Jumat, 11 Mei 2012

10. Pahala Membaca Al Qur'an


Oleh ; MUKHLIS DENROS

Al Qur’an bukanlah sekedar kitab yang mengatur tentang hubungan manusia dengan Tuhannya dan tidak pula hanya mengatur urusan akherat saja, di dalamnya ada tauhid, janji dan ancaman, ibadah, petunjuk kepada kebenaran, larangan dan perintah, halal dan haram, hukum islam secara menyeluruh, sejarah dan perumpamaan. Selain itu juga terdapat berbagai ilmu pengetahuan di dalamnya seperti filsafat [32;7,9], ekonomi [45;13], moral/akhlak [21;107], seni [7;31], hukum [3;83], sosial [2;213], politik dan pendidikan [4;28].
"Hai ahli kitab, Sesungguhnya Telah datang kepadamu Rasul kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya Telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan Kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.' [Al Maidah 5;15-16]

Demikian banyaknya kandungan Al Qur’an sehingga siapa saja yang mendapat hidayah ini tidak akan meninggalkannya bahkan tidak sedikit ilmuan yang menyatakan diri sebagai muslim ketika menemukan kebenaran dalam ilmu pengetahuan yang mereka gali. Seorang mukmin yang telah menyatakan dirinya beriman kepada Allah harus melestarikan keimanan tersebut melalui amal perbuatan sehari-hari, termasuk aplikasi beriman kepada kitab Allah yaitu Al Qur’an. Dr. Yusuf Al Qardhawi dalam bukunya "Bagaimana berinteraksi dengan Al Qur'an" menyatakan; Al Qur'an --sebagaimana ia diturunkan oleh Allah SWT-- mempunyai keunggulan-keunggulan yang membuatnya istimewa dibanding kitab suci lainnya. Ia adalah kitab Ilahi, kitab suci yang menjadi mukjizat, kitab yang memberikan penjelasan dan dimudahkan untuk dipahami, kitab suci yang dijamin pemeliharaan keautentikannya, kitab suci bagi agama seluruhnya, kitab bagi seluruh zaman, dan kitab suci bagi seluruh manusia.
Al Qur'an juga mempunyai maksud dan tujuan yang dibidiknya, di antaranya: meluruskan kepercayaan-kepercayaan dan pola pandang manusia tentang Tuhan, kenabian, dan balasan atas amal perbuatan, serta meluruskan pola pandangan tentang manusia, kemuliaannya dan menjaga hak-haknya, terutama bagi kalangan yang lemah dan tidak berpunya.
Ia juga bertujuan untuk menghubungkan manusia dengan Rabbnya, agar manusia hanya menyembah-Nya semata dan bertaqwa kepada-Nya dalam seluruh urusannya.

Al Qur'an juga bertujuan untuk membersihakan jiwa manusia, yang jika jiwa itu telah bersih niscaya bersih dan baiklah seluruh masyarakat. Dan jika jiwa itu rusak, niscaya rusaklah masyarakat seluruhnya.
Ia juga berusaha membentuk keluarga yang kemudian menjadi pangkal kedirian suatu masyarakat. Juga mengajarkan sikap adil terhadap kalangan perempuan, yang merupakan pokok utama dalam bangunan keluarga.
Al Qur'an juga membangun umat yang saleh, yang dianugerahkan amanah untuk menjadi saksi bagi manusia, yang diciptakan untuk memberikan manfaat bagi manusia dan memberikan petunjuk bagi mereka.
Setelah itu, mengajak untuk menciptakan dunia manusia yang saling kenal mengenal dan tidak saling mengisolasi diri, saling memberi maaf dan tidak saling membenci secara fanatik, serta untuk bekerja sama dalam kebaikan dan ketaqwaan, bukan dalam kejahatan dan permusuhan.
Kita berkewajiban untuk memperlakukan Al Qur'an ini secara baik: dengan menghapal dan mengingatnya, membaca dan mendengarkannya, serta mentadabburi dan merenungkannya.
Salah satu kewajiban kita terhadap Al Qur'an adalah membacanya dalam waktu dan kesempatan yang tidak dibatasi, selain sebagai langkah untuk mengkaji isinya, maka membaca Al Qur'an juga mendapatkan ganjaran yang tidak sedikit dari Allah sebagaimana yang disampaikan oleh sabda-sabda Rasulullah.
1.Membaca Al Qur'an mendapat shafaat; orang yang membaca Al Qur'an akan mendapat syafaat kelak di akherat, yang syafaat itu diberikan dengan izin Allah karena seseorang mempunyai keistimewaan amal ketika di dunia, bentuk syafaat itu bisa pembebasan dari neraka, bisa jadi dimasukkan ke syurga atau dinaikkan ke syurga yang lebih tinggi levelnya sebagaimana Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam : "Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa'at bagi pembacanya." (HR. Muslim dari Abu Umamah).
2.Pembaca Al Qur'an mendapat pembelaan di akherat; para pembaca Al Qur'an ketika itu ada pendamping yang siap membelanya bila si pembaca mendapat sesuatu azab yang bisa diringankan dengan pahalanya. Dari An-Nawwas bin Sam'an radhiallahu 'anhu, katanya : Pada hari Kiamat Al-Qur'an dan para pembacanya yang mereka itu dahulu mengamalkannya di dunia, dengan didahului oleh surat Al Baqarah dan Ali Imran yang membela pembaca kedua surat ini. " (HR, Muslim).
3.Sebaik-baik manusia; posisi orang yang membaca, mempelajari dan mengajarkan Al Qur'an berbeda dengan orang yang tidak melakukan hal itu, karena kitab ini diturunkan oleh Allah yang Maha Mulia maka yang membaca, mempelajari dan mengajarinya mendapat poisis sebaik-baik manusia. Sebagaimana hadits dari Utsman bin Affan radhiallahu'anhu, katanya: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Al-Bukhari)
4.Mendapat pahala yang berlipat ganda; orang yang membaca Al Qur'an tidaklah sama dengan membaca koran atau buku-buku lain, dia adalah Kalamullah, wahyu yang diturunkan, sehingga pahala yang diberikan kepada pembacanya tidaklah ringan, hitungannya bukanlah satu kitab, satu juz atau satu halaman tapi pahalanya dihitung satu huruf dengan sepuluh kelipatan. Dari Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhu, katanya : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf." (HR. At-Tirmidzi, katanya: hadits hasan shahih).
5.Pembaca Al Qur'an mendapat kedudukan yang baik; kedudukan itu diperoleh nanti ketika di akherat, dia akan ditempatkan pada tempat yang tinggi, tidak sama dengan kebanyakan manusia yang ada. Dari Abdullah bin Amr bin Al 'Ash radhiallahu 'anhuma, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Dikatakan kepada pembaca Al-Qur'an : "Bacalah, naiklah dan bacalah dengan pelan sebagaimana yang telah kama lakukan di dunia, karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang kamu baca." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dengan mengatakan: hadits hasan shahih).
6.Pembaca Al Qur'an bersama para Malaikat; malaikat adalah makhluk Allah yang taat dan tunduk kepada Allah, mereka selalu bertasbih memuji Allah pada setiap saat tanpa ada keinginan untuk berbuat dosa, kelak pembaca Al Qur'an akan bersama dengan para malaikat ini. Dari Aisyah radhiallahu 'anhu, katanya : Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Orang yang membaca Al-Qur'an dengan mahir adalah bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan tergagap dan susah membacanya baginya dua pahala." (Hadits Muttafaq 'Alaih). Dua pahala, yakni pahala membaca dan pahala susah payahnya.
7.Pembaca Al Qur'an ibarat buah turjah; demikian indahnya perumpamaan yang diberikan kepada orang yang membaca Al Qur'an yaitu dengan julukan buah turjah. Rasulullah menyatakan bahwa orang beriman yang suka membaca Al Qur’an ibarat buah “Turjah” atau limau, yang rasanya lezat dan bau aromanya harum, sedangkan orang beriman yang tidak mau membaca Al Qur’an ibarat buah tamar yaitu kurma, buahnya lezat tapi tidak berbau.

Demikian besarnya penghargaan dan pahala yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang mau mengisi waktunya untuk membaca Al Qur'an, sehingga ketika itu para sahabat berlomba-lomba untuk cepat mengkhatamkan Al Qur'an, ada yang khatam sehari semalam, ada yang tiga kali khatam dalam sehari semalam, tapi Rasulullah memberikan kelonggaran kalau ingin mengkhatamkan Al Qur'an janganlah tigakali sehari atau sekali sehari tapi cukuplah kalau mampu dengan mengkhatamkan Al Qur'an itu paling cepat tigahari sekali.
Disunatkan mengkhatamkan Al-Qur'an setiap minggu, dengan setiap hari' membaca sepertujuh dari Al-Qur'an dengan melihat mushaf, karena melihat mushaf merupakan ibadah. Juga mengkhatamkannya kurang dari seminggu pada waktu-waktu yang mulia dan di tempat-tempat yang mulia, seperti: Ramadhan, Dua Tanah Suci dan sepuluh hari Dzul Hijjah karena memanfaatkan waktu dan tempat. Jika membaca Al-Qur'an khatam dalam setiap tiga hari pun baik, berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kepada Abdullah bin Amr : "Bacalah Al-Qur'an itu dalam setiap tiga hari ''
Dan makruh menunda khatam Al-Qur'an lebih dari empat puluh hari, bila hal tersebut dikhawatirkan membuatnya lupa. Imam Ahmad berkata : "Betapa berat beban Al-Qur'an itu bagi orang yang menghafalnya kemudian melupakannya." Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas raldhiallahu 'anhuma, ia berkata : "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, saat beliau ditemui Jibril untuk membacakan kepadanya Al-Qur'an. Jibril menemui beliau setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan kepadanya Al-Qur'an. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika ditemui Jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus".
Sebuah isyarat diberikan kepada kita agar senantiasa membaca Al Qur'an sehingga awal surat yang turun pertama kali perintah membaca yang kemudian dilanjutkan dengan mengkaji dan meneliti, firman Allah dalam surat Al 'Alaq 96;1-5
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Demikian pula halnya yang diungkapkan oleh Ibnu Taimiyyah agar kita sebagai muslim membaca Al Qur'an setiap saat kalau tidak mau dikatakan ummat yang mencampakkan Al Qur'an, wallahu a'lam. [Cubadak Solok,12 Syawal 1431.H/ 21 September 2010]

Referensi;
1.Berinteraksi dengan Al Qur'an, DR. Yusuf Al Qardhawi
2. 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath
3.Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
4. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
5.Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009

Penulis Drs. St. Mukhlis Denros
Ketua Yayasan Garda Anak Nagari Sumatera Barat
Anggota DPRD Kabupaten Solok 1999-2009
Hak Cipta Dilindungi Allah Subhanahu Wata’ala
Tidak Dilarang Keras Mengkopi dan Menyebarkan Materi ini
dengan menyebutkan sumbernya; http://mukhlisdenros,blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar