan Lampung tamat tahun 1990
PENGALAMAN ORGANISASI
1.
Ketua Osis GAA Metro Lampung Tengah 1987-1989
2.
Sekum IRM Al Jihad Metro Lampung Tengah 1986-1988
3.
Wakil Sekretaris HMI Cab. Metro Lampung Tengah 1985-1990
4.
Sekjen
Majelis Ulama Indonesia [MUI}
Kab. Solok 2005/2006
5.
Anggota Pengawas BAZ
Kabupaten Solok 2006
6.
Anggota IKADI (Ikatan Da’i Indonesia)
Kabupaten Solok
7.
Da'i
IIRO [International Islamic Relief Org.] Sumbar 1995-1997
8.
Ketua Yayasan
Garda Anak Nagari Sumatera Barat
9.
Ketua Pembina Yayasan Selasih Kabupaten Solok
10.
Ketua Pembina Yayasan Lukmanul Hakim Kota
Solok
11.
.Ketua Yayasan Garda Anak Nagari Kab.Solok
2000-2005
12.
Pembina Yayasan Sinergi Ummat Kota Solok
13.
Pembina Yayasan Amanah Bunda Kabupaten Solok
PENGALAMAN
PROFESI
1.
Guru SMP Al Jihad Metro Lampung Tengah
1988-1990
2.
Guru GAA Metro Lampung Tengah 1988-1990
3.
Guru MTsN Koto Baru Kabupaten Solok 1997-1999
4.
Guru SMK Budi Mulia Koto Baru Kab. Solok
1991-2000
5.
Dosen PGTK Adzkia Kota Padang 1994-2000
6.
Anggota
DPRD Kabupaten Solok Periode
1999-2004
7.
Anggota DPRD Kabupaten Solok Periode 2004-2009
8.
Staff Yayasan Perguruan Islam Al Azhar Batam,
2015-
PERJALANAN
DA'WAH
1.
Maperca dan Basic Training HMI Cabang Metro
1985
2.
Intermediate Training HMI di Palembang 1986
3.
Latihan Pers Mahasiswa IAIN di Tanjung Karang
1986
4.
Tarbiyyah Islamiyyah di Sumatera Barat
1990-1994
5.
Muzakarah Du'at se Sumatera /Jakarta di
Sumatera Selatan 1994
6.
Muzakarah Du'at se Sumatera/Jakarta di Sumatera Selatan 1996
7.
Muzakarah Du'at se Sumatera/ Jakarta di Bukit Tinggi 1998
8.
Muzakarah Manajemen Zakat, IMZ Jakarta 2002
9.
Seminar Syari'ah Nasional di Medan Sumatera
Utara 2000
10.
Pertemuan Anggota DPRD se Indonesia di Jakarta 2000
11.
Pertemuan Anggota DPRD se Indonesia di Bogor 2002
12.
Pertemuan da'i IIRO se Indonesia di Jakarta 2000
13.
Silaturrahmi Nasional Anggota Legislatif di
Jakarta 2005
BUKU YANG
TELAH DITERBITKAN
1.
Fikih Wanita, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
2.
Tarbiyatul Aulad, Panduan Kuliah PGTK Adzkia Padang 1998
3.
Kumpulan Ceramah Praktis, Nurul Haq, 2010
4.
Renungan Ramadhan, Pustaka Setia Bandung, 2011
5.
Memanusiakan Manusia, Qibla Jakarta, 2011
6.
Kumpulan Khutbah Jum’at, Pustaka Setia Bandung, 2011
7.
Khutbah Jum’at, Janji Allah dan Upaya Meraihnya, Arkola
Surabaya, 2011
8.
Khutbah Jum’at Penyejuk Hati, Pustaka Albana Jogjakarta,
2012
9.
Andai Aku Tahu Dosa Itu Ada, FAM Publishing Kediri, Jawa
Timur, 2012
10.
Kumpulan Khutbah Jum’at Terbaik, Mutiara Media, Jogjakarta, 2013
11.
Man Rabbuka, Al Barokah, Jogjakarta, 2014
12.
Ensiklopedi Penulis Indonesia Jilid I, FAM Publishing Kediri,
Jawa Timur,2014
13.
Kumpulan Khutbah Pengobat Hati, Mutiara Media, Jogjakarta, 2014
PUBLIKASI
TULISAN DI MEDIA
1.
Majalah Serial Khutbah Jum'at, Jakarta
2.
Majalah Suara Masjid, Jakarta
3.
Majalah Ishlah, Jakarta
4.
Majalah Reformasi, Jakarta
5.
Majalah Al Muslimun, Bangil
6.
Majalah Sabili, Jakarta
7.
Majalah Tarbawi, Jakarta
8.
Majalah Muamalat, Jakarta
9.
Majalah Kiblat, Jakarta
10.
Majalah Harmonis, Jakarta
11.
Majalah Estafet, Jakarta
12.
Majalah Sakinah, Jakarta
13.
Harian Serambi Minang, Padang
14.
Harian Semangat, Padang
15.
Harian Mimbar Minang, Padang
16.
Harian Singgalang, Padang
17.
Tabloid Sumbar Post, Padang
18.
Tabloid Zaman, Padang
19.
Tabloid Solinda, Kabupaten Solok
20.
Tabloid Lentera, Padang
21.
Tabloid Suara Keadilan Rakyat, Sawahlunto
22.
Tabloid, Media Islam Batam
23.
Tabloid Dyi’ar Islam Batam
24.
Buletin DPW PKS Sumatera Barat, Padang
25.
Buletin Riswan, Koto Baru Kabupaten Solok
26.
Buletin Da'wah Masjid Al Furqan Kota Solok
27.
Buletin Da'wah Garda Anak Nagari Kabupaten
Solok
28.
Buletin Da'wah Sebening Embun Solok
29.
Buletin Da'wah Selasih Solok
30.
Mingguan Suara Rakyat, Solok
31.
Mingguan Bijak, Padang
32.
Mingguan Swadesi, Jakarta
33.
Mingguan Sentana, Jakarta
34.
Mingguan Raden Intan Pos, IAIN Lampung
35.
Pariaman Post, Sumatera Barat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar