Rabu, 23 Mei 2012
16. Pahala Sabar
Oleh ; MUKHLIS DENROS
Seorang mukmin dituntut untuk menerapkan sabar ini dalam seluruh asfek kehidupannya dengan tidak menghilangkan ketegasan serta keberanian. Yang dimaksud sabar bukanlah sebagaimana doktrin agama Nasrai yang mengatakan,”Bila anda ditampar pipi kiri maka serahkan pulalah pipi kanan anda”. Orang yang sabar dinamakan Shabirin, yaitu sikap hidup yang penuh dengan perhitungan sehingga tindakannya adalah tindakan matang setelah dianalisa, bukan tindakan membabi buta. Orang mengartikan sabar identik dengan takut, sebenarnya jauh berbeda, demikian pula jelas sekali perbedaan antara berani dengan nekat.
"Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang Sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk" [Al Baqarah 2;155-157]
Pada ayat di atas dinyatakan bahwa orang yang sabar itu akan memperoleh berkah, rahmat dan petunjuk dari Allah yaitu orang yang ikhlas menerima segala bentuk ujian, fitnah dan cobaan dari Allah sehingga ucapan yang keluar adalah ucapan penyadaran diri : "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" sesungguhnya kita milik Allah dan akan kembali kepada-Nya".
Dalam beberapa hadits Rasulullah menyebutkan tentang keutamaan sabar bagi seorang mukmin yaitu;
"Sabar adalah separo iman dan keyakinan adalah seluruh keimanan. "(HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)
"Tidak ada suatu rezeki yang Allah berikan kepada seorang hamba yang lebih luas baginya daripada sabar" (HR. Al Hakim)
'Sabar yang sebenarnya ialah sabar pada saat bermula (pertama kali) tertimpa musibah" (HR. Bukhari)
"Ada tiga hal yang termasuk pusaka kebajikan, yaitu merahasiakan keluhan, merahasiakan musibah dan merahasiakan sodaqoh (yang kita keluarkan)". (HR. Ath-Thabrani)
"Orang yang bahagia ialah yang dijauhkan dari fitnah-fitnah dan orang yang bila terkena ujian dan cobaan dia bersabar."(HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Berkat kesabaran Rasulullah sehingga keberhasilan da’wah itu menemukan titik terang di Madinah. Pernah satu ketika saat Amar bin Yasir dianiaya oleh majikannya bahkan bapak dan ibunya telah dibunuh dihadapannya sendiri, waktu itu Rasululah mendekati Amar, menepuk pundaknya sambil berharap,”Sabar wahai Amar, syurga ditanganmu”.
Kalau saja ketika itu Rasul mengadakan perlawanan terhadap tindakan kafir Quraisy tentu da’wah ini akan hancur sementara kekuatan ummat islam belum tertata, buah dari kesabaran inilah yang mengantarkan Amar bin Yasir memperoleh syurga kelak di akherat, Allah berfirman;
”Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah Karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.’’[Ali Imran 3;146]
Dalam peperangan sekalipun seorang mukmin dituntut untuk sabar dengan menyusun strategi perang yang jitu, kekalahan di medan jihad Uhud karena tidak sabarnya pasukan pemanah menanti peperangan usai sementara ghanimah sudah bertebaran di depan mata. Secara prinsip kesabaran itu diletakkan pada empat hal;
Pertama, Ash Shabru ’indal musyibah, artinya kesabaran itu ditempatkan saat menerima musibah. Umumnya kehidupan manusia ini dihiasi oleh dinamika ujian dan ujian, baik berupa kesenangan maupun kesengsaraan, keberhasilan ataupun kegagalan,bahkan Allah menjadikan musibah ini sebagai sunnatullah dalam kehidupan
Bagi seorang mukmin, musibah itu adalah ujian untuk meningkatkan kualitas iman, sedangkan bagi orang-orang yang lalai fungsi musibah sebagai peringatan, bagi orang yang durhaka, maka musibah itu adalah azab dan murka Allah. Tidak layak kiranya seorang fasiq, zhalim dan munafiq saat mendapat musibah dia mengatakan,”Allah menguji iman saya”, namun yang pantas adalah,”Allah menimpakan azab kepada saya”.
Salah satu bentuk musibah itu adalah mengalami dan menghadapi sakit. Keluarga si sakit wajib bersabar terhadap si sakit, jangan merasa sesak dada karenanya atau merasa bosan, lebih-lebih bila penyakitnya itu lama. Karena akan terasa lebih pedih dan lebih sakit dari penyakit itu sendiri jika si sakit merasa menjadi beban bagi keluarganya, lebih-lebih jika keluarga itu mengharapkan dia segera dipanggil ke rahmat Allah. Hal ini dapat dilihat dari raut wajah mereka, dari cahaya pandangan mereka, dan dari gaya bicara mereka.
Apabila kesabaran si sakit atas penyakit yang dideritanya akan mendapatkan pahala yang sangat besar --sebagaimana diterangkan dalam beberapa hadits sahih-- maka kesabaran keluarga dan kerabatnya dalam merawat dan mengusahakan kesembuhannya tidak kalah besar pahalanya. Bahkan kadang-kadang melebihinya, karena kesabaran si sakit menyerupai kesabaran yang terpaksa, sedangkan kesabaran keluarganya merupakan kesabaran yang diikhtiarkan (diusahakan). Maksudnya, kesabaran si sakit merupakan kesabaran karena ditimpa cobaan, sedangkan kesabaran keluarganya merupakan kesabaran untuk berbuat baik.
Diantara orang yang paling wajib bersabar apabila keluarganya ditimpa sakit ialah suami atas istrinya, atau istri atas suaminya. Karena pada hakikatnya kehidupan adalah bunga dan duri, hembusan angin sepoi dan angin panas, kelezatan dan penderitaan, sehat dan sakit, perputaran dari satu kondisi ke kondisi lain. Oleh sebab itu, janganlah orang yang beragama dan berakhlak hanya mau menikmati istrinya ketika ia sehat tetapi merasa jenuh ketika ia menderita sakit. Ia hanya mau memakan dagingnya untuk membuang tulangnya, menghisap sarinya ketika masih muda lalu membuang kulitnya ketika lemah dan layu. Sikap seperti ini bukan sikap setia tidak termasuk mempergauli istri dengan baik, bukan akhlak lelaki yang bertanggung jawab, dan bukan perangai orang beriman.
Demikian juga wanita, ia tidak boleh hanya mau hidup bersenang-senang bersama suaminya ketika masih muda dan perkasa, sehat dan kuat, tetapi merasa sempit dadanya ketika suami jatuh sakit dan lemah. Ia melupakan bahwa kehidupan rumah tangga yang utama ialah yang ditegakkan di atas sikap tolong-menolong dan bantu-membantu pada waktu manis dan ketika pahit, pada waktu selamat sejahtera dan ketika ditimpa cobaan.
Seorang penyair Arab masa dulu pernah mengeluhkan sikap istrinya "Sulaima" ketika merasa bosan terhadapnya karena ia sakit, dan ketika si istri ditanya tentang keadaan suaminya dia menjawab, "Ia tidak hidup sehingga dapat diharapkan dan tidak pula mati sehingga patut dilupakan." Sementara ibu sang penyair sangat sayang kepadanya, berusaha untuk kesembuhannya, dan sangat mengharapkan kehidupannya. Lalu sang penyair itu bersenandung duka:
"Kulihat Ummu Amr tidak bosan dan tidak sempit dada Sedang Sulaima jenuh kepada tempat tidurku dan tempat tinggalku Siapakah gerangan yang dapat menandingi bunda nan pengasih Maka tiada kehidupan kecuali dalam kekecewaan dan kehinaan Demi usiaku, kuingatkan kepada orang yang tidur Dan kuperdengarkan kepada orang yang punya telinga."
Yang lebih wajib lagi daripada kesabaran suami-istri ketika teman hidupnya sakit ialah kesabaran anak laki-laki terhadap penyakit kedua orang tuanya. Sebab hak mereka adalah sesudah hak Allah Ta'ala, dan berbuat kebajikan atau berbakti kepada mereka termasuk pokok keutamaan yang diajarkan oleh seluruh risalah Ilahi.
Kedua, Ash Shabru ’anil ma’siyat, artinya kesabaran itu harus terujud saat berhadapan dengan maksiat. Yang dimaksud adalah segala maksiat yang ada di hadapan seorang mukmin,dia harus berupaya untuk menghindarinya sekaligus untuk menyingkirkan maksiyat itu dengan penuh hati-hati, tidak boleh secara prontal dan emosional, Ibnu Taimiyah berkata,”Jangan menghilangkan maksiat dengan emosional yang akhirnya akan mendatangkan maksiat yang lebih besar”.
Ketika kafir Quraisy masih menyembah berhala, kemaksiatan ini seolah-olah dibiarkan oleh Rasulullah, bahkan dalam ka”bah terdapat 360 berhala, Rasul tidak menghancurkan patung-patung itu, tapi beliau berupaya menghancurkan patung yang ad di hati ummatnya dengan menanamkan tauhidulllah, hanya mengesakan Allah saja, benar apa yang dikatakan pepatah Minang, ibarat mengangkat rambut dalam tepung, rambut tidak putus dan tepung tidak terserak, artinya adalah hikmah dan bijaksana.
Ketiga, Ash Shabru ilat Tha’ah, artinya dalam menjalankan ketaatan kepada Allah haruslah mengujudkan kesabaran, karena terlalu banyak rintangan dan rongrongan yang datang kepada seorang mukmin ketika dia akan mematuhi segala suruhan-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Dalam berpuasa, shalat, zakat, jihad, hijrah dan seluruh ujud ketaatan kepada Allah membutuhkan kesabaran sehingga wajar bila Rasulullah menyarankan kepada ummatnya untuk ibadah yang sedikit tapi kontinyu dari pada banyak tapi terburu-buru dan seketika. Beliau pernah ditanya oleh sahabat tentang kewajiban seorang mukmin untuk menamatkan membaca Al Qur’an, dengan toleransi yang tinggi rasul menyatakan,”Khatamkan Al Qur’an itu dalam satu bulan”, sahabat ada yang sanggup satu minggu, lima hari bahkan ada yang tiga kali dalam sehari semalam, namun rasul membatasi,”Khatamkan Al Qur’an itu sekali dalam tiga hari”.
Rasul melihat Asma binti Abu Bakar mengikatkan pinggangnya pada sebuah tiang dalam masjid, beliau bertanya,”Kenapa demikian ya Asma”, anak Abu Bakar itu menjawab bahwa dia akan menunaikan shalat tahajud sepanjang malam tapi tidak mampu sehingga untuk menjaga rasa kantuknya dia harus menaham dengan tali ditubuhnya itu, rasul mengatakan,”Kerjakan tajahud itu semampumu, saat mengantuk tidurlah dahulu, lalu bangun lagi dan kerjakan shalat....”
Untuk mencapai derajat muttaqin tidaklah mudah, dia harus melalui marhalah atau tahapan,sejak dari muslim, mukmin,muhsin dan mukhlis. Fase ini harus dilalui dengan sabar sehingga tidak terkesan dikarbit sehingga muttaqin yang diraih sebenar-benarnya taqwa bukan hiasan bibir dan propaganda saja.
Keempat, Ash Shabru ilad Da’wah artinya untuk menggelar da’wah perlu adanya kesabaran, tidak serampangan dan buru-buru dengan melupakan manhaj da’wah yang diajarkan oleh Rasululah. Terlalu banyak halangan dan rintangan sehingga wajar kalau seorang Hasan Al Banna mengatakan bahwa da’wah itu bukanlah hamparan permadani dan bukan pula kalungan bunga melati tapi hamparan onak dan duri serta kalung gantungan kematian. Sejak da’wah ini digelar oleh para nabi dan rasul senantiasa hadir berbagai ujian, tanpa kesabaran dalam berda’wah terlalu banyak mungkin kerugian yang akan diderita oleh da’wah itu sendiri sehingga terjadilah perbenturan dengan pihak penguasa, kafir dan zhalim ketika kekuatan belum ada tentu saja gerakan da’wah ini mudah saja untuk diberangus oleh musuh-musuh islam.
Suatu ketika tampillah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang kapan keberhaslan da’wah ini dapat dirasakan padahal sudah habis dana, waktu dan usaha yang maksimal, mana pertolongan Allah itu ? pinta mereka. Rasulullah lansung menjawab,”Dahulu orang-orang sebelum kamu ini karena da’wah ada diantara mereka yang harus disisir rambutnya dengan sisir yang terbuat dari besi sehingga terkelupas kulit kepalanya, dipotong tangan dan kakinya, dicincang bahkan nyaris dibunuh, tapi mereka tetap sabar, kalian terlalu terburu-buru”, memang nampaknya sabar itu tidak ada batasnya dan keberhasilan da’wah tidak tergantung dari usia generasi tapi sepanjang usia dunia ini.
Demikian pentingnya sikap sabar ini sehingga pantas bagi yang berupaya memilikinya mendapat kebajikan dari Allah, nabi bersabda, "Ada tiga hal yang termasuk pusaka kebajikan, yaitu merahasiakan keluhan, merahasiakan musibah dan merahasiakan sodaqoh (yang kita keluarkan)". (HR. Ath-Thabrani)
Bentuk kebahagiaan itu bukan hanya mendapatkan nikmat yang besar dari Allah sehingga dia bersyukur tapi juga orang yang terjauh dari fitnah dan orang yang sabar ketika mendapat cobaan "Orang yang bahagia ialah yang dijauhkan dari fitnah-fitnah dan orang yang bila terkena ujian dan cobaan dia bersabar."(HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Rasulullah menyatakan bahwa orang yang beriman ini sangat ajaib karena apabila mendapat nikmat dari Allah dia bersyukur dan itu baik baginya dan ketika mendapat ujian dia akan bersabar dan itu baik baginya, wallahu a'lam. [Cubadak Solok,16 Syawal 1431.H/ 25 September 2010]
Referensi;
1. 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath
2.Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4.Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009
5.Dr. Yusuf Al-Qardhawi HAK DAN KEWAJIBAN KELUARGA SI SAKIT DAN TEMAN-TEMANNYA Berasal dari Pustaka Online Media ISNET oleh Pakdenono 2006
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar